Connect with us

Sosial-Budaya

Masa Depan Tradisi Ngayah, Tradisi Gotong Royong dari Bali

Published

on

Ngayah merupakan kewajiban sosial masyarakat Bali yang dilaksanakan secara gotong royong dengan hati yang tulus ikhlas baik di banjar maupun di pura atau tempat suci.

Ngayah ini dilakukan tanpa mengharapkan imbalan materi. Harapannya hanya ketika kita yang punya hajatan nanti, masyarakat di banjar juga akan dengan tulus ikhlas datang untuk membantu.

Sisi positif lainnya dari ngayah adalah masyarakat bisa saling mengenal satu sama lain, memupuk persaudaraan antar-krama banjar.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Seorang wanita yang masuk banjar karena menikah dengan laki-laki tentu belum mengenal siapa pun, maka ajang ngayah inilah waktunya untuk bersosialisasi dengan warga setempat sehingga bisa saling mengenal.

Hal inilah sebenarnya yang merupakan keunggulan dari masyarakat desa daripada masyarakat perkotaan. Setiap warga bisa saling mengenal pada saat ngayah banjar. Pada zaman dulu, kebanyakan masyarakat Bali berprofesi sebagai petani. Sehingga waktu bekerja bisa diatur sendiri.

Maka tidak ada halangan jika sewaktu-waktu ada acara ngayah. Pelaksanaan ngayah seperti pada saat upacara ngaben biasanya tidak hanya dilakukan dalam waktu sehari, bahkan mungkin dalam seminggu. Tidak ada kesulitan waktu untuk melaksanakan hal ini pada saat itu, namun bagaimana dengan sekarang?

Saat ini, masyarakat tidak hanya bekerja sebagai petani. Bahkan, kebanyakan memilih untuk pergi ke kota mencari mata pencaharian lain.

Semua ingin kerja kantoran, karena kesan menjadi petani yang bekerja kasar, panas-panasan, dan kotor sangat mengurangi minat anak muda untuk bekerja sebagai petani. Data Badan Pusat Statistik tahun 2017 menunjukkan, 466.307 penduduk Bali bekerja di lapangan usaha pertanian.

Melihat kondisi ini, kembali pada tradisi ngayah di Bali, apakah suatu saat nanti di mana penerus Bali semuanya akan sibuk bekerja, maka tradisi ngayah akan hilang? Sebenarnya, tradisi yang baik ini harus selalu dijaga.

Hanya, dalam pelaksanaannya kemungkinan akan berubah dan tidak lagi seperti dulu. Ngayah sebelum acara ngaben yang dilaksanakan dalam jangka waktu satu minggu mungkin bisa dipersingkat menjadi dua hari, sehingga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu.

Coba bayangkan jika ngayah ini ditinggalkan, maka kekerabatan di banjar tidak akan terjalin lagi, bahkan mungkin akan sama dengan di perkotaan yang tidak mengenal tetangga.

Kembali ke individu masing-masing, krama Bali juga jangan sampai melupakan tradisi dan berkilah karena bekerja maka tidak pernah sempat meluangkan waktu untuk ngayah banjar.

Sosial-Budaya

Puja Mandala, Wujud Toleransi Beragama di Pulau Dewata

Published

on

By

Puja Mandala

Di Indonesia, ada beberapa agama yang bisa dianut oleh setiap masyarakatnya. Toleransi penting untuk bisa menjaga kesatuan, dan Puja Mandala merupakan wujud toleransi beragama tersebut.

Toleransi atau Toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin tolerare, yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Sedangkan secara bahasa, toleransi berarti tenggang rasa. Menurut istilah, toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan antarsesama manusia. Penting untuk setiap orang memunculkan sikap toleransi ini dalam diri.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup berdampingan dengan mereka yang berasal dari suku ras yang berbeda dan juga agama yang tidak sama. Sikap saling menghargai dan menghormati lah yang membuat semuanya menjadi terasa damai, sehingga menjadi satu kesatuan yang indah. Dari banyaknya perbedaan yang ada, seharusnya bisa membuat setiap manusia untuk dapat saling melengkapi.

Ada lima rumah ibadah dalam satu kompleks, ini merupakan hal yang dihadirkan Puja Mandala sebagai pusat peribadatan. Tempat ini terletak di tepi Jalan Raya Kurusetra, jalur utama menuju sejumlah obyek wisata ternama seperti Pura Uluwatu, Pantai Dreamland, Jimbaran, dan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Berlokasi di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Baca Juga:

  1. Pemuteran, Kawasan Kumuh yang Kini Menjelma Jadi Desa Wisata Internasional Nan Memesona
  2. Pesona Bukit Sibea-bea, Punya Patung Yesus Tertinggi
  3. Bubohu, Desa Wisata Religi Berbasis Alam di Gorontalo

Terdapat lima pusat peribadatan bagi lima agama di Desa ini, yaitu Islam, Kristen, Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu. Tempat ini juga mempunyai pemandangan alam yang indah menghadap Tanjung Benoa. Dikutip dari Indonesia.go,id (20/01/2022), di dalam kawasan Puja Mandala ada Mesjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Bukit Doa, dan Pura Jagat Natha.

Pendirian Puja Mandala memiliki arti “tempat beribadah”, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ustad Sholeh Wahid, yang merupakan pengurus Mesjid Agung Ibnu Batutah. Awal mula didirikannya Puja Mandala adalah dari keinginan warga muslim yang ingin mempunyai mesjid sendiri.

Mereka tinggal di sekitar Benoa dan Nusa Dua. Tahun 1990 keinginan mereka muncul, dikarenakan sulitnya mendapati mesjid yang dekat dengan pemukiman mereka. Dahulu mesjid terdekat terletak di Kuta, yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka, yaitu sekitar 20 kilometer.

Joop Ave selaku Mentri Pariwisata Pos dan Telekomukasi saat itu menanggapi keluhan dan keinginan mereka. Sehingga pada akhirnya dibangun suatu pusat peribadatan untuk lima agama yang diakui di Indonesia. Hal ini dikoordinasikannya bersama para pemerintah daerah dan juga tokoh-tokoh masyarakat setempat, kala itu.

Toleransi yang ada di Puja Mandala ini membuat kagum para wisatawan. Diketahui sebelum pandemi, ada sekitar 10-30 bus pariwisata singgah ke Puja Mandala untuk menurunkan wisatawan yang melakukan wisata religi.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Makna & Filosofi Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Pencucian Diri di Bali

Published

on

Siat Yeh
Siat Yeh

Pulau Bali tidak pernah lepas dari tradisi adat dan budaya. Setiap desa di pulau dewata selalu menyajikan tradisi yang unik dan mempunyai makna mendalam pada lingkungan sekitar atau alam dalam makna yang luas.

Salah satunya adalah tradisi perang air atau siat yeh Jimbaran. Pengadaan tradisi ini merupakan upaya untuk membangkitkan kebiasaan yang kini mulai ditinggalkan oleh banyak warga Bali.

Bagi warga setempat, pelaksanaan siat yeh Jimbaran merupakan upacara penglukatan agung. Seperti yang diketahui, tradisi melukat merupakan upacara yang dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan pikiran serta jiwa secara spiritual. Dengan begitu, pribadi yang telah menjalani upacara melukat, bisa bebas dari pikiran kotor yang ada dalam dirinya.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Pelaksanaan tradisi siat yeh Jimbaran itu dilakukan bertepatan dengan Ngembak Geni. Ngembak Geni merupakan momen satu hari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Pada pelaksanaannya, perang air di Jimbaran ini dapat diikuti oleh siapa saja. Tidak hanya terbatas pada masyarakat setempat, tetapi juga bisa diikuti oleh wisatawan.

Seperti halnya tradisi lain, siat yeh Jimbaran bukan merupakan sebuah aktivitas perang air biasa. Di dalamnya, Anda bisa mengetahui simbol serta makna yang begitu dalam. Bahkan, siat yeh dianggap sebagai upaya untuk berperang melawan segala keinginan yang ada dalam diri sendiri dengan tujuan terhindar dari hal-hal buruk.

Seperti yang dikatakan oleh I Gusti Ketut Gede, Yusah Asana Putra, selaku Ketua Panitian Pengarah Siat Yeh, dalam kata ‘Siat’ yang berarti perang merupakan makna. Pada hakikatnya manusia dalam saban harinya sebenarnya berperang melawan keinginan diri sendiri untuk menghindari hal-hal yang tidak baik.

“Kenapa ‘Siat’ karena sesungguhnya manusia setiap hari berperang dengan diri sendiri atau pikiran-pikiran diri sendiri. Itulah yang kita ambil maknanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap hari kita perang dengan diri kita sendiri antara keinginan yang baik dan tidak baik,” ucapnya.

Siat Yeh
Siat Yeh

Sedangkan kata ‘Yeh’ yang berarti air merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Sehingga sumber air itu harus dijaga dan dihormati. Sehingga, nantinya dengan menjaga kedua sember air tersebut masyarakat bisa mendapatkan kemakmuran.

“Kita harus menghormati sumber air. Air yang ada di Jimbaran adalah air Pantai dan Suwung. Dulu orang Jimbaran hidupnya itu, kalau tidak dari Suwung ya dari laut. Kalau dulu di Suwung itu ada pembuatan garam yang sangat luar biasa. Orang Jimbaran dulu kerja membuat garam dan ditukar dengan beras. Kalau yang di pantai menjadi nelayan untuk mencari ikan,” imbuh Yusah Asana Putra.

Yusah Asana Putra membeberkan mengapa tradisi Siat Yeh dilakukan, karena kembali untuk mempertemukan dua sumber air tersebut. Sebab sejak dulu, sebelum pembangunan pariwisata di Jimbaran, kedua air tersebut selalu bertemu secara alami jika dalam keadaan pasang.

“Karena sekarang pembangun pariwisata seperti ini, ketemunya tidak secara langsung, sehingga manusia yang membangun maka manusia yang harus menemukannya kembali air itu. Kalau dua sumber bisa ketemu maka kemakmuran akan tercapai. Itu harapan kami,” tuturnya.

Kemudian, dari energi atau kekuatan spiritual, Yusah Asana Putra menyampaikan bahwa energi dari air Segara dan Suwung itu kalau dikelola secara baik akan menjadi energi yang luar biasa. Sehingga berdampak positif pada masyarakat Jimbaran.

Siat Yeh
Siat Yeh

“Kalau kita kelola dengan baik bisa membuat energi yang luar biasa. Kalau salah, akan membuat energi negatif juga. Kami hormati dua energi ini dan mempertemukan secara positif dengan harapan masyarakat Jimbaran menjadi tenang, dengan mempertemukan kekuatan dari timur dan barat,” ujarnya.

Prosesi diawali dengan mendak (menjemput) air suci yang diambil dari dua sumber berbeda yang dimaksud sebelumnya.

Dalam pengambilan tersebut, digunakan sejumlah kendi dari masing-masing wilayah yang kemudian dipertemukan di depan Balai Banjar Teba, Jimbaran, dengan disambut pertunjukan Tari Rejang. Setelahnya, dua tirta atau sumber air tersebut kemudian disatukan dan digunakan untuk ritual panglukatan agung bagi seluruh warga Banjar Teba.

Siat Yeh
Siat Yeh

Sementara itu sisanya, baru digunakan untuk pelaksanaan perang air yang dilakukan oleh kalangan masyarakat atau anak-anak muda yang dibagi ke dalam dua kubu bersebrangan, untuk saling menyiramkan air antara satu kelompok ke kelompok lainnya.

Saat ini, kegiatan perang air dalam tradisi Siat Yeh bisa dilakukan oleh siapapun termasuk para wisatawan dan tidak terbatas bagi masyarakat setempat saja.

Selain dijadikan sebagai sarana untuk menghilangkan segala jenis kekotoran duniawi bagi setiap orang yang terlibat, kembali dihidupkannya tradisi Siat Yeh juga diharapkan dapat terus dilakukan dengan penuh suka cita dan kegembiraan setiap tahunnya untuk melestarikan warisan para leluhur.

Continue Reading

Sosial-Budaya

UNESCO Tetapkan Songket Jadi Warisan Budaya Malaysia, Ini Perbedaannya dengan Songket Indonesia

Published

on

Kain Songket
Kain Songket

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang pendidikan, keilmuan, dan budaya, telah resmi menetapkan Songket Malaysia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia atau Intangible Cultural Heritage.

Penetapan dilakukan saat sesi ke-16 Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris, Prancis, pada Rabu (15/12/2021).

Songket merupakan kain sutra atau katun tenunan tangan dengan pola benang emas atau perak yang indah yang dapat dilihat di Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Benang-benang metalik pada kain songket, yang sebelumnya diperuntukkan bagi bangsawan pada abad ke-16, dipadukan di atas bahan dasar untuk menghasilkan tampilan yang berkilauan.

Teknik tersebut berasal dari abad keenam belas, diturunkan dari ibu ke anak perempuannya dan melalui program pelatihan formal. Laki-laki berpartisipasi dengan menciptakan peralatan tenun.

Songket digunakan dalam pakaian tradisional untuk upacara, acara-acara pesta dan acara-acara resmi kenegaraan.

Berada satu rumpun, Indonesia juga memiliki songket, seperti dari Sumatera Barat. Kain tradisional ini merupakan turunan dari kain melayu.

Lantas, apa perbedaan antara songket Indonesia dan Malaysia?

Pertama dalam hal warna. Songket Malaysia rata-rata memiliki satu warna. Jadi kain memiliki satu warna dasar, kemudian terdapat dekorasi benang emas atau perak membentuk motif. Sedangkan songket Indonesia, warna kainnya beragam misal songket Palembang yang bisa memadukan dua warna plus corak benang emas pada satu kain.

Kedua adalah motif. Songket Malaysia biasanya menggunakan motif bunga-bunga. Sedangkan di Indonesia, songket memiliki beragam motif tergantung daerah.

Di Malaysia, songket jadi unsur dalam busana formal dalam situasi resmi. Anda tentu kerap menemukan para pejabat Malaysia, khususnya pria, mengenakan kain bermotif di atas celana. Kain bermotif ini merupakan songket. Kain dikenakan layaknya mengenakan sarung (digulung di bagian depan).

Sementara anggota keluarga kerajaan biasanya mengenakan busana resmi songket secara menyeluruh, seperti gaya busana orang Melayu di Indonesia. Sedangkan untuk kaum Hawa, kebanyakan mengenakan setelan songket misal, baju kurung tenun songket dan sarung bawahan songket

Kemudian di Indonesia, pria mengenakan songket dalam upacara-upacara termasuk pernikahan seperti di Sumatera. Ini juga disebut sebagai baju Duta Besar yakni setelan jas remi Teluk Belanga dengan celana panjang, songket, dan peci (kopiah).

Continue Reading

Trending