Connect with us

Sosial-Budaya

Tradisi Marosok, Etika Berdagang Sapi yang Unik dari Tanah Minang

Published

on

Tradisi Marosok

Menjelang Hari Raya Idul Adha, ada kegiatan menarik di Sumatera Barat soal jual-beli. Hal yang membuat menarik adalah cara tawar-menawarnya, atau yang biasa dikenal dengan sebutan tradisi marosok.

Ya, Belajarlah etika berdagang dari pedagang sapi di Ranah Minang. Kalimat tadi sering disebut-sebut ketika membahas tata cara berdagang hewan ternak yang baik. Selama melakukan transaksi jual beli, antara penjual dan pembeli tetap menjaga kerahasiaan harga yang disepakati.

Kerahasiaan harga ini menggambarkan nilai saling menghargai. Tak ada satu pun orang yang tahu berapa harga yang disepakati kecuali penjual dan pembeli itu sendiri.

Marosok jika diartikan ke bahasa Indonesia artinya meraba, kemudian marosok adalah tradisi berjabat tangan antara penjual dan pembeli ternak, kemudian tangan tersebut ditutup dengan kain. Selanjutnya, mereka tawar menawar dengan cara marosok.

Tawar menawar dalam proses pembelian hewan ternak pun terjadi tanpa adanya komunikasi verbal, kesepakatan akan terjadi dengan kedua tangan yang berjabat itu.

Marosok menjadi tradisi hampir di seluruh pasar ternak daerah Sumbar, beberapa daerah yang menjalankan tradisi ini adalah Kabupaten Padang Pariaman, Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kabupaten Solok, Limapuluh Kota, dan Agam.

Sejarah Tradisi Marosok

Tradisi Marosok

Hingga sekarang memang belum ada yang mengetahui pasti awal mula tradisi unik dari Minangkabau ini. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.

Walau begitu secara budaya, tradisi marosok erat kaitan dengan rasa malu dan sopan santun. Pada zaman dahulu hewan ternak, seperti sapi atau kerbau berasal dari peninggalan harta pusaka yang diturunkan dari leluhur suatu kaum keluarga.

Dalam pandangan masyarakat Minang adalah hal yang memalukan dan menjadi aib apabila suatu kaum terpaksa menjual harta pusakanya. Namun berbeda bila ada keperluan mendesak, seperti sakit, kematian, kebutuhan biaya pernikahan, biaya pendidikan dan lain sebagainya.

Pihak keluarga terpaksa menjual harta pusaka mereka. Namun mereka tetap berusaha menjaga rahasia agar penjualan harta pusaka berupa hewan ternak tadi tidak diketahui orang kampung.

“Sebab jika harga murah mereka dianggap mengobral harta pusaka, namun jika harga tinggi mereka dianggap mencari keuntungan dengan menjual harta peninggalan nenek moyang mereka sendiri. Maka untuk menjaga kerahasian itulah tradisi marosok ini lahir,” jelas Ade Rikka Umassari dalam artikel berjudul Interaksi Simbolik dalam Proses Komunikasi Jual Beli Ternak Marasok di Pakayumbuh Sumatera Barat.

Tradisi Marosok

Selain sebagai rahasia dagang, marosok merupakan bentuk etika yang dijadikan upaya menjaga hubungan baik antar sesama pedagang ternak di Minangkabau. Etika yang dimaksud adalah rasa tenggang rasa antar sesama pedagang dalam hal tawar-menawar ternak.

Sifat tenggang rasa dianggap sebagai salah satu sifat yang paling dijunjung tinggi oleh masyarakat Minangkabau. Unsur etika atau rasa tenggang rasa pada masyarakat Minangkabau terkenal dengan konsep raso jo pareso.

Secara harfiah, raso jo pareso berarti “rasa dan periksa”. Artinya, seseorang di Minangkabau yang dikatakan sebagai orang yang beretika atau berbudi baik adalah seseorang yang mengerti dengan apa akibat dari suatu perbuatannya.

Konsep hidup raso jo pareso tersebut sudah mengakar pada para pedagang ternak di Pasar Ternak Simpang Tigo Ophir. Penerapan raso jo pareso akan menumbuhkan rasa saling menghormati dalam hal tawar-menawar ternak.

Advertisement

Sosial-Budaya

Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar

Published

on

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Garut adalah sebuah kota atau kabupaten kecil namun dengan sejuta keindahan yang terdapat didalamnya. Garut juga dikenal sebagai kota penghasil dodol khas yang dibuat untuk oleh–oleh bagi pelancong yang datang ke kota ini.

Meski demikian, Kota ini juga masih menyimpan dan melestarikan kesenian yang menjadi salah satu budaya kebanggaan warga Garut, salah satu kesenian itu adalah kesenian Lais.

Kesenian ini adalah sebuah pertunjukan kesenian akrobatik dimana seorang pemain bermain diatas seutas tali yang memiliki panjang 6 meter yang terbentang dan di ikat diantara dua buah bambu yang ketinggian bambu tersebut sekitar 12–13 meter.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Kesenian ini sudah ada sejak zaman belanda, tepatnya di kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening, Garut, Jawa Barat. Nama kesenian ini diambil dari seseorang bapak – bapak bernama “Laisan” yang terampil dalam memanjat pohon kelapa, yang sehari – harinya dipanggil Pak Lai

Pertunjukan yang ditampilkan pertama–tama pelais memanjat bambu lalu berpindah ke tambang sambil menari dan berputar di atas tali tanpa menggunakan sabuk pengaman yang di iringi dengan musik kendang pencak, reog, terompet dan dog–dog.

Kesenian ini mempertontonkan ketangkasan pemainnya dan sebenarnya hampir mirip dengan akrobat yang ada di acara sirkus. Pemain Lais yang beratraksi dapat membuat penonton terpesona karena selalu membuat atraksi ini berdebar–debar.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Lais merupakan kesenian yang menggabungkan dua budaya, yaitu Budaya Sunda dan Budaya Jawa Timuran. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya gerakan akrobatik yang serupa dengan akrobatik khas Reog Ponorogo melalui Gerakan yang dinamakan Kucingan.

Kucingan sendiri mengisahkan tentang seekor kucing yang diperankan singo barong tanpa dadak merak sedang mengejar Tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya. Hanya saja di Lais tidak menggunakan cerita kucingan dan seragam reyog serta topengnya yang menyulitkan pandangan penari Lais.

Atraksi yang diberikan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog dan terompet.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Di era sekarang, tradisi akrobatik khas Kabupaten Garut tersebut masih dimininati dan terdapat padepokan Lais yang masih terus bergerak melakukan kegiatan atraksinya, yaitu Padepokan Panca Warna Medal Panglipur. Menurut Ade Dadang selaku pimpinan, Ia terus berupaya mencari inovasi agar kesenian khas kota Garut tersebut tidak hilang.

Menurutnya, potensi tradisi Lais cukup besar bagi kalangan muda, mengingat kalangan muda merupakan generasi yang masih semangat dan tertarik akan hal-hal yang bersifat tantangan.

Dadang melanjutkan, jika tradisi Lais di Padepokan Panca Warna Medal Panglipur masih banyak dilirik oleh kalangan muda karena diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais yang disukai oleh anak muda.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Buka Pekan Kebudayaan Nasional 2021, Jokowi: Indonesia Kaya Budaya & Hayati

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), resmi membuka hajatan akbar Pekan Kebudayaan Nasional 2021 secara virtual pada Jumat (19/11/2021) malam.

Acara pembukaan virtual tersebut disiarkan melalui indonesiana.tv dan akun YouTube Budaya Saya milik Kemendikbudristek. Peresmian Pekan Kebudayaan Nasional 2021 berlangsung selama satu jam.

Dalam kata sambutannya, Presiden Jokowi menuturkan tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini bukanlah hal pertama yang terjadi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Pandemi bukan yang pertama, bencana alam bukan juga yang pertama. Banyak sekali tantangan yang sudah dialami oleh bangsa Indonesia sebelum menjadi Republik ini berdiri,” ujar Jokowi.

Jokowi melanjutkan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari ilmu pengetahuan dan kearifan lokal masa lalu yang diturunkan melalui nenek moyang kita. Kearifan itu yang terangkum dalam bentuk narasi lisan misalnya skrip drama maupun pewayangan.

Berangkat dari kekayaan kebudayaan dan alam, Indonesia pun berpeluang menjadi pusat peradaban.

“Saya menegaskan bahwa berangkat dari kekayaan kebudayaan dan kekayaan hayati kita, Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan yang berbasis dari peradaban Indonesia,” tegasnya.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Sasi, Tradisi Turun-temurun Maluku untuk Jaga Sumber Daya Alam

Published

on

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan manusia meninggalkan cukup banyak masalah. Namun, masyarakat Maluku memiliki tradisi turun-temurun untuk menjaga sumber daya alam mereka. Tradisi tersebut bernama Sasi.

Ya, Maluku memang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Jika eksploitasi sumber daya alam dilakukan dengan cara semena-mena, bakal ada banyak masalah seperti bencana alam hingga kelangkaan sumber daya alam.

Sangat masuk akal sekali memang, apabila sumber daya alam dikeruk terus menerus. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti sumber daya tersebut akan habis dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Apabila sumber daya tersebut habis, yang dirugikan juga manusia sendiri.

Baca Juga:

  1. Ducati Murka ! Panitia WorldSBK Indonesia 2021 Buka Kargo Motor Secara Ilegal
  2. Kemendagri: Elkan Baggot Sudah Lama Jadi WNI
  3. Maguire Selebrasi Gol Sindir Kritik, Keane: Memalukan!

Lantas, apa itu Sasi? Bisa dibilang, Sasi adalah sasi adalah sebuah hukum adat yang berlaku di masyarakat Maluku, khususnya mengatur pemanfaatan SDA. Sasi ini adalah sebuah larangan untuk mengambil hasil alam pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi ini sebenarnya lebih difokuskan untuk pengelolaan hasil laut, terutama perikanan. Namun, di luar itu juga terdapat sasi yang mengatur pengelolaan hasil alam di daratan yang disebut sebagai sasi darat.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Dalam tradisi sasi juga melarang penggunaan alat pancing yang bisa merusak ekosistem laut. Masyarakat hanya boleh mencari ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem laut, seperti menggunakan pukat atau alat peledak.

Dalam pelaksanaan sasi terdapat dua istilah penting, yaitu sasi buka dan sasi tutup. Sasi buka adalah masa saat masyarakat Maluku diperbolehkan untuk mengambil hasil alam, sedangkan sasi tutup adalah masa ketika masyarakat dilarang untuk mengambil hasil alam.

Masa sasi buka dan sasi tutup ini ditentukan berdasarkan masa saat sumber daya siap panen, kebutuhan ekonomi masyarakat untuk dijual ke pasar, dan kebutuhan konsumsi dari masyarakat itu sendiri.

Sasi memiliki sebuah makna yang sangat dalam, yaitu apabila alam dimanfaatkan secara berlebihan dan secara tidak bertanggung jawab, akan terjadi ketidakseimbangan antara alam dan manusia.

Sasi mengajarkan pentingnya menjaga alam dan tidak mengeksploitasinya dengan semena-mena. Apabila alam dieksploitasi dengan semena-mena, yang akan merasakan kerugian juga manusia sendiri.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Sasi tercipta di Maluku karena kesadaran bahwa sumber daya alam di Maluku memiliki batas. Apabila dimanfaatkan dengan tidak beraturan, sumber daya itu bisa habis. Dari kesadaran itulah kemudian muncul sasi untuk menjaga ketersediaan SDA, tidak hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk generasi selanjutnya.

Continue Reading

Trending