Connect with us

Market

Mantap, 3 Bank Indonesia Masuk 10 Besar Terbesar di Asia Tenggara

Published

on

Bank BCA

Indonesia patut berbangga. Tiga bank asal Tanah Air masuk dalam 10 bank terbesar di Asia Tenggara 2021 versi Forbes.

Pada Mei 2021, Forbes Global 20000 merulis daftar perusahaan terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar (market capitalization) pada Mei 2021.

Ada empat metrik penilaian, yaitu aset, nilai pasar, penjualan (penyaluran kredit untuk perusahaan perbankan), dan keuntungan. Dari empat metrik tersebut kemudian menghasilkan daftar perusahaan publik yang terbesar, terkuat, dan paling berharga di dunia.

Ada tiga bank asal Indonesia, yakni Bank BCA, BRI, dan Mandiri yang masuk berdasarkan nilai kapitaliasi pasar pada 2021.

Bank Central Asia (BCA)

Bank BCA

Bank BCA menempati posisi kedua 10 bank terbesar di Asia Tenggara. Bank Central Asia (BCA) mampu mencatat kapitalisasi pasar senilai 53,1 miliar dollar AS. Angka tersebut menempatkan BCA di posisi dua sebagai bank terbesar se-Asia Tenggara, sekaligus menempati peringkat 320 global.

Penyaluran kredit BCA tercatat senilai 6 miliar dollar, profit 1,9 miliar dollar AS, dan aset sebesar 76,5 miliar dollar AS. Sementara berdasarkan data yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI), untuk perkembangan Emiten Biig Cap pada 11 Mei 2021, kapitalisasi pasar BCA berada di peringkat satu dengan nilai Rp791 triliun.

Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank BRI

Di posisi keempat ada Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan kapitalisasi pasar senilai 36,5 miliar dolar AS. Dari segi penyaluran kredit, BRI menjadi yang terbesar di Indonesia dengan nilai 10 miliar dolar AS dengan profit 1,3 miliar dolar AS. Sementara untuk total aset, bank pelat merah ini memiliki 107,6 miliar dolar AS.

Bank Mandiri

Bank Mandiri

Perusahaan perbankan pelat merah Indonesia lainnya, Bank Mandiri, mampu menempati peringkat ketujuh dengan kapitalisasi pasar senilai 20,2 miliar dolar AS. Untuk penyaluran kredit sendiri, Bank Mandiri mencatat 8,6 miliar dolar AS dengan profit 1,2 miliar dolar AS, dan membukukan aset senilai 202,7 miliar dolar AS.

Daftar 10 Bank Terbesar di Asia Tenggara

  1. DBS: 55,4 (Singapura)
  2. BCA: 53,1 (Indonesia)
  3. OCBC: 40,1 (Singapura)
  4. BRI: 36,5 (Indonesia)
  5. UOB 32,8 (Singapura)
  6. Maybank: 22,9 (Malaysia)
  7. Mandiri: 20,2 (Indonesia)
  8. Public Bank: 19,8 (Malaysia)
  9. Vietcombank: 15,5 (Vietnam)
  10. SCB: 11,4 (Thailand)

Market

Jokowi: Investasi Jadi Jangkar Pemulihan Ekonomi Nasional

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Ketidakpastian global yang selama ini terjadi memiliki dampak besar bagi perekonomian negara. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya realisasi investasi, karena investasi merupakan jangkar pemulihan ekonomi.

Demikian disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan sekaligus membuka Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi Tahun 2021 di Ballroom Hotel Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

“Investasi menjadi jangkar pemulihan ekonomi karena kita kalau terlalu berfokus pada APBN, defisit kita ini, meskipun saya tahu Bu Menkeu ini sangat prudent, sangat hati-hati dalam mengelola APBN kita. Oleh sebab itu, yang di luar APBN ini harus digerakkan, kembali lagi, investasi,” ucap Presiden.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Pada kesempatan tersebut, Kepala Negara meminta seluruh jajarannya untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh investor tanpa terkecuali.

“Dilayani saja belum tentu investor datang mau berinvestasi apalagi tidak dilayani dengan baik. Oleh sebab itu, pola-pola lama, hal-hal yang jadul semua harus mulai kita tinggalkan. Berikan pelayanan yang terbaik baik itu investor kecil, yang namanya usaha kecil itu juga investor, jangan keliru,” ujar Kepala Negara.

Presiden Jokowi menuturkan bahwa kemudahan perizinan merupakan salah satu bentuk pelayanan pemerintah terhadap investor. Presiden menilai, kehadiran para investor sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kalau investornya dari luar berarti membawa uang ke sini, artinya peredaran uang akan makin besar dan itu akan menimbulkan efek nanti ke daya beli masyarakat juga akan naik, konsumsi masyarakat akan naik, pertumbuhan ekonomi juga akan naik,” tutur Presiden.

Di samping itu, Presiden mengapresiasi pemerintah provinsi dan daerah yang telah mendapatkan penghargaan untuk investasi, baik realisasi investasi, maupun urusan perizinan.

“Saya senang tadi ada kementerian/lembaga, provinsi, kabupaten/kota, yang mendapatkan anugerah untuk investasi, baik realisasi investasi maupun urusan perizinan. Urusan pelayanan perizinan bagus, seperti tadi di Jawa Tengah, tapi realisasi investasi bagus di Jawa Barat,” tuturnya.

Presiden juga mengingatkan bahwa investasi yang saat ini dibutuhkan oleh Indonesia adalah investasi barang jadi atau barang setengah jadi. Hal ini dilakukan supaya Indonesia mendapatkan nilai tambah yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, pendapatan, dan daya beli masyarakat.

“Ekonomi kita yang sebelumnya berbasis bahan mentah dari sumber daya alam kita, ini akan satu per satu memang harus ada transisinya satu per satu akan kita stop, masuk ke setengah jadi, masuk ke barang jadi. Menjadi industri yang mendorong nilai tambah,” ucap Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden antara lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Continue Reading

Market

5 Dompet Digital yang Jadi Favorit Kaum Milenial Sepanjang Tahun 2021

Published

on

dompet digital 2021
dompet digital 2021

Cashless atau tak membawa uang cash saat ini menjadi tren gaya hidup kaum milenial. Mereka lebih memilih menggunakan dompet digital ketimbang membawa uang cash.

Secara definisi, cashless merupakan sistem pembayaran tanpa menggunakan uang tunai dan mengacu pada pembayaran secara digital.

Sistem pembayaran digital yang praktis ini sudah cukup lama diterapkan di Indonesia karena masing-masing individu tidak lagi memerlukan membawa banyak uang tunai. Selama pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah pun kian menggiatkan penerapan cashless agar mengurangi adanya kontak fisik yang terjadi ketika transaksi pembayaran dilakukan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Dompet digital (eWallet) merupakan salah satu bentuk implementasi dari cashless, di mana saat ini Indonesia sudah memiliki lebih dari 10 dompet digital. Secara sederhana, dompet digital berfungsi untuk melakukan ragam transaksi pembayaran baik melalui transfer atau pindai kode QR, setelah penggunanya sudah mengisi saldo di dompet digital tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, lembaga riset pasar Kadence International melakukan survei bertajuk “Digital Payment and Financial Services Usage and Behavior in Indonesia” yang rilis pada Agustus 2021. Survei dilakukan secara daring oleh 1.000 responden yang sebagian besar berasal dari Jabodetabek (40 persen), lalu Surabaya (20 persen), Makassar, Palembang, Bandung, dan Medan (10 persen).

MyCity telah merangkum lima dompet digital yang paling banyak digunakan oleh kaum milenial sepanjang tahun 2021.

OVO (31 persen)

OVO (31 persen)
OVO (31 persen)

OVO menjadi eWallet yang paling banyak digunakan baik untuk keperluan transaksi online maupun offline dengan perolehan sebanyak 31 persen. Sebagai dompet digital yang berada di puncak peringkat, hasil survei juga menunjukkan bahwa OVO berhasil mencapai angka hingga 96 persen dari segi kesadaran merek dan meraih persentase 71 persen dalam indikator pengguna aktif baru (satu bulan terakhir).

Menanggapi hal tersebut, Head of Corporate Communication OVO Harumi Supit memaparkan bahwa hal tersebut dapat didasari dari kemampuan OVO yang berhasil meningkatkan transaksi merchant online hingga 76 persen pada semester pertama di tahun 2021. Ditambah, pada hasil studi CORE Indonesia juga menunjukkan bahwa UMKM terbantu oleh ekosistem yang dimiliki OVO dengan porsi hingga 82 persen.

GoPay (25 persen)

GoPay (25 persen)

Layanan pembayaran yang berbasis dari aplikasi Gojek ini menduduki peringkat ke-2 dengan perolehan mencapai 25 persen. Untuk aspek kesadaran merek dan pengguna aktif sendiri angkanya tidak terlalu jauh dengan OVO, di mana masing-masing mencatat persentase 95 persen dan 64 persen.

Baru-baru ini, demi memastikan jaminan perlindungan keamanan transaksi digital, GoPay menggaet Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dengan langkah mengedukasi masyarakat tentang hak perlindungan konsumen dan cara untuk mengklaim hal tersebut.

Tidak hanya itu, GoPay juga meluncurkan program perlindungan Jaminan Saldo Kembali, yang merupakan bagian dari program #AmanBersamaGoPay untuk mengoptimalkan perlindungan keamanan ekstra dan kenyamanan bagi pengguna Gojek dan GoPay. Program tersebut akan mengembalikan saldo GoPay termasuk limit GoPayLater kepada pengguna yang hilang akibat penyalahgunaan akun Gojek di luar kendali pengguna.

ShopeePay (20 persen)

ShopeePay (20 persen)
ShopeePay (20 persen)

Dompet digital yang belum genap berusia dua tahun ini mampu menempati peringkat ke-3 dengan persentase 20 persen. Pada hasil survei juga menunjukkan bahwa dominasi penggunaan ShopeePay yang melalui transaksi online adalah untuk belanja online (84 persen) dan top-up melalui gadget (80 persen).

Mengutip keuangan.kontan.id, ShopeePay berhasil mencatat peningkatan jumlah transaksi di minimarket sebesar 143 persen hingga periode satu semester tahun 2021 dibandingkan pada semester dua 2020.

Lebih rinci, penggunaan per orang terhadap ShopeePay juga diketahui meningkat hingga 60 persen pada periode waktu yang sama.

Head of Campaigns and Growth Marketing ShopeePay, Cindy Candiawan menjelaskan progres yang diraih ShopeePay disebabkan oleh variasi kampanye promo yang menarik bersama merchant dari berbagai kategori guna mendukung produktivitas masyarakat terkhusus selama di rumah.

“ShopeePay berkomitmen untuk terus fokus menyediakan akses layanan pembayaran digital yang mudah, aman, dan memuaskan bagi masyarakat di seluruh wilayah di Indonesia,” jelasnya.

DANA (19 persen)

DANA (19 persen)

Meskipun menempati peringkat ke-4, pada sajian hasil survei milik YouGov menunjukkan bahwa DANA menjadi dompet digital yang paling menarik banyak minat kepercayaan masyarakat. Selain itu, jika dilihat dari segi pertumbuhan jumlah pengguna, DANA secara konsisten melakukan pencatatan terutama untuk periode Maret 2021 hingga akhir kuartal II 2021.

Melansir tranasia.com, dompet digital dengan total 80 juta pengguna ini secara stabil menunjukkan tren pertumbuhan positif dalam jumlah pengguna, di mana pada kuartal II 2021 tumbuh hingga mencapai 40 persen. Pertumbuhan jumlah pengguna DANA berasal dari bertambahnya jumlah pengguna di kalangan muda dengan rentang usia 18-24 tahun dan kalangan usia di atas 35 tahun.

Disamping itu, pada akhir Agustus lalu, DANA resmi meluncurkan pembaruan versi baru DANA v2.0 untuk lebih menyederhanakan fitur untuk kirim uang. Pembaruan yang dilakukan yaitu ada pada DANA Home, di mana tampilan halaman awal DANA menjadi lebih rapi.

Selain itu, versi terbaru DANA juga mengubah fitur kirim uang dengan langkah yang lebih sederhana, dengan cara pembaruan pada kolom pencarian untuk transfer sehingga lebih praktis, serta menampilkan sejumlah transaksi yang terakhir dilakukan.

LinkAja (4 persen)

LinkAja (4 persen)

Terakhir, peringkat ke-5 ditempati LinkAja dengan perolehan 4 persen. Kendati menempati peringkat 5, namun LinkAja berhasil mendominasi untuk jenis transaksi online dibandingkan keempat dompet digital lainnya dengan perolehan poin 6,1.

Dompet digital yang bermula hadir untuk menggantikan aplikasi TCash milik Telkomsel juga meraih poin tertinggi kedua setelah ShopeePay untuk transaksi online pesan makanan. Hasil survei juga menunjukkan bahwa LinkAja merupakan aplikasi yang paling mudah digunakan dibandingkan lainnya dengan persentase 79 persen.

Selain itu, demi memudahkan akses para penggunanya terhadap layanan keuangan digital berbasis syariah, baru-baru ini LinkAja bekerja sama dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Paybill. Hasil kerja sama ini nantinya bakal menciptakan platform layanan syariah LinkAja dan membantu memfasilitasi masyarakat umum yang belum mendapatkan akses perbankan, khususnya layanan keuangan digital berbasis syariah.

Continue Reading

Market

Lewati Singapura, Indonesia Jadi Raja Internet Ekonomi Asia Tenggara

Published

on

Internet ekonomi Indonesia
Internet ekonomi Indonesia

Berdasarkan laporan ekonomi bertajuk Roaring 20s: The SEA Digital Decade, internet economy Indonesia diprediksi bakal mencapai nilai 330 miliar dolar AS pada tahun 2030. Hal tersebut membuat Indonesia bakal menjadi macannya Asia Tenggara.

Padahal, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini adalah 170 miliar dolar AS. Dua tahun lagi atau tepatnya tahun 2025, ekonomi internet Indonesia kemungkinan akan mencapai nilai 146 miliar dolar AS pada tahun 2025 dari perkiraan 70 miliar dolar AS tahun 2021 ini, yang didorong oleh pertumbuhan eCommerce dan kerangka peraturan terbuka yang mendukung layanan keuangan digital.

Laporan yang merupakan edisi keenam ekonomi internet di Asia Tenggara ini mencakup hasil studi di Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura, yang memberikan insihght tentang eCommerce yang sedang booming di kawasan Asia Tenggara, sektor transportasi dan makanan yang terus menguat, perjalanan online, media online, dan sektor jasa keuangan, serta sektor kesehatan dan EduTech yang juga sedang berkembang.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Laporan tersebut juga mencatat bahwa pandemi menjadi salah satu faktor penting dalam akselerasi digitalisasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Hasilnya, seluruh sektor Indonesia yang dikaji dalam laporan ini menunjukkan pertumbuhan dua digit pada tahun 2021.

Tidak mengherankan, eCommerce tetap menjadi pendorong pertumbuhan terbesar ekonomi digital, dengan pertumbuhan tahun-ke-tahun 52 persen menjadi 53 miliar dolar AS dari 35 miliar dolar AS. Media online menempati urutan berikutnya dengan 48 persen, diikuti oleh transportasi dan makanan dengan 36 persen.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa Indonesia telah melampaui Singapura dalam menjadi “hottest investment destination in the region,” (tujuan investasi terpanas di kawasan Asia Tenggara)”, menandakan era baru ekonomi digital di tahun-tahun mendatang.

“Meskipun pasar tidak pasti, modal global terus mengalir ke pasar mengingat fundamental pertumbuhannya yang kuat, terutama di mana ada peningkatan penggunaan akibat Covid-19, seperti di e-commerce, fintech, healthtech, dan edtech,” tulis laporan itu.

Tren ke depan di antaranya 5G, Internet of Things (IoT), blockchain, kecerdasan buatan, dan cloud computing, akan mengubah dan mempengaruhi hidup masyarakat Indonesia.

Sementara itu, menurut Menteri Perdagangan RI Muhammad Luthfi, disrupsi di dalam teknologi menjadi hal yang penting untuk pelaku ekonomi baru. Pada 2020, ekonomi Indonesia secara produk domestik bruto (GDP) sekitar Rp15.400 triliun atau setara 1,1 triliun dolar AS dan pada akhir 2030, akan tumbuh sekitar 1,5 kali lipat antara Rp24.000-Rp30.000 triliun.

Pertumbuhan terbesar sebesar 34 persen berasal dari perdagangan secara elektronik dengan nilai sekitar Rp1.908 triliun atau 120 miliar dolar AS. Namun, yang terpenting adalah bidang pendidikan sebesar 3 persen dengan nilai Rp160 triliun dan kesehatan sebesar 8 persen dengan nilai sekitar Rp476 triliun. Dua hal tersebut sangat penting karena membantu generasi emas (golden generation), generasi penerus Indonesia.

Continue Reading

Trending