Connect with us

Culture

Mane’e, Tradisi Menangkap Ikan di Kepulauan Talaud

Published

on

Tradisi mane’e di Kepulauan Talaud. (Istimewa)

Mane’e adalah tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga kini oleh masyarakat Kakorotan-Intata di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Kepulauan Talaud sejatinya terletak di bagian utara Pulau Sulawesi. Wilayah ini adalah kawasan paling utara di Indonesia Timur, berbatasan langsung dengan daerah Davao del Sur, Pulau Mindanao, Filipina.

Festival menangkap ikan menggunakan janur yang disebut mane’e ini tak sekedar ritual adat yang masih terjaga, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Baca Juga:

  1. Singo Ulung, Tradisi Adat Demi Menepis Rasa Takut Asal Bondowoso
  2. Mumifikasi, Cara Suku Dani Menghormati Jasad Nenek Moyang
  3. Dadiah, Yogurt Tradisional khas Minangkabau

Tradisi mane’e dilakukan saat air laut mengalami pasang tertinggi dan surut terendah mencapai puncaknya, sebagai pertanda diakhirinya masa Eha.

Masa Eha merupakan periode pelarangan mengambil hasil laut dan daratan di Intata yang berlangsung antara 3 hingga 6 bulan. Bagi warga yang melanggar akan diberi sanksi adat. Pelaku akan dipermalukan dengan cara berkeliling kampung dengan ikan-ikan digantung di badannya.

Ritual Selepas Bencana

Tradisi mane’e. (Istimewa)

Tradisi mane’e diwariskan secara turun-temurun dan tetap terjaga hingga kini. Awalnya tradisi ini merupakan sebuah ritual yang dilakukan setelah terjadinya gempa bumi yang menyebabkan tsunami pada 1628 yang menerjang Pulau Kakorotan Induk.

Baca Juga :  Mengenal Perlon Unggahan, Tradisi Unik Masyarakat Bonokeling Sambut Ramadan

Begitu dahsyatnya bencana alam itu hingga Pulau Kakorotan Induk terbelah menjadi tiga bagian yaitu Pulau Kakorotan, Pulau Intata, dan Pulau Malo.

Konon, hanya 8 warga yang selamat dari bencana tersebut. Mereka kemudian menjadi cikal bakal empat suku yang mendiami Kepulauan Kakorotan-Intata yakni Waleuala, Pondo, Melonca dan Parapa.
Bencana alam tersebut juga menimbulkan dampak psikologis.

Penduduk menjadi trauma untuk berlayar ke tengah lautan untuk menangkap ikan. Akibatnya, penduduk pun kekurangan pangan karena memang nelayan merupakan satu-satunya profesi mereka pada saat itu.

Di masa susah itu, datanglah dua orang asing yang mengentak-entakkan dedaunan ke air. Tiba-tiba muncullah ikan. Penduduk yang tersisa memohon agar mereka diajari cara menangkap ikan itu. Kedua orang asing itu kemudian menyerahkan alat itu lalu pergi berlayar kembali.

Sejak saat itulah diyakini tradisi mane’e dimulai. Kini upacara tersebut diselenggarakan secara rutin setiap tahun antara Mei atau Juni saat air laut mengalami pasang tertinggi dan surut terendah mencapai puncaknya.

Baca Juga :  Kisah Sitti Nurbaya: Pemberontakan dan Kritik Budaya Pernikahan Minangkabau

Waktu pelaksanaannya diputuskan sesuai dengan kesepakatan tua-tua adat kampung dengan menyesuaikan waktu bulan purnama kedua.

Pelaksanaan Mane’e

Tradisi mane’e di Kepulauan Talaud. (Istimewa)

Prosesi Mane’e mengikuti arahan dari petuah adat setempat sesuai dengan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan hingga waktu penangkapan ikan. Pelaksanaannya terdiri atas 9 tahap.

Tahap pertama Mane’e disebut dengan Maraca Pundangi atau memotong dan mengambil tali hutan, termasuk mengumpulkan janur. Prosesi ini dilakukan 3-4 hari sebelum acara utama dilaksanakan.

Sementara yang tahapan kedua adalah upacara permohonan kepada Tuhan yang disebut Mangolompara. Kegiatan dilaksanakan pada subuh sebelum alat penangkapan ikan disebar ke laut.

Kemudian dilanjutkan dengan Matuda Tampa Panee atau acara menuju lokasi upacara Mane’e. Di sana mereka akan membuat perangkap ikan menggunakan janur. Prosesi ini dinamakan Mamabi U Sammi.

Setelah semua peralatan siap, mereka lalu menebar sammi atau perangkap ikan dari janur yang telah dibuat ke tengah laut. Tahap ini dinamakan Mamoto U Sammi. Selanjutnya warga akan menarik sammi ke darat yang disebut Mamole U Sammi.

Setelah ikan mendarat mereka mengambil hasil tangkapan ( Manganu Ina) dan membaginya (Matahia Ina). Prosesi acara diakhiri dengan kegiatan syukuran (Manarima alami).

Baca Juga :  Uang Panai, Tradisi Pernikahan Suku Bugis yang Jumlahnya Spektakuler

Menjaga Hubungan Baik dengan Alam

Kegiatan menangkap ikan dalam tradisi mane’e. (Istimewa)

Tujuan Tradisi Mane’e mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan yang baik dengan alam. Dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, para nelayan akan diberikan kelancaran dan keselamatan saat melaut.

Selain itu, apabila manusia mau menjaga kelestarian alam, maka alam pun akan bermurah hati kepada mereka.

Pada masa Eha saat larangan mengambil hasil bumi dan laut diberlakukan, alam terbebas dari gangguan manusia. Saat itulah beragam biota laut dapat berkembang biak dengan baik. Dan hasilnya pun dapat dinikmati untuk kesejahteraan warga.

Hal ini terbukti dengan melimpahnya ikan hasil tangkapan warga Kokorotan-Intata saat acara Mane’e berlangsung dan hari-hari setelahnya ketika mereka melaut.

Tradisi ini memang terbukti ampuh menjaga kelestarian alam di perairan Intata. Di sekeliling pulau ini terdapat rataan terumbu karang yang cukup lebar dengan kemiringan yang landai, terutama di bagian barat, dengan tutupan karang hidup lebih dari 30 persen. Kondisi itu memungkinkan populasi ikan-ikan karang relatif banyak.

Culture

Liburan ke Jepang Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan?

Published

on

Jepang/KumparanJepang/Kumparan

Mycity.co.id – Setiap negara memiliki tata krama dan aturan yang berbeda. Bahkan di Indonesia pun setiap daerah memiliki aturan dan tata kramanya sendiri.

Saat berkunjung ke luar negeri ada baiknya kita mempelajari aturan dan tata krama negara itu. Salah satunya adalah Jepang yang memegang teguh etika. Hal ini menyangkut kepercayaan serta norma yang berlaku di masyarakat.
Berikut hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan saat berada di Jepang!

1. Memberi Uang Tip Saat di Restoran

Memberi uang tip/Lifepal

Memberi uang tip/Lifepal

Tidak disarankan memberi uang tip di restorang Jepang. Sudah hal yang biasa untuk memberikan uang tip di restoran sebagai tanda terima kasih. Namun, dinegeri sakura ini dilarang melakukan hal tersebut karena memberi tip kepada pegawai restoran bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan. Bagi mereka, memberikan pelayanan terbaik sudah menjadi kewajiban agar para pelanggan senang dan kembali datang ke restoran.

Baca Juga :  5 Negara yang Ajarkan Bahasa Indonesia di Sekolah dan Universitas

2. Menggunakan Telunjuk untuk Menunjukkan Arah

Menujuk arah/Depositphotos

Menujuk arah/Depositphotos

Saat bertanya arah dengan orang Jepang sebaiknya jangan menggunakan telunjuk untuk menunjuk peta karena ini dianggap mengancam dan tidak sopan lebih baik mengarahkan dengan tangan terbuka daripada menggunakan telunjuk.

3. Bersalaman

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Salaman dianggap kurang sopan di Jepang kalau ingin berbaur dengan orang Jepang harus membungkuk untuk memberi salam, berterima kasih atau meminta maaf.

4. Meremehkan Kartu Bisnis Orang Lain

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Di Jepang kartu nama bukanlah benda yang dianggap remeh karena kartu bisnis berisi identitas dan segala detail diri dari sang pemilik, maka hargai itu. jika diberi kartu nama bisnis terima dengan kedua tanganmu dan baca baik-baik. kalau saat itu sedang dalam pertemuan bisnis taruh kartu nama di atas meja di hadapan kita. jangan langsung menyimpannya di kantong ini dianggap sangat kasar kamu harus memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak atau dompet kartu nama.

Baca Juga :  Tradisi Kaul Negeri dan Abda’u Saat Sambut Idul Adha

5. Jangan Langsung Membuka Pintu Taksi

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang punya pintu yang terbuka secara otomatis jadi saat taksi berhenti jangan langsung buka pintunya, sopir akan membukanya dengan menekan tombol kalau kamu buka sendiri kebanyakan sopir akan tersinggung

Baca Juga :  Botram, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Sunda yang Bikin Nagih

6. Awasebashi

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Dilarang karena dianggap membawa kesialan. Salah satu hal yang tabu untuk dilakukan di Jepang adalah Awasebashi, yaitu kegiatan memberikan makanan kepada orang lain dari satu pasang sumpit ke sumpit lainnya. Di tradisi kremasi, di mana tulang yang tersisa dari abu kremasi akan dioper kepada anggota keluarga dengan menggunakan sumpit. Karena Awasebashi mirip seperti itu, maka bisa dianggap membawa kesialan.

7. Memetik Bunga Sakura

Bunga sakura/Klik dokter

Bunga sakura/Klik dokter

Memetik bunga sakura dilarang di Jepang. Bunga ini merupakan kebanggaan bangsa Jepang yang dianggap istimewa karena tergolong berumur pendek dan hanya mekar di musim tertentu. Jadi, jangan coba untuk memetiknya langsung dari tangkai. Kalau mau, lebih baik mengambil bunga sakura yang telah berguguran di bawah pohon.

Sumber: Berbagai sumber

Continue Reading

Culture

Nasi Tumpeng di Acara Syukuran, Ini Tradisinya

Published

on

Nasi Tumpeng : IDN News

Nasi Tumpeng : IDN News

mycity.co.id Nasi tumpeng selalu menjadi bagian penting dalam beragam perayaan di Indonesia. Kegiatan memotong nasi tumpeng seringkali menjadi puncak sebuah acara.

Mengapa nasi tumpeng menjadi elemen yang penting dalam perayaan di Indonesia khususnya Pulau Jawa?

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam.

Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Baca Juga :  Kesenian Ketoprak, Dulunya Hiburan Tani

Menurut tradisi Islam di Jawa, “tumpeng” merupakan akronim dari bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Hal ini mempunyai makna agar maksud pemangki hajat akan tercapai dengan hasil yang paling baik yang dilambangkan dengan bagian yang paling atas. Potongan tumpeng biasanya diberikan pada seseorang yang dianggap paling istimewa atau yang dihormati sebagai ungkapan ras aahoramat dan sayang.

Biasanya, lauk-pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini pun bukan tanpa alasan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, maksudnya adalah pitulungan (pertolongan).

Baca Juga :  Uang Panai, Tradisi Pernikahan Suku Bugis yang Jumlahnya Spektakuler

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal.

Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara itu, dari segi lauk-pauknya, ayam yang menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh.

Pemilihan ayam jantan in memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Baca Juga :  Kisah Sitti Nurbaya: Pemberontakan dan Kritik Budaya Pernikahan Minangkabau

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

Continue Reading

Culture

Mengenal Tradisi Afternoon Tea di Inggris

Published

on

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

mycity.co.id – Cityzen, pernahkah kalian bermimpi menjadi seorang putri kerajaan dan mengadakan pesta minum teh bersama para Putri, dan para bangsawan lain?

Jika iya, pasti penasaran bagaimana tradisi minum teh yang dimaksud. Dirangkum mycity.co.id  dari berbagai laman sumber,  ‘Afternoon Tea’ atau sering disebut sebagai tradisi minum teh, pada mulanya hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan Inggris saja.

Ini karena pada masa itu, sekitar pertengahan abad ke-17 kebanyakkan teh diimpor dari China sehingga harga teh hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan atas. Pada tahun 1840 Afternoon Tea diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang bangsawan bernama Anna Dutchess.

Pada tahun ini pula penemuan lampu minyak sudah ditemukan, sehingga waktu makan malam diundur menjadi lebih malam sekitar pukul 08.00 malam. Dalam keluarga bangsawan Inggris, waktu memakan makanan berat hanya pada pagi hari dan malam hari saja. saat siang hari mereka hanya diperkenankan makan makanan ringan.

Baca Juga :  Mengenal Mangenta, Tradisi Suku Dayak yang Sukses Pecahkan Rekor MURI

Sementara itu Anna Dutchess kerap kali dilanda lapar pada pukul empat sore, hal itu menjadikan Dutchess meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Baca Juga :  Kisah Sitti Nurbaya: Pemberontakan dan Kritik Budaya Pernikahan Minangkabau

Ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung bersama untuk sekedar minum teh serta memakan kue dan cemilan-cemilan pada sore hari saat ia datang ke London. Kebiasan itu didukung oleh kerajaan dan diikuti oleh kerajaan lainnya juga. Teh yang disajikan selalu menggunakan teko perak nan elegan dan dituangkan ke dalam cangkir porselen yang indah.

Acara minum teh pada masa itu merupakan cara untuk menunjukkan kemewahan pada para tamu yang hadir. Pada 23 September 1658, surat kabar republik London Mercurius Politicus memuat iklan teh pertama di Inggris. Iklan ini mengumumkan bahwa minuman China yang disebut tcha, atau bangsa lain menyebutnya tay alias tea tersedia di beberapa kedai kopi. Dari situlah teh semakin populer.

Baca Juga :  Uang Panai, Tradisi Pernikahan Suku Bugis yang Jumlahnya Spektakuler

Pada akhir abad ke-19, harga teh mulai terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga orang-orang kelas menengah pun dapat melakukan tradisi afternoon tea.  Kegiatan tersebut pun menyebar luas ke seluruh Inggris dan bahkan ke Amerika Serikat.

Masyarakat Inggris biasanya menikmati kegiatan minum teh di tempat-tempat favorit mereka, misalnya kafe, rumah atau taman sambil sambil membaca buku atau mengobrol bersama teman. Kegiatan minum teh ini sekarang menjadi agenda yang selalu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Continue Reading
Advertisement

Trending