Connect with us

Sosial-Budaya

Lonser, Seni Pertunjukan Banyolan Khas Sunda

Published

on

Seni Pertunjukkan Lonser Khas Sunda, Jawa Barat (Source: 18news.id)

Lonser merupakan seni pertunjukan melalui theater yang berasal dari Jawa Barat. Longser dikenal di Bandung pada tahun 1915.

Pementasan Longser ini biasanya terdiri dari pemain alat musik, pelawak, dan ronggeng yang merupakan seorang wanita yang menjadi penyanyi sekaligus penari dalam pagelaran tersebut.

Beberapa cerita yang sering diangkat oleh Longser yaitu Si Keletek Jeung Si Kulutuk, Pahatu Lalis, Suganda-Sugandi, Kelong, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

  1. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  2. 5 Rekomendasi Museum Virtual di Indonesia Versi MyCity
  3. 5 Hotel Paling Angker di Indonesia Versi MyCity!

Selain itu, alat musik yang seringkali dimainkan dalam seni pertunjukan ini seperti kendang, terompet, kempul, rebab, kempyang, saron, gong, kecrek. Seiring bertambahnya waktu dan perkembangan zaman, alat musik yang dimainkan dalam seni pertunjukkan ini juga bertambah seperti adanya musik kecapi, gambang, salendro, dan lain sebagainya.

Para ronggeng dalam Lonser biasanya menggunakan pakaian adat Sunda seperi kain ataupun kebaya. Sedangkan untuk pria dalam seni pertunjukkan ini menggunakan pakaian jawara seperti kain sarung, kampret, ikat kepala, golok yang disematkan di pinggang, dan lain sebagainya.

Seni pertunjukkan ini berisi mengenai banyolan atau candaan khas Sunda yang biasa menarik isu-isu dari keseharian seperti perkawinan, perjodohan, ataupun percekcokan suami istri.

Sosial-Budaya

Makna & Filosofi Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Pencucian Diri di Bali

Published

on

Siat Yeh
Siat Yeh

Pulau Bali tidak pernah lepas dari tradisi adat dan budaya. Setiap desa di pulau dewata selalu menyajikan tradisi yang unik dan mempunyai makna mendalam pada lingkungan sekitar atau alam dalam makna yang luas.

Salah satunya adalah tradisi perang air atau siat yeh Jimbaran. Pengadaan tradisi ini merupakan upaya untuk membangkitkan kebiasaan yang kini mulai ditinggalkan oleh banyak warga Bali.

Bagi warga setempat, pelaksanaan siat yeh Jimbaran merupakan upacara penglukatan agung. Seperti yang diketahui, tradisi melukat merupakan upacara yang dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan pikiran serta jiwa secara spiritual. Dengan begitu, pribadi yang telah menjalani upacara melukat, bisa bebas dari pikiran kotor yang ada dalam dirinya.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Pelaksanaan tradisi siat yeh Jimbaran itu dilakukan bertepatan dengan Ngembak Geni. Ngembak Geni merupakan momen satu hari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Pada pelaksanaannya, perang air di Jimbaran ini dapat diikuti oleh siapa saja. Tidak hanya terbatas pada masyarakat setempat, tetapi juga bisa diikuti oleh wisatawan.

Seperti halnya tradisi lain, siat yeh Jimbaran bukan merupakan sebuah aktivitas perang air biasa. Di dalamnya, Anda bisa mengetahui simbol serta makna yang begitu dalam. Bahkan, siat yeh dianggap sebagai upaya untuk berperang melawan segala keinginan yang ada dalam diri sendiri dengan tujuan terhindar dari hal-hal buruk.

Seperti yang dikatakan oleh I Gusti Ketut Gede, Yusah Asana Putra, selaku Ketua Panitian Pengarah Siat Yeh, dalam kata ‘Siat’ yang berarti perang merupakan makna. Pada hakikatnya manusia dalam saban harinya sebenarnya berperang melawan keinginan diri sendiri untuk menghindari hal-hal yang tidak baik.

“Kenapa ‘Siat’ karena sesungguhnya manusia setiap hari berperang dengan diri sendiri atau pikiran-pikiran diri sendiri. Itulah yang kita ambil maknanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap hari kita perang dengan diri kita sendiri antara keinginan yang baik dan tidak baik,” ucapnya.

Siat Yeh
Siat Yeh

Sedangkan kata ‘Yeh’ yang berarti air merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Sehingga sumber air itu harus dijaga dan dihormati. Sehingga, nantinya dengan menjaga kedua sember air tersebut masyarakat bisa mendapatkan kemakmuran.

“Kita harus menghormati sumber air. Air yang ada di Jimbaran adalah air Pantai dan Suwung. Dulu orang Jimbaran hidupnya itu, kalau tidak dari Suwung ya dari laut. Kalau dulu di Suwung itu ada pembuatan garam yang sangat luar biasa. Orang Jimbaran dulu kerja membuat garam dan ditukar dengan beras. Kalau yang di pantai menjadi nelayan untuk mencari ikan,” imbuh Yusah Asana Putra.

Yusah Asana Putra membeberkan mengapa tradisi Siat Yeh dilakukan, karena kembali untuk mempertemukan dua sumber air tersebut. Sebab sejak dulu, sebelum pembangunan pariwisata di Jimbaran, kedua air tersebut selalu bertemu secara alami jika dalam keadaan pasang.

“Karena sekarang pembangun pariwisata seperti ini, ketemunya tidak secara langsung, sehingga manusia yang membangun maka manusia yang harus menemukannya kembali air itu. Kalau dua sumber bisa ketemu maka kemakmuran akan tercapai. Itu harapan kami,” tuturnya.

Kemudian, dari energi atau kekuatan spiritual, Yusah Asana Putra menyampaikan bahwa energi dari air Segara dan Suwung itu kalau dikelola secara baik akan menjadi energi yang luar biasa. Sehingga berdampak positif pada masyarakat Jimbaran.

Siat Yeh
Siat Yeh

“Kalau kita kelola dengan baik bisa membuat energi yang luar biasa. Kalau salah, akan membuat energi negatif juga. Kami hormati dua energi ini dan mempertemukan secara positif dengan harapan masyarakat Jimbaran menjadi tenang, dengan mempertemukan kekuatan dari timur dan barat,” ujarnya.

Prosesi diawali dengan mendak (menjemput) air suci yang diambil dari dua sumber berbeda yang dimaksud sebelumnya.

Dalam pengambilan tersebut, digunakan sejumlah kendi dari masing-masing wilayah yang kemudian dipertemukan di depan Balai Banjar Teba, Jimbaran, dengan disambut pertunjukan Tari Rejang. Setelahnya, dua tirta atau sumber air tersebut kemudian disatukan dan digunakan untuk ritual panglukatan agung bagi seluruh warga Banjar Teba.

Siat Yeh
Siat Yeh

Sementara itu sisanya, baru digunakan untuk pelaksanaan perang air yang dilakukan oleh kalangan masyarakat atau anak-anak muda yang dibagi ke dalam dua kubu bersebrangan, untuk saling menyiramkan air antara satu kelompok ke kelompok lainnya.

Saat ini, kegiatan perang air dalam tradisi Siat Yeh bisa dilakukan oleh siapapun termasuk para wisatawan dan tidak terbatas bagi masyarakat setempat saja.

Selain dijadikan sebagai sarana untuk menghilangkan segala jenis kekotoran duniawi bagi setiap orang yang terlibat, kembali dihidupkannya tradisi Siat Yeh juga diharapkan dapat terus dilakukan dengan penuh suka cita dan kegembiraan setiap tahunnya untuk melestarikan warisan para leluhur.

Continue Reading

Sosial-Budaya

UNESCO Tetapkan Songket Jadi Warisan Budaya Malaysia, Ini Perbedaannya dengan Songket Indonesia

Published

on

Kain Songket
Kain Songket

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang pendidikan, keilmuan, dan budaya, telah resmi menetapkan Songket Malaysia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia atau Intangible Cultural Heritage.

Penetapan dilakukan saat sesi ke-16 Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris, Prancis, pada Rabu (15/12/2021).

Songket merupakan kain sutra atau katun tenunan tangan dengan pola benang emas atau perak yang indah yang dapat dilihat di Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Benang-benang metalik pada kain songket, yang sebelumnya diperuntukkan bagi bangsawan pada abad ke-16, dipadukan di atas bahan dasar untuk menghasilkan tampilan yang berkilauan.

Teknik tersebut berasal dari abad keenam belas, diturunkan dari ibu ke anak perempuannya dan melalui program pelatihan formal. Laki-laki berpartisipasi dengan menciptakan peralatan tenun.

Songket digunakan dalam pakaian tradisional untuk upacara, acara-acara pesta dan acara-acara resmi kenegaraan.

Berada satu rumpun, Indonesia juga memiliki songket, seperti dari Sumatera Barat. Kain tradisional ini merupakan turunan dari kain melayu.

Lantas, apa perbedaan antara songket Indonesia dan Malaysia?

Pertama dalam hal warna. Songket Malaysia rata-rata memiliki satu warna. Jadi kain memiliki satu warna dasar, kemudian terdapat dekorasi benang emas atau perak membentuk motif. Sedangkan songket Indonesia, warna kainnya beragam misal songket Palembang yang bisa memadukan dua warna plus corak benang emas pada satu kain.

Kedua adalah motif. Songket Malaysia biasanya menggunakan motif bunga-bunga. Sedangkan di Indonesia, songket memiliki beragam motif tergantung daerah.

Di Malaysia, songket jadi unsur dalam busana formal dalam situasi resmi. Anda tentu kerap menemukan para pejabat Malaysia, khususnya pria, mengenakan kain bermotif di atas celana. Kain bermotif ini merupakan songket. Kain dikenakan layaknya mengenakan sarung (digulung di bagian depan).

Sementara anggota keluarga kerajaan biasanya mengenakan busana resmi songket secara menyeluruh, seperti gaya busana orang Melayu di Indonesia. Sedangkan untuk kaum Hawa, kebanyakan mengenakan setelan songket misal, baju kurung tenun songket dan sarung bawahan songket

Kemudian di Indonesia, pria mengenakan songket dalam upacara-upacara termasuk pernikahan seperti di Sumatera. Ini juga disebut sebagai baju Duta Besar yakni setelan jas remi Teluk Belanga dengan celana panjang, songket, dan peci (kopiah).

Continue Reading

Ragam

PBB Tetapkan Gamelan Sebagai Warisan Budaya Dunia

Published

on

Alat musik Gamelan
Alat musik Gamelan

Berdasarkan Sidang UNESCO sesi ke-16 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris pada 15 Desember 2021, menetapkan gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage).

Dengan adanya penetapan ini, gamelan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia UNESCO ke-12 setelah wayang, keris, batik, pendidikan dan pelatihan batik, angklung, tari saman, noken, tiga genre tari tradisional di Bali, seni pembuatan kapal pinisi, tradisi pencak silat, dan pantun.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengatakan bahwa proses pengusulan gamelan ke UNESCO sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2019 lalu dan tahun ini akhirnya bisa masuk ke dalam daftar warisan budaya tak benda versi UNESCO.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Ia pun menyatakan bangga dengan penetapan gamelan ini karena sejak dahulu hingga saat ini seni gamelan terus dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ini adalah capaian kita bangsa Indonesia yang tumbuh dalam keragaman budaya,” ujar Nadiem.

Bahkan, Presiden Jokowi ikut menyampaikan apresiasi terhadap pencapaian ini. Menurutnya, Gamelan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari rakyat di berbagai daerah di Indonesia.

Alat musik Gamelan
Alat musik Gamelan

“Saya menyambut dengan hangat dan bangga atas penetapan ini. Gamelan sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari rakyat di berbagai daerah di Indonesia, terus dipelajari, dikembangkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Gamelan juga memberi inspirasi dan pengaruh terhadap musik dunia,” tulis Jokowi di akun Instagramnya, @jokowi.

“Indonesia akan terus melestarikan gamelan melalui pendidikan dan pelatihan secara formal dan non formal, melalui festival, pawai, pertunjukan, dan pertukaran budaya,” sambung dia.

Upaya pelestarian terhadap gamelan memang sudah dilakukan sejak lama oleh berbagai pihak. Mulai tahun 2012, Kemendikbudristek membantu penyediaan gamelan ke berbagai sanggar. Dari pihak pemerintah daerah pun aktif mendukung pelestarian gamelan dengan program-program seperti memfasilitasi penyediaan gamelan, gamelan masuk sekolah, festival gamelan, kompetisi, pawai, pertunjukan dan pelatihan gamelan. Institut seni dan sanggar pun turut aktif dalam mengenalkan dan memberi pelatihan gamelan kepada masyarakat.

Duta Besar LBBP RI untuk Prancis, Andorra, Monako/Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, mengatakan bahwa gamelan telah lama dimanfaatkan sebagai aset diplomasi. Duta besar RI telah berkomitmen untuk terus mempromosikan alat musik tradisional ini lewat berbagai aktivitas seperti pembelajaran gamelan untuk masyarakat asing dan pertukaran budaya.

Alat Musik Gamelan

Dalam penetapannya sebagai warisan budaya, UNESCO mencatat nilai filosofi gamelan sebagai salah satu sarana ekspresi budaya dan membangun koneksi antara manusia dengan semesta. Pihak UNESCO pun mengakui bahwa gamelan yang dimainkan secara orkestra mengajarkan nilai-nilai untuk saling menghormati, mencintai, dan peduli satu sama lain.

Gamelan sendiri merupakan alat musik ansambel tradisional Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok. Gamelan adalah seperangkat instrumen yang dibunyikan bersamaan, mulai dari gambang, gendang, rebab, siter, suling, dan gong.

Alat musik Gamelan
Alat musik Gamelan

Dilansir Indonesiakaya.com, gamelan memilik sistem nada non diatonis yang menggabungkan notasi, warna suara, ritme, fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia, serta beberapa alat musik yang menghasilkan suara indah jika dimainkan secara harmonis.

Gamelan diduga sudah ada di Jawa sejak tahun 404 Masehi. Hal ini terlihat dari penggambaran masa lalu di relief Candi Borobudur dan Prambanan. Alat musik ini memiliki nilai estetika seperti nilai sosial, moral, dan spiritual. Gamelan juga dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan, mengiringi tarian, membangun suasana religius, sarana dakwah, dan menyambut tamu penting.

Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek menyambut dengan gembira atas ditetapkannya gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda ini. Menurutnya, pengakuan oleh UNESCO berarti pengakuan dunia akan meningkatkan citra bangsa Indonesia di mata internasional.

“Ini berarti tugas kita semakin dituntut untuk melestarikan warisan budaya gamelan. Sekaligus, ini juga menjadi tantangan kita semua untuk menunjukkan kepada dunia tentang upaya Indonesia memajukan Kebudayaan,” ungkap Hilmar.

Continue Reading

Trending