Connect with us

Properti

Lombok, Ladang Cuan Anyar Bisnis Properti Indonesia

Published

on

Gran Melia Lombok
Gran Melia Lombok

Tonggak sektor properti komersial kini bergantung pada regulasi di industri pariwisata. Terutama di situasi pasca-pandemi, kebijakan pemerintah yang substansial sangat dinantikan banyak pihak terutama perusahaan properti komersial yang bergerak di bisnis akomodasi hotel dan resor.

Merujuk data yang dirilis Bank Indonesia dalam Perkembangan Properti Komersial Triwulan III-2021, pertumbuhan permintaan properti komersial kini mulai menunjukkan perbaikan meskipun masih tumbuh terbatas. Indeks Permintaan Properti Komersial secara tahunan tumbuh positif sebesar 0,13% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan 0,06% (yoy) pertumbuhan pada triwulan II-2021.

Berdasarkan informasi di lapangan, occupancy rate hotel rata-rata adalah 15%-20% pada periode Juli-Agustus 2021. Namun sejak regulasi terhadap izin masuknya orang asing ke Indonesia diperluas pada pertengahan September, tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada September 2021 mencapai rata-rata 36,64 persen atau naik 4,52 poin dibandingkan TPK September 2020 yang sebesar 32,12 persen. Demikian dikutip dari Kementerian Parekraf RI.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Perkembangan bisnis properti komersial yakni hotel dan resor di Indonesia memang masih di fase pemulihan. Kendati demikian, brand hotel mewah ternama asal Spanyol yakni Meliá Hotels International sudah begitu optimistis terhadap pasar resor Tanah Air dengan melahirkan Gran Meliá Lombok yang rencananya dibuka pada tahun 2024.

Mengusung sentuhan kemewahan Spanyol ke Indonesia, Gran Meliá Lombok terletak di Teluk Torok, Lombok. Lokasinya berada di selatan pulau, dikelilingi oleh perbukitan hijau dan pantai dengan air sebening kristal, menjadikannya tujuan sempurna untuk mengasingkan diri dan menikmati hidup yang lebih tenang.

Lombok yang beberapa tahun belakangan jadi alternatif destinasi wisata favorit turis domestik maupun mancanegara, semakin tenar namanya usai World Superbike (WSBK) 2021 yang diselenggarakan di Sirkuit Mandalika. Potensi Lombok sebagai tujuan investasi seyogyanya didukung penuh oleh kemudahan dari sisi perizinan pemerintah setempat.

Selain itu, potensi utama Lombok terletak pada pesonanya yang dibekali keindahan lingkungan alam yang masih terjaga keasliannya. Sawahnya yang luas, lanskap yang terjal, dan gunung berapi Rinjani yang terkenal merupakan bagian dari atraksi alam pulau, yang dikelilingi oleh pantai tak berujung dan perairan pirus yang ideal untuk peselancar.

Itu sebabnya, resor Gran Meliá Lombok yang memiliki 22 vila tepi pantai mewah dan 105 vila lainnya di lereng gunung, akan menambah semarak industri pariwisata Lombok termasuk sektor properti komersial Tanah Air.

“Komitmen kami untuk Indonesia, di mana kami membuka hotel internasional pertama kami lebih dari 35 tahun yang lalu, lebih kuat dari sebelumnya dan kami sangat senang menandatangani perjanjian baru ini. Gran Meliá Lombok akan menjadi resor tujuan tersendiri di Lombok dan selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat,” ujar Gabriel Escarrer, Wakil Ketua dan CEO Meliá Hotels International.

Gran Meliá Lombok dimiliki oleh Invest Islands – sebuah perusahaan pengembang real estat dan properti berlisensi penuh yang berbasis di Lombok – dan akan menjadi hotel ke-12 Meliá Hotels International di Indonesia. Delapan di antaranya saat ini beroperasi dan empat lainnya termasuk Gran Meliá Lombok tengah menunggu pembukaan.

Jack Brown selaku pendiri Invest Islands mengatakan, “Gran Meliá Lombok adalah tonggak sejarah besar bagi Invest Islands. Kami sangat bangga dapat bekerja sama dengan pemimpin dunia dalam pengoperasian hotel dan salah satu kesamaan utama yang kami miliki dengan brand Meliá adalah fokus pada pengembangan rendah karbon. Gran Melia Lombok memiliki kepadatan bangunan yang sangat rendah dan banyak ruang terbuka hijau alami.”

Meskipun Invest Islands adalah perusahaan pengembangan properti, namun Jack menyebut pihaknya punya komitmen yang sama dengan Meliá Hotels International terkait sustainability. Diantaranya dalam hal eksplorasi solusi ekologis, baik itu melalui penggunaan bahan asli dan pengrajin lokal atau melalui pertanian organik serta pusat daur ulang plastik.

“Semoga ini adalah awal dari hubungan baik yang dapat berlanjut selama bertahun-tahun yang akan datang dan kami berharap dapat membawa kemewahan Spanyol ke Lombok, dengan tetap menghormati lingkungan alam,” tutup Jack.

Properti

Pandemi Covid-19 Bikin Layanan Hotel Berubah

Published

on

Ilustrasi hotel

Sektor perhotelan dan pariwisata menjadi industri yang paling terpukul saat pandemi Covid-19. Berbagai adaptasi telah membuat sektor ini terus bangkit dengan menerapkan inovasi kalau hotel bukan sekadar tempat menginap tapi bisa disesuaikan dengan berbagai kebutuhan.

Pandemi Covid-19 tidak terasa telah kita jalani selama 2,5 tahun dan hingga saat ini berbagai adaptasi maupun penyesuaian terus dilakukan. Pandemi telah membuat produk properti hingga pola-pola marketing berubah dan hal itu diikuti oleh hampir seluruh segmen baik residensial, ritel-komersial, perkantoran, hingga pariwisata.

Untuk sektor pariwisata misalnya, pandemi telah membuat okupansi hotel dan tingkat kunjungan ke berbagai kawasan pariwisata drop. Dengan berbagai adaptasi, kita kian terbiasa dengan pola-pola menginap di hotel yang dikemas dengan berbagai cara dan tentunya mengutamakan protokol kesehatan.

Baca Juga:

  1. Memahami Four Tasks of Mouning, Tahapan Kala Berduka
  2. Kenali Apa Itu Gaslighting, Manipulasi Pikiran Secara Psikologis
  3. Kenali Relationship Red Flags, Tanda Merah Sebelum Terlambat

Berbagai adaptasi ini juga dilakukan oleh RedDoorz, sebuah platform multi-brand perhotelan dan akomodasi berbasis teknologi. Seiring kiprahnya yang telah mencapai tujuh tahun, RedDoorz beradaptasi dengan meluncurkan beberapa lini hotel khususnya untuk menyesuaikan dengan berbagai adaptasi maupun lifestyle yang berubah karena pandemi.

Menurut CEO and Co-Founder RedDoorz Amit Saberwal, di Indonesia RedDoorz beradaptasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dengan meluncurkan beberapa lini hotel seperti Sans Hotel untuk para milenial dan Gen Z, Koolkost untuk masyarakat yang ingin menginap dalam jangka waktu panjang, dan sebagainya.

“Banyak adaptasi terkait layanan dan kebutuhan yang kami hadirkan. Kami juga menghadirkan Sunerra Hotel yang dirancang khusus untuk perjalanan keluarga dan bisnis hingga Urbanview Hotel yang menyediakan akomodasi bagi wisatawan urban untuk bekerja sambil staycation maupun workcation,” ujarnya.

RedDoorz juga terus meningkatkan kampanyenya untuk merangkul para property owner lokal di Indonesia untuk terus mengembangkan akomodasi dan memberikan dampak yang positif bagi perekonomian setempat. Harapannya para property owner bisa mengelola dan mengembangkan propertinya dan melebarkan sayap untuk menjangkau pasar yang lebih besar.

Berbagai inovasi juga akan terus diluncurkan untuk memberikan pengalaman menginap terbaik bagi pelanggan. Dengan kiprahnya yang telah tujuh tahun, strategi multi-brand teurs dikembangkan untuk melayani masyarakat khususnya pada 2,5 tahun terakhir saat kita mengalami situasi pandemi.

President Direcotr RedDoorz Indonesia Mohit Gandas menambahkan, pada masa pandemi ini juga RedDoorz mencatatkan okupansi tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 52 persen dibandingkan tahun 2019 lalu. Hal ini tidak terlepas dari dukungan pelanggan, partner, hingga property partner.

“Ke depan kami akan terus merangkul dan memberikan layanan terbaik bagi para stakeholders khususnya para pelanggan, partner, hingga online travel agent (OTA). Kami juga akan terus meningkatkan inovasi baik pengalaman menginap hingga kemudahan pemesanan melalui perkembangan teknologi informasi,” imbuhnya.

Continue Reading

Properti

Perekonomian Indonesia Makin Oke, Sektor Properti Tumbuh 5 Persen

Published

on

Properti Indonesia

Pemerintah melalui menteri-menteri di bidang ekonominya telah menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia yang masih sangat positif di tengah situasi krisis global. Situasi ekonomi yang relatif baik ini akan mendorong sektor properti tumbuh lebih besar lagi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu menerima delegasi Dana Moneter Internasional (IMF) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Delegasi IMF antara lain Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan, dan Representatif Senior IMF untuk Indonesia James Walsh.

Saat memberikan keterangan usai mendampingi Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan, dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi menyampaikan sejumlah hal kepada IMF mengenai situasi perekonomian di Indonesia.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

“Ekonomi Indonesia relatif baik di mana inflasi sekitar 4,2 persen dan pertumbuhan 5,01 persen. Ekonomi kita dibandingkan negara lain, kita punya debt to GDP ratio sekitar 42 persen, beberapa negara itu mencapai 100 persen. Kemudian defisit masih sekitar 4 persen dan current account 0,5 persen dengan balance of trade kita 26 bulan positif terus. Kita juga memiliki foreign reserve mencapai 135 miliar dollar Amerika,” ujarnya.

Airlangga menjelaskan bahwa situasi perekonomian di Indonesia relatif baik dengan potensi resesi lebih kecil jika dibandingkan negara lain yaitu sekitar 3 persen. Meski demikian, pemerintah berharap IMF akan terus mendukung dan memberikan narasi positif terhadap perekonomian Indonesia terutama dalam menghadapi krisis global.

“Kita sangat mengkhawatirkan dengan kondisi inflasi yang naik di berbagai negara. Tingkat suku bunga akan masuk rezim baru yaitu kenaikan tingkat suku bunga global dan tentu sangat mempengaruhi terhadap investasi yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia,” lanjutnya.

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, IMF menilai perekonomian Indonesia dalam kondisi baik dari beberapa sisi seperti kinerja ekonomi, sisi pertumbuhan, sisi neraca pembayaran yang mengalami surplus perdagangan selama 26 bulan berturut-turut, dan sisi inflasi yang berada di bawah 5 persen.

“Paling penting yaitu sinkronisasi dan kerja sama kebijakan moneter fiskal dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk bisa menjaga untuk tetap bekerja secara harmonis karena ini akan membantu menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia,” katanya.

Berbagai indikator yang disampaikan dari sisi pemerintah yang menyebut perekonomian di Indonesia cukup baik tentunya berdampak langsung pada bisnis properti. Situasi yang dipaparkan pemerintah ini juga telah banyak disebutkan oleh pengamat hingga praktisi di sektor padat modal ini.

Menurut pengamat properti senior Panangian Simanungkalit, sektor properti tahun 2022 ini akan terus bergerak ke arah yang positif terlebih dengan terus membaiknya kondisi ekonomi nasional sebagaimana yang dipaparkan oleh menteri-menteri di bidang ekonomi. Sektor properti juga merupakan industri yang memiliki banyak sektor ikutan yang akan mendorong pemulihan ekonomi nasional yang lebih besar lagi.

“Sektor properti itu selalu menjadi gerbong ataupun lokomotif perekonomian di setiap negara terlebih lagi di Indonesia yang pasarnya sangat besar. Keterangan pemerintah yang menyebut ekonomi kita masih bisa tumbuh 5 persen, untuk sektor properti itu pertumbuhannya akan menjadi 15 persen karena banyaknya sektor yang terkait dengan properti,” jelasnya.

Continue Reading

Properti

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Published

on

Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah untuk menerapkan berbagai konsep untuk menghadirkan hunian post pandemic yang semakin dicari konsumen.

Pandemi Covid-19 yang kita alami sejak awal tahun 2020 telah memunculkan banyak kenormalan baru mulai dari lifestyle sehari-hari hingga konsep hunian. Pandemi Covid-19 yang mudah menular antar manusia, membuat desain rumah dikonsep dan dirancang lebih seksama untuk tidak menjadi bagian dari penularan itu.

Karena itu banyak rumah-rumah yang ditawarkan dengan konsep maupun fitur-fitur untuk memastikan tidak menjadi spot penularan virus dan membuat seluruh penghuni tetap sehat. Konsep rumah post pandemic ini juga diintegrasikan dengan pengembangan kawasannya yang juga menyediakan berbagai sarana maupun fasilitas untuk menjadi kawasan yang sehat.

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Konsep maupun fitur-fitur hunian seperti ini menjadi lebih mudah ditawarkan dalam pengembangan mini real estate, townhouse maupun konsep hunian private cluster yang jumlah unitnya terbatas. Pengembang bisa mengoptimalkan desain maupun konsep pengembangan untuk menghadirkan hunian yang menerapkan banyak aplikasi new normal.

Dengan hunian yang telah menerapkan berbagai new normal baik dari sisi desain maupun fasilitasnya, penghuni bisa merasa lebih nyaman dan terlindungi. Dengan penerapan fitur-fitur khusus itu setidaknya meniadakan kemungkinan penyebaran virus dari rumah maupun kawasan hunian.

Hal itu yang kemudian diterapkan di perumahan mini real estat Mazenta Residence Jalan Bakti Karya Raya, Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Perumahan mini real estat hasil pengembangan PT Serpong Bangun Cipta (Cipta Harmoni Lestari), anak perusahaan Harita Group, mengonsep kawasannya dengan hunian ala Jepang yang menerapkan banyak fitur untuk mengusung kesehatan kawasan.

“Salah satu fitur penting yang dihadirkan untuk mengusung konsep post pandemic house yaitu genkan, sebuah ruang transisi di bagian teras untuk membersihkan diri sebelum masuk ke rumah. Konsep ini membuat siapapun yang masuk ke dalam rumah sudah lebih bersih sehingga aman bagi seluruh penghuni,” ujar Setia Iskandar Rusli, Project Director & Chief Marketing Officer Mazenta Residence.

Mazenta Residence dikembangkan di atas lahan seluas 1,7 hektar yang mencakup 91 unit rumah dua lantai. Konsep hunian dan kawasan yang sehat dihadirkan secara menyeluruh untuk selaras dengan keseimbangan alam yang menerapkan eco-friendly housing and environment. Seluruh unit rumahnya dibuat dengan ceiling yang tinggi dengan banyak bukaan untuk mengoptimalkan cross ventilation.

Fitur unik lainnya yaitu bagian atap yang dibuat warna putih sehingga bisa mereduksi pancaran panas matahari ke dalam rumah hingga 50 persen. Layout ruang dirancang spacious dengan cahaya dan udara bergerak lancar untuk membuat interior tidak lembab dan mudah mematikan berbagai virus maupun bakteri.

Konsep post pandemic house ini juga dioptimalkan dengan penyediaan fasilitas untuk mengoptimalkan konsep sehat kawasannya termasuk berbagai aktivitas penghuni yang sesuai. Beberapa fasilitas yang dihadirkan antara lain yoga park, pet park, wet park, children playground, Tabebuya Walk, looping jogging track, outdoor gym, clubhouse, dan sebagainya.

Konsep-konsep yang dihadirkan ini akhirnya menarik minat konsumen dan itu terbukti pada penjualan yang sudah mencapai 70 persen sejak dipasarkan bulan April lalu. Setya juga menyebut, respon yang baik ini membuat proses pengembangan mulai groundbreaking hingga serah terima yang dipercepat menjadi semester pertama 2023.

“Selain lokasi, konsep menjadi penting dan itu ditunjang dengan segmen harga yang bisa melebihi dari value produk yang kami tawarkan. Hunian private cluster dengan konsep kuat seperti yang kami tawarkan memiliki pasarnya sendiri dan kebutuhan itu yang kami penuhi khususnya saat situasi pandemi,” bebernya.

Continue Reading

Trending