Connect with us

Properti

Lima Rekomendasi Rumah Gaya Jepang Minimalis & Nyaman

Published

on

Rumah gaya Jepang

Memiliki rumah dengan desain dari negara lain akan selalu menarik. Apalagi dengan bangunan yang khas dari negara tersebut. Seperti contohnya Jepang, negara ini memiliki bangunan rumah yang khas baik eksterior maupun interior.

Rumah Jepang minimalis merupakan salah satu desain yang disebut mampu menggabungkan tampilan tradisional dan modern dengan sangat baik. Jepang sangat terkenal dalam ranah arsitekturnya, tak heran rumah Jepang walau terkesan minimalis tetap mempunyai kualitas yang baik.

Di dalam gaya arsitektur Jepang, ada beberapa elemen khas negara Sakura yang tidak bisa dilewatkan. Elemen-elemen tersebut akan mendukung keberhasilan kalian dalam membangun rumah. Berbagai elemen itu di antaranya adalah wasi sabi, engawa, dan tatami.

Baca Juga:

  1. Ridwan Kamil Ungkap Alasan Utama Jenazah Eril Tetap Utuh
  2. Jarak Lokasi Eril Tenggelam Hingga Ditemukan di Engehalde
  3. MUI Jabar: Usai Tiba di Indonesia, Jenazah Eril Langsung Disalatkan dan Dikuburkan

Wabi sabi adalah sebuah filosofi hidup yang berasal dari Jepang. Arti dari wabi sabi adalah bahagia dan tenang walau dalam ketidaksempurnaan. Tidak hanya di kehidupan sehari-hari, filosofi hidup ini juga dicerminkan dalam gaya arsitektur Jepang. Rumah khas Jepang sering terkesan simpel, namun tetap nyaman.

Sebagai elemen dari budaya zen, kedekatan dengan alam sangat diperhatikan dalam gaya arsitektur Jepang. Engawa merupakan koridor luar rumah yang mendekatkan penghuni rumah dengan alam sekitarnya. Engawa berfungsi untuk menghubungkan kamar dan sebagai transisi dari luar dan dalam rumah.

Desain interior Jepang memang lebih santai dibanding desain Barat. Seperti yang sering kita lihat, masyarakat Jepang lebih senang duduk lesehan. Tatami adalah sebuah jenis tikar yang dipakai sebagai alas rumah. Dengan menggunakan tatami, rumah Anda akan berkesan lega dan nyaman.

Rumah Gaya Jepang Tradisional

Rumah Gaya Jepang Tradisional

Pertama ada gaya tradisional atau disebut sebagai minka. Biasanya tipe rumah ini ditemukan di desa-desa atau pegunungan Jepang. Ciri khas budaya yang berada di dalam rumah ini masih sangat kental. Sebagai contoh sudah pasti ada tatami, washitsu, genkan, dan fusuma. Selain itu, teras yang luas serta bebatuan yang ada di halaman juga jelas terlihat.

Rumah Gaya Jepang Gandare House

Rumah Gaya Jepang Gandare House

Gandare house unik dan akan menjadi sorotan di area tertentu. Aksen kayu disulap menjadi gaya modern pada bagian luar. Tetapi elemen khas Jepang bagian dalam yang terbuat dari material kayu, tidak berubah sama sekali. Rumah gaya Jepang modern ini sangat nyaman ditempati, apalagi dengan pencahayaan alami yang datang dari jendela besar rumah.

Rumah Gaya Jepang Scandinavian

Rumah Gaya Jepang Scandinavian

Gaya Scandinavian sudah menjadi tren sejak lama. Bahkan di Indonesia, sudah banyak proyek rumah dijual yang mengusung konsep ini. Dipadukan dengan Jepang atau disebut sebagai Japandi, beberapa ciri khas yang dapat diterapkan adalah menggunakan warna putih pada dinding, memperbanyak elemen kayu dan menggunakan pintu geser atau washitsu.

Modern Dominasi Kaca

Seperti yang disebut di atas bahwa salah satu ciri khas rumah di Jepang adalah atap overstek lebar dan miring. Nah, hal itu dapat dipadukan dengan gaya rumah modern. Contohnya seperti di atas yang mendominasi kaca. Rumah ini cocok dibangun di dataran tinggi yang memiliki pemandangan alam yang menyegarkan mata.

Rumah Gaya Jepang Minimalis

Rumah Gaya Jepang Minimalis

Banyak menjadi dambaan banyak orang, rumah gaya Jepang minimalis ternyata sangat cocok diaplikasikan ke rumah impian Anda. Sama seperti yang lainnya, minimalis gaya Jepang menggunakan warna monokrom di banyak bagian. Bedanya adalah jendela tidak dipasang di bagian depan. Selain itu, supaya kesan Jepang tadi semakin terasa, Anda dapat menggunakan gerbang geser material kayu.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Properti

Pemerintah Beri Insentif ke Pengembang yang Bangun Rumah Susun

Published

on

Ilustrasi rumah susun

Untuk mendorong pengembangan hunian vertikal di perkotaan, pemerintah akan memberikan insentif berupa pembebasan PPN dan kemudahan lainnya. Ini untuk mendorong suplai hunian yang kebutuhannya sangat besar khususnya di kawasan perkotaan.

Pemerintah terus mendorong kalangan pengembang untuk memperbanyak suplai produk hunian mengingat kebutuhan masyarakat yang sangat besar dan backlog perumahan yang juga sangat tinggi. Pemerintah juga mendorong kalangan pengembang untuk memperbanyak suplai hunian vertikal di kawasan perkotaan.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna mengatakan, pemerintah terus mendorong kalangan pengembang untuk membangun perumahan khususnya hunian subsidi di wilayah-wilayah dengan tingkat populasi yang tinggi.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

“Setiap pihak harus ikut berkontribusi untuk penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di perkotaan dan konsep hunian yang tepat untuk segmen ini berupa hunian vertikal atau rumah susun (rusun). Tingginya kebutuhan hunian ditambah angka backlog yang mencapai 12,7 juta unit belum rumah tidak layak huni yang mencapai 23 juta unit, jadi tugas sektor perumahan kita masih sangat berat,” katanya.

Saat ini, pengembangan rumah subsidi baru tercapai sekitar 200 ribu unit setiap tahunnya yang menandakan masih sangat jauh antara kebutuhan dengan suplai yang bisa disediakan. Hal ini selanjutnya akan terus memperbesar angka backlog perumahan kita secara nasional.

Untuk suplai rumah subsidi dari segmen rusun juga angkanya masih sangat kecil berkisar 9.000 unit dari total 1,7 juta unit rumah subsidi yang pembiayaannya telah disalurkan oleh pemerintah. Karena itu Herry kembali mendorong kalangan pengembang maupun stakeholder perumahan lainnya untuk terus membangun konsep hunian rusun terlebih di wilayah perkotaan.

Kolaborasi bisa terus dilakukan khususnya dengan terus mempertajam karakteristik lokasi pengembangan rusun. Urbanisasi maupun wilayah-wilayah yang berkembang menjadi perkotaan harus menjadi pemikiran bersama untuk mengoptimalkan lahan yang ada salah satunya dengan konsep pengembangan vertikal.

Solusi lain juga diutarakan Herry, untuk wilayaj di luar Jakarta pengembangan hunian bisa dengan membangun rusun bertingkat rendah atau lowrise vertical (LRV) housing. Supaya menarik bagi perusahaan pengembang, pemerintah akan memberikan sejumlah insentif seperti pembebasan PPN untuk rusun yang dibangun dengan harga di bawah Rp300 juta.

“Kementerian PUPR juga terus berimprovisasi atas aturan perizinan bangunan gedung (PBG) yang saat ini prosesnya sedang berjalan. Kalau pengembang terkendala dengan masalah kongkrit terkait PBK akan dikoordinasikan untuk dicarikan solusinya termasuk usulan untuk penyesuaian harga rumah dan rusun subsidi yang terus dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan,” bebernya.

Continue Reading

Properti

Alasan Utama Hunian OTD Paling Cocok untuk Kaum Milenial

Published

on

Kawasan hunian OTD

Konsep hunian TOD bisa menjadi solusi yang tepat untuk kalangan pekerja milenial karena dilengkapi dengan transportasi publik dan berbagai fasilitas lainnya. Karena itu Perum Perumnas terus mendorong pengembangan kawasan TOD di berbagai wilayah.

Perusahaan BUMN di bidang perumahan Perum Perumnas terus didorong untuk memperbanyak suplai hunian perkotaan dengan konsep transit oriented development (TOD). Dengan konsep TOD, hunian diintegrasikan dengan sarana transportasi umum sehingga memudahkan mobilitas penghuni.

Bukan hanya integrasi dengan transportasi publik, di kawasan TOD juga menyediakan berbagai fasilitas ritel dan berbagai sarana lainnya sehingga memudahkan penghuni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari cukup di dalam kawasannya. Inilah yang menjadi hal utama konsep hunian seperti ini cocok untuk kalangan pekerja muda milenial di perkotaan.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Menurut Direktur Utama Perumnas Budi Saddewa Soediro, sesuai arahan pemerintah melalui Kementerian BUMN, Perumnas memang terus didorong untuk mengembangkan sebanyak mungkin hunian untuk kalangan pekerja milenial. Salah satunya berkolaborasi dengan perusahaan BUMN lain maupun pihak swasta.

“Kami akan terus menghadirkan hunian idaman mulai dari rumah subsidi dengan harga mulai Rp168 jutaan yang bisa dicicil mulai Rp1 jutaan hingga hunian vertikal berkonsep TOD yang cocok untuk masyarakat perkotaan. Ada banyak keuntungan bila pekerja milenial berhunian di kawasan TOD,” ujarnya.

Beberapa kemudahan yang ditawarkan dari hunian di kawasan TOD antara lain bisa menunjang kebutuhan kalangan milanial yang dinamis dan mobilitas tinggi. Untuk menjangkau segmen pasar ini, Perumnas menyiapkan proyek TOD yang dikerjasamakan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yaitu Samesta Mahata Tanjung Barat, Samesta Mahata Margonda, Samesta Mahata Serpong, dan Samesta Mahata Parayasa Bogor.

Sebelumnya, Perumnas juga telah meluncurkan Millenial Zone yang diresmikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Intinya, pemerintah akan terus mendukung penyelesaian berbagai sarana penunjang untuk kebutuhan hunian dan lifestyle kalangan milenial melalui produk-produk yang dihasilkan Perumnas.

Bukan hanya empat proyek TOD yang bekerja sama dengan KAI, Perumnas juga memiliki produk lain seperti Samesta Sentraland Cengkareng yang merupakan kawasan bisnis dan industri di Jakarta Barat. Aksesnya juga mudah ke Bandara Soekarno Hatta. Kemudian rumah tapak di Samesta Dramaga Bogor yang dekat ke Kampus IPD dan Stasiun Bogor. Proyek lainnya Samesta Grand Sentralan Karawang dan Sentraland Residence II yang dekat dengan kawasan industri Karawang, Jara Barat.

Bukan hanya menyiapkan produk hunian yang cocok untuk milenial, Perumnas juga menyiapkan cara bayar menarik yang cocok dengan penghasilan pekerja milenial. Diantaranya program khusus Pay Later, bunga ringan 2,2 persen, hingga berbagai hadiah langsung untuk memudahkan milenial menghuni rumah pertamanya.

“Kami akan terus menghadirkan keunggulan produk yang dibutuhkan oleh segmen pasar yang kami sasar seperti kalangan milenial dengan kawasan TOD. Ke depan, kami akan terus mengupayakan untuk menjangkau pasar yang lebih besar dan masif untuk mendorong capaian target perusahaan,” jelas Budi.

Continue Reading

Properti

Ternyata, Sektor Properti Sumbang 60% Emisi Karbon

Published

on

Ilustrasi properti

Perubahan iklim telah nyata menjadi tantangan yang harus diatasi secara global. Kota-kota di Asia Pasifik menyumbang emisi karbon dari industri real estat mencapai 60 persen dari keseluruhan emisi karbon dan ini harus menjadi upaya semua pihak untuk menguranginya.

Kita diingatkan lagi kerusakan lingkungan akibat emisi karbon yang dihasilkan dari industri real estat. Sebuah studi yang dilakukan di 32 kota global menyebutkan, sektor real estat menyumbang rata-rata 60 persen dari keseluruhan emisi karbon dan ini melebihi perkiraan World Green Building Council dengan klaim sebesar 40 persen.

Di sisi lain, laporan terbaru yang diterbitkan JLL menyebut data yang lebih memprihatinkan. JLL menyatakan kontribusi emisi karbon dari sektor ini bisa lebih tinggi di beberapa pusat bisnis terbesar di Asia Pasifik seperti Tokyo yang sebesar 73 persen, Seoul 69 persen, hingga Melbourne 66 persen.

Baca Juga:

  1. Sate Susu, Kuliner Khas Bali yang Hanya Muncul Saat Ramadan
  2. Wajib Coba, Inilah 5 Tempat Makan Sate Terenak Seantero Jakarta Pilihan MyCity
  3. Aurra Kharisma Tampil dengan Kostum Bertema ‘Sate Ayam’

Laporan JLL terbaru bertajuk Decarbonising Cities and Real Estate mendapati kesenjangan yang signifikan antara kebijakan yang diberlakukan di perkotaan, dampak industri real estat, dan ilmu sains iklim yang menunjukan perlunya tindakan cepat untuk mengatasi pemanasan global.

Menurut Head of ESG Research JLL Asia Pasifik Kamya Miglani, untuk mewujudkan rencana dekarbonisasi bangunan yang holistik dan efektif perlu ditekankan kerja sama antara pemerintah dengan pemilik lahan, investor, pengembang, maupun penghuni atau pengguna bangunan.

“Bangunan atau gedung merupakan solusi sekaligus masalah bagi krisis iklim yang kita hadapi dan kerja sama antara sektor swasta dan publik sangat penting untuk mendorong kemajuan nyata dalam dekarbonisasi ekonomi. Untuk kawasan Asia Pasifik hal ini sangat penting karena kota-kota seperti Hong Kong 85 persen bangunannya berusia lebih dari 10 tahun dan memerlukan peremajaan,” ujarnya.

Sayangnya, lanjut Miglani, hingga saat ini belum ada target yang ditetapkan untuk dekabornisasi bangunan itu. Pemerintah juga harus mengeluarkan peraturan yang ketat hingga pinalti yang berat terkait standar bangunan untuk mencapai perlombaan net-zero karbon.

Penelitian JLL juga menunjukan kalau kota-kota yang paling mungkin berhasil dalam mengurangi emisi karbon adalah kota-kota yang mampu menyeimbangkan regulasi, insentif, inovasi, dan akselerator. Sejumlah kota juga menerapkan pendekatan inovatif untuk mengurangi emisi bangunan seperti Singapura dengan Rencana Induk Bangunan Hijau (Green Building Masterplan) yang menargetkan dekarbonisasi bangunan hingga 80 persen hingga 2030.

Sementara itu Tokyo menerapkan program cap-and-trade yang memberi insentif kepada pemilik bangunan untuk mengurangi emisi karbon dan menggunakan energi terbarukan. Namun penelitian JLL juga mengingatkan, kalau kebijakan dan regulasi yang saat ini diterapkan di seluruh dunia belum sepenuhnya mengikuti perkembangan ilmu sains sehingga sektor swasta mengemban tanggung jawab lebih besar dalam merespon tantangan perubahan iklim.

Kondisi ini sangat relevan di kota-kota Asia seperti Shanghai, Hong Kong, dan Mumbai yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan berada dalam situasi mendesak untuk meningkatkan ketahanan terhadap suhu panas, kekeringan, kebakaran, dan curah hujan yang tinggi.

“Kadang pemerintah kota-kota menetapkan target keberlanjutan yang ambisius dan sering kali jauh di atas target nasional. Kota-kota seperti Sydney dan Shanghai menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 70 dan 65 persen tahun 2030. Tapi upaya ini seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup seperti Hong Kong, Shanghai, dan Mumbai tidak memiliki target nyata untuk mengembangkan gedung maupun bangunan bebas karbon,” bebernya.

Continue Reading

Trending