Connect with us

CityView

Kubur Pitu Troloyo, Situs Islam di Majapahit

Published

on

makam islam troloyo

Tampaknya telah menjadi semacam kesepakatan umum bahwa Trowulan, sebuah desa yang terletak sekitar 10 km di sebelah barat daya kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Daerah ini dipercaya merupakan bekas pusat kerajaan Majapahit.

Kendatipun anggapan di atas belum dapat dinyatakan secara lebih tegas, namun dapatlah dinyatakan bahwa pada suatu kurun tertentu Trowulan pernah menjadi pusat dari kerajaan tersebut.

Sebagai bekas pusat kerajaan yang besar, ternyata peninggalanya tersebar luas bukan saja di kecamatan Trowulan sekarang, juga mencakup beberapa wilayah disekitarnya, peninggalan tersebut hingga sekarang masih dapat disaksikan baik yang berupa bangunan, kolam, gapura, saluran air dan Makam.

Menurut buku terbitan Departement Pendidikan dan Kebudayaan, Trowulan Dalam Lintasan Sejarah, penelitian arkeologi di situs Trowulan dan sekitarnya dilakukan sejak tahun 1976 sampai Sekarang.

Pusat kepurbakalaan Islam di Trowulan berada di komplek Troloyo, komplek ini terletak di dukuh Sidodadi desa Sentonorejo. Sentono berasal dari kata asthana yang berarti tempat bersemayam (mati) dan rejo sama dengan ramai.

Nama Troloyo menurut seorang pakar dapat diuraikan menjadi tro dan loyo atau laya. Tro merupakan variasi dari tar dan kata ini merupakan singkatan dari antar yang bisa berarti tempat sedangkan Laya dapat diartikan mati, jadi Troloyo juga dapat diartikan sebagai tempat orang meninggal.

Makam Islam Troloyo ini berada pada pusat perkotaan Majapahit, karena kalau dipahami, seperti yang dijelaskan dalam Kakawin Nagarakertagama khususnya Pupuh VIII – XIII yang merupakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui gambaran kota Majapahit sekitar tahun 1350.

Kota pada masa itu bukanlah kota dalam arti kota yang sekarang. Pigeaud, ahli sejarah yang berasal dari Belanda ini mengkaji Nagarakertagama yang ditulis oleh mpu Prapanca itu menyimpulkan bahwa Majapahit bukan kota yang dikelilingi tembok, melainkan sebuah kompleks pemukiman besar yang meliputi sejumlah kompleks yang lebih kecil, satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.

Baca Juga:

  1. Batu Lemo, Wisata Kubur Batu Jenazah di Tanah Toraja
  2. Tradisi Ziarah Jelang Ramadhan, Begini Asal-usulnya
  3. Tradisi Megibung Bali: Campuran Tradisi dalam Sambut Ramadan

Dan dilihat dari bukti-bukti arkeologis yang ada di sekitar kompleks pemakaman ini. Cerita ini adalah seorang juru kunci makam Troloyo bernama Mangoen Amidjaja. Benar atau tidaknya cerita ini, yang jelas Mangoen memberikan sedikit gambaran tentang makam Troloyo.

Kalau benar bahwa sang Prabu Brawijaya akhirnya masuk Islam itupun atas kesadaraannya sendiri bukan karena dipaksa atau diperangi. Penyebaran agama Islam di Majapahit dapat disimpulkan dengan penuh toleransi dan penuh pengertian.

Bukti-bukti arkeologis di lapangan seperti yang dapat disaksikan di kompleks makam Troloyo membuktikan kebenaraan pendapat ini, telah terjadi ‘Adaptasi Kultural’ antara unsur-unsur Islam dan unsur-unsur lama dalam paduan yang serasi. Hal ini-pun sama dengan beberapa peninggalan arkeologi Islam yang berada di Jawa Timur.

Dalam buku yang dikarang oleh seorang jendral inggris Raffles di indonesia yang berjudul The History of Java ketika mengunjungi wilayah atau kompleks makam islam menjelaskan sedikit gambaran tentang Makam Islam Troloyo pada masa kolonial.

Tetapi, setidaknya Rafless menerangkan bahwa di sekitar kolam segaran, Trowulan dimungkinkan sekali terdapat petilasan sebagai pusat kekuasaaan dan di dekatnya lagi telah terdapat pemakaman Islam yang telah dimuliakan oleh penduduk, dalam tahun-tahun atau masa ketika pengaruh Majapahit masih sangat kuat.

Bukan secara kebetulan kalau di Troloyo yang termasuk dukuh Sidodadi tersebut merupakan tempat pemakaman terbesar di daerah Trowulan. karena di Troloyo inilah konsentrasi makam Islam terbesar karena isinya bukan saja makam-makam kuno, akan tetapi juga dipakai pula sebagai tempat pemakaman umum penduduk setempat.

menurut tutur masyarakat awalnya makam kunolah yang berada di tempat itu dengan pohon jati yang mengelilinginya kemudian pada masa jepang jati tersebut ditebang seluruhnya yang tertinggal hanyalah beberapa pohon besar saja seperti yang dapat kita lihat sekarang, dan pada saat itulah mulai dipakai masyarakat sekitar sebagai tempat pemakaman umum desa Sentonorejo64 , luas areal sekitar 2 hektare.

Makam Troloyo merupakan bukti adanya komunitas muslim didalam kota kerajaan Majapahit. Bukti ini didukung oleh sumber tertulis berupa adanya komunitas muslim di ibu kota kerajaan Majapahit dituliskan juga dalam ying yaishing lan yang ditulis oleh Ma Huan pada tahun 1416 M.

Dalam buku the malay annals of semarang and cerbon yang ditulis oleh H. J. De Graff disebutkan bahwa utusan-utusan china dari dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim.

Menurut cerita tutur masyarakat kompleks makam Islam Troloyo pada masa kejayaan Majapahit, ketika itu masih berupa hutan belantara yang merupakan tempat peristirahatan dan tempat aktivitas masyarakat (kaum niagawan) muslim

Khususnya adalah tempat untuk para penyebar Islam menyebarkan agama di tengah-tengah masyarakat penduduk Hindu.

CityView

Mengenal Lebih Dalam Perkampungan Masyarakat Arab di Pekojan Jakarta Barat

Published

on

kampung arab pekojan

Masyarakat Arab cukup banyak yang tinggal dan menetap di Nusantara. Orang-orang Arab menetap di kampung-kampung yang diberikan dari sebuah dampak terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda.

Kebijakan wijkenstelsel memberikan aturan yang menciptakan pemukiman orang-orang Arab di sejumlah kota pada masa Hindia Belanda. Mereka tidak diperbolehkan untuk tinggal disembarang tempat pada masa tersebut. Dengan begitu, orang-orang Arab tidak bisa melakukan perjalanan jauh tanpa ada surat jalan dari pemerintah Kolonial.

Orang-orang Arab yang bermukim di kampung tersebut dinamakan sebuah kampung Pekojan. Hingga saat ini, kampung Pekojan menjadi kampung yang dihuni oleh orang-orang yang berketurunan Arab.

Kebanyakan orang-orang Arab dari Hadramaut di Indonesia yang tinggal di kampung Pekojan memiliki hubungan keturunan dengan nenek moyang yang berhasil sampai ke negeri tersebut. Istilah ‘nenek moyang’ tidak dipilih secara sembarangan.

Pertama, sebagian besar orang-orang Arab Hadramaut yang bermigrasi adalah laki-laki bujangan atau laki-laki yang meninggalkan keluarga mereka di Hadramaut dan menikah dengan penduduk setempat di negara tuan rumah mereka.

Kedua, kesamaan dengan sebagian besar masyarakat Timur Tengah, silsilah terutama dilacak melalui laki-laki. Oleh karena itu, keturunan seorang pria Hadramaut dan seorang wanita lokal Indonesia dapat dianggap sebagai Hadrami.

Menurut Frode F.Jacobsen dalam buku Hadrami Arab In Present-Day Indonesia, Di Indonesia dengan komunitas Arab yang cukup besar dan organisasi-organisasi Arab Hadramaut yang sangat berkembang, identifikasi yang dapat dilihat dengan masyarakat di tuan rumah sebenarnya sudah biasa di Hadramaut selama beberapa abad terakhir, berbeda dengan masyarakat Hadramaut yang tersebar di wilayah Hydrabad, India dan Sudan.

Eksistensi keberadaan masyarakat Arab di Indonesia telah membentuk komunitas Arab-Hadrami dari peranakan Arab Yaman mulai bermukim dan menempati wilayah-wilayah di Jawa terutama di Jakarta. Di Jakarta terdapat sebuah kampung Arab yaitu Kampung Pekojan.

Masyarakat Arab bermukim di kampung Pekojan yang selalu menghadirkan nuansa-nuansa keAraban dalam bentuk hubungan sosial, aktivitasnya bahkan hingga ke arsitekturnya.

Pada abad ke-18 dan hingga sampai saat ini kampung Pekojan masih ramai dan hidup berdampingan dengan penduduk Pribumi.

Awal mula Pekojan terdapat imigran-imigran dari India yang menetap di wilayah tersebut. Nama Pekojan berasal dari kata ‘Koja’ yang merupakan sebuah sebutan yang cukup popoler di kala itu menemui orang-orang India disana.

Tetapi karena kebijakan Pemerintahan Kolonial, akhirnya keturunan Arab yang menjadi mayoritas di Pekojan dan menggantikan orang-orang India yang dulu tinggal di Pekojan.

Baca Juga:

  1. Kedatangan Arab Hadhrami di Nusantara
  2. Masjid Sunan Ampel Surabaya, Wujud Perpaduan Islam dan Jawa
  3. Kampung Arab Al-Munawar, Kampung Arab-Palembang yang Tak Kalah dengan Surabaya

Kampung Pekojan adalah suatu kampung dengan hubungan sosial diantara pedagang Gujarat dengan masyarakat Indonesia yang memunculkan sebuah perkampungan yang disebut Pekojan.

Hingga saat ini, beberapa kota besar di Indonesia terdapat kampung Pekojan. Pekojan yang diartikan sebagai pendagang Gujarat. Sebagian dari pendagang tersebut menikah dengan wanita Indonesia dari putri-putri raja hingga bangsawan.

Oleh karena itu, banyak dari keluarga raja atau bangsawan yang masuk Islam dan kemudian diikuti oleh rakyatnya. Pada abad ke-18, Pekojan menjadi salah satu kawasan atau tempat tingga khusus bagi komunitas Arab dari keturunan India maupun keturunan Arab yang beragama Islam.

Dalam sistem yang dilakukan Pemerintahan Kolonial Belanda pada saat itu, memisahkan setiap orang berdasarkan suku dan etnis serta agama tertentu dengan membentuk kelompok pada saat itu.

Selain ingin lebih mudah mengatur suatu kawasan/wilayah dan untuk lebih mudah pula untuk dapat mendata jumlah penduduk baik yang sudah lama menetap ataupun pendatang yang baru di kawasan tersebut, maka dibentuklah kawasan-kawasan tersebut. Salah satunya kampung Pekojan sebagai kampung Arab di Batavia.

Alwi Shahab dalam Maria Van Engels: Menantu Habib Kwitang, Di Pekojan inilah Belanda memberlakukan sistem passen stelsel. Mereka yang tinggal di kawasan Pekojan bila hendak pergih ke daerah harus terlebih dahulu mendapatkan surat jalan dari Kapiten Arab di wilayah Pekojan.

Kampung Arab Pekojan masuk ke dalam bagian dari Distrik Penjagalan. Pada masa pemerintahan Belanda kelurahan Penjagalan berada di bawah Penjaringan Wijk, Onderdistn’ct Penjaringan dan District Batavia yang pada masa itu masih disebut Kampung Penjagalan.

Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Penjagalan masuk Penjaringan Son, Kawedanan Jakarta Kota. Setelah Kemerdekaan sampai tahun 1967 Kampung Penjagalan masuk wilayah Kelurahan Penjagalan. Kec. Penjaringan, Jakarta Utara.

Tetapi, pemekaran kota, pada tahun 1967, wilayah Kelurahan Penjagalan dipecah menjad 2, yaitu sebagian masuk kedalam wilayah Kelurahan Pekojan, Kec. Tambora, dan Sebagian masuk wilayah Penjagalan Utara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Selama ini Arab berbagi tempat dengan Muslim asing lainnya. Di Batavia, tempat tinggal orang-orang Arab ini disebut Pekojan, setelah Koja atau Moor yang melebihi jumlah minoritas Muslim lainnya sampai pada awal abad ke-19.

Namun, setelah 1880, jumlah imigran Arab secara bertahap meningkat dan Pekojan akhirnya menjadi seperempat Arab. Pertumbuhan konstan komunitas Arab di Hindia terlihat dari pendirian tempat baru, penciptaan pangkat Jurumudi (wijkmeester), dan pengangkatan dan gaji pejabat seperempat.

Pada tahun 1873, Hindia Belanda memiliki 35 perempat untuk “Orang Asing Orang Asing Lain”, di antaranya orang Arab menjadi kelompok terbesar, 23 di Jawa dan 12 di Kepulauan Quter. Di hampir semua kota, perdagangan menjadi cukup penting bagi kawasan yang didirikan oleh orang-orang Arab.

Dan hingga abad ke-20, sebagian besar orang-orang Arab di Jakarta tinggal di kampung Pekojan dan seperempat orang-orang Moor, antara Ammanusgracht (sekarang jalan Bandengan Selatan) dan Bacherachtsgracht (sekarang jalan Pekojan).

Aktivitas Perdagangan dan Keagamaan Masyarakat Arab di Pekojan

Perdagangan menjadi salah satu upaya untuk membangun perekonomian masyarakat yang cendrung dalam kemerosotan.

Menurut pendapat Adam Smith terkait perdagangan, bahwa masyarakat terbelakang ditandai dengan mata pencarian berburu, sedangkan masyarakat di daerah maju ditandai dengan mata pencarian berdagang.

Pada periode masa-masa awal perdagangan dikuasai oleh masyarakat Arab yang disebut dengan masyarakat pemimpin. Keberhasilan yang dilakukan oleh pendagang-pendagang Arab terhadap negara-negara perdagangan ialah menciptakan perdagangan dengan metode keramahan dan kemuliaan hati.

Dengan keberhasilan tersebut masyarakat Arab dapat diterima dengan baik secara suka rela oleh kalangan pendagang di seluruh dunia.

Tepatnya Smith menulis: “Ketika mereka memasuki kota, mereka mengundang orang-orang dijalan, baik kaya maupun yang miskin untuk makan bersama dengan duduk bersila. Mereka memulai makan dengan mengucapkan bismillah dan mengakhirinya dengan ucapan hamdallah”.

Adapun dilihat dari aktivitas Perdagangan yang dilakukan oleh orangorang yang berketurunan Arab, cukup memiliki kontribusi besar dalam menjalin hubungan erat dengan pendagang-pendagang Cina, Betawi, Jawa, Batak dan lainnya.

Dalam hal ini cukup banyak toko-toko milik orang Arab di Batavia, sekitar tahun 1920. Barang yang mereka jual seperti terlihat di Tanah Abang seperti minyak wangi, madu, korma dan ma’jun. di depan sekali tampak hoga yang kala itu banyak juga terdapat di kediaman etnis Arab.

Para pendagang ini menggunakan jubah dan sorban serta peci putih. Orang Arab banyak berdatangan ke Nusantara terutama pada abad ke-19.

Mereka diharuskan untuk tinggal di perkampungan Arab, Pekojan dan Krukut, karena Belanda juga mengenakan passen stelsel terhadap mereka.

Bila mereka ingin berpergian ke daerah lain seperti Jatinegara, mereka diharuskan untuk menyiapkan surat jalan.

Kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut ke Nusantara ini, selain untuk berdagang, mereka juga melakukan kegiatan keagamaan.

Dalam kegiatan keagamaan, terdapat masjid yang cukup terkenal disana yaitu masjid An-Nawier.

Pengaruh dari Masjid An-Nawier yang namanya berarti cahaya ada di Jalan Pekojan, Jakarta Barat, dan ditugaskan oleh seorang keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah putrinya yaitu Abdullah bin Hussein Alaydrus.

Sayyid Abdullah membangun masjid An-Nawier pada tahun 1760. Masjid ini juga menjadi salah satu pusat kampung Arab Pekojan dari segi keagamaan.

Masjid yang jauh dari jalan besar dengan keramaiannya menjadi ketertarikan tersendiri terhadap masyarakat Arab Pekojan maupun penduduk lokal disana untuk beribadah di masjid tersebut.

Dengan kata lain aktivitas keagamaan menjadikan unsur Islamiyah yang dipraktikkan oleh rakyat masyarakat Pekojan.

Maka dari itu, manfaat dari masjid tersebut bagi masyarakat di Pekojan maupun di luar Pekojan secara langsung juga ikut dalam aktivitas keutamaan shalat lima waktu, serta shalat jum’at dan doa khusus pada waktu akhir yang pada umumnya diajarkan didalam agama Islam. 

Serta kegiatan keagamaan juga disampaikan oleh ulama-ulama yang ada di Pekojan maupun dari luar Pekojan dengan memberikan pidato dan khutbahnya.

Pada abad ke-20 migrasi orang-orang Arab dari Hadramaut ke Nusantara mulai cukup banyak dan menempati beberapa daerah-daerah yang sudah di tetapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.

Tidak heran jika di Pekojan, Krukut, Tanah Abang, Kwitang dan baru-baru ini wilayah Condet menjadi sentral perekonomian orang-orang berketurunan Arab yang senantiasa menjajakan dagangan mereka di depan toko-toko mereka. Kesukaaan mereka adalah makan daging kambing, juga memasok kebutuhan makanan seperti daging kambing.

Continue Reading

CityView

Meraih Kemerdekaan dan Kedigdayaan: Amerika Serikat Melompat Jauh Ke depan

Published

on

ilustrasi patung liberty

Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka kita menghancurkan diri kita sendiri”, – Abraham Lincoln

Kini raksasa dunia kian melonglong. Negara Adidaya Amerika Serikat menerima tantangan dari raksasa lain, dari benua yang kaya akan mitos, sejarah dan budaya. China meraung dan memamerkan taringnya dalam unjuk gigi perang dagang.

Negara China mengobarkan semangat mengembalikan kejayaan perdagangan yang telah terkubur berabad-abad silam.

Sementara Amerika Serikat ‘memaksakan diri’ untuk melanjutkan posisi sentralnya sebagai negara penguasa perekonomian global. Sayangnya, artikel ini hanya mengupas sejarah Amerika Serikat merangkak menuju digdaya.

Semua bermula pasca Deklarasi Kemerdekaan, bangsa Amerika telah memperoleh kemerdekaan pada 4 Juni 1776. Founding Father Amerika bukan saja mengumumkan kelahiran sebuah negara baru, melainkan juga mencanangkan sebuah filosofi kebebasan manusia.

Seiring sejalan, negara Amerika senantiasa berusaha meningkatkan kemakmuran rakyatnya melalui upaya diplomatik, yang di kemudian hari menjelma menjadi imperium raksasa, bahkan mempengaruhi segala penjuru bangsa di berbagai belahan dunia.

Demi mematahkan kepentingan Inggris, negara baru Amerika mengoptimalkan kinerja diplomatik dan mengadakan penetrasi militer terhadap pelabuhan dagang yang berada dalam kekuasaan Inggris (pelabuhan dagang West Indies).

Pemerintah negara baru Amerika menjalin relasi dengan para pedagang, terutama yang berkebangsaan Amerika, sehingga Inggris tersudutkan dan terpaksa membuka pelabuhan lainnya di daerah koloninya.

Langkah sukses berupaya dipertahankan, bahkan negara baru tersebut terus-menerus menggerogoti imperium Inggris di benua Amerika.

Baca Juga:

  1. Mengenal Presiden Amerika Tersingkat
  2. Ambang Kehancuran Meksiko
  3. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Bangsa Amerika menyakini revolusi ini merupakan tonggak awal untuk mengakhiri kolonialisme Eropa sekaligus pertanda kebangkitan imperium raksasa yang akan menguasai daratan dan lautan.

Relatif cukup lama, bangsa Amerika menyusun pilar-pilar imperium kontinental, terlebih mengembangkan perdagangan yang mengusung perekonomian pasar ekspansif dengan target seluruh penjuru dunia, guna menggantikan posisi dan peran bangsa Eropa (Portugal pada abad ke-16; Belanda pada abad ke-17; Inggris pada abad ke-18).

Akhir abad ke-20, bangsa Amerika boleh bangga atas prestasinya yang mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia, baik dari segi politik, ekonomi, militer maupun budaya.

Semenjak perang dingin (cold-war) usai, Uni Soviet tumbang, dan Amerika Serikat terangkat menuju podium tertinggi panggung dunia.

Kemajuan Amerika Serikat dapat dilacak, berawal dari penetapan kebijakan luar negeri guna melakukan ekspansi agresif ke beberapa wilayah disekitarnya.

Dengan menjunjung nilai-nilai kebebasan individu, Amerika Serikat menunjukkan sikap dan ketegasannya dalam kebijakan politik luar negerinya.

Setiap ekspansi militer mengusung kepentingan perekonomian Amerika, karena prinsipnya tak jauh beda dengan kolonialisme Eropa, yang membonceng perusahaan dibalik tank dan ribuan serdadu bersenjata.

Tahun 1776, Amerika Serikat sudah terdiri dari 13 negara bagian yang harus menghadapi negara-negara imperalis Eropa, seperti Inggris, Perancis dan Spanyol.

Oleh karena itu, menurut David F. Burg dalam The America Revolution, Amerika Serikat berperan aktif mengupayakan cara diplomasi untuk menjaga dan memperluas wilayah teritorialnya. Ekspansi militer pun berlangsung sporadis sejak zaman koloni.

Para pionir Amerika menjelajah ke arah barat untuk membuka lahan-lahan baru sampai ke pegunungan Appalachian.

Setelah mendapatkan wilayah Lousina, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan ancaman dari Inggris yang masih menguasai wilayah Canada.

John Soule dalam Garis Besar Sejarah America melanjutkan, terpikat oleh tanah yang subur yang belum pernah dijumpai, mendorong para perintis berdatangan ke pegunungan Appalachian dan daerah disekitarnya.

Hingga pada 1790, penduduk daerah lintas pegunungan Appalanchian berkembang mencapai angka 120.000 jiwa.

Keadaan Negara terus berkembang mantab, disusul migrasi dari Eropa meningkat. Penduduk Amerika pun mulai pindah kearah barat.

Penduduk New England dan Pennsylvania beranjak ke Ohio, sedangkan orang-orang Virginia dan Carolina masuk ke Kentucky dan Tennessee.

Lahan pertanian yang bagus bisa dimiliki dengan harga murah, tenaga kerja sangat dibutuhkan.

Faktor yang paling utama adalah meningkatnya perkembangan industri kapas yang sangat besar di wilayah selatan yang terdorong oleh pengenalan jenis-jenis baru teknologi pembangunan.

Perang tahun 1812, dalam batas tertentu merupakan perang kemerdekaan kedua, karena sebelumnya Amerika Serikat masih dianggap setara dengan rumpun bangsa terjajah lainnya.

Dengan diakuinya negara baru Amerika, banyak kesulitan serius yang menerjangnya. Persatuan nasional di bawah konstitusi membawa keseimbangan antara kemerdekaaan dan ketertiban.

Utang nasional yang rendah dan tanah yang luas menunggu untuk diolah menjadi modal utama yang diharapkan dapat menunjang kemakmuran dan kemajuan negara baru tersebut.

Melalui semangat itulah kemudian Amerika berkeinginan menyalurkan hasratnya dengan mengadakan ekspansi dan politk luar negerinya.

Continue Reading

CityView

Bikin Penasaran Dunia, Ini 7 Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Published

on

By

Ilustrasi Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Beragam mitos yang saat ini masih terjadi, pasti tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Di mana mitos atau misteri tersebut datang dari berbagai wilayah di Tanah Air.

Berikut mycity telah merangkum untuk cityzen 7 misteri di Indonesia yang belum terpecahkan:

Kerajaan Ghaib Laut Selatan dan Nyi Roro Kidul

Kerajaan Ghaib di Laut selatan dan kisah Nyi Roro Kidul ini diyakini oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Namun sampai kini masih menjadi misteri dan kisah legenda yang dipercaya banyak orang, terutama bagi masyarakat Pulau Jawa terkait keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan.

Larangan memakai baju berwarna hijau saat berada di pantai selatan pun merupakan salah satu mitos yang berkembang di tengah masyarakat Tanah Air. Diyakini Nyi Roro Kidul tidak suka dengan orang yang memakai baju berwana hijau kala datang ke pantai tersebut.

Situs Gunung Padang

Selanjutnya, Gunung Padang yang berada di Cianjur, Jawa Barat yang menyimpan misteri mengenai penemuan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan luas Candi Borobudur, tempat ini memiliki luas dua puluh kali.

Situs tersebut masih menyimpan banyak misteri sampai saat ini. Dipercaya Situs Gunung Padang memiliki usia yang sama dengan Piramida di Mesir, bahkan dikatakan lebih tua.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Piramida Sadahurip di Garut

Tak hanya Situs Padang saja ternyata yang disebutkan lebih tua dari Piramida di Mesir, melainkan Piramida Sadahurip di Garut pun juga demikian. Bahkan kebenaran tentang Piramida Sadahurip masih menjadi hingga sekarang.

Dusun Karang Kenek

Karena hanya dihuni oleh 26 kepala kelurga dan tidak boleh lebih, Dusun Karang Kakeng termasuk ke dalam dusun yang unik. Dipercayai akan ada penduduk yang meninggal atau memutuskan untuk pindah jika desa ini diisi lebih dari angka tersebut.

Suku Lingon yang Bermata Biru

Suku Lingon yang berada di Halmahera tentu sangat menarik perhatian bagi banyak orang. Hal ini dikarenak suku Lingon yang mempunyai ciri fisik tidak sama dengan kebanyakan masyarakat Indonesia. Mereka bertubuh besar dan tinggi, berambut pirang, berkulit putih hingga memilki bola mata berwarna biru layaknya orang Eropa.

Suku Mante di Aceh

Masih menjadi misteri sampai saat ini tentang keberadaan suku Mante di Aceh. Kamera seorang pengendara motor tidak sengaja menangkap sesosok manusia yang dipercaya adalah orang dari suku Mante pada tahun 2017. Sebagian besar orang percaya bahwa suku ini telah punah. Akan tetapi juga banyak meyakini jika suku mante masih ada dan pelosok hutan di Aceh merupakan tempat mereka.

Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Ilustrasi Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Sebuah penampakan yang menyerupai benteng raksasa yang berada di bawah laut Papua sempat ditangkap oleh satelit luar angkasa. Namun kebenaran akan adanya Benteng raksasa itu masih menjadi misteri hingga kini.

Continue Reading

Trending