Connect with us

Properti

KPR Jadi Penopang Peningkatan Laba Bank

Published

on

KPR rumah. (Suara)

Penyaluran pembiayaan perumahan (KPR) dari bank menjadi salah satu penopang peningkatan laba.

Sektor properti menjadi salah satu bisnis yang masih mencatatkan pertumbuhan kinerja baik saat situasi pandemi.

Hal ini juga berdampak langsung pada bisnis perbankan khususnya pada penyaluran kredit perumahan yang juga terus meningkat dengan banyaknya masyarakat yang mengakses perumahan.

Baca Juga: Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

Bank CIMB Niaga misalnya, berhasil menorehkan kinerja yang solid pada periode sembilan bulan pertama (Januari-September) tahun 2022. Mereka meraih laba sebelum pajak konsolidasi (unaudited) sebesar Rp5 triliun atau naik 22,5 persen secara tahunan (yoy). Peningkatan lab aini seiring dengan pertumbuhan bisnis yang baik, biaya yang terkendali, dan tren kualitas underlying asset yang lebih baik.

Menurut Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan, Bank CIMB Niaga akan selalu menjaga kinerja yang positif hingga akhir tahun 2022.

Khususnya untuk menjaga pertumbuhan di segmen-segmen utama bank yaitu kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan mobil (KPM), Emerging Business Banking (EBB) atau usaha kecil menengah (UKM), dan korporasi.

“Dengan posisi permodalan dan likuiditas bank yang kuat serta implementasi strategi bisnis yang secara konsisten kami jalankan. Kami yakin akan terus bisa mencapai target-target finansial yang telah kami tetapkan di tahun 2022,” tegas dia.

“Capaian ini juga kian memperkuat posisi perusahaan sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset dengan total aset mencapai Rp307 triliun,” ujarnya.

Indikator positif lainnya ditunjukan dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 21 persen dan 86,9 persen. Sementara itu return on equity (ROE) sebesar 12,9 persen yang menunjukkan kemampuan Bank CIMB Niaga untuk mencetak laba semakin kuat.

Capaian bisnis yang baik ini ditopang dari berbagai segmen yang saling menunjang. Pertumbuhan corporate banking meningkat hingga 12,8 persen dan consumer banking 14,7 persen. Pada segmen consumer banking, pertumbuhan yang utama berasal dari KPR yang naik sebesar 8,6 persen secara tahunan.

Dari sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp221,9 triliun. Rasio current account and saving account (CASA) meningkat menjadi 67,7 persen.

Hal ini sejalan dengan komitmen berkelanjutan Bank CIMB Niaga untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan para nasabah. Ini sekaligus meningkatkan pengalaman nasabah dalam memanfaatkan layanan digital CIMB Niaga.

“Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memberikan yang terbaik kepada para nasabah. Kami juga meluncurkan kampanye Customer Experience bertajuk ‘Anda #YangUtama’,” sambung dia.

Baca Juga: Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

“Inisiatif ini menegaskan komitmen kami untuk para nasabah. Untuk terus memberikan solusi finansial yang up to date dan relevan,” pungkas Lani.

Advertisement

Properti

Kementerian PUPR Bangun 200 Rumah Instan untuk Korban Gempa Cianjur

Published

on

Kementerian PUPR membangun rumah khusus untuk korban gempa Cianjur. (Kementerian PUPR)
Kementerian PUPR membangun rumah khusus untuk korban gempa Cianjur. (Kementerian PUPR)

mycity.co.id – Kementerian PUPR bekerja cepat membangun sarana hunian untuk masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur. Sebanyak 200 unit rumah di atas lahan 2,5 hektar akan dibangun dalam waktu 1,5-2 bulan.

Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai menyiapkan pembangunan sebanyak 200 unit rumah khusus (rusus) untuk korban bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Rusus ini dibangun dengan teknologi rumah instan sederhana sehat (Risha) tipe 36/60 di atas lahan seluas 2,5 hektar di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, yang telah disiapkan oleh Pemkab Cianjur untuk merelokasi masyarakat yang terdampak bencana.

“Kami terus berkoordinasi dengan Pemkab Cianjur untuk menyiapkan sekitar 200 unit rusus yang diperuntukkan bagi masyarakat yang terdampak bencana gempa. Peletakan batu pertama ini menjadi pembangunan rusus tahap pertama dan semoga ke depan bisa lebih banyak lagi yang akan dibangun,” ujar Dirjen Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto.

Untuk pembangunan ini, Kementerian PUPR juga telah menunjuk PT Brantas Abipraya sebagai kontraktor pelaksana pembangunan dan PT Indah Karya sebagai manajemen konstruksi.

Rencananya, lahan yang dibangun rusus ini akan dijadikan tempat relokasi hunian masyarakat yang rusak akibat gempa.

Rusus yang dibangun dengan teknologi Risha hasil pengembangan Kementrian PUPR ini dikonsep build back better dengan rumah yang tahan gempa. Setiap unit rumahnya juga sudah mencakup dua kamar tidur, ruang keluarga, kamar mandi, dan dapur. Proses pembangunannya ditargetkan bisa selesai dalam 1,5 hingga 2 bulan ke depan.

Kementerian PUPR juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk kembali mempersiapkan alternatif lahan-lahan di daerah lain di Kabupaten Cianjur untuk pembangunan rusus.

Hal ini dikarenakan dari hasil pendataan dan survei di lapangan, masih banyak rumah masyarakat yang rusak akibat gempa.

“Lokasi pembangunan rumah khusus ini sangat strategis dan diharapkan setelah nantinya selesai bisa segera dihuni masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan sesuai dengan usulan Pemda. Kementerian PUPR siap untuk membangun kembali infrastruktur dan hunian masyarakat yang terdampak bencana,” imbuh Iwan.

Continue Reading

Properti

Potensi Raksasa Pengembangan Properti di Bandung Selatan

Published

on

Potensi raksasa pengembangan properti di Bandung Selatan. (Agung Podomoro)
Potensi raksasa pengembangan properti di Bandung Selatan. (Agung Podomoro)

mycity.co.id – Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Bandung memang menjadi salah satu area yang diincar pencari properti.

Salah satu area di Bandung yang saat ini menjadi incaran pencari properti adalah Bandung Barat. Area ini dinilai potensial karena didukung oleh perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.

Dari sektor ekonomi, saat ini Bandung Barat telah banyak bertumbuh berbagai industri yang menyokong perkembangan perekonomian. Contohnya, seperti tekstil, properti dan jasa.

“Salah satu indikasi Bandung Selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, terlihat dari banyaknya investor yang menanamkan modalnya di daerah ini. Bahkan secara kasat mata terlihat dari semakin tingginya volume kendaraan di kawasan itu,” ujar Kepala Bidang Fisik Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jawa Barat, Slamet Mulyanto S.

Dari sektor infrastruktur, Bandung Barat juga dikelilingi dengan berbagai pembangunan jalan tol. Di antaranya, Tol Padaleunyi, rencana pembangunan jalur kereta cepat dan Tol Soroja yang tahun lalu baru diresmikan.

Slamet Mulyanto S mengakui keberadaan Tol Soroja dapat meringkas jarak tempuh Bandung Selatan dengan daerah sekitarnya. Selain itu pemerintah menyiapkan sejumlah upaya seperti pelebaran jalan utama menuju Bandung Selatan dari ROW 16 menjadi ROW 20.

Hal itu tertera dalam dokumen yang diterbitkan Dinas Permukiman dan Tata Wilayah Kabupaten Bandung. Pembuatan jalan pintas atau jalan penghubung, hingga pengembangan sarana angkutan umum massal.

Selain infratruktur, sektor pariwisata juga dinilai salah faktor yang dapat mendongkrak bisnis properti di Bandung.

Menurut Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property watch (IPW), Bandung Selatan memiliki banyak potensi alam yang masih asri.

Sektor pariwisata di kawasan ini pun sebagian besar sangat menarik untuk mendorong bisnis propertinya tumbuh lebih baik.

“Bandung Selatan akan menjadi kawasan potensial bisnis properti sehingga makin banyak pengembang mulai berinvestasi di sini,” imbuh Ali.

Dengan potensi tersebut, akhirnya tak heran banyak pengembang yang menanamkan modalnya di Bandung Barat. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengembangkan kawasan hunian yang diberi nama Podomoro Park di Kecamatan Buahbatu.

“Ada sekitar 10 hektar diperuntukkan untuk proyek komersial yang mendukung kawasan perumahan ini, mulai lintasan joging, kolam renang, pusat kebugaran, dan lainnya. Sekitar 50 persen lahan proyek ini akan kami dedikasikan untuk kawasan terbuka hijau dan danau,” kata Assistant Vice President Strategic Residential Agung Podomoro Land, Agung Wirajaya.

Agung mengaku optimistis proyek terbarunya ini bisa menjadi salah satu pilihan investasi menarik. Apalagi, Bandung makin menjadi salah satu kota terpadat di Indonesia.

Proyek yang dirilis pada kuartal I-2018 ini merupakan salah satu langkah APLN memberikan dukungan perkembangan dan pembangunan Bandung Selatan.

Continue Reading

Properti

Pinjol Bikin Masyarakat Sulit Ajukan KPR

Published

on

Pinjaman Online bikin masyarakat kesulitan mengajukan KPR. (Pudjiadji Prestige)
Pinjaman Online bikin masyarakat kesulitan mengajukan KPR. (Pudjiadji Prestige)

mycity.co.id – Pengajuan KPR akan diperiksa dengan seksama oleh bank untuk memastikan kemampuan mencicil kreditur. Umumnya, banyak pengajuan KPR yang ditolak bank karena masalah kartu kredit. Saat ini, penolakan KPR banyak terjadi karena pinjaman online (pinjol).

Mayoritas pembeli hunian khususnya rumah tapak di Indonesia menggunakan skema pembiayaan bank dengan produk KPR. Calon debitur tentunya harus melampirkan berbagai persyaratan untuk diperiksa bank. Perihal kemampuan mencicilnya sehingga rumah yang dibiayai bisa lancar dan tidak menjadi kredit macet yang akhirnya menjadi beban bank.

Dalam pelaksanaannya, pengajuan KPR masyarakat cukup banyak yang tidak lolos maupun ditolak bank karena berbagai hal.

Menurut Wakil Direktur Utama Bank BTN Nixon L.P. Napitupulu, saat ini bank cukup ketat terkait meloloskan permintaan masyarakat untuk pembiayaan perumahannya.

“Saat mengajukan pinjaman untuk pembiayaan rumah tentunya tidak terlepas dari Bank Indonesia (BI) checking dan saat ini BI checking makin seru,” tutur dia.

“Kalau dulu banyak pengajuan KPR ditolak karena kartu kredit, kalau sekarang karena pinjaman online (pinjol). Faktor pinjol pada ditolaknya KPR masyarakat itu mencapai 30 persen,” ujarnya.

Jadi, faktor gagalnya pengajuan kredit masyarakat yang disebabkan pinjol mencapai 30 persen. Hal ini semakin banyak terjadi seiring kian mudahnya aktivitas pinjol ini.

Padahal, nominal pinjol ini juga tidak terlalu besar. Bahkan, banyak yang di bawah Rp1 juta namun hal ini tetap berpengaruh pada penilaian pengajuan KPR.

Masalah ditolaknya KPR karena pinjol ini juga makin rumit. Hal ini sulit diatasi karena kebanyakan pemberi jasa pinjol bukan dari kalangan perbankan. Sehingga hal, ini juga menyulitkan bank untuk melakukan taksasi ataupun penilaian untuk memudahkan masyarakat mendapatkan akses KPR.

Untuk solusi mudahnya, Nixon menyebut akan meminta persyaratan tambahan dalam bentuk peningkatan atau top up. Limitnya dari harga rumah sehingga bisa digunakan untuk melunasi pinjol calon debitur.

Di sisi lain, solusi ini tidak diikuti secara kooperatif oleh perusahaan pinjol yang tetap menghitung denda bunga. Sehingga, nasabah kesulitan melakukan proses pelunasan.

“Kami di Bank BTN masih memberikan toleransi kepada calon debitur bila memiliki pinjaman kredit macet ataupun menunggak dari aktivitas pinjol selama 90 hari,” tegas dia.

“Tapi bila sudah menyangkut pinjol ini prosesnya memang agak ruwet. Sehingga teman-teman kantor cabang untuk mudahnya langsung ditolak. Ini tentu harus bisa disikapi dengan serius karena rejection 30 persen BI checking itu besar sekali,” pungkasnya.

Continue Reading
Advertisement

Trending