Connect with us

Edukasi

Keuntungan BDSM Bagi Sebuah Hubungan

Published

on

Ilustrasi seks bebas yang masih tabu di Indonesia. (mortesubita.net)

Ilustrasi seks bebas yang masih tabu di Indonesia. (mortesubita.net)

myacity.co.idIndonesia hingga saat ini masih tabu dengan seks bebas. Meski begitu, anak muda jaman sekarang banyak yang sudah melakukan hubungan intim atau seks bebas di luar nikah. Salah satunya karena mereka ingin mencoba hal baru.

Meski begitu, setiap orang tua dan guru tetap mengajarkan atau mengedukasi terkait seks. Nah, dalam seks cukup banyak hal yang menarik untuk di ulas salah satunya BDSM.

Apa sih ini? BDSM atau singkatan dari bondage, dominance, sadism, dan masochism merupakan praktik seks ‘sadis’ yang dilakukan kepada pasangan. BDSM merupakan penyimpangan seksual yang berkaitan dengan perbudakan, ikatan, kekerasan dan permainan berupa adanya budak dan tuan.

Pasangan yang mempraktikkannya biasanya terlebih dahulu membuat kesepakatan di antara mereka. Artinya ada “konsensus” di antara mereka baik sebagai pihak yang “dominan” maupun yang “tunduk”.

Baca juga: Begini Tips Jitu Membangun Kembali Hubungan Usai Diselingkuhi

Dalam konsep BDSM, selalu ada pihak dominant dan submissive. Sesuai namanya, pihak dominant berperan sebagai pengendali dari semua aktifitas seksual, sementara submissive harus menerima apapun aktivitas seks yang diperintahkan oleh pihak dominan.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine, “Orang yang terlibat dalam BDSM sebenarnya lebih sehat secara mental.” Studi ini menunjukkan bahwa orang yang terlibat dalam kegiatan BDSM cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman, ekstrovert, dan lebih teliti.

Mereka juga cenderung kurang neurotik dan kurang sensitif terhadap penolakan. Selain itu, telah dihipotesiskan bahwa orang yang terlibat dalam BDSM, mereka lebih mengerti dan sadar saat berhubungan seks, daripada orang yang tidak terlibat dalam praktik BDSM.

Baca juga: Fix Wajib Pertahanin, Ini 7 Ciri Pria Terbaik untuk Dijadikan Pasangan

Namun di Indonesia melarang adanya sistem BDSM karena sudah ada hukum yang mengatur tentang hal tersebut. Meski begitu tidak sedikit orang yang setuju dengan adanya hukum peraturan itu. Sebenarnya BDSM mempunyai banyak manfaat bagi orang yang melakukannya.

Mungkin untuk sebagian orang BDSM adalah hal yang berbahaya, tetapi jika dilakukan dengan aman dan sudah paham, hal itu menjadi tidak berbahaya lho. Bahkan menurut penelitian dengan menggunakan sistem BDSM bisa menyembuhkan trauma dan menguntungkan bagi hubungan juga. Keuntungan lainnya adalah meningkatkan kesetiaan, mengurangi stres psikologis, menghilangkan kegelisahan, hingga membuat kesehatan mental jadi lebih baik.

Edukasi

Ikan Teri Terbukti Bantu Atasi Kasus Malnutrisi Global, Sains Jelaskan

Published

on

fotografi fokus dangkal dari empat ikan skad putaran, makarel, fokus dangkal, fotografi, Foto Walpaper

Spesies ikan kecil seperti sarden dan ikan teri dapat memainkan peran besar dalam mengatasi kekurangan gizi dan krisis rawan pangan di seluruh dunia.

Studi baru menunjukkan, spesies ikan kecil tersebut adalah sumber ikan bergizi termurah yang ditemukan di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta sering ditangkap dalam volume besar.

Temuan ini sangat penting, mengingat saat ini ada sekitar 3 miliar orang yang tingal di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika yang tak mampu membeli makanan bergizi yang sehat.

Kekurangan mikronutrien esensial ini dapat terkait dengan kematian ibu dan pertumbuhan anak yang terhambat, serta menjadi lebih umum terjadi di seluruh dunia. Mengutip Phys, Rabu (7/12/2022) malnutrisi meningkat di sub-Sahara Afrika.

Pada tahun 2020, 10 juta anak menderita kekurangan tenaga dan 55 juta anak terhambat pertumbuhannya, karena pola makan yang tak memadai.

Namun, studi baru yang dipublikasikan di Nature Food mengungkapkan, bahwa spesies ikan kecil yang dikenal sebagai ikan pelagis kecil yang ditangkap secara lokal di dekat laut atau danau Afrika sub-Sahara dapat menyediakan sumber gizi bagi anak di bawah lima tahun.

“Temuan kami menunjukkan, bahwa nutrisi penting untuk mengatasi malnutrisi. Ikan kecil yang ditangkap secara lokal dapat mempertahankan pola makan yang sehat, dapat ditangkap dalam jumlah yang cukup dan harganya terjangkau,” ungkap james Robinson, pemimpin studi dari Lancaster University.

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek Illuminating Hidden Harvests, di mana tim peneliti dan ilmuwan perikanana internasional mengumpulkan data tentang volume tangkapan, serta data ekonomi dan nutrisi lebih dari dua pertiga tangkapan perikanan global yang terdiri hampir 2350 spesies.

Temuan ini juga mengidentifikasi ikan yang paling terjangkau dan bergizi di 39 negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan akan membantu menginformasikan kebijakan kesehatan masyarakat dan perikanan di tempat-tempat, di mana data nutrisi ikan langka.

Lebih lanjut, ikan palagis kecil kaya akan zat besi, seng, kalsium, asam lemak omega-3, dan selenium dan harganya dua kali lebih terjangkau dibandingkan kelompok ikan lainnya.

Ikan pelagis kecil seperti ikan Herring, sarden, dan ikan teri ditemukan sebagai ikan bergizi termurah di 28 dari 39 negara yang diteliti.

“Memprioritaskan ikan pelagis kecil untuk dikonsumsi oleh masyarakat lokal yang rentan, seperti anak-anak, ibu atau orang tua dapat membantu mengatasi kekurangi gizi umum seperti kalsium, zat besi dan seng.

Sehingga mengkonsumsinya memberikan manfaat kesehatan masyarakat yang sangat besar,” ungkap Kendra Byrd, rekan penulis studi dari University of Greenwich Natural Resources Intitute.

Continue Reading

CityKids

Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak yang Wajib bagi Orang Tua

Published

on

Orang tua dan Anak/Edukasi Kompas

Orang tua dan Anak/Edukasi Kompas

Mycity.co.id – Orang tua punya peranan yang sangat besar untuk perkembangan mental seorang anak. Sehingga para orang tua perlu mengetahui kesehatan mental dan fisik Si Kecil.

Salah satu upaya untuk membentuk mental yang sehat adalah mengasuh dan merawat Si Kecil dengan kasih sayang. Tujuannya untuk membangun keterampilan sosial dan emosional yang dibutuhkan anak untuk hidup bahagia, sehat, dan sejahtera.

Untuk membentuk kesehatan mental anak orang tua perlu memiliki hubungan yang kuat dengan Si Kecil. Caranya dengan sering menghabiskan waktu dengan anak, menjadi orang yang paling diandalkan dan membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, anak menjadi lebih dekat dan terbuka dengan orang tua.

Berikut cara Menjaga Kesehatan Mental Anak:

1. Menjadi pendengar yang baik

Posisikan diri layaknya seorang teman. Saat mereka sedih, dorong anak untuk menceritakan masalahnya. Jaga komunikasi dengan anak supaya tetap mengalir dengan bertanya dan mendengarkan setiap keluh kesahnya. Ciptakan situasi yang nyaman untuk mereka agar dirinya mau terbuka dan tidak ragu untuk bicara dengan orang tua.

2. Ciptakan lingkungan yang positif

Orang tua juga perlu menciptakan lingkungan yang positif untuk anak. Hindari membahas masalah keluarga yang serius di depan mereka. Misalnya, masalah keuangan, perkawinan atau penyakit. Beri waktu dan kesempatan untuk dirinya bermain atau melakukan aktivitas yang disukai. Atau, ayah dan ibu juga bisa mengajaknya berwisata di akhir pekan.

Batasi penggunaan layar yang berlebihan, seperti smartphone, televisi, internet atau perangkat game. Ketahui dengan siapa saja mereka berinteraksi di media sosial dan game online.

3. Buat anak merasa dihargai

Hargai setiap hal-hal baik yang dilakukan anak. Jangan ragu untuk menunjukan rasa sayang ke mereka. Puji setiap pencapaian atau hal-hal sederhana yang mereka lakukan. Berikan perhatian penuh dengan rutin menanyakan minat dan aktivitas yang dia lakukan sehari-hari. Selain itu, ibu juga bisa membantu anak untuk mencapai keinginan atau tujuannya lewat cara-cara yang positif.

4. Bantu anak menyelesaikan masalahnya

Ajari Si Kecil cara menenangkan diri saat merasa kesal. Solusinya bisa dengan mengajak anak untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, berjalan-jalan, membeli makanan yang anak sukai atau sekedar bermain game bersamanya. Jika anak enggan untuk beraktivitas, tidak ada salahnya untuk memberinya waktu sendiri.

Setelah situasi sudah cukup tenang, ajak anak bicara tentang masalahnya. Cobalah bersikap tenang dan tidak menghakimi. Jadikan pendengar yang baik terlebih dahulu. Setelah anak selesai menceritakan masalahnya, ibu bisa mulai mencari solusi bersama atas masalah tersebut.

Sumber: Halodoc

Continue Reading

Edukasi

Cegah Bayi Lagir Stunting, BKKBN Gandeng Perguruan Tinggi

Published

on

BKKBN terus cegah stunting dan kini ajak perguruan tinggi untuk bekerja sama

BKKBN terus cegah stunting dan kini ajak perguruan tinggi untuk bekerja sama

mycity.co.id Ratusan ribu bayi lahir stunting tiap tahunnya. Hal ini kemudian membuat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggandeng Perguruan Tinggi untuk melakukan langkah-langkah pencegahan lahirnya bayi-bayi stunting baru di Indonesia.

Kepala BKKBN Hasto Wrdoyo mengatakan, sangat penting pemeriksaan kesehatan pranikah atau prekonsepsi bagi calon pengantin wanita maupun pria sebagai bentuk pencegahan stunting dari hulu. Menurut Hasto, tujuan prekonsepsi pemeriksaan kesehatan calon pengantin adalah untuk menekan tingginya kelahiran bayi stunting.

Hasto merinci, setiap tahun ada 1,9 juta pasangan yang menikah dengan angka kehamilan 1,6 juta. Dari angka kehamilan tersebut, lahir lah 400 ribu anak stunting dengan persentase saat ini 24,4 persen.

“Jadi jangan hanya prewedding, tapi prekonsepsi menjadi penting. Oleh karena itu kalau sukses dengan pendekatan pranikah maka kita bisa cegah 400 ribu bayi yang lahir dari manten baru agar tidak stunting. Ini makna besarnya. Sesuai amanah WHO, masalah penting pranikah diantaranya bagaimana distribusi tablet tambah darah untuk remaja putri, cakupan distribusi itu harus betul-betul mensasar kepada meraka yang mau hamil lalu konsentrasi menyehatkan calon pengantin,” kata Hasto yang dikutip dari siaran pers.

Seminar nasional ini merupakan kerja sama BKKBN dengan sejumlah Perguruan Tinggi Nasional, dimana salah satu output nya adalah kajian kebijakan yang disusun berdasarkan analisis situasi serta kegiatan-kegiatan pendampingan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Hasil kajian kebijakan kemudian disajikan oleh para pakar yang dibagi menjadi enam pulau yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku, serta Bali dan Nusa Tenggara.

Seminar ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, diantaranya Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D sebagai Ketua Tim Pendamping Perguruan Tinggi, Ketua Unit Kajian Kesehatan UNAIR Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D dan Koordinator CPHI FK Universitas Udayana Prof. dr. Pande Putu Januraga, M.Kes, DrPH.

Selain itu ada juga Dosen IPB University Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN, Ketua Departemen Gizi FKM UNAIR Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM., M.Kes serta Dosen Manajemen FEB UMB Jakarta Dr. Ir. Sri Hartono MM., CMA., CHRA. Hasto menjelaskan, Perguruan Tinggi merupakan mitra strategis BKKBN dalam menekan stunting dari hulu. Dia pun berharap mutualisme kerja sama antara tim percepatan penurunan stunting dengan Perguruan Tinggi bisa terwujud dengan baik.

“Karena stunting dengan problematika di daerah juga menjadi materi teaching bagi civitas akademi dari Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Kerja sama mutualisme bisa dikerjakan dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasto menuturkan bahwa Presiden Joko Widodo sangat menekankan pentingnya memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Bahkan hal tersebut tertuang dalam prioritas pertama penggunaan anggaran Tahun 2023.

Hal serupa, sambung Hasto, juga ditekankan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam Forum Stunting Nasional 2022, dimana pemerintah pusat hingga daerah harus meningkatkan konvergensi dalam upaya percepatan penurunan stunting nasional.

“Satu catatan penting bahwa Pak Wakil Presiden memyampaikan tidak hanya rame di pembicaraan seminar, webinar akan tetapi juga harus ramai di dalam implementasi di grass roots. Kemarin kami juga kami beraudiensi dengan Pak KASAD Dudung dan jajarannya, mitra-mitra TNI yang ada di daerah mendukung sepenuhnya sampai di tingkat Babinsa. Oleh karena itu pemerintah daerah tentu akan mendapat suporting dari mitra-mitra Kementerian/Lembaga yang ada di pusat sampai daerah,” ucapnya.

Kepada para narasumber yang hadir, Hasto pun mengucapkan terima kasih atas dukungannya dalam upaya pencegahan stunting. Dia pun berharap para pemateri dapat memberikan rekomendasi yang spesifik dan deskriptif terkait apa saja yang harus dikerjakan.

“Kami berharap rekomendasi dari ini sifatnya tidak teoritis tetapi yang lebih kontekstual terhadap masalah karena ini masalahnya bisa ditarik secara luas ke seluruh pulau di Indonesia,” ungkapnya.

Seminar Nasional Hasil Kajian Kebijakan Program Percepatan Penurunan Stunting Pada Enam Pulau Indonesia Tahun 2022 merupakan bentuk peran serta Perguruan Tinggi dalam membantu pemerintah untuk mencapai target prevalensi stunting 14% pada 2024 mendatang.

Sejumlah narasumber akan memberikan hasil kajian kebijakannya berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan. Misalnya Ketua Unit Kajian Kesehatan UNAIR Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si yang akan membahas masalah perkawinan anak terutama di Pulau Sumatera yang menjadi representasi. Dari kajian tersebut ditemukan bahwa Provinsi Jambi memiliki angka perkawinan anak tertinggi di Sumatera.

Sementara itu Ketua Departemen Gizi FKM UNAIR Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM., M.Kes akan akan memaparkan tentang strategi pencegahan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Pulau Kalimantan yang menjadi representasinya. Berdasarkan data, BBLR di Indonesia yakni 11% dan bayi dengan panjang badan kurang dwei 48 sentimeter mencapai 22,6 persen.

“Saya berharqp kepada Ibu Siti Rahayu bisa memberikan rekomendasi yang sifatnya deskriptif dan spesifik karena semakin sedikit rekomenasi maka semakin cepet ditindaklanjuti. Tetapi kalau semakin banyak rekomendasinya, spektrumnya semakin luas maka semakin sulit untuk ditindaklanjuti,” pesan Hasto.

Continue Reading
Advertisement

Trending