Connect with us

Culture

Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa

Published

on

Keris

Keris bukanlah sekedar jenis senjata tikam untuk mempertahankan diri bagi prajurit atas serangan musuh di zaman kerajaan masa lampau, tetapi benda yang lebih di kenal dengan “Tosan Aji” itu merupakan simbol kekuasaan yang dianggap mengandung mithos tertentu yang oleh sebagian dari mereka di jadikan sebuah ideologi.

Kuatnya ideologi dan pengakuan mitos terhadap keris mengakibatkan ia mampu membuat sekat sekat sosial dan budaya pada masyarakat komunitasnya.

Bahkan, keris direpresentasikan mampu menggeser nilai budaya yang dianggap adhi luhung itu menjadi nilai ekonomi bagi komunitas masyarakat yang keberadaannya selalu dipertahankan.

Karena keris memiliki nilai mithos baik secara kultural dan historis, ia mampu bertahan dan eksis menjadi komoditas ekonomi di tengah masyarakat komunitasnya.

Persoalannya akankah produksi keris konvensional di era sekarang ini akan merusak nilai estetika dan nilai ekonomik perdagangan keris. Hal tersebut ternyata tidak begitu berpengaruh.

Logikanya masing-masing produk yang berdasarkan genre, dan tahun pembuatannya masing masing telah memiliki pangsa pasar yang konstan.

Demikian produk keris secara konvensional yang hanya di pruntukkan sebagai barang souvenir.

Artinya meski keris yang memiliki nilai mithos tinggi dan keris souvenir saling bertemu di pasar konvensional di jamin tidak akan terjadi perusakan pangsa pasar, maupun nilai nilai cultural yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga :  Tapa Puasa: Cara Masyarakat Jawa Kuno Melakoni Puasa Sebelum Islam Datang

Karena masing masing jenis keris mempunyai watak dan karakteristik yang berbeda beda, sesuai dengan tahun pembuatannya, dan untuk apa sebuah keris itu di buatnya ketika itu.

Keris sebagai Ekspresi Kebudayaan

Keris sebagai artefak budaya merupakan hasil dari sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat.

Menurut Tjejep Rohendi Rohidi dalma Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan, hasil kebudayaan berkaitan dengan sistem simbol, yaitu merupakan acuan dan pedoman bagi kehidupan masyarakat dan sebagai sistem simbol, pemberian makna, model yang ditransmisikan melalui kode-kode simbolik. 

Pengertian kebudayaan tersebut memberikan konotasi bahwa kebudayaan adalah ekspresi masyarakat berupa hasil gagasan dan tingkah laku manusia dalam komunitasnya (dalam hal ini adalah masyarakat Jawa).

Keris sebagai hasil budaya merupakan karya manusia yang akrab dengan masyarakatnya. Bahkan keris mampu memberikan nilai dan citra simbolik yang diyakini oleh masyarakat sebagai satu bentuk kebudayaan yang adiluhung (klasik).

Kini menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan karena dianggap mempunyai nilai dan simbol dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Baca Juga:

  1. Gondangdia, Kota Tua Sarat Jejak Peninggalan Kolonial
  2. Sultan Khairun Jamil dan Manipulasi Sejarah Superioritas Militer Portugis
  3. Evolusi Teknologi Persenjataan di Kepulauan Nusantara
Baca Juga :  Salai Jin, Seni Tari Asal Ternate Bernuansa Mistis

Karakteristik tersebut dinyatakan sebagai ciri-ciri yang menonjol dalam kebudayaan Jawa adalah penuh dengan simbol-simbol atau lambang-lambang

Fenomena Keris sebagai Seni Komoditas.

Pengaruh teknologi dan informasi dalam era globalisasi ini akan mempengarui pertumbuhan dan perkembangan budaya daerah; otomatis akan mempengarui kebudayaan nasional yang mengacu pada puncak budaya daerah.

Kebudayaan yang merupakan kekayaan budaya nasional mulai terancan eksitensi dan essensinya.

Keris sebagai kekuatan transenden dan sebagai budaya keyakinan lokal pada masyarakat mulai tergeser pada kekuatan ontologis yang mengarah pada kekuatan untuk menguasai dan mengolah budaya lokal sebagai seni komoditas, dan keris dihadapkan pada pasar.

Keris yang konon sebagai lambang status kebangsawanan, kini dihadapkan budaya massa sebagai salah satu alternatif pelesatarian.

Keris yang konon sebagai benda bertuah dan dikeramatkan, dirumat dan diyakini sebagai pusaka. Kini keris merupakan benda alternatif seolah barang dagangan siap jual dan menunggu pembelinya.

Fenomena “Keris” sebagai budaya massa atau seni populer di Indonesia, mulai terasa dan bahkan sudah menjadi trend di dalam perkembangan bisnis kesenian.

Kesenian yang konon merupakan satu kebudayaan yang punya kekuatan spirutuil, nilai magis, sebagai satu hiburan dan sekaligus sebagai tuntunan hidup yang diyakini kini mulai terkoyak eksistensinya.

Baca Juga :  Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Seni rakyat mulai direkayasa sebagai satu bentuk kesenian yang mengarah pada seni komoditas, sebagai satu alternatif pemenuhan paket-paket pariwisata dengan satu atribut “Identitas budaya daerah”.

Kesenian sebagai aset budaya pariwisata dan daerah juga digadang-gadang mampu menambah pendapatan perkapita serta devisa negara, akan menjadikan prospek seni yang mengarah pada seni komoditas dan mengacu pada seni budaya massa.

Rekayasa arus atas akan mengancam eksestensi dan essensi seni yang sudah lama berkembang di masyarakat. Ikatan nilai sosio-cultural dari arus bawah akan digeser oleh rekayasa kultural dalam berbagai alasan.

Seni dijual sebagai satu rekayasa kultural komunitasnya. Kekokohan kekentalan ikatan nilai sosio-cultural pada kesenian tradisi sebagai high culture terancam oleh kerakusan mass culture yang semakin menjanjikan segala impian.

Persoalan yang dianggap paling mendasar dalam konteks ini adalah bagaimana memaknai keris yang tidak sekedar sebagai komoditas ekonomi semata, tetapi bagaimana relasinya dengan masalah sosial dan perkembangan budaya di komunitas masyarakat itu sendiri.

Pada bagian lain keris juga dianggap mampu memetakan status sosial tertentu bagi komunitas masyarakat.

Culture

Liburan ke Jepang Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan?

Published

on

Jepang/KumparanJepang/Kumparan

Mycity.co.id – Setiap negara memiliki tata krama dan aturan yang berbeda. Bahkan di Indonesia pun setiap daerah memiliki aturan dan tata kramanya sendiri.

Saat berkunjung ke luar negeri ada baiknya kita mempelajari aturan dan tata krama negara itu. Salah satunya adalah Jepang yang memegang teguh etika. Hal ini menyangkut kepercayaan serta norma yang berlaku di masyarakat.
Berikut hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan saat berada di Jepang!

1. Memberi Uang Tip Saat di Restoran

Memberi uang tip/Lifepal

Memberi uang tip/Lifepal

Tidak disarankan memberi uang tip di restorang Jepang. Sudah hal yang biasa untuk memberikan uang tip di restoran sebagai tanda terima kasih. Namun, dinegeri sakura ini dilarang melakukan hal tersebut karena memberi tip kepada pegawai restoran bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan. Bagi mereka, memberikan pelayanan terbaik sudah menjadi kewajiban agar para pelanggan senang dan kembali datang ke restoran.

Baca Juga :  Tapa Puasa: Cara Masyarakat Jawa Kuno Melakoni Puasa Sebelum Islam Datang

2. Menggunakan Telunjuk untuk Menunjukkan Arah

Menujuk arah/Depositphotos

Menujuk arah/Depositphotos

Saat bertanya arah dengan orang Jepang sebaiknya jangan menggunakan telunjuk untuk menunjuk peta karena ini dianggap mengancam dan tidak sopan lebih baik mengarahkan dengan tangan terbuka daripada menggunakan telunjuk.

3. Bersalaman

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Salaman dianggap kurang sopan di Jepang kalau ingin berbaur dengan orang Jepang harus membungkuk untuk memberi salam, berterima kasih atau meminta maaf.

4. Meremehkan Kartu Bisnis Orang Lain

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Di Jepang kartu nama bukanlah benda yang dianggap remeh karena kartu bisnis berisi identitas dan segala detail diri dari sang pemilik, maka hargai itu. jika diberi kartu nama bisnis terima dengan kedua tanganmu dan baca baik-baik. kalau saat itu sedang dalam pertemuan bisnis taruh kartu nama di atas meja di hadapan kita. jangan langsung menyimpannya di kantong ini dianggap sangat kasar kamu harus memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak atau dompet kartu nama.

Baca Juga :  Tanda Wabah Bagi Masyarakat Jawa: Munculnya Lintang Kemukus Pembawa Kabar

5. Jangan Langsung Membuka Pintu Taksi

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang punya pintu yang terbuka secara otomatis jadi saat taksi berhenti jangan langsung buka pintunya, sopir akan membukanya dengan menekan tombol kalau kamu buka sendiri kebanyakan sopir akan tersinggung

Baca Juga :  Mengenal Lapita, Kebudayaan dari Kepulauan Pasifik Selatan

6. Awasebashi

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Dilarang karena dianggap membawa kesialan. Salah satu hal yang tabu untuk dilakukan di Jepang adalah Awasebashi, yaitu kegiatan memberikan makanan kepada orang lain dari satu pasang sumpit ke sumpit lainnya. Di tradisi kremasi, di mana tulang yang tersisa dari abu kremasi akan dioper kepada anggota keluarga dengan menggunakan sumpit. Karena Awasebashi mirip seperti itu, maka bisa dianggap membawa kesialan.

7. Memetik Bunga Sakura

Bunga sakura/Klik dokter

Bunga sakura/Klik dokter

Memetik bunga sakura dilarang di Jepang. Bunga ini merupakan kebanggaan bangsa Jepang yang dianggap istimewa karena tergolong berumur pendek dan hanya mekar di musim tertentu. Jadi, jangan coba untuk memetiknya langsung dari tangkai. Kalau mau, lebih baik mengambil bunga sakura yang telah berguguran di bawah pohon.

Sumber: Berbagai sumber

Continue Reading

Culture

Nasi Tumpeng di Acara Syukuran, Ini Tradisinya

Published

on

Nasi Tumpeng : IDN News

Nasi Tumpeng : IDN News

mycity.co.id Nasi tumpeng selalu menjadi bagian penting dalam beragam perayaan di Indonesia. Kegiatan memotong nasi tumpeng seringkali menjadi puncak sebuah acara.

Mengapa nasi tumpeng menjadi elemen yang penting dalam perayaan di Indonesia khususnya Pulau Jawa?

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam.

Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Baca Juga :  Malangun, Tradisi Suku Anak Dalam untuk Menghilangkan Kegalauan

Menurut tradisi Islam di Jawa, “tumpeng” merupakan akronim dari bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Hal ini mempunyai makna agar maksud pemangki hajat akan tercapai dengan hasil yang paling baik yang dilambangkan dengan bagian yang paling atas. Potongan tumpeng biasanya diberikan pada seseorang yang dianggap paling istimewa atau yang dihormati sebagai ungkapan ras aahoramat dan sayang.

Biasanya, lauk-pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini pun bukan tanpa alasan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, maksudnya adalah pitulungan (pertolongan).

Baca Juga :  Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal.

Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara itu, dari segi lauk-pauknya, ayam yang menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh.

Pemilihan ayam jantan in memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Baca Juga :  Ini Dia 5 Kota Terunik di Indonesia

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

Continue Reading

Culture

Mengenal Tradisi Afternoon Tea di Inggris

Published

on

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

mycity.co.id – Cityzen, pernahkah kalian bermimpi menjadi seorang putri kerajaan dan mengadakan pesta minum teh bersama para Putri, dan para bangsawan lain?

Jika iya, pasti penasaran bagaimana tradisi minum teh yang dimaksud. Dirangkum mycity.co.id  dari berbagai laman sumber,  ‘Afternoon Tea’ atau sering disebut sebagai tradisi minum teh, pada mulanya hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan Inggris saja.

Ini karena pada masa itu, sekitar pertengahan abad ke-17 kebanyakkan teh diimpor dari China sehingga harga teh hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan atas. Pada tahun 1840 Afternoon Tea diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang bangsawan bernama Anna Dutchess.

Pada tahun ini pula penemuan lampu minyak sudah ditemukan, sehingga waktu makan malam diundur menjadi lebih malam sekitar pukul 08.00 malam. Dalam keluarga bangsawan Inggris, waktu memakan makanan berat hanya pada pagi hari dan malam hari saja. saat siang hari mereka hanya diperkenankan makan makanan ringan.

Baca Juga :  Tinggal di Denmark dan Belum Menikah di Usia 25 Tahun? Siap-siap Dilempari Bubuk Kayu Manis

Sementara itu Anna Dutchess kerap kali dilanda lapar pada pukul empat sore, hal itu menjadikan Dutchess meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Baca Juga :  Etika dan Estetika Blangkon, Budaya Berbusana Masyarakat Jawa yang Sarat Unsur Feodalistik

Ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung bersama untuk sekedar minum teh serta memakan kue dan cemilan-cemilan pada sore hari saat ia datang ke London. Kebiasan itu didukung oleh kerajaan dan diikuti oleh kerajaan lainnya juga. Teh yang disajikan selalu menggunakan teko perak nan elegan dan dituangkan ke dalam cangkir porselen yang indah.

Acara minum teh pada masa itu merupakan cara untuk menunjukkan kemewahan pada para tamu yang hadir. Pada 23 September 1658, surat kabar republik London Mercurius Politicus memuat iklan teh pertama di Inggris. Iklan ini mengumumkan bahwa minuman China yang disebut tcha, atau bangsa lain menyebutnya tay alias tea tersedia di beberapa kedai kopi. Dari situlah teh semakin populer.

Baca Juga :  Tradisi Mitoni, Adat Tujuh Bulanan Masyarakat Jawa

Pada akhir abad ke-19, harga teh mulai terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga orang-orang kelas menengah pun dapat melakukan tradisi afternoon tea.  Kegiatan tersebut pun menyebar luas ke seluruh Inggris dan bahkan ke Amerika Serikat.

Masyarakat Inggris biasanya menikmati kegiatan minum teh di tempat-tempat favorit mereka, misalnya kafe, rumah atau taman sambil sambil membaca buku atau mengobrol bersama teman. Kegiatan minum teh ini sekarang menjadi agenda yang selalu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Continue Reading
Advertisement

Trending