Connect with us

Kesehatan-Kecantikan

Kenapa Orang Bisa Kesurupan? Ini Dia Penjelasan Ilmiahnya

Published

on

Ilustrasi kesurupan

Kesurupan adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang atau sekelompok orang yang mengekspresikan perilaku di luar kesadaran mereka. Kesurupan disebut juga dengan kerasukan.

Di Indonesia, kesurupan dipahami sebagai kondisi seseorang kerasukan hantu atau roh jahat. Fenomena ini dipercaya di berbagai negara lain yang juga memiliki kultur kepercayaan terhadap hal-hal berbau mistis.

Kondisi bisa terjadi baik karena tidak disengaja maupun yang disengaja. Misalnya, beberapa ritual adat sengaja memanggil roh nenek moyang untuk masuk ke dalam tubuh salah satu anggota di desa adat tersebut untuk tujuan tertentu.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Namun, sebenarnya di mata medis, kemasukan hatu atau roh jahat merupakan suatu penyakit mental, dan bukan menjadi suatu hal yang mistis. Gangguan mental ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor sosial dan psikologis.

Kesurupan di mata medis disebut dengan Possession Trance Disorder. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM V) kesurupan masuk dalam kategori Other Specified Dissociative Disorder. Kondisi pada kategori ini ditandai dengan penyempitan atau hilangnya kesadaran akan lingkungan sekitar sehingga orang tersebut tidak responsif atau tidak peka terhadap rangsangan lingkungan.

Ketidakmampuan merespons rangsangan lingkungan ini bisa disertai hal-hal kecil yang kerap tidak disadari atau tidak dapat dikendalikan oleh orang tersebut seperti gerakan tertentu pada jari hingga kelumpuhan sementara atau hilangnya kesadaran.

Gangguan ini dibagi menjadi tiga kondisi utama, yaitu dissociative amnesia, dissociative identity disorder, dan depersonalization-derealization disorder.

Dissociative amnesia

Ciri utama dari kondisi ini adalah hilangnya memori tanpa sebab yang jelas. Penderitanya bisa tiba-tiba tidak mengenali dirinya sendiri, keluarga, maupun teman, terutama apabila orang-orang tersebut pernah menimbulkan trauma.

Hilang ingatan ini bisa terjadi selama beberapa menit, jam, atau dalam kondisi yang lebih lama, hingga hitungan bulan dan tahun.

Dissociative identity disorder

Kondisi ini sebenarnya lebih dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda. Penderita gangguan ini mungkin merasakan bahwa ada orang lain di dalam diri yang mengatur pikirannya. Terkadang, para penderita gangguan ini merasa kerasukan makhluk lain.

Orang yang tinggal di dalam diri penderita gangguan ini bisa berjumlah dua orang atau lebih dan masing-masingnya memiliki nama, riwayat hidup, dan perilaku yang berbeda dari pribadi yang “asli”.

Bahkan, kepribadian yang lain tersebut juga bisa memiliki jenis kelamin yang berbeda, suara berbeda, hingga penyakit yang berbeda. Sebagai contoh, pada kondisi sadar, penderita gangguan ini sebenarnya tidak memerlukan kacamata untuk melihat, namun, kepribadiannya yang lain memerlukannya.

Depersonalization-derealization disorder

Sementara itu pada jenis gangguan ini, penderitanya akan merasa berada di luar raga, sehingga bisa mengamati perilaku, perasaan, dan pikiran diri sendiri dari jauh, seperti sedang menonton sebuah film.

Orang lain disekitar penderita juga akan terasa seperti bayangan semu, dengan waktu yang bisa terasa lebih cepat, atau justru lebih lambat. Kondisi ini biasanya hanya terjadi beberapa saat, dan bisa kambuh.

Advertisement

Kesehatan-Kecantikan

Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Published

on

By

PMK pada Hewan Ternak

Akhir-akhir ini informasi terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memang sedang menjadi perbincangan publik. Terlebih sebentar lagi umat muslim di Tanah Air akan menyambut Hari Raya Idul Adha.

Diketahui, wabah virus pada hewan ternak ruminansia ini sangat menular dan menyerang semua hewan berkuku belah. Misalnya seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, unta, dan lainnya.

Kasus PMK di Indonesia saat ini sudah menyebar ke 19 provinsi dan 213 kabupaten serta kota. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah pun telah dengan cepat mengambil langkah-langkah yang tepat. Hal itu mengingat seiring dengan meluasnya kasus PMK di berbagai daerah.

Langkah-langkah tersebut antara lain seperti membentuk Satgas Penanganan PMK, pelaksanaan vaksinasi untuk hewan ternak, dan pengaturan lalu lintas ternak serta pencegahan penyebaran penyakit antar wilayah.

Baca Juga:

  1. Jangan Makan Daging Bagian Ini, Ada Virus PMK di Hewan Ternak
  2. Diduga 598 Hewan Ternak di Sumut Terjangkit PMK
  3. Kenali Stunting, Kekerdilan pada Anak yang Harus Dicegah Sekarang Juga

Presiden Joko Widodo telah menyetujui usulan struktur dari Satgas Penanganan PMK. Hal ini dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Di mana Kepala BNPB nantinya yang akan memimpin Satgas Penanganan PMK. Kemudian wakilnya adalah Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Dirjen Bina Bangda Kemendagri, Deputi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, serta Asops Kapolri dan Panglima TNI.

Selain itu Menko juga mengatakan terkait mobilitas hewan ternak di daerah yang terdampak PMK atau daerah zona merah, pemerintah akan melakukan pembatasan berbasis mikro.

“Untuk daerah berbasis level mikro, seperti di penanganan COVID-19 di PPKM, ini akan diberikan larangan hewan hidup, dalam hal ini sapi, untuk bergerak. Itu di daerah level kecamatan yang terdampak penyakit kuku dan mulut atau kita sebut daerah merah. Daerah merah ini ada di 1.765 dari 4.614 kecamatan atau di 38 persen,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, bagi hewan ternak dan untuk pengadaan 28,7 juta dosis vaksin akan menggunakan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN), pemerintah juga akan mengintensifkan vaksinasi PMK.

“Bapak Presiden memberikan arahan untuk obat-obatan harus segera disiapkan dan jumlah vaksinator agar dilengkapi. Seluruh mekanisme harus dijaga, selain pergeseran hewan, juga harus dikontrol terhadap mereka yang keluar masuk peternakan, melalui disinfektan agar carrier dari penyakit ini harus dijaga,” terang Airlangga.

Continue Reading

Kesehatan-Kecantikan

Kenali Stunting, Kekerdilan pada Anak yang Harus Dicegah Sekarang Juga

Published

on

ilustrasi bayi

Stunting (kekerdilan) pada anak dapat dicegah jika orang tua mengambil langkah-langkah penting dalam dua tahun pertama kehidupan seorang anak.

Jika anak tidak mendapatkan makanan dan perawatan yang tepat selama waktu khusus itu, akan memberikan efek berbahaya kepada anak.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2018 menyebutkan, hampir setengah dari kematian anak di seluruh Indonesia mencapai 7,8 juta dari 23 juta balita.

Stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama.

Anak dalam kondisi stunting umumnya bertubuh lebih pendek dibanding anak seusianya.

Seorang anak yang bertahan dengan kondisi ini, cenderung memiliki kemampuan belajar yang rendah dan lebih rentan terhadap penyakit.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, stunting dianggap sebagai kondisi yang sering tidak diakui di masyarakat.

Di mana kondisi ukuran tubuh pendek adalah sesuatu yang normal dan sering kali tidak menjadi perhatian di dalam perawatan kesehatan primer.

Hal sederhana yang dicontohkan mantan Bupati Kulonprogo ini adalah pola pengukuran badan anak yang benar. Terutama, yang belum pernah diukur oleh tenaga medis ketika masih di bawah usia lima tahun.

Caranya adalah dengan dibaringkan dan bukan dalam posisi berdiri. Karena dengan dibaringkan akan terukur sempurna dan akan bisa terpantau bentuk struktur tulang penyangga tubuh.

Dokter spesialis kandungan ini menyebutkan metode pengukuran sederhana dengan membaringkan badan si anak lebih efektif dan harus menjadi acuan bagi para tenaga medis di klinik dan puskesmas.

Saat ini, pada kenyataannya, pertumbuhan tinggi seorang anak berfungsi sebagai penanda berbagai kelainan patologis yang terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

Begitu pula hilangnya potensi pertumbuhan fisik dan  penurunan perkembangan saraf. Di samping itu ada potensi menurunnya fungsi kognitif serta peningkatan risiko penyakit kronis di masa dewasa.

Seperti dikutip dari laman Program Pencegahan Stunting Kemenkes RI, ada sejumlah penyebab stunting, yaitu:

1. Asupan nutrisi ibu.

Penyebab stunting yang pertama dipengaruhi oleh asupan nutrisi ibu hamil. Ibu hamil yang kurang mengkonsumsi makanan bergizi seperti asam folat, protein, kalsium, zat besi, dan omega-3 cenderung melahirkan anak dengan kondisi kurang gizi.

Kemudian saat lahir, anak tidak mendapat ASI eksklusif dalam jumlah yang cukup dan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan gizi yang seimbang ketika berusia 6 bulan ke atas.

2. Kurangnya asupan makanan sehat dan bergizi sebagai MPASI.

Pemberian makanan pendamping yang tidak cukup dan kekurangan nutrisi penting di samping asupan kalori murni adalah salah satu penyebab pertumbuhan pada anak terhambat.

Baca Juga:

  1. Anak Mengalami Fobia Sosial? Simak Cara Mengatasinya
  2. Sudahkah Kota Kita Ramah Anak?
  3. Instagram Kini Punya Fitur untuk Awasi Anak Main Medsos

Anak-anak perlu diberi makanan yang memenuhi persyaratan minimum dalam hal frekuensi dan keragaman makanan untuk mencegah kekurangan gizi.

3. Kebersihan lingkungan.

Ada kemungkinan besar hubungan antara pertumbuhan linier anak-anak dan praktik sanitasi rumah tangga.

Kontaminasi jumlah besar bakteri fecal coliform oleh anak-anak ketika meletakkan jari-jari kotor atau barang-barang rumah tangga di mulut mengarah ke infeksi usus.

Kondisi ini memengaruhi status gizi anak karena mengurangi nafsu makan, mengurangi penyerapan nutrisi dan meningkatkan kehilangan nutrisi.

Penyakit-penyakit yang berulang seperti diare dan infeksi cacing usus (helminthiasis) yang keduanya terkait dengan sanitasi yang buruk telah terbukti berkontribusi terhadap terhambatnya petumbuhan anak. 

Dampak Stunting pada Anak

Umumnya stunting adalah gangguan yang sering ditemukan pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. Lalu, bagaimana kita bisa mengenali apakah anak mengalami gejala stunting atau tidak.

Tips dari dr Hasto Wardoyo berikut ini bisa dijadikan acuan, antara lain:

1. Pertumbuhan tinggi dan berat anak terganggu.

Stunting adalah salah satu dari berbagai penyebab anak lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Berat badannya pun cenderung jauh di bawah rata-rata anak sebayanya.

2. Tumbuh kembang anak tidak optimal.

Stunting juga bisa terlihat pada tumbuh kembang anak di mana anak menjadi terlambat jalan atau kemampuan motoriknya kurang optimal.

3. Mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan anak ketika menangkap pelajaran.

Stunting telah menjadi salah satu faktor yang ikut berpengaruh terhadap pekembangan kecerdasan kognitif (Intelligence Quotient) anak lebih rendah dibanding anak seusianya. Anak akan sulit belajar dan berkonsentrasi akibat kekurangan gizi.

4. Mudah terserang penyakit.

Anak dengan gejala stunting akan mudah terserang penyakit. Si anak ketika dewasa juga berisiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes, jantung, kanker, dan stroke. Bahkan stunting pada anak juga bisa berujung pada kematian usia dini.

Stunting juga bisa meningkatkan risiko kematian janin saat dilahirkan. Ini bisa terjadi jika ibu hamil ternyata mempunyai riwayat stunting.

Ibu yang memiliki riwayat stunting umumnya berciri tinggi badan di bawah normal.

Sehingga cenderung memiliki ukuran panggul yang kecil, dan akhirnya kondisi ini mempersempit jalan lahir bagi si bayi.

Dengan proporsi ukuran yang tidak sesuai ini mengakibatkan ibu dengan postur tubuh yang pendek sulit untuk melakukan persalinan normal.

Jika pun dipaksakan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kematian dan gangguan kesehatan pada bayi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Membedakan Stunting dan Kurus

Secara kasat mata sulit membedakan antara stunting dengan anak kurus (wasting). Padahal ini adalah dua bentuk malnutrisi yang memerlukan penanganan berbeda untuk pencegahan dan pengobatannya.

Akan tetapi, kedua bentuk malnutrisi ini memiliki hubungan yang erat dan sering terjadi bersama dalam populasi yang sama, dan kerap pada anak yang sama.

Keduanya dikaitkan dengan peningkatan mortalitas, terutama ketika keduanya hadir pada anak yang sama.

Menurut Hasto Wardoyo, massa otot yang berkurang merupakan karakteristik dari kondisi balita kurus yang parah. Tetapi ada bukti tidak langsung bahwa itu juga terjadi pada stunting.

Berkurangnya massa otot meningkatkan risiko kematian selama infeksi dan juga dalam banyak situasi patologis lainnya.

Berkurangnya massa otot dapat mewakili mekanisme umum yang menghubungkan wasting dan stunting.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengurangi angka kematian terkait gizi buruk, intervensi harus bertujuan untuk mencegah wasting dan stunting, yang sering kali memiliki penyebab yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pengobatan harus fokus pada anak-anak yang wasting dan stunting yang memiliki defisit terbesar dalam massa otot, daripada berfokus pada kekurangan gizi saja.

Penurunan massa lemak sering terjadi tetapi tidak konsisten dalam stunting. Lemak mengeluarkan banyak hormon, termasuk leptin, yang mungkin memiliki efek stimulasi pada sistem kekebalan tubuh.

Perlu diketahui juga bahwa leptin memiliki efek pada pertumbuhan tulang. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa anak-anak kurus dengan simpanan lemak rendah berdampak pada tinggi badannya yang tetap rendah.

Ini juga dapat menjelaskan keterkaitan stunting yang sering dikaitkan dengan wasting. Bagaimanapun, stunting dapat terjadi tanpa adanya wasting dan bahkan pada anak-anak yang kelebihan berat badan.

Dengan demikian, suplementasi makanan harus digunakan dengan hati-hati dalam populasi di mana stunting tidak terkait dengan wasting dan simpanan rendah lemak. 

Pencegahan Anak Stunting

Menurut Firmansyah Chatab, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Permata Depok, pencegahan anak stunting bisa dimulai sejak dalam kandungan atau ketika si ibu sedang hamil.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting pada ibu hamil:

  1. Memperbaiki pola makan dan mencukupi kebutuhan gizi selama kehamilan.
  2. Memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan asam folat (folic acid) untuk mencegah cacat tabung saraf.
  3. Memastikan anak mendapat asupan gizi yang baik khususnya pada masa kehamilan hingga usia 1000 hari anak.
  4. Selain itu stunting adalah gangguan yang juga dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan meningkatkan akses air bersih di lingkungan rumah.
  5. Hal penting yang harus dipahami, tidak ada solusi sederhana untuk mencegah stunting. Namun, berfokus pada rentang waktu antara kehamilan ibu dan ketika anak berusia dua tahun menjadi kunci untuk memastikan perkembangan anak yang sehat.

Continue Reading

Kesehatan-Kecantikan

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Published

on

By

Ganja

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat untuk Rakyat di Sirkuit Internasional Chang, Provinsi Buri Ram.

Namun, bagaimana dengan efek ganja itu sendiri bagi tubuh? Diketahui, ganja ternyata juga memiliki manfaat dalam kesehatan, seperti untuk pengobatan di beberapa macam penyakit.

Peneliti mengatakan menghasilakan sejumlah orang jadi jarang datang ke dokter, untuk berobat jika penggunaan ganja untuk mengobati kondisi medis. Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menyetujui untuk menghapus ganja dari kategori obat paling berbahaya di dunia pada akhri 2020 lalu. Hal ini sebagaimana yang direkomendasikan oleh rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, ganja juga bisa dipakai untuk keperluan medis. Di mana kandungan Tetrahidrokanabinol (THC) bertanggung jawab pada kondisi mental seseorang atas efek ganja.

Akan tetapi berdasarkan Pusat Nasional untuk Kesehatan Komplementer dan Integratif Inggris, sejumlah tanaman ganja mengandung sangat sedikt THC. Ganja pun turut mengandung dronabinol yang dapat digunakan untuk mengobatau rasa mual dan muntah akibat pasien menjalani kemoterapi kanker.

Baca Juga:

  1. Peran Ganja untuk Pengobatan Kanker Payudara
  2. Siswa Diduga Tewas Akibat Overdosis, Thailand Larang Remaja Konsumsi Ganja
  3. Resmi Jadi Barang Legal, Warga Thailand Borong Minuman sampai Permen Ekstrak Ganja

Tak hanya itu saja, dalam mengobati kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan pada penyintas HIV/AIDS, dronabinol ini juga dapat dipergunakan. Ganja juga dikatakan bisa mengurangi rasa cemas dan depresi atau gangguan mental umum pada seseorang.

Untuk pengobatan depresi dan kecemasan itu telah dikenal kandungan CBD. Komponen tertentu dari mariyuana, termasuk CBD ini bertanggung jawab atas efek penghilang rasa sakit. Hal ini pun telah ditemukan oleh para ilmuwan.

Kemudian, CBD diketahui juga membantu mengurangi nyeri kronis dengan memengaruhi aktivitas reseptor endocannabinoid, mengurangi peradangan, dan berinteraksi dengan neurotransmitter. Ini diungkapkann oleh penelitian yang diunggah di National Library of Medicine.

Di sisi lain jika disalah gunakan, ganja dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Di mana bisa menyebabkan gangguan otak dan lain sebagainya.

Peneliti terbaru memperkirakan bahwa “kira-kira 3 dari 10 orang yang menggunakan ganja memiliki gangguan penggunaan ganja,” semacam ketergantungan. Hal ini menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Oleh sebab itu harus berdasarkan resep dokter dan dipantau oleh dokter yang berwenang untuk penggunaan ganja secara medis tersebut. Dikarenakan berpotensi mengakibatkan ketergantungan serta penyalahgunaan, penggunaan ganja ini tidak dapat sembarangan dan tanpa kontrol medis.

Maka dari itu pejabat Thailand sendiri khawatir ganja disalahgunakan oleh masyarakatkan, terutama kaum muda. Di mana ganja malah digunakan hanya untuk keperluan rekreasi.

Hal tersebut dinilai dapat menghambat kinerja otak dalam belajar, sehingga remaja menjadi bodoh. Sebab itu, kepada kelompok usia di bawah 25 tahun diperingatkan oleh Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Kesehatan Thailand Somsak Akksilp bahwa ganja tidak dipakai untuk keperluan rekreasi.

Continue Reading

Trending