Connect with us

COVID-19Update

Mengenal Lebih Dalam Vaksin AstraZeneca

Published

on

Vaksin AstraZeneca

Mayoritas masyarakat Indonesia merasakan efek samping demam hebat setelah mendapatkan suntikan Vaksin AstraZeneca. Mengapa demikian?

Sebelum kita mengetahui penyebabnya, kita harus terlebih dahulu mengenal Vaksin AstraZeneca. Vaksin ini, yang juga dikenal dengan sebutan Vaksin Oxford, dikembangkan perusahaan biofarmasi asal Inggris bersama beberapa peneliti dari Universitas Oxford.

Berbeda dengan Sinovac, Vaksin AstraZeneca memanfaatkan virus hasil modifikasi untuk membentuk antibodi. Penggunaan vaksin AstraZeneca dengan cara disuntikkan ke dalam otot sebanyak dua kali dalam jangka waktu 8 hingga 12 minggu, sesuai anjuran World Health Organization (WHO).

Untuk memenuhi kebutuhan vaksin dunia, produksi vaksin AstraZeneca juga dilakukan di luar Eropa. Di Asia, vaksin ini diproduksi di India dan Korea Selatan yang kemudian diimpor ke Indonesia. Saat ini, vaksin AstraZeneca telah mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak 22 Februari 2021.

Baca Juga:

  1. Jokowi: Jangan Ada Lagi PNS Zaman Kolonial yang Minta Dilayani!
  2. Begini Cara Dapat Token Listrik Gratis
  3. Metode Mendidik Anak Ala Sayyidah Fathimah az-Zahra


Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2021 yang memperbolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca untuk keperluan mendesak. Berdasarkan pernyataan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), vaksinasi massal menggunakan vaksin AstraZeneca masih diperuntukkan bagi masyarakat usia minimal 18 tahun ke atas.

Lantas, siapa saja pengguna Vaksin AstraZeneca? Vaksin ini banyak digunakan di benua Eropa. Selain itu, AstraZeneca juga digunakan negara-negara di benua Australia, Afrika, serta Asia seperti Vietnam, India, Malaysia, Filipina, Taiwan, Korea Selatan, dan saat ini Indonesia.

Berdasarkan keterangan yang dirangkum dari WHO, efikasi terbaik vaksin AstraZeneca mencapai 63,09% pada dosis kedua setelah interval 12 minggu dari dosis pertama. Vaksin tipe ini, terbukti dapat mengurangi gejala Covid-19 yang seringkali timbul pada orang yang terinfeksi Covid-19.

Namun demikian, ada beberapa kondisi yang menyebabkan kontraindikasi vaksin AstraZeneca. Seperti alergi terhadap vaksin atau komponen vaksin, serta riwayat alergi berat (anafilaksis) pada pemberian dosis pertama vaksin AstraZeneca.

Demam Hebat Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca

Mayoritas orang Indonesia mengalami biasanya mengalami efek samping bersifat ringan seperti pusing, mual, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri di tempat suntikan, kelelahan, malaise, dan demam usai disuntik vaksin AstraZeneca.

Menanggapi hal itu, dr. Adam Prabata menyatakan demam merupakan salah satu efek sistemik dari vaksin ini.

“Umumnya ada dua jenis efek samping setelah vaksin, lokal dan sistemik. Efek samping lokal terjadi di area suntik seperti kemerahan, bengkak, dan nyeri. Sedangkan efek samping sistemik terjadi di seluruh badan seperti demam, pegal-pegal, kelelahan, mengantuk, dan sebagainya,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga beberapa waktu lalu membenarkan bahwa efek samping dari Vaksin AstraZeneca adalah demam. Namun, Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, memastikan hal itu tidak berbahaya.

“Iya efek sampingnya demam, pusing, mual. Jadi kalau demam bisa saja. Tapi itu akan hilang dalam 1-2 hari,” dia menambahkan.

Vaksin AstraZeneca atau AZD1222 dikembangkan dengan platform vektor adenovirus. Artinya, vaksin ini dikembangkan dari virus yang biasanya menginfeksi simpanse dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Nadia membenarkan virus tersebut membawa sebagian materi dari virus Corona yaitu protein spike. Sedangkan vaksin Covid-19 Sinovac menggunakan platform inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan.

Metode ini sudah sering dipakai dalam pengembangan vaksin lain seperti vaksin polio dan flu. Namun, Nadia menegaskan, kedua vaksin tersebut sudah teruji dan aman digunakan untuk manusia.

“Semuanya sudah teruji, aman kok. Hanya kan pasti kalau ada beda reaksi tiap individu, kalau platformnya beda,” jelas dia.

“Kan sudah ada model lainnya, jadi karena respon vaksin sangat individual. Karena ada dua kasus dari batch yang sama, maka perlu dilihat juga dari aspek batch tersebut,” demikian dia.

Vaksin AstraZeneca Sebabkan Pembekuan Darah

Satu hal lainnya yang menjadi sorotan terkait Vaksin AstraZeneca adalah efek samping yang menyebabkan pembekuan darah. Laporan pembekuan darah setelah vaksin AstraZeneca pertama kali muncul pada Maret 2021.

“Benar. Di Inggris ada risiko pembekuan darah yang didominasi perempuan muda dengan rasio yang terbilang kecil, antara 1:100.000 hingga 3,6:1.000.000 pada orang yang menggunakan vaksin AstraZeneca,” ujar dr Adam.

Pembekuan darah ini disebut Vaccine-Induced Thrombotic Thrombocytopenia (VITT) atau trombosis dengan sindrom trombositopenia, disebut juga (TTS). Vaksin AstraZeneca dapat mengaktifkan trombosit yang memiliki peran penting untuk membentuk gumpalan darah yang mencegah pendarahan.

Setelah vaksin AstraZeneca masuk ke tubuh, trombosit teraktivasi dan melepaskan protein yang disebut platelet faktor 4 (PF4). Peningkatan PF4 ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh untuk mengaktifkan trombosit sehingga membuat sel-sel tersebut saling menempel. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah (trombosis) dan jumlah trombosit yang rendah (trombositopenia).

Pembekuan darah akibat efek vaksin AstraZeneca ini berbeda dengan pembekuan darah yang pada umumnya terjadi. Ciri utama dari TTS adalah terjadinya penggumpalan darah dengan jumlah trombosit yang berkurang.

“Sejauh ini, orang yang tidak diperbolehkan menggunakan vaksin AstraZeneca sehingga menimbulkan kontraindikasi yaitu mereka yang memiliki riwayat penyakit HITT (Heparin Induced Thrombocytopenia and Thrombosis), sehingga muncul pembekuan darah karena pengobatan Heparin. Namun, kasus ini tergolong langka dan tidak banyak,” tegas dia.

“Jika memiliki riwayat penyakit jantung dan pembekuan darah, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter. Jika tidak ada masalah, maka pemberian vaksin AstraZeneca boleh dilanjutkan. Selain itu, Ikatan Dokter Jantung Indonesia juga tidak melarang pemberian vaksin AstraZeneca pada pasien penyakit jantung dan pembuluh darah yang kondisinya stabil. Risiko pembekuan darah akibat vaksin tersebut sangat kecil (3,6 kasus per satu juta orang yang divaksin), namun efektivitasnya sangat baik,” tuturnya.

European Medicines Agency atau Badan Pengawas Obat Eropa, masih menilai bahwa kalau pun vaksin ini memang dapat menyebabkan reaksi pembekuan darah, manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya, sehingga vaksin AstraZeneca tetap boleh diberikan.

“Meninggal setelah vaksin itu tidak sama dengan meninggal karena vaksin. Belum tentu orang yang meninggal setelah vaksin sama dengan meninggal karena vaksin. Jika ada yang meninggal setelah vaksin, maka harus diinvestigasi. Lalu, apakah ada orang yang meninggal karena efek samping vaksin AstraZeneca? Sejauh ini ada, penyebabnya adalah karena mengalami pembekuan darah,” demikian dia.

Vaksin AstraZeneca Ampuh Lawan Varian Delta

Laporan terbaru menunjukkan vaksin AstraZeneca efektif melawan varian Delta. Hasil tersebut didapatkan dari penelitian terbaru Universitas Oxford terhadap kemampuan antibodi monoklonal dalam darah seseorang yang pulih, dan dari mereka yang divaksin untuk menetralkan varian tersebut.

“Varian Covid-19 yang banyak ditemukan di Indonesia saat ini adalah varian Delta, beberapa waktu lalu juga ada varian Alpha. Untuk vaksin AstraZeneca (menurut pernyataan WHO), sudah terbukti efektif melawan kedua varian Covid-19 tersebut,” tegas dr Adam.

PHE juga mengeluarkan hasil riset yang menunjukkan AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi terhadap varian Delta. Vaksin memberikan 92 persen perlindungan ke penerimanya, dari risiko rawat inap ke rumah sakit akibat varian Delta.

Menurut studi yang dilakukan New England Journal of Medicine, dua suntikan vaksin AstraZeneca adalah 67% efektif terhadap varian Delta, naik dari 60% yang dilaporkan semula, dan 74,5% efektif terhadap varian Alpha, dibandingkan dengan perkiraan awal efektivitas 66%.

“Hanya perbedaan kecil dalam efektivitas vaksin yang dicatat dengan varian Delta dibandingkan dengan varian Alpha setelah menerima dua dosis vaksin,” tulis peneliti Public Health England dalam penelitian tersebut.

Berdasarkan segala penjelasan ahli di atas, kita tahu bahwa Vaksin AstraZeneca memiliki risiko. Namun, risiko tersebut tidak sebanding dengan banyaknya manfaat yang diberikan jika kita menggunakan vaksin tersebut. Jadi, Cityzen jangan ragu untuk disuntik Vaksin AstraZeneca ya.

COVID-19Update

Akhirnya Terungkap, Inilah Penyebab Utama Penularan Varian Omicron di Afrika

Published

on

penyebaran varian Omicron di Afrika

Covid-19 varian Omicron kini menghantui dunia. Bahkan, varian ini sudah menyebar ke sepertiga wilayah Amerika Serikat (AS). Adapun, negara-negara Eropa memutuskan melakukan lockdown atau penguncian wilayah.

Varian Omicron diketahui pertama kali muncul di Negara Afrika. Berdasarkan laporan yang dirilis Mo Ibrahim Institute, Afrika saat ini mengalami diskriminasi yang sangat ekstrim dengan hanya 5 negara saja yang memenuhi target 40% populasi tervaksinasi hingga akhir tahun ini.

“Sejak awal krisis ini, Yayasan kami dan suara Afrika lainnya telah memperingatkan bahwa Afrika yang tidak divaksinasi dapat menjadi inkubator sempurna untuk berbagai varian,” kata ketuanya Mo Ibrahim dalam sebuah pernyataan kepada NDTV, Senin (6/12/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Munculnya Omicron mengingatkan kita bahwa Covid-19 tetap menjadi ancaman global, dan vaksinasi ke seluruh dunia adalah satu-satunya jalan ke depan. Namun, kami terus hidup dengan diskriminasi vaksin yang ekstrem, dan Afrika khususnya tertinggal,” sambung dia.

Hingga saat ini baru 1 dari 15 warga Afrika yang menerima vaksin Covid-19. Ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan rata-rata 70% populasi tervaksinasi di negara-negara maju.

Pengiriman vaksin ke Afrika sendiri telah ditingkatkan dalam beberapa bulan terakhir meskipun masih terkendala oleh sistem perawatan kesehatan yang lemah dan infrastruktur yang terbatas. Selain itu, muncul juga keresahan akan tanggal kadaluwarsa yang pendek pada vaksin yang disumbangkan.

Omicron dilaporkan memiliki lebih banyak strain atau mutasi dibandingkan varian Alpha, Beta dan Delta dan dianggap sangat menular. Tercatat, ada 32 mutasi protein lonjakan yang dibawa varian itu.

Continue Reading

COVID-19Update

Gawat, Varian Omicron Kini Telah Menyebar ke Sepertiga Wilayah AS

Published

on

Varian Omicron
Varian Omicron

Amerika Serikat (AS) kini dihantui Covid-19 varian Omicron. Kini, varian tersebut telah menyebar ke sepertiga wilayah Negeri Paman Sam.

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (6/12/2021), Otoritas Kesehatan AS menyatakan bahwa varian Omicron ini memang cukup membahayakan. Meski demikian, mereka menyatakan Varian Delta masih mendominasi.

Pakar penyakit menular terkemuka AS, Dr Anthony Fauci, menyatakan saat ini belum ada tingkat keparahan besar akibat penyebaran Varian Omicron. Akan tetapi, Fauci juga menambahkan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti dan studi lebih lanjut diperlukan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut penghitungan Reuters, sedikitnya 16 negara bagian AS telah melaporkan kasus-kasus varian Omicron, tanpa disebut jumlah total kasusnya di AS.

Negara bagian yang telah mendeteksi varian Omicron terdiri atas California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Louisiana, Maryland, Massachusetts, Minnesota, Missouri, Nebraska, New Jersey, New York, Pennsylvania, Utah, Washington dan Wisconsin.

Kebanyakan kasus varian Omicron di AS terdeteksi pada individu yang sudah divaksinasi penuh dan mereka mengalami gejala-gejala ringan. Salah satu kasus varian Omicron yang terdeteksi di Lousiana ditemukan pada seseorang yang bepergian di dalam wilayah AS.

Terlepas dari penyebaran varian Omicron, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Dr Richelle Walensky, menuturkan kepada ABC News bahwa varian Delta masih menyumbang 99,9 persen dari kasus-kasus baru Corona di wilayah AS.

Continue Reading

COVID-19Update

Curhat Jokowi Ketika Pertama Kali Dengar Varian Omicron

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), mencurahkan isi hatinya kala pertama kali mendengar kemucunculan varian Omicron.

Curahan hati itu Jokowi kemukakan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia Tahun 2021 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/12/2021).

“Jangan ada yang berpikiran bahwa pandemi ini telah selesai. Memang pada hari ini kalau kita lihat kasus yang dulu di pertengahan bulan Juli kasus harian kita di angka 56 ribu, kemarin kita berada di angka 311 kasus harian. Ini patut kita syukuri, patut kita syukuri, berkat kerja keras kita, kerja gotong-royong kita, tetapi sekali lagi, hati-hati tantangan ini belum selesai,” kata Jokowi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut dia, sudah ada 29 negara yang sudah kemasukan varian Omicron. Terbaru pada kemarin pagi, Jokowi memperoleh informasi varian itu sudah terdeteksi di Singapura.

“Yang ini meskipun masih dalam penelitian yang cepat, penularannya bisa lima kali lebih menular dibandingkan yang varian delta yang kecepatannya juga sangat cepat sekali. Ini pun juga bisa menembus dari imunitas yang telah kita miliki,” ujarnya.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, kita semua tetap harus waspada dan hati-hati, hati-hati. Tetapi juga jangan kita ini terlalu ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat. Tetap harus optimis, apalagi di tahun 2022 kita harus optimis bahwa ekonomi kita bisa bangkit di atas 5%,” lanjutnya.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, pandemi Covid-19 telah berimbas ke mana-mana. Beberapa negara mengalami kelangkaan energi hingga kontainer.

“Karena pandemi juga, yang tidak kita perkirakan, inflasi beberapa negara sudah naik demikian tinggi. Dan karena inflasi juga beberapa hari terakhir ini sudah mulai kedengaran beberapa negara ada kenaikan harga produsen yang akhirnya nanti akan berimbas kepada kenaikan harga konsumen,” kata Jokowi.

“Ini saling kompleksitas, masalah semakin melebar ke mana-mana. Sehingga memang kita harus menyiapkan rencana antisipasi dan geraknya harus kita lebih cepat dari biasanya. Karena ketidakpastian ekonomi global semakin melebar ke mana-mana, kompleksitas masalahnya juga melebar ke mana-mana,” demikian Jokowi.

Continue Reading

Trending