Connect with us

COVID-19Update

Kasus Covid-19 Melonjak Pesat, Swiss Ogah Lockdown

Published

on

Swiss Covid-19
Swiss Covid-19

Kasus Covid-19 di Eropa semakin mengkhawatirkan. Di Swiss, kasus Covid-19 melonjak pesat sehingga menyebabkan rumah sakit menjadi penuh. Namun, Menteri Kesehatan Swiss, Alain Berset, menegekaskan bahwa lockdown atau penguncian wilayah tidak diperlukan.

Kasus penularan baru di Swiss meningkat empat kali lipat dalam sebulan. Mayoritas orang yang tertular virus Covid-19 di Swiss adalah anak muda. Berset menilai anak muda yang tertular Covid-19 adalah yang tidak memiliki banyak kekebalan tubuh.

Berset menegaskan bahwa jumlah orang yang divaksinasi lengkap di Swiss masih terlalu rendah, sekitar 65% dari seluruh populasi, dan sangat penting bagi orang untuk menghormati aturan keselamatan kesehatan untuk menghindari peningkatan pasien di rumah sakit.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Swiss tadinya memiliki 10 persen populasi yang divaksinasi penuh pada 23 April, meningkat menjadi 50 persen tiga bulan kemudian pada 29 Juli. Namun, pada bulan-bulan berikutnya kemajuan itu telah menurun secara drastis.

Saat ini sekitar 65 persen populasi Swiss sekarang telah divaksinasi lengkap. Dengan tingkat kasus yang melonjak sejak pertengahan Oktober, otoritas Swiss khawatir akan melonjaknya pasien rawat inap di rumah sakit saat musim dingin tiba.

Unit perawatan intensif (ICU) saat ini 77 persen penuh, dengan 17 persen dari keseluruhan kapasitas ditempati oleh pasien COVID-19.
Ahli epidemiologi Universitas Bern, Christian Althaus, menyerukan untuk kembali bekerja dari rumah dan penggunaan masker di dalam ruangan yang lebih besar, mengingat lonjakan kasus.

Althaus mengatakan bahwa mengingat tingkat vaksinasi yang merayap – negara tetangga Jerman, Prancis dan Italia semuanya memiliki tingkat yang lebih tinggi – Swiss bisa mengalami musim dingin yang sulit.

“Kita belum keluar dari zona bahaya. Mengingat situasi saat ini, kita bisa mendapati diri kita kembali dalam situasi kritis menjelang Natal,” katanya.

COVID-19Update

Akhirnya Terungkap, Inilah Penyebab Utama Penularan Varian Omicron di Afrika

Published

on

penyebaran varian Omicron di Afrika

Covid-19 varian Omicron kini menghantui dunia. Bahkan, varian ini sudah menyebar ke sepertiga wilayah Amerika Serikat (AS). Adapun, negara-negara Eropa memutuskan melakukan lockdown atau penguncian wilayah.

Varian Omicron diketahui pertama kali muncul di Negara Afrika. Berdasarkan laporan yang dirilis Mo Ibrahim Institute, Afrika saat ini mengalami diskriminasi yang sangat ekstrim dengan hanya 5 negara saja yang memenuhi target 40% populasi tervaksinasi hingga akhir tahun ini.

“Sejak awal krisis ini, Yayasan kami dan suara Afrika lainnya telah memperingatkan bahwa Afrika yang tidak divaksinasi dapat menjadi inkubator sempurna untuk berbagai varian,” kata ketuanya Mo Ibrahim dalam sebuah pernyataan kepada NDTV, Senin (6/12/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Munculnya Omicron mengingatkan kita bahwa Covid-19 tetap menjadi ancaman global, dan vaksinasi ke seluruh dunia adalah satu-satunya jalan ke depan. Namun, kami terus hidup dengan diskriminasi vaksin yang ekstrem, dan Afrika khususnya tertinggal,” sambung dia.

Hingga saat ini baru 1 dari 15 warga Afrika yang menerima vaksin Covid-19. Ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan rata-rata 70% populasi tervaksinasi di negara-negara maju.

Pengiriman vaksin ke Afrika sendiri telah ditingkatkan dalam beberapa bulan terakhir meskipun masih terkendala oleh sistem perawatan kesehatan yang lemah dan infrastruktur yang terbatas. Selain itu, muncul juga keresahan akan tanggal kadaluwarsa yang pendek pada vaksin yang disumbangkan.

Omicron dilaporkan memiliki lebih banyak strain atau mutasi dibandingkan varian Alpha, Beta dan Delta dan dianggap sangat menular. Tercatat, ada 32 mutasi protein lonjakan yang dibawa varian itu.

Continue Reading

COVID-19Update

Gawat, Varian Omicron Kini Telah Menyebar ke Sepertiga Wilayah AS

Published

on

Varian Omicron
Varian Omicron

Amerika Serikat (AS) kini dihantui Covid-19 varian Omicron. Kini, varian tersebut telah menyebar ke sepertiga wilayah Negeri Paman Sam.

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (6/12/2021), Otoritas Kesehatan AS menyatakan bahwa varian Omicron ini memang cukup membahayakan. Meski demikian, mereka menyatakan Varian Delta masih mendominasi.

Pakar penyakit menular terkemuka AS, Dr Anthony Fauci, menyatakan saat ini belum ada tingkat keparahan besar akibat penyebaran Varian Omicron. Akan tetapi, Fauci juga menambahkan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti dan studi lebih lanjut diperlukan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut penghitungan Reuters, sedikitnya 16 negara bagian AS telah melaporkan kasus-kasus varian Omicron, tanpa disebut jumlah total kasusnya di AS.

Negara bagian yang telah mendeteksi varian Omicron terdiri atas California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Louisiana, Maryland, Massachusetts, Minnesota, Missouri, Nebraska, New Jersey, New York, Pennsylvania, Utah, Washington dan Wisconsin.

Kebanyakan kasus varian Omicron di AS terdeteksi pada individu yang sudah divaksinasi penuh dan mereka mengalami gejala-gejala ringan. Salah satu kasus varian Omicron yang terdeteksi di Lousiana ditemukan pada seseorang yang bepergian di dalam wilayah AS.

Terlepas dari penyebaran varian Omicron, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Dr Richelle Walensky, menuturkan kepada ABC News bahwa varian Delta masih menyumbang 99,9 persen dari kasus-kasus baru Corona di wilayah AS.

Continue Reading

COVID-19Update

Curhat Jokowi Ketika Pertama Kali Dengar Varian Omicron

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), mencurahkan isi hatinya kala pertama kali mendengar kemucunculan varian Omicron.

Curahan hati itu Jokowi kemukakan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia Tahun 2021 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/12/2021).

“Jangan ada yang berpikiran bahwa pandemi ini telah selesai. Memang pada hari ini kalau kita lihat kasus yang dulu di pertengahan bulan Juli kasus harian kita di angka 56 ribu, kemarin kita berada di angka 311 kasus harian. Ini patut kita syukuri, patut kita syukuri, berkat kerja keras kita, kerja gotong-royong kita, tetapi sekali lagi, hati-hati tantangan ini belum selesai,” kata Jokowi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut dia, sudah ada 29 negara yang sudah kemasukan varian Omicron. Terbaru pada kemarin pagi, Jokowi memperoleh informasi varian itu sudah terdeteksi di Singapura.

“Yang ini meskipun masih dalam penelitian yang cepat, penularannya bisa lima kali lebih menular dibandingkan yang varian delta yang kecepatannya juga sangat cepat sekali. Ini pun juga bisa menembus dari imunitas yang telah kita miliki,” ujarnya.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, kita semua tetap harus waspada dan hati-hati, hati-hati. Tetapi juga jangan kita ini terlalu ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat. Tetap harus optimis, apalagi di tahun 2022 kita harus optimis bahwa ekonomi kita bisa bangkit di atas 5%,” lanjutnya.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, pandemi Covid-19 telah berimbas ke mana-mana. Beberapa negara mengalami kelangkaan energi hingga kontainer.

“Karena pandemi juga, yang tidak kita perkirakan, inflasi beberapa negara sudah naik demikian tinggi. Dan karena inflasi juga beberapa hari terakhir ini sudah mulai kedengaran beberapa negara ada kenaikan harga produsen yang akhirnya nanti akan berimbas kepada kenaikan harga konsumen,” kata Jokowi.

“Ini saling kompleksitas, masalah semakin melebar ke mana-mana. Sehingga memang kita harus menyiapkan rencana antisipasi dan geraknya harus kita lebih cepat dari biasanya. Karena ketidakpastian ekonomi global semakin melebar ke mana-mana, kompleksitas masalahnya juga melebar ke mana-mana,” demikian Jokowi.

Continue Reading

Trending