Connect with us

COVID-19Update

Kasus Covid-19 Kian Menggila, Inggris Bangun Rumah Sakit Darurat

Published

on

Covid-19 di Inggris
Covid-19 di Inggris

Kasus Covid-19 di Inggris semakin mengkhawatirkan. Untuk mengatasi lonjakan pasien, Pemerintah di Negeri Ratu Elizabeth membangun rumah sakit sementara.

Seperti dilansir dari Reuters, Jumat (31/12/2021), Badan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menyediakan tempat tidur tambahan di halaman depan rumah sakit untuk wilayah London, Bristol dan Leeds mulai pekan ini.

Dengan tambahan tersebut, mereka optimistis masing-masing rumah sakit akan menampung sekitar 100 pasien tambahan.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

“Mengingat tingginya tingkat infeksi Covid-19 dan meningkatnya penerimaan rumah sakit, NHS sekarang berada dalam posisi perang,” kata Direktur Medis Nasional, Stephen Powis.

Ia berharap rumah sakit di Inggris tak perlu menggunakan rencana baru itu.

Tempat tidur tambahan dibuat untuk pasien yang baru pulih dari penyakit, termasuk mereka yang sembuh dari Covid-19.

Persiapan penambahan itu sudah mulai terlihat di bagian luar Rumah Sakit St George di Tooting, London selatan. Para pekerja sudah memasang kerangka untuk menopang atap unit baru.

Sebelumnya, pemerintah Inggris juga membuka rumah sakit lapangan di tempat-tempat seperti pusat pameran selama gelombang pertama Covid-19.

Salah satu tenaga kesehatan, Florence Nightingale, mengatakan fasilitas itu tak banyak digunakan dan staf medis kesulitan karena ukurannya yang besar.

Penambahan kali ini, super surge bed sebanyak 4.000 unit, dalam beberapa kasus menggunakan fasilitas rumah sakit yang ada seperti gimnasium atau pusat pendidikan.

Petugas medis memperingatkan berkurangnya jumlah staf secara signifikan lantaran banyak dari mereka yang terinfeksi Covid-19 atau isolasi mandiri.

COVID-19Update

Optimisme Jokowi: Tahun Ini, Pandemi Covid-19 Terkendali

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), optimistis pandemi Covid-19 akan terkendali tahun ini. Indikatornya adalah perekonomian yang terus menunjukkan perbaikan.

Meski demikian, Jokowi meminta seluruh masyarakat untuk terus menjaga protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran varian baru Covid-19, Omicron.

“Tahun 2022 akan menjadi momentum dan penangan pandemi juga semakin terkendali meskipun hati-hati masih ada varian Omicron yang harus diwaspadai,” kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022, disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (20/1/2022).

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

Jokowi juga merasa optimistis karena tingkat vaksinasi Covid-19 terus menujukkan peningkatan signifikan. Jokowi mengungkapkan sudah 301 juta dosis vaksin disuntikkan ke masyarakat hingga hari ini.

Jokowi menyatakan, penyuntikan dosis pertama vaksin Covid-19 telah mencapai 85 persen. Target penyuntikan dosis kedua telah terpenuhi 58 persen. Di saat yang sama, pemerintah juga telah memulai penyuntikan vaksin penguat (booster).

“Penanganan pandemi yang semakin baik harus kita pakai untuk membangkitkan optimisme, memberikan keyakinan, kepercayaan yang lebih besar kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk segera melanjutkan aktivitas ekonomi dan aktivitas-aktivitas produktif lainnya,” ucapnya.

Meski demikian, kasus Covid-19 terus meningkat di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, kasus Covid-19 bertambah 1.745 kasus dalam 24 jam. Total kasus aktif saat ini pun mencapai 10.796 kasus.

Continue Reading

COVID-19Update

Apa Itu Karantina Bubble? Ini Penjelasan Lengkapnya

Published

on

By

Ilustrasi Bandara

Setiap WNA atau WNI yang datang dari luar negeri diwajibkan oleh pemerintah untuk melakukan karantina bubble terlebih dahulu.

Karantina itu sendiri adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama beberapa waktu tertentu, untuk mencegah penularan virus Covid-19. Kegiatan karantina ini identik dengan pengasingan terhadap seseorang atau suatu benda, yang akan memasuki suatu wilayah atau negara.

Selama wabah Covid-19 melanda Indonesia, pemerintah membuat peraturan terkait dengan kewajiban karantina bagi setiap pelaku perjalanan luar negri yang baru tiba di Indonesia. Mereka harus menjalankan karantina selama 7×24 jam.

Pada turan tersebut diterangkan tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Covid-19 yang berlaku mulai 12 Januari 2022. Hal ini termuat dalam Surat Edaran Satuan Tugas (SE Satgas) Penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2022.

Baca Juga:

  1. Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron
  2. Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi
  3. Omicron Makin Merebak, Pemerintah Tambah Hotel Isolasi

Bagi warga negara asing bisa mendapatkan dispensiasi berupa pengecualian karantina jika mereka menerapkan sistem bubble serta protokol kesahatan yang ketat. “Sistem bubble adalah sistem yang memisahkan seseorang yang memiliki risiko terpapar Covid-19 (baik dari riwayat kontak atau riwayat bepergian ke wilayah yang telah terjadi transmisi komunitas) dengan masyarakat umum dan disertai dengan pembatasan interaksi hanya kepada orang di dalam satu area pemisahan yang sama.”

Hal tersebut tertuang dalam surat edaran satgas penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2022. Karantina bubble berarti memisahkan orang yang berisiko terpapar Covid-19, dengan khalayak luas.

Dengan bubble area atau gelembung, merupakan sistem yang membatasi interaksi seluruh mereka yang habis dari luar negri, dengan orang di luar gelembung area tersebut. Kegiatan karantina semacam ini sangat perlu diterapkan agar seluruh masyarakat sekitar tetap terjaga.

Continue Reading

COVID-19Update

Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi

Published

on

By

Ilustrasi Omicron

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), memperkirakan kasus Covid-19 Varian Omicron puncak gelombang pertamanya terjadi pada pertengahan Februari sampai awal Maret 2022.

Omicron merupakan nama dari jenis varian covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Nama omicron itu sendiri berasal dari huruf ke-15 alfabet Yunani, dan merupakan variants of Concern (VOC) kelima yang diidentifikasikan oleh WHO.

Hal tersebut dipilih untuk menghindari pemberian nama berdasarkan lokasi di mana mereka pertama kali terdeteksi, sebab akan memunculkan diskriminasi dan stigmatisasi. Selain itu juga penggunaan nama omicron dinilai dapat diingat dan memudahkan setiap orang menyebutnya.

Wilayah Jabodetabek diperkirakan akan menjadi daerah yang tinggi untuk lonjakan kasus covid-19 jenis omicron ini, khususnya Jakarta. Disebabkan karena tingginya angka mobilitas di tempat tersebut, serta terlihat juga dari penularan varian omicron yang terdeteksi lebih banyak terjadi di sana.

Baca Juga:

  1. Tegas, Jokowi Minta Orang Tua Murid Tak Tanda Tangan Surat Tanggung Jawab Risiko Vaksinasi Covid-19
  2. Pandemi Covid-19, Biaya Bangun & Desain Kantor Naik 10%
  3. Jokowi Ungkap Kunci Sukses Berantas Covid-19 yang Tak Dimiliki Negara Lain

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg Widyawati, MKM dalam rilis resmi Kemenkes RI, Senin (17/1/2022) Mengatakan bahwa, “Mengingat dari hasil identifikasi Kemenkes, mayoritas transmisi lokal varian Omicron terjadi di DKI Jakarta, dan diperkirakan dalam waktu dekat juga akan meluas ke wilayah Bodetabek. Mengingat secara geografis daerah-daerah tersebut berdekatan dan mobilitas masyarakatnya sangat tinggi.”

Kekebalan imunitas masyarakat perlu dipertahankan agar tidak mudah tertular oleh varian omicron ini, Kemenkes pun turut memperhatikan hal teserbut dengan memprioritaskan wilayah Jabodetabek sebagai penerima vaksin booster.

Warga dihimbau agar tidak panik namun tetap waspada jika nantinya kasus varian omicron melonjak, Menkes berupaya untuk menangani kasus ini sebaik dan semaksimal mungkin.

Continue Reading

Trending