Connect with us

CityView

Kapitalisme di Ujung Kota: Tumbuhnya Kapitalisme di Perkebunan Kampung Medan Putri

Published

on

ilustrasi perkebunan

Ekspansi Belanda di wilayah Medan tidak bisa dilepaskan dari sejarah eksploitasi perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur. Belanda masuk ke wilayah Sumatera Timur melalui Kerajaan Siak.

Kolonial Belanda berhasil mengadakan perjanjian politik dengan Kerajaan Siak yang disebut dengan Traktat Siak. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 1 Februari 1858 oleh Sultan Ismail dan Tengku Putra dan perwakilan dari pemerintah kolonial Belanda yaitu Residen Riau, F. N. Nieuwenhuijzen.

Dengan adanya surat perjanjian tersebut, pemerintah kolonial Belanda mulai melancarkan strategi perluasaan wilayah kekuasaanya, terutama ke daerah Sumatera Timur yang merupaka daerah vasal (taklukan) Kerajaan Siak, seperti Kota Pinang, Batu Bara, Badagai, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta daerah Kerajaan Deli.

Pada 1862, empat tahun setelah penandatanganan Traktat Siak, Residen E. Netscher berlayar ke berbagai kerajaan di Sumatera Timur. Adapun tujuan Netscher, ialah memastikan sikap tunduk raja-raja yang berada dibawah kekuasaan Siak, dan mengakui kedaulatan pemerintah Hindia Belanda atas kerajaan mereka masing-masing sesuai isi Traktat Siak.

Gayung bersambut, Sultan Mahmud Perkasa Alam, menyatakan bersedia mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda, tetapi dengan syarat Siak harus melepaskan Deli dari wilayah vasal-nya. Netscher menyetujui syarat dari Deli.

Maka pada 22 Agustus 1862, Sultan Mahmud Perkasa Alam menandatangani perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda yang diwakili oleh E. Netscher sebagai Residen Riau en Onderhoorigheden (Residen Riau dan daerah taklukkannya).

Perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama Acte van Verband yang disahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Adapun isi dari perjanjian Acte van Verband adalah “bahwa Sultan Deli taat dan setia pada Raja Belanda/Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan melaksanakan pemerintahan di Deli sesuai adat dan peraturan; bersedia memajukan negeri dan rakyat; dan bersedia mematuhi syarat-syarat penambahan akte yang belum jelas atau belum tercantum”.

Setahun setelah penandatanganan perjanjian Acte van Verband, tepatnya pada 5 Maret 1863, Netscher kembali melakukan perjanjian tambahan dengan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Ketentuan yang termuat dalam perjanjian tambahan tersebut antara lain bahwa tanah-tanah di Deli tidak akan diperjualbelikan kepada orang-orang Eropa dan orang-orang asing lainnya. Dengan demikian, tanah Deli hanya boleh diperjualbelikan dengan pemerintah kolonail Belada saja.

Adanya perjanjian ini, membuat posisi pemerintah kolonial semakin kuat karena orang-orang asing lainnya tidak dibenarkan mendapatkan tanah di wilayah ini.

Untuk memperkuat kedudukannya di Deli, pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun kantor perwakilannya di wailayah tersebut.

Oleh sebab itu, ditempatkanlah kontrolir J. A. M. de Cats Baron de Raet di Labuhan (Ibukota Kerajaan Deli), sebagai perwakilan pemerintah kolonial Belanda di Deli.

Dengan ditandatanganinya Acte van Verband oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam, sejak saat itu pula pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan kontrak politik dan memulai eksploitasinya di wilayah Deli.

Dengan Akta Perjanjian itu pula Belanda semakin mudah mengontrol dan mendikte sultan sesuai kemauan politiknya.

Setelah penandatanganan Acte van Verband seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Labuhan mulai dilirik untuk dijadikan wilayah perkebunan tembakau.

Pada 1863, seorang pengusaha perkebunan berkebangsaan Belanda di Surabaya, Jacobus Nienhuys, sampai di Deli atas ajakan seorang keturanan Arab yang mengaku pangeran Deli, Said Abdullah Ibn Umar Bilsagih.

Dalam ajakannya, tulis Pelzer dalam Toean Keboen dan Petani, Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, Abdullah menyatakan bahwa wilayah Deli sangat cocok untuk perkebunan tembakau.

Atas bantuan Abdullah, Nienhuys kemudian berhasil mendapatkan konsesi tanah dari Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk penanaman tembakau di wilayah Deli.

Daerah konsesi yang pertama untuk penanaman tembakau terletak di tepi sungai Deli yaitu seluas 4.000 bau (bouw). Konsesi ini diberikan selama 20 tahun. Selama 5 tahun pertama Nienhuys dibebaskan dari pembayaran pajak dan sesudah itu baru membayar f 200 setahun (200 gulden).

Dalam perkembangannya, usaha perkebunan tembakau Nienhuys di Labuhan Deli terbilang berhasil. Lahan yang digunakan oleh Nienhuys di wilayah tersebut mampu menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi sebagai pembungkus cerutu yang halus.

Sehingga harga yang ditetapkan untuk tembakau dari Deli cukup tinggi di pasar dunia. Keberhasilan ini lantas dimanfaatkan Nienhuys untuk memperluas lahan perkebunan tembakaunya dengan menyusuri sungai Deli ke hulu hingga dia sampai ke sebuah kampung di pertemuan sungai deli dan sungai Babura.

John Anderson dalam Mission to East Coast of Sumatra in 1823 menulis bahwa kampung tersebut ialah Kampung Medan Putri. Kemudian Nienhuys merasa tertarik untuk menetap di kampung tersebut.

Maka pada 1869, Nienhuys memindahkan kantor perusahaanya, Deli Maatschappij, dari Labuhan ke Medan, karena letak Medan yang lebih tinggi dari Labuhan dapat terhindar dari banjir.

Alasan lain karena Medan sendiri pada waktu itu masih penuh dengan hutan sehingga cukup mudah untuk melakukan perluasan lahan perkebunan tembakau.

Pindahnya kantor Deli Maatschappij ke Medan, mendatangkan keuntungan bagi Nienhuys dan bagi kampung Medan pada saat itu. Dengan keberhasilan Nienhuys, Medan mulai dilirik pengusaha-pengusaha Eropa, seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Swiss.

Baca Juga:

  1. Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa
  2. Daya Tarik Benteng Marlborough, Saksi Pergulatan Rakyat Bengkulu Melawan Kolonial
  3. ‘Badut’ Belanda dan Kehidupan Kolonial di Batavia

Banyak diantara pengusaha Eropa tersebut yang tertarik untuk menanamkan investasinya di wilayah Medan. Pemerintah kolonial Belanda sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, tentu saja mendorong dan membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya investasi dan modal swasta asing tersebut.

Masuknya modal asing untuk membuka perkebunan di wilayah Medan telah membawa perubahan tersendiri bagi kampung Medan Putri.

Perubahan ini terlihat dari banyaknya kantor-kantor perusahaan perkebunan besar yang mulai dibangun di kampung Medan ketika itu, di antaranya kantor Deli Maatschappij, kantor Deli Batavia Mij., Tabak “Arendsburg” Mij., dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Keberadaan pengusaha Eropa dan pekerja timur asing, Cina dan India, untuk perkebunan-perkebunan di wilayah Medan Putri telah membuat suasana kampung tersebut ramai oleh penduduk asing.

Melihat situasi ini, Sultan Deli meminta pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan penambahan pada perjanjian Acte van Verband pada 10 November 1872.

Adapun isi perjanjian tambahan yang diminta sultan ialah berkenaan dengan pemisahaan status rakyat Kerajaan Deli dengan rakyat pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian pada 14 November 1875, Sultan Deli dibawah pemerintahan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam, kembali meminta ada penambahan beberapa pasal pada Acte van Verband. Perwakilan pemerintah kolonial Belanda ketika itu adalah Residen Sumatera Timur, Stoffel Locker de Bruijne.

Adapun beberapa penambahan pasal yang diminta sultan, berkenaan dengan cara pemungutan hasil-hasil perkebunan dan cara keluar masuk komoditi perkebunan tersebut di wilayah Deli.

Selain itu pasal tambahan lainnya mengatur tentang status rakyat, pemungutan cukai terhadap komoditi yang keluar dan masuk untuk wilayah Padang/Bedagai (Tebing Tinggi Deli) dan pengaturan kekuasaan di Belawan.

Laju perkembangan industri perkebunan di wilayah Medan Putri pada periode selanjutnya ternyata sangat pesat. Oleh sebab itu, para pengusaha-pengusaha yang ada di daerah tersebut kemudian mulai membangun fasilitas-fasilitas penunjang pergerakan usaha mereka, seperti membuka kantor-kantor dan memperbaiki jalan-jalan.

Kampung Medan Putri pun kemudian diperluas dengan menggabungkannya dengan kampung-kampung lain disekitarnya, seperti kampung Pulo Brayan, dan kampung Kesawan.

Dengan menyatunya kampung-kampung kecil tersebut maka nama wilayah ini kemudian lebih dikenal dengan Medan.

Perkembangan Medan yang begitu pesat, juga membuat pemerintah kolonial Belanda memindahkan kedudukan Asisten Residen Deli dari Labuhan ke Medan pada tahun 1879.

Asisten Residen Deli sendiri pada masa itu berada dibawah Keresidenan Sumatera Timur dengan ibukotanya Bengkalis. Pindahnya Asisten Residen Deli ke Medan semakin menguatkan posisi Medan, sehingga Medan tidak disebut kampung lagi melainkan sebagai kota baru.

Pertumbuhan Medan sebagai kota baru masa itu ternyata belum menarik hati Sultan Deli untuk ikut pindah ke Medan. Sultan Deli, Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam, ketika itu malah berupaya agar Labuhan sebagai ibukota Kerajaan Deli tetap ramai.

Untuk itu, sultan membangun Istana Kampung Bahari di Labuhan pada 1886. Namun keinginan sultan tidak merubah keadaan. Medan bahkan lebih maju dari sebelumnya.

Melihat itu, pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibukota Keresiden Sumatera Timur yang awalnya di Bengkalis ke Medan pada 1 Maret 1887. Dijadikannya Medan sebagai ibukota Keresidenan Sumatera Timur, membuat Sultan Deli mulai melirik Medan.

Maka pada 26 Agustus 1888, Sultan Deli, Makmun Al-Rasyid, mulai mendirikan Istana Maimun di Medan. Namun, secara resmi Sultan Makmun Al-Rasyid dan keluarga kerajaan pindah ke Medan dan menempati Istana Maimun pada 18 Mei 1891.

Dengan demikian, Medan menjadi ibukota Kesultanan Deli pada tahun itu juga. Pindahnya sultan ke Medan, membuat pamor Labuhan semakin jatuh dan pada akhirnya mengalami kemunduran dengan sendirinya.

Labuhan tidak lagi menjadi bandar penting bagi pemerintah kolonial Belanda, disebabkan endapan-endapan lumpur yang semakin memperdangkal aliran sungai, yang mengakibatkan aktivitas pelayaran terganggu. Sebagai gantinya, Belawan dibangun pemerintah kolonial Belanda sebagai pelabuhan baru.

CityView

Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet

Published

on

Gubernur Anies Baswedan memanen duku di Cagar Buah Condet

Bagi sebagian warga Jakarta, barangkali banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. 

Lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya.

Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.

Menurut Mpok Menah (85), salah satu warga asli Condet, kawasan yang mencakup Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah ini dulunya merupakan area perkebunan buah salak, duku, dan beragam jenis tanaman lain yang sangat luas dan rindang milik puluhan penduduk asli Condet yang bersuku Betawi.

Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Antropologi Fakultas Sastra (sekarang bernama Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1980, kawasan Condet merupakan daerah pemukiman masyarakat petani sawah dan petani buah jauh sebelum abad ke 17.

Namun ketika kekuasaan Belanda mulai memasuki wilayah Condet pada abad 17, daerah tersebut berturut-turut mulai diakui sebagai tanah milik tuan tanah bangsa Belanda D.W. Freyer dan keturunan keluarga Ament.

Selama dalam kekuasaan Belanda, mereka membuat kebijakan tentang penetapan pajak tak wajar kepada semua rakyat yang dibayarkan setiap minggu. Jika rakyat tidak membayar pajak, rakyat akan diganjar dengan hukuman kerja paksa dan harta benda mereka akan dirampas.

Pasca Indonesia telah merdeka, di tahun 1970-an, total area perkebunan di kawasan Condet masih berada di angka lebih dari 300 hektar.

Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen salak dan duku yang dijual langsung ke Pasar Minggu.

Di kelurahan Balekambang sendiri pada tahun 1977, tercatat jumlah pohon salak mencapai angka 1.656.600 rumpun dan 2.383 pohon duku. Dari jumlah tersebut, hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku.

Sayangnya, sejak dibukanya jalan raya Condet yang menjadi jalan utama beraspal, arus urbanisasi kian deras terjadi di wilayah Condet.

Keadaan ini memicu aktivitas jual beli tanah perkebunan yang disebabkan oleh makin tingginya harga tanah pada saat itu.

Warga asli Condet yang memiliki tanah mulai tergoda untuk menjual tanahnya pada orang luar demi memenuhi kebutuhan hidup, untuk ongkos naik haji, dan memilih untuk membeli tanah di luar Jakarta yang harganya lebih murah.

Oleh pembeli lahan, tanah perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi bangunan rumah atau kontrakan permanen maupun semi permanen.

Baca Juga:

  1. Abadikan Legenda Betawi, Jalan Bang Pitung Gantikan Jalan Kebayoran Lama
  2. Menyingkap Peranan Sungai dalam Membentuk Peradaban Kuliner Betawi
  3. Jakarta Darurat Program Sanitasi yang Layak, Pemerintah ke Mana?

Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan maraknya penjualan tanah kebun milik warga dan pemindahan kawasan cagar budaya Betawi ke Setu Babakan, masyarakat Condet pun akhirnya menerima penawaran Pemprov DKI Jakarta untuk membeli sisa lahan perkebunan warga seharga nilai jual obyek pajak ketika itu.

Hal tersebut dengan pertimbangan agar identitas asli suku Betawi yang semakin lama semakin berkurang dan terancam hilang di wilayah Condet, bisa tetap dipertahankan agar masih bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.

Tepat di tahun 2007, setelah pemerintah mengambil alih kepemilikan kebun, pembebasan lahan perkebunan pun dilakukan dan mulai dibangun pagar besi setinggi dua meter mengelilingi area kebun.

Kebun buah inilah yang kini disebut sebagai Cagar Buah Condet, yang lokasinya berada di bantaran sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Keberadaan kebun buah Condet yang kini tersisa hanya seluas 3,7 hektar dari luas awal mencapai lebih dari 300 hektar, menjadi sebuah harapan ibukota Jakarta yang telah penuh sesak dengan hutan beton dan tanah beraspal akan adanya kawasan hijau yang sesungguhnya.

Mulanya, Cagar Buah Condet sempat terbengkelai hampir 7 tahun lamanya meski sudah diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta.

 Tak adanya petugas resmi yang dikirimkan pemerintah untuk menjaga dan merawat lokasi cagar, mengetuk hati warga Condet untuk mengurusnya sendiri tanpa honorarium.

Barulah pada tahun 2013, Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Timur menugaskan beberapa Pekerja Harian Lepas (PHL) untuk merawat Cagar Buah Condet bersama-sama dengan warga Condet. Kini, jumlah pekerja yang bertugas menjaga area cagar berjumlah 6 orang.

Setelah sebelumnya area kebun diberi pembatas pagar besi keliling, komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk melestarikan Cagar Buah Condet sebagai identitas suku Betawi kembali terlihat dengan dibangunnya berbagai sarana dan prasarana penunjang wilayah cagar.

Di tahun 2016, Cagar Buah Condet telah memiliki fasilitas seperti rumah bibit, kantor pengelola, walking track, bangku-bangku untuk pengunjung, dan lampu penerang.

Salah satu tujuan penyediaan fasilitas tersebut adalah sebagai daya tarik masyarakat, khususnya warga Jakarta, untuk mau berkunjung ke salah satu warisan budaya asli Betawi ini.

Hal tersebut didukung dengan diterbitkannya SK Gubernur No.646 Tahun 2016 yang mengatur Percepatan Cagar Budaya dan Buah-Buahan Asli Condet.

Bicara tentang rumah bibit yang ada di Cagar Buah Condet, bibit-bibit tanaman seperti salak condet dan duku condet memang sengaja dibudidayakan untuk dijual kepada masyarakat.

Harga bibitnya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya bibit tanaman. Untuk harga bibit salak condet berada di kisaran Rp35.000 dan Rp60.000 untuk harga bibit duku condet.

Pembelian bibit akan dilayani oleh PHL yang sedang bertugas. Sedangkan untuk pohon salak dan duku yang masih tumbuh subur di area kebun meski usia pohon sudah lebih dari 100 tahun, hingga sekarang masih produktif panen hampir setiap tahun.

Hasil panennya sendiri memang tidak lagi dijual ke pasaran atau ke para tengkulak buah, namun diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta dan beberapa warga yang turut membantu mengelola kebun.

Sebagai salah satu maskot kota Jakarta, salak condet menjadi pohon buah yang paling mendominasi jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet.

Menurut Syahiq Harpi (30), salah satu pemuda asli Condet yang paham seluk beluk Cagar Buah Condet dan sering wara-wiri ke wilayah kebun, kini jumlah pohon salak di area cagar mencapai lebih dari 2.000 pohon atau sekitar 80 persen dari total varietas tanaman yang ada di wilayah cagar.

Jumlah tersebut terdiri dari pohon salak yang sudah berusia ratusan tahun dan beberapa pohon salak hasil cangkokan.

Soal cita rasa, salak condet memiliki beraneka macam jenis rasa, dari mulai sepat, asam, hingga manis.

Ciri khas rasa inilah yang membedakannya dengan jenis salak lain seperti salak pondoh yang kini telah menang pamor di masyarakat.

Jenis tanaman buah kedua yang paling banyak tumbuh di area kebun Condet adalah pohon duku condet. Jumlahnya kurang lebih sebanyak 250 pohon atau sekitar 12 persen dari seluruh pohon duku yang tumbuh, baik pohon berukuran besar maupun yang masih berukutan kecil.

Sedangkan 8 persen sisanya merupakan beragam jenis tanaman buah lain yang turut hidup subur di kawasan Cagar Buah Condet, seperti pohon gandaria, kapuk, kopi, kokosan, buni, menteng, melinjo, lowa, aren, rambutan, cimpedak, nangka, mangga, belimbing, jambu, kelengkeng, durian, bacang, sawo, mahkota dewa, dan markisa.

Tak hanya itu, puluhan jenis tanaman obat-obatan ikut pula melengkapi keanekaragam flora di area cagar, antara lain tanaman getah jarak, binahong, gondola, angsana, sirip tujuh, patikan kebo, ketepeng, sugi, jahe merah, miana, pacar merah, dan kelor.

Banyaknya jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet inilah yang membuat area perkebunan tersebut terasa sangat rindang dan sejuk meski di kala siang yang terik sekalipun.

Dalam kunjungannya ke Cagar Buah Condet pada 14 Maret 2019 lalu untuk ikut memanen duku, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan secara langsung menyampaikan keinginannya untuk membuat wilayah perkebunan Condet menjadi tujuan wisata yang lebih memadai sekaligus menjadi wahana edukasi masyarakat yang lebih layak. Sebab, menilik upaya Pemprov DKI Jakarta sendiri selama menyandang status pemilik lahan Cagar Buah Condet, usaha yang dilakukan dirasa belum maksimal.

Penyediaan papan informasi tentang sejarah kebun buah Condet dan penamaan pada masing-masing jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet, misalnya, perlu mulai digarap lebih serius agar pengunjung yang nanti datang ke area kebun bisa langsung mengetahui informasi terkait tanaman yang ada di sana.

Pemberlakukan jam buka-tutup Cagar Buah Condet juga mesti dilakukan, seperti yang sudah diterapkan di kawasan Hutan Kota Cijantung, Jakarta Timur.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta perlu memikirkan pula perihal lahan parkir kendaraan pengunjung yang memadai, mengingat area pintu masuk ke kawasan kebun buah cukup sempit.

Menurut Wali Kota Jakarta Timur, M Anwar, yang turut mendampingi gubernur saat panen duku, menyatakan bahwa pembuatan SK Gubernur tentang kawasan Cagar Buah Condet perlu segera diterbitkan. Hal ini sebagai upaya konkret menyusun konsep yang disepakati antara pemerintah daerah dengan warga Condet. Anwar menambahkan bahwa rencana penerbitkan SK tersebut selambatnya dapat terealisasi pada panen buah tahun 2020.

Melalui kekayaan khas Betawi yang tersemat pada kawasan Cagar Buah Condet di wilayah Jakarta Timur itulah, Anies berharap masyarakat luas baik dari Jakarta maupun luar Jakarta dapat mengetahui sejarah panjang perkebunan buah Condet, sekaligus menilik pertumbuhan dan panen buah salak condet dan duku condet yang berstatus langka tersebut langsung dari pohonnya.

Dari cita-cita itulah diharapkan Cagar Buah Condet bisa tetap lestari dan dijaga keberadaannya sebagai salah satu potret identitas asli masyarakat Betawi. 

Continue Reading

CityView

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Published

on

ilustrasi gangster

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa kebosanan dengan berjalan-jalan di malam hari dengan teman-teman, saat ini klitih dimaknai sebagai tindakan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Fenomena ini cukup mirip dengan tawuran ataupun aksi begal, yang memakan korban. Begitupula dengan pelakunya, cukup mirip dengan pelaku aksi tawuran maupun begal, yaitu pelajar SMP-SMA.

Para pelaku juga biasanya melakukan klitih atau nglitih secara berkelompok, tidak ada yang melakukannya sendirian. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan aksi-aksi yang lebih ekstrim seperti melukai orang.

Dalam tahapan perkembangan, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri serta pembentukan citra diri.

Biasanya mereka akan mencari kelompok-kelompok tertentu yang sesuai dengan minat mereka atau kelompok yang mereka anggap sebagai citra ideal bagi remaja untuk mendapatkan pengakuan.

Jika mereka mendapatkan pengakuan dari teman-teman kelompoknya, maka secara bertahap akan membentuk identitas dan citra mereka.

Hal ini akan membentuk perasaan diterima dalam sebuah kelompok (in-group) yang akan berpengaruh pada pembentukan citra diri.

Sebaliknya jika tidak mendapatkan pengakuan tersebut, mereka akan teralienasi dari kelompok remaja yang mereka anggap ideal (out-group) dan akan berdampak negatif pada pembentukan citra diri.

Dalam kelompok klitih, para remaja ini saling “mendorong” teman-teman kelompoknya untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari bagaimana maskulinitas yang selalu disalahartikan sebagai citra ideal laki-laki.

Baca Juga:

  1. Reorganisasi dan Pembangunan Pasar Senen: Upaya Menata Ruang Kota Jakarta
  2. Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia
  3. Menikmati Harmoni Jogja dengan Bersepeda

Masih banyak yang beranggapan bahwa citra masukulin laki-laki identik dengan kekerasan. Jika ingin menyelesaikan masalah antar laki-laki, sering disebut dengan “kita selesaikan secara laki-laki”.

Padahal sebenarnya tidak semua laki-laki memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak semua laki-laki menginginkan penyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

Jika dikaitkan dengan bagaimana para remaja sedang dalam proses pembentukkan citra diri, masing-masing dari mereka pun berusaha untuk membentuk citra ideal maskulinitas yang masih disalahartikan tersebut.

Kebanyakan dari para pelaku klitih menyebutkan bahwa mereka merasa terdorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai sekolah atau kelompok yang paling kuat.

Tentu saja jika pemahaman mengenai maskulinitas masih disalahartikan fenomena ini tidak akan berkurang. Sebab, dorongan atau paksaan dari lingkungan dapat menyebabkan remaja laki-laki ini pada akhirnya mengikuti ajakan kelompok mayoritas kareana ketakutannya ketika nanti menjadi korban rundungan. Mereka yang tidak ikut “nglitih” akan dianggap kurang laki-laki dan akan mengalami perundungan.

Hal ini tentunya dapat berdampak pada citra diri remaja laki-laki tersebut. Selain itu, pada dasarnya banyak juga laki-laki yang tidak bisa menunjukkan citra ideal maskulinitas, sehingga mereka dianggap ‘lemah’ oleh orang lain dan bahkan mereka sendiri merasa tertekan karena ‘gagal’ memenuhi tuntutan ideal tersebut.

Sehingga salah satu cara menunjukkan mereka masih punya ‘power’ atau masih bisa disebut sebagai laki-laki, salah satunya lewat kekerasan ataupun mengikuti perkumpulan yang dinilai memiliki “power” sebagai wujud pembuktian dirinya.

Bagaimana mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari? Saat ini hukuman yang didapatkan oleh para pelaku klitih pun seolah tidak ada efek jera, karena mereka (pelaku) atau bahkan lingkungan beranggapan perilaku ini merupakan kenakalan remaja pada umumnya.

Padahal sebenarnya fenomena ini perlu dibenahi dari akarnya, yaitu citra maskulinitas yang keliru. Selain itu, pendekatan yang menyeluruh, artinya ikut melibatkan lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah perlu dilakukan.

Hal ini tentu saja untuk membantu pelaku dan juga masyarakat lain lebih memahami mengenai kekerasan itu sendiri dan juga masing-masing dari kita bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain.

Tentunya dengan menyadari betul apa yang sedang terjadi dan memahami bahwa yang terjadi saat ini bukan hanya seolah kenakalan remaja yang ‘salah gaul’. Kita perlu mulai berefleksi mulai dari diri sendiri. 

Caranya sederhana saja, jika ada teman atau kenalan yang ingin bercerita (baik laki-laki ataupun perempuan), tidak perlu kita berkomentar negatif dan menisyaratkan bahwa bercerita merupakan tanda kelemahan yang sering kali diindentikkan dengan perempuan.  

Kita bisa mulai menghindari komentar-komentar yang berbau seksis terlebih dahulu lalu menularkan atau menurunkannya ke anak anak kita atau lingkungan kita.

Lalu ikut libatkan laki-laki untuk menurunkan angka kekerasan dan kejadian-kejadian seperti ini. Laki-laki juga merupakan agen perubahan perilaku.

Sehingga dalam hal ini mereka mampu memberikan contoh baik, bagaimana citra maskulin.

Misalnya terlibat dalam pengasuhan anak, berbagi peran dengan istri, bantu pekerjaan domestik ibu di rumah, dan lain-lain.

Continue Reading

CityView

Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta

Published

on

By

Asal-usul Senayan

Setiap penamaan suatu kawasan di Jakarta pasti memiliki cerita tertentu. Misalnya saja seperti Senayan yang terkenal sebagai kompleks olahraga pada dahulunya.

Asal muasal nama Senayan bermula dari cerita seorang letnan asal Bali yang hidup tahun 1680 di wilayah itu. Nama letnan ini adalah Wangsanaya. Namun masih perlu dicari lebih dalam lagi untuk cerita tersebut.

Kemudian cerita lain tentang asal usul Senayan ditulis oleh Alwi Shahab dalam bukunya Batavia Kota Hantu. Melalui Bab Kampung-kampung Tua, diceritakan Senayan yang memiliki luas 270 hektare. Di mana berasal dari bahasa Betawi yang memiliki arti Senenan atau jenis permainan berkuda.

“Nama itu diperkirakan muncul sejak Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808–1811) menjadikannya sebagai tempat warga Inggris bermain Polo, mengingat warga negara tersebut sangat menyukai permainan berkuda,” kata Alwi.

Baca Juga:

  1. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia
  2. Abadikan Legenda Betawi, Jalan Bang Pitung Gantikan Jalan Kebayoran Lama
  3. Menelisik Asal Muasal Nama Kuningan

Akan tetapi kawasan Senayan lambat laun berubah bentuk. Di mana yang tadinya tempat tinggal orang Betawi, menjadi kompleks olahraga pada 1960 dalam rangka Asian Games keempat.

Senayan mengalami banyak perubahan dalam perkembangannya. Bahkan kini telah menjadi pusat bisnis dan perhotelan. Kegunaannya sebagai tempat olahraga, adanya Gelora Bung Karno (GBK) juga bisa digunakan untuk berlangsungnya konser musik besar.

Sementara itu demi tercipta lanskap berkualitas sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pusat kota, penataan pun terus dilakukan untuk mempercantik GBK.

Continue Reading

Trending