Connect with us

Sosial-Budaya

Kain Tenun Cual, Pakaian Bangsawan Bangka Belitung yang Penuh Makna

Published

on

Kain Tenun Cual

Sekilas, kain tenun cual Mentok atau dahulu dikenal sebagai limar Mentok mirip songket Palembang. Namun jika diamati lebih seksama, tampak sejumlah perbedaan motif dan pola pengerjaan dua kain tersebut.

Pada songket Palembang, motif diambil dari bentuk-bentuk bunga, seperti bunga cempaka dan cengkeh, sedangkan pada limar Mentok motif dikombinasi dari berbagai jenis flora dan fauna, antara lain kucing, bebek, dan bunga mawar.

Selain memiliki kekayaan motif pola songket yang biasa ditemukan pada dua ujung dan tepi kain, cual Mentok juga memiliki keunikan motif bersusun pada badan kain yang dihasilkan dari proses tenun ikat.

Baca Juga:

  1. Lawang Sakepeng, Tradisi Dayak Ngaju untuk Putus Malapetaka Pernikahan
  2. Iran Bertekad Cegah Israel Rusak Hubungan Antar Negara Tetangga
  3. Taliban Ancam Balik Amerika Serikat

Tenun cual merupakan perpaduan antara teknik songket dan tenun ikat, keunggulan dan ciri khas cual terletak pada susunan motif badan kain yang menggunakan teknik tenun ikat.

Kain Cual atau yang kerap disebut Tenun Cual adalah kain tenun tradisional khas Bangka Belitung. Dulu kain ini sering digunakan oleh kaum bangsawan keturunan Ence’ Wan Abdul Haiyat di Kampung Petenon, pada abad ke-18.

Tenun Cual memiliki makna celupan awal pada benang yang akan diwarnai. Tenun Cual merupakan perpaduan antara teknik songket dan tenun ikat, namun yang menjadi ciri khasnya adalah susunan motif menggunakan teknik tenun ikat.

Kain Tenun Cual

Motifnya pun beragam seperti susunan motif Bercorak Penuh atau yang disebut Penganten Bekecak (Pengantin Bersolek) dan motif Ruang Kosong yang disebut Jande Bekecak (Janda Bersolek).

Dulunya fungsi sosial dari tenun ini adalah pakaian kebesaran di lingkungan bangsawan Kota Muntok, pakaian pengantin, dan pakaian pada hari-hari kebesaran Islam. Selain itu, kain ini juga dipersembahkan sebagai hantaran pengantin ataupun mahar yang langsung menggambarkan status sosial (pangkat dan kedudukan) seseorang pada zaman dulu.

Awalnya, perang dunia pertama pada tahun 1914 menyebabkan sebagian besar aktivitas perdagangan terhenti. Tak hanya berdampak pada Eropa, tetapi juga pada daerah-daerah di koloni.

Di Kota Muntok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung tempat di mana kain cual berada juga mengalami penghentian aktivitas perdagangan. Suplai kain sutra dari daratan Tiongkok dan benang emas dari India juga ikut terhenti.

Adanya blokade dan kekhawatiran akan sabotase membuat kapal dagan tak berlayar. Selain itu, industri sipil dan para pekerja juga banyak yang dialihkan untuk kepentingan militer.

Kain Tenun Cual

Maka dari itu, akibat adanya hal ini para perajin di Muntok tak dapat membuat tenun cual. Dikarenakan pada masa itu tenun cual berasal dari bahan-bahan pilihan yang didatangkan dari luar.

Setelah perang selesai pada 1918, aktivitas tenun cual kembali dibuka. Sulitnya mendapatkan bahan baku, proses pengerjaan yang rumit, dan harga yang lumayan mahal, tenun cual diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja.

Pada masa tersebut juga, kain cual dijadikan sebagai simbolis identitas sosial yang berada di lingkungan bangsawan untuk keperluan acara adat, mahar pengantin dan menggambarkan status sosial seseorang.

Motif pada tenun cual juga tak hanya menggambarkan estetika saja, tapi juga bermakna filosofis di dalamnya. Kain tenun cual dengan motif kembang dilambangkan sebagai simbol kebersamaan dan kerukunan.

Kemudian, motif burung dalam tenun cual menggambarkan sifat orang Melayu, yakni arif dan bijaksana. Kemudian, motif naga bertarung digambarkan sebagai nilai kepahlawanan dan keperkasaan.

Masih banyak lagi nilai-nilai yang ditawarkan dalam tenun cual, seperti nilai kasih sayang, kesucian hingga kesuburan tergantung dari motif apa yang hadir dalam tenun.

Sosial-Budaya

Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar

Published

on

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Garut adalah sebuah kota atau kabupaten kecil namun dengan sejuta keindahan yang terdapat didalamnya. Garut juga dikenal sebagai kota penghasil dodol khas yang dibuat untuk oleh–oleh bagi pelancong yang datang ke kota ini.

Meski demikian, Kota ini juga masih menyimpan dan melestarikan kesenian yang menjadi salah satu budaya kebanggaan warga Garut, salah satu kesenian itu adalah kesenian Lais.

Kesenian ini adalah sebuah pertunjukan kesenian akrobatik dimana seorang pemain bermain diatas seutas tali yang memiliki panjang 6 meter yang terbentang dan di ikat diantara dua buah bambu yang ketinggian bambu tersebut sekitar 12–13 meter.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Kesenian ini sudah ada sejak zaman belanda, tepatnya di kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening, Garut, Jawa Barat. Nama kesenian ini diambil dari seseorang bapak – bapak bernama “Laisan” yang terampil dalam memanjat pohon kelapa, yang sehari – harinya dipanggil Pak Lai

Pertunjukan yang ditampilkan pertama–tama pelais memanjat bambu lalu berpindah ke tambang sambil menari dan berputar di atas tali tanpa menggunakan sabuk pengaman yang di iringi dengan musik kendang pencak, reog, terompet dan dog–dog.

Kesenian ini mempertontonkan ketangkasan pemainnya dan sebenarnya hampir mirip dengan akrobat yang ada di acara sirkus. Pemain Lais yang beratraksi dapat membuat penonton terpesona karena selalu membuat atraksi ini berdebar–debar.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Lais merupakan kesenian yang menggabungkan dua budaya, yaitu Budaya Sunda dan Budaya Jawa Timuran. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya gerakan akrobatik yang serupa dengan akrobatik khas Reog Ponorogo melalui Gerakan yang dinamakan Kucingan.

Kucingan sendiri mengisahkan tentang seekor kucing yang diperankan singo barong tanpa dadak merak sedang mengejar Tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya. Hanya saja di Lais tidak menggunakan cerita kucingan dan seragam reyog serta topengnya yang menyulitkan pandangan penari Lais.

Atraksi yang diberikan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog dan terompet.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Di era sekarang, tradisi akrobatik khas Kabupaten Garut tersebut masih dimininati dan terdapat padepokan Lais yang masih terus bergerak melakukan kegiatan atraksinya, yaitu Padepokan Panca Warna Medal Panglipur. Menurut Ade Dadang selaku pimpinan, Ia terus berupaya mencari inovasi agar kesenian khas kota Garut tersebut tidak hilang.

Menurutnya, potensi tradisi Lais cukup besar bagi kalangan muda, mengingat kalangan muda merupakan generasi yang masih semangat dan tertarik akan hal-hal yang bersifat tantangan.

Dadang melanjutkan, jika tradisi Lais di Padepokan Panca Warna Medal Panglipur masih banyak dilirik oleh kalangan muda karena diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais yang disukai oleh anak muda.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Buka Pekan Kebudayaan Nasional 2021, Jokowi: Indonesia Kaya Budaya & Hayati

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), resmi membuka hajatan akbar Pekan Kebudayaan Nasional 2021 secara virtual pada Jumat (19/11/2021) malam.

Acara pembukaan virtual tersebut disiarkan melalui indonesiana.tv dan akun YouTube Budaya Saya milik Kemendikbudristek. Peresmian Pekan Kebudayaan Nasional 2021 berlangsung selama satu jam.

Dalam kata sambutannya, Presiden Jokowi menuturkan tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini bukanlah hal pertama yang terjadi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Pandemi bukan yang pertama, bencana alam bukan juga yang pertama. Banyak sekali tantangan yang sudah dialami oleh bangsa Indonesia sebelum menjadi Republik ini berdiri,” ujar Jokowi.

Jokowi melanjutkan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari ilmu pengetahuan dan kearifan lokal masa lalu yang diturunkan melalui nenek moyang kita. Kearifan itu yang terangkum dalam bentuk narasi lisan misalnya skrip drama maupun pewayangan.

Berangkat dari kekayaan kebudayaan dan alam, Indonesia pun berpeluang menjadi pusat peradaban.

“Saya menegaskan bahwa berangkat dari kekayaan kebudayaan dan kekayaan hayati kita, Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan yang berbasis dari peradaban Indonesia,” tegasnya.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Sasi, Tradisi Turun-temurun Maluku untuk Jaga Sumber Daya Alam

Published

on

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan manusia meninggalkan cukup banyak masalah. Namun, masyarakat Maluku memiliki tradisi turun-temurun untuk menjaga sumber daya alam mereka. Tradisi tersebut bernama Sasi.

Ya, Maluku memang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Jika eksploitasi sumber daya alam dilakukan dengan cara semena-mena, bakal ada banyak masalah seperti bencana alam hingga kelangkaan sumber daya alam.

Sangat masuk akal sekali memang, apabila sumber daya alam dikeruk terus menerus. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti sumber daya tersebut akan habis dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Apabila sumber daya tersebut habis, yang dirugikan juga manusia sendiri.

Baca Juga:

  1. Ducati Murka ! Panitia WorldSBK Indonesia 2021 Buka Kargo Motor Secara Ilegal
  2. Kemendagri: Elkan Baggot Sudah Lama Jadi WNI
  3. Maguire Selebrasi Gol Sindir Kritik, Keane: Memalukan!

Lantas, apa itu Sasi? Bisa dibilang, Sasi adalah sasi adalah sebuah hukum adat yang berlaku di masyarakat Maluku, khususnya mengatur pemanfaatan SDA. Sasi ini adalah sebuah larangan untuk mengambil hasil alam pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi ini sebenarnya lebih difokuskan untuk pengelolaan hasil laut, terutama perikanan. Namun, di luar itu juga terdapat sasi yang mengatur pengelolaan hasil alam di daratan yang disebut sebagai sasi darat.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Dalam tradisi sasi juga melarang penggunaan alat pancing yang bisa merusak ekosistem laut. Masyarakat hanya boleh mencari ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem laut, seperti menggunakan pukat atau alat peledak.

Dalam pelaksanaan sasi terdapat dua istilah penting, yaitu sasi buka dan sasi tutup. Sasi buka adalah masa saat masyarakat Maluku diperbolehkan untuk mengambil hasil alam, sedangkan sasi tutup adalah masa ketika masyarakat dilarang untuk mengambil hasil alam.

Masa sasi buka dan sasi tutup ini ditentukan berdasarkan masa saat sumber daya siap panen, kebutuhan ekonomi masyarakat untuk dijual ke pasar, dan kebutuhan konsumsi dari masyarakat itu sendiri.

Sasi memiliki sebuah makna yang sangat dalam, yaitu apabila alam dimanfaatkan secara berlebihan dan secara tidak bertanggung jawab, akan terjadi ketidakseimbangan antara alam dan manusia.

Sasi mengajarkan pentingnya menjaga alam dan tidak mengeksploitasinya dengan semena-mena. Apabila alam dieksploitasi dengan semena-mena, yang akan merasakan kerugian juga manusia sendiri.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Sasi tercipta di Maluku karena kesadaran bahwa sumber daya alam di Maluku memiliki batas. Apabila dimanfaatkan dengan tidak beraturan, sumber daya itu bisa habis. Dari kesadaran itulah kemudian muncul sasi untuk menjaga ketersediaan SDA, tidak hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk generasi selanjutnya.

Continue Reading

Trending