Connect with us

Jokowi Resmi Bubarkan 18 Tim Kerja, Badan dan Komite

Published

on

Presiden RI, Joko Widodo, resmi membubarkan 18 tim kerja, badan, dan komite yang berdiri berdasarkan keputusan presiden (keppres).

Hal tersebut termuat dalam Pasal 19 Peraturan Presiden RI Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang ditandatangani Presiden Jokowi pada tanggal 20 Juli 2020.

“Dengan pembentukan komite sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, melalui peraturan presiden ini membubarkan,” demikian bunyi beleid Pasal 19 ayat a-r, dilansir dari Antara, Senin (20/7/2020).

Baca Juga: Tiba di Indonesia, 2.400 Vaksin Sinovac Bakal Digunakan Untuk Uji Klinis Fase III

Berikut ini daftar tim kerja, badan, dan komite yang dibubarkan oleh Presiden Jokowi:

1. Tim Transparansi Industri Ekstraktif yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 26/2010 tentang Transparansi Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah yang Diperoleh dari Industgri Ekstraktif;

2. Badan Koordinasi Nasional Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 10/2011 tentang Badan Koordinasi Nasional Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan;

3. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangaunan Ekonomi Indonesia 2011—2025 yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 32/2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011—2025 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No. 48/2014 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 32 /2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011—2025;

4. Badan Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 86/2011 tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda;

5. Tim Koordinasi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 73/2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistern Mangrove;

6. Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 90/2016 tentang Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum;

7. Komite Pengarah Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) Tahun 2017—2019 yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 74/2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) Tahun 2017—2019;

8. Satuan Tugas Percepatan Pelaksanaan Berusaha yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 91/2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha;

9. Tim Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi atas Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga kepada PDAM Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 46/2019 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum;

10. Tim Pinjaman Komersial Luar Negeri yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. 39/1991 tentang Koordinasi Pengelolaan Pinjaman Komersial Luar Negeri;

11. Tim Nasional Untuk Perundingan Perdagangan Multilateral Dalam Kerangka World Trade Organization yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. 104/1999 tentang Pembentukan Tim Nasional untuk Perundingan Perdagangan Multilateral Dalam Kerangka World Trade Organization sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Keputusan Presiden No. 16/2002 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Presiden No. 104/1999 tentang Pembentukan Tim Nasional untuk Perundingan Perdagangan Multilateral Dalam Kerangka World Trade Organization;

12. Tim Restrukturisasi dan Rehabilitasi PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No 166/1999 tentang Tim Restrukturisasi dan Rehabilitasi PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 133/2000 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 166 Tahun 1999 tentang Tim Restrukturisasi dan Rehabilitasi PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara;

13. Komite Kebijakan Sektor Keuangan yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. 177/1999 tentang Komite Kebijakan Sektor Keuangan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Keppres No. 53/2003 tentang Perubahan Kedua atas Keppres No. 177/1999 tentang Komite Kebijakan Sektor Keuangan;

14. Komite Antardepartemen Bidang Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 80/2000 tentang Komite Antardepartemen Bidang Kehutanan;

15. Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 54/2002 tentang Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor sebagaimana telah diubah dengan Keppres No. 24/2005 tentang Perubahan atas Keppres No. 54/2002 tentang Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor;

16. Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi yang dibentuk berdasarkan Keppres Nornor 3/2006 tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Keppres No. 28/2010 tentang Perubahan Kedua atas Keppres No. 3/2006 tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi;

17. Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 22/2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan; dan

18. Komite Nasional Persiapan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 37/2014 tentang Kornite Nasional Persiapan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations. (Dimas Satrio)

Foto: Istimewa

Advertisement

Culture

Liburan ke Jepang Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan?

Published

on

Jepang/KumparanJepang/Kumparan

Mycity.co.id – Setiap negara memiliki tata krama dan aturan yang berbeda. Bahkan di Indonesia pun setiap daerah memiliki aturan dan tata kramanya sendiri.

Saat berkunjung ke luar negeri ada baiknya kita mempelajari aturan dan tata krama negara itu. Salah satunya adalah Jepang yang memegang teguh etika. Hal ini menyangkut kepercayaan serta norma yang berlaku di masyarakat.
Berikut hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan saat berada di Jepang!

1. Memberi Uang Tip Saat di Restoran

Memberi uang tip/Lifepal

Memberi uang tip/Lifepal

Tidak disarankan memberi uang tip di restorang Jepang. Sudah hal yang biasa untuk memberikan uang tip di restoran sebagai tanda terima kasih. Namun, dinegeri sakura ini dilarang melakukan hal tersebut karena memberi tip kepada pegawai restoran bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan. Bagi mereka, memberikan pelayanan terbaik sudah menjadi kewajiban agar para pelanggan senang dan kembali datang ke restoran.

2. Menggunakan Telunjuk untuk Menunjukkan Arah

Menujuk arah/Depositphotos

Menujuk arah/Depositphotos

Saat bertanya arah dengan orang Jepang sebaiknya jangan menggunakan telunjuk untuk menunjuk peta karena ini dianggap mengancam dan tidak sopan lebih baik mengarahkan dengan tangan terbuka daripada menggunakan telunjuk.

3. Bersalaman

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Salaman dianggap kurang sopan di Jepang kalau ingin berbaur dengan orang Jepang harus membungkuk untuk memberi salam, berterima kasih atau meminta maaf.

4. Meremehkan Kartu Bisnis Orang Lain

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Di Jepang kartu nama bukanlah benda yang dianggap remeh karena kartu bisnis berisi identitas dan segala detail diri dari sang pemilik, maka hargai itu. jika diberi kartu nama bisnis terima dengan kedua tanganmu dan baca baik-baik. kalau saat itu sedang dalam pertemuan bisnis taruh kartu nama di atas meja di hadapan kita. jangan langsung menyimpannya di kantong ini dianggap sangat kasar kamu harus memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak atau dompet kartu nama.

5. Jangan Langsung Membuka Pintu Taksi

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang punya pintu yang terbuka secara otomatis jadi saat taksi berhenti jangan langsung buka pintunya, sopir akan membukanya dengan menekan tombol kalau kamu buka sendiri kebanyakan sopir akan tersinggung

6. Awasebashi

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Dilarang karena dianggap membawa kesialan. Salah satu hal yang tabu untuk dilakukan di Jepang adalah Awasebashi, yaitu kegiatan memberikan makanan kepada orang lain dari satu pasang sumpit ke sumpit lainnya. Di tradisi kremasi, di mana tulang yang tersisa dari abu kremasi akan dioper kepada anggota keluarga dengan menggunakan sumpit. Karena Awasebashi mirip seperti itu, maka bisa dianggap membawa kesialan.

7. Memetik Bunga Sakura

Bunga sakura/Klik dokter

Bunga sakura/Klik dokter

Memetik bunga sakura dilarang di Jepang. Bunga ini merupakan kebanggaan bangsa Jepang yang dianggap istimewa karena tergolong berumur pendek dan hanya mekar di musim tertentu. Jadi, jangan coba untuk memetiknya langsung dari tangkai. Kalau mau, lebih baik mengambil bunga sakura yang telah berguguran di bawah pohon.

Sumber: Berbagai sumber

Continue Reading

Bisnis

Khong Guan Sang Biskuit Legendaris Lebaran Ternyata Buatan Singapura

Published

on

Biskuit Khong Guan ternyata bukan buatan Indonesia. (Tribun)

mycity.co.id – Kita sudah tidak asing lagi dengan biskuit kalengan Khong Guan. Biskuit ini sering kali ditemukan di rumah masyarakat Indonesia, terlebih ketika lebaran.

Khong Guan Biscuit Company adalah produsen biskuit yang berkembang menjadi grup perusahaan multinasional. Perusahaan ini memiliki beragam kepentingan, termasuk properti, distribusi produk makanan, dan perdagangan komoditas.

Khong Guan berdiri sejak 1947 dengan pabrik pertama berlokasi di Jalan 18 Howard, Singapura. Khong Guan didirikan oleh Chew Choo Keng dan Chew Choo Han.

Dua bersaudara ini meninggalkan desa mereka di Fujian, China menuju Singapura untuk mencari nafkah pada 1935.

Di negeri Singa, kakak beradik tersebut mendapatkan pekerjaan di pabrik biskuit lokal. Namun, saat Jepang menginvasi Singapura, keduanya pindah ke Perak, Malaysia pada 1940 untuk mencari perlindungan.

Di Malaysia, mereka membuat biskuit sendiri untuk dijual. Biskuit mereka sebenarnya cukup laku, namun terkendala pasokan bahan baku hingga akhirnya beralih menjual garam dan sabun. Ini dilakukan untuk bertahan hidup.

Awal Proses Pembuatan Biskuit Khong Guan

Terobosan besar mereka datang ketika Chew Choo Han menemukan beberapa mesin pembuat kue tua yang rusak akibat perang yang dijual sebagai skrap dari pabrik lama tempat mereka bekerja. Dia membelinya dan segera memperbaikinya.

Dia memasang lini produksi biskuit semi-otomatis yang menggunakan rantai sepeda untuk memindahkan biskuit melalui tungku pembakaran batu bata pada sistem konveyor.

Hingga akhirnya pada tahun 1947 Khongguan Biscuit Factory (Singapore) Pte Ltd resmi berdiri. Pada 1950-an hingga 1960-an, Khong Guan berekspansi ke Malaysia.

Pabrik di Singapura memproduksi 10.000 toples kue setiap hari dan mempekerjakan sekitar 200 orang. Khong Guan di Malaysia kini memproduksi 40 ribu kaleng biskuit setiap harinya dan memiliki 1.000 karyawan.

Sekitar 70 persen produk Khong Guan dijual di Singapura dan Malaysia, sedangkan sisanya dijual ke berbagai negara seperti Indonesia, Hong Kong, Afrika, dan Timur Tengah.

Pada tahun 1970, pabrik Singapura pindah ke lokasi yang lebih besar karena permintaan konsumen yang tinggi. Pabrik dipindahkan ke Jurong, Singapura.

Pada 1980-an, Khong Guan kemudian diekspor ke negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Sejak itu, perusahaan telah mengekspor produknya ke lebih dari 40 negara.

Namun di tahun 2001, Chew Choo Keng meninggal pada usia 86 tahun. Pada saat kematiannya, pabrik biskuit yang ia dirikan telah berkembang menjadi multinasional dengan produsen dan perusahaan afiliasi di Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Hong Kong, Cina dan Amerika Serikat.

Pada Januari 2007, Chew Choo Han memutuskan untuk pensiun dan meninggal pada November 2007. Hingga saat ini Khong Guan tetap berkomitmen untuk menyediakan biskuit yang berkualitas.

Continue Reading

Culture

Nasi Tumpeng di Acara Syukuran, Ini Tradisinya

Published

on

Nasi Tumpeng : IDN News

Nasi Tumpeng : IDN News

mycity.co.id Nasi tumpeng selalu menjadi bagian penting dalam beragam perayaan di Indonesia. Kegiatan memotong nasi tumpeng seringkali menjadi puncak sebuah acara.

Mengapa nasi tumpeng menjadi elemen yang penting dalam perayaan di Indonesia khususnya Pulau Jawa?

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam.

Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Menurut tradisi Islam di Jawa, “tumpeng” merupakan akronim dari bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Hal ini mempunyai makna agar maksud pemangki hajat akan tercapai dengan hasil yang paling baik yang dilambangkan dengan bagian yang paling atas. Potongan tumpeng biasanya diberikan pada seseorang yang dianggap paling istimewa atau yang dihormati sebagai ungkapan ras aahoramat dan sayang.

Biasanya, lauk-pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini pun bukan tanpa alasan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, maksudnya adalah pitulungan (pertolongan).

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal.

Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara itu, dari segi lauk-pauknya, ayam yang menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh.

Pemilihan ayam jantan in memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

Continue Reading
Advertisement

Trending