Connect with us

Market

Jokowi: 2030, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Ketujuh Terbesar di Dunia

Published

on

Presiden Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), optimistis Indonesia bakal jadi negara ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada 2030.

Rasa optimisme Jokowi itu bukan sekadar isapan jempol belaka. Pasalnya, perkembangan ekonomi digital di Tanah Air mengalami pertumbuhan pesat. Sehingga, perlu dikawal secara tepat oleh otoritas keuangan.

“Indonesia berpotensi memiliki potensi besar untuk menjadi raksasa digital setelah China dan India dan bisa membawa kita menjadi ekonomi terbesar dunia ke-7 di 2030,” kata Jokowi dalam OJK Virtual Innovation Day 2021.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Jokowi juga menegaskan bahwa momentum ini harus digunakan untuk membangun ekosistem keuangan digital yang kuat dan berkelanjutan. Hal ini, menurut Jokowi, dapat memitigasi permasalah hukum dan sosial guna mencegah kerugian bagi masyarakat.

Selain itu, Jokowi turut memberi perhatian khusus untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat naik kelas dan go digital. Ini dilakukan untuk memastikan target inklusi dan literasi keuangan tercapai.

“Kami yakin di 2024 kita dapat mencapai target 90 persen sebagaimana arahan Presiden,” ujar Wimboh.

Dengan hadirnya digitalisasi keuangan, siswa sekolah menengah dapat memiliki tabungan yang berbasis digital. Selain itu, OJK turut merilis Fintech Book sebagai bentuk peningkatan literasi keuangan dengan cara yang ringan.

Lebih lanjut, pengawas industri jasa keuangan ini akan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam memitigasi ancaman siber (cyber risk) serta perlindungan data pribadi.

Market

5 Dompet Digital yang Jadi Favorit Kaum Milenial Sepanjang Tahun 2021

Published

on

dompet digital 2021
dompet digital 2021

Cashless atau tak membawa uang cash saat ini menjadi tren gaya hidup kaum milenial. Mereka lebih memilih menggunakan dompet digital ketimbang membawa uang cash.

Secara definisi, cashless merupakan sistem pembayaran tanpa menggunakan uang tunai dan mengacu pada pembayaran secara digital.

Sistem pembayaran digital yang praktis ini sudah cukup lama diterapkan di Indonesia karena masing-masing individu tidak lagi memerlukan membawa banyak uang tunai. Selama pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah pun kian menggiatkan penerapan cashless agar mengurangi adanya kontak fisik yang terjadi ketika transaksi pembayaran dilakukan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Dompet digital (eWallet) merupakan salah satu bentuk implementasi dari cashless, di mana saat ini Indonesia sudah memiliki lebih dari 10 dompet digital. Secara sederhana, dompet digital berfungsi untuk melakukan ragam transaksi pembayaran baik melalui transfer atau pindai kode QR, setelah penggunanya sudah mengisi saldo di dompet digital tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, lembaga riset pasar Kadence International melakukan survei bertajuk “Digital Payment and Financial Services Usage and Behavior in Indonesia” yang rilis pada Agustus 2021. Survei dilakukan secara daring oleh 1.000 responden yang sebagian besar berasal dari Jabodetabek (40 persen), lalu Surabaya (20 persen), Makassar, Palembang, Bandung, dan Medan (10 persen).

MyCity telah merangkum lima dompet digital yang paling banyak digunakan oleh kaum milenial sepanjang tahun 2021.

OVO (31 persen)

OVO (31 persen)
OVO (31 persen)

OVO menjadi eWallet yang paling banyak digunakan baik untuk keperluan transaksi online maupun offline dengan perolehan sebanyak 31 persen. Sebagai dompet digital yang berada di puncak peringkat, hasil survei juga menunjukkan bahwa OVO berhasil mencapai angka hingga 96 persen dari segi kesadaran merek dan meraih persentase 71 persen dalam indikator pengguna aktif baru (satu bulan terakhir).

Menanggapi hal tersebut, Head of Corporate Communication OVO Harumi Supit memaparkan bahwa hal tersebut dapat didasari dari kemampuan OVO yang berhasil meningkatkan transaksi merchant online hingga 76 persen pada semester pertama di tahun 2021. Ditambah, pada hasil studi CORE Indonesia juga menunjukkan bahwa UMKM terbantu oleh ekosistem yang dimiliki OVO dengan porsi hingga 82 persen.

GoPay (25 persen)

GoPay (25 persen)

Layanan pembayaran yang berbasis dari aplikasi Gojek ini menduduki peringkat ke-2 dengan perolehan mencapai 25 persen. Untuk aspek kesadaran merek dan pengguna aktif sendiri angkanya tidak terlalu jauh dengan OVO, di mana masing-masing mencatat persentase 95 persen dan 64 persen.

Baru-baru ini, demi memastikan jaminan perlindungan keamanan transaksi digital, GoPay menggaet Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dengan langkah mengedukasi masyarakat tentang hak perlindungan konsumen dan cara untuk mengklaim hal tersebut.

Tidak hanya itu, GoPay juga meluncurkan program perlindungan Jaminan Saldo Kembali, yang merupakan bagian dari program #AmanBersamaGoPay untuk mengoptimalkan perlindungan keamanan ekstra dan kenyamanan bagi pengguna Gojek dan GoPay. Program tersebut akan mengembalikan saldo GoPay termasuk limit GoPayLater kepada pengguna yang hilang akibat penyalahgunaan akun Gojek di luar kendali pengguna.

ShopeePay (20 persen)

ShopeePay (20 persen)
ShopeePay (20 persen)

Dompet digital yang belum genap berusia dua tahun ini mampu menempati peringkat ke-3 dengan persentase 20 persen. Pada hasil survei juga menunjukkan bahwa dominasi penggunaan ShopeePay yang melalui transaksi online adalah untuk belanja online (84 persen) dan top-up melalui gadget (80 persen).

Mengutip keuangan.kontan.id, ShopeePay berhasil mencatat peningkatan jumlah transaksi di minimarket sebesar 143 persen hingga periode satu semester tahun 2021 dibandingkan pada semester dua 2020.

Lebih rinci, penggunaan per orang terhadap ShopeePay juga diketahui meningkat hingga 60 persen pada periode waktu yang sama.

Head of Campaigns and Growth Marketing ShopeePay, Cindy Candiawan menjelaskan progres yang diraih ShopeePay disebabkan oleh variasi kampanye promo yang menarik bersama merchant dari berbagai kategori guna mendukung produktivitas masyarakat terkhusus selama di rumah.

“ShopeePay berkomitmen untuk terus fokus menyediakan akses layanan pembayaran digital yang mudah, aman, dan memuaskan bagi masyarakat di seluruh wilayah di Indonesia,” jelasnya.

DANA (19 persen)

DANA (19 persen)

Meskipun menempati peringkat ke-4, pada sajian hasil survei milik YouGov menunjukkan bahwa DANA menjadi dompet digital yang paling menarik banyak minat kepercayaan masyarakat. Selain itu, jika dilihat dari segi pertumbuhan jumlah pengguna, DANA secara konsisten melakukan pencatatan terutama untuk periode Maret 2021 hingga akhir kuartal II 2021.

Melansir tranasia.com, dompet digital dengan total 80 juta pengguna ini secara stabil menunjukkan tren pertumbuhan positif dalam jumlah pengguna, di mana pada kuartal II 2021 tumbuh hingga mencapai 40 persen. Pertumbuhan jumlah pengguna DANA berasal dari bertambahnya jumlah pengguna di kalangan muda dengan rentang usia 18-24 tahun dan kalangan usia di atas 35 tahun.

Disamping itu, pada akhir Agustus lalu, DANA resmi meluncurkan pembaruan versi baru DANA v2.0 untuk lebih menyederhanakan fitur untuk kirim uang. Pembaruan yang dilakukan yaitu ada pada DANA Home, di mana tampilan halaman awal DANA menjadi lebih rapi.

Selain itu, versi terbaru DANA juga mengubah fitur kirim uang dengan langkah yang lebih sederhana, dengan cara pembaruan pada kolom pencarian untuk transfer sehingga lebih praktis, serta menampilkan sejumlah transaksi yang terakhir dilakukan.

LinkAja (4 persen)

LinkAja (4 persen)

Terakhir, peringkat ke-5 ditempati LinkAja dengan perolehan 4 persen. Kendati menempati peringkat 5, namun LinkAja berhasil mendominasi untuk jenis transaksi online dibandingkan keempat dompet digital lainnya dengan perolehan poin 6,1.

Dompet digital yang bermula hadir untuk menggantikan aplikasi TCash milik Telkomsel juga meraih poin tertinggi kedua setelah ShopeePay untuk transaksi online pesan makanan. Hasil survei juga menunjukkan bahwa LinkAja merupakan aplikasi yang paling mudah digunakan dibandingkan lainnya dengan persentase 79 persen.

Selain itu, demi memudahkan akses para penggunanya terhadap layanan keuangan digital berbasis syariah, baru-baru ini LinkAja bekerja sama dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Paybill. Hasil kerja sama ini nantinya bakal menciptakan platform layanan syariah LinkAja dan membantu memfasilitasi masyarakat umum yang belum mendapatkan akses perbankan, khususnya layanan keuangan digital berbasis syariah.

Continue Reading

Market

Lewati Singapura, Indonesia Jadi Raja Internet Ekonomi Asia Tenggara

Published

on

Internet ekonomi Indonesia
Internet ekonomi Indonesia

Berdasarkan laporan ekonomi bertajuk Roaring 20s: The SEA Digital Decade, internet economy Indonesia diprediksi bakal mencapai nilai 330 miliar dolar AS pada tahun 2030. Hal tersebut membuat Indonesia bakal menjadi macannya Asia Tenggara.

Padahal, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini adalah 170 miliar dolar AS. Dua tahun lagi atau tepatnya tahun 2025, ekonomi internet Indonesia kemungkinan akan mencapai nilai 146 miliar dolar AS pada tahun 2025 dari perkiraan 70 miliar dolar AS tahun 2021 ini, yang didorong oleh pertumbuhan eCommerce dan kerangka peraturan terbuka yang mendukung layanan keuangan digital.

Laporan yang merupakan edisi keenam ekonomi internet di Asia Tenggara ini mencakup hasil studi di Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura, yang memberikan insihght tentang eCommerce yang sedang booming di kawasan Asia Tenggara, sektor transportasi dan makanan yang terus menguat, perjalanan online, media online, dan sektor jasa keuangan, serta sektor kesehatan dan EduTech yang juga sedang berkembang.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Laporan tersebut juga mencatat bahwa pandemi menjadi salah satu faktor penting dalam akselerasi digitalisasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Hasilnya, seluruh sektor Indonesia yang dikaji dalam laporan ini menunjukkan pertumbuhan dua digit pada tahun 2021.

Tidak mengherankan, eCommerce tetap menjadi pendorong pertumbuhan terbesar ekonomi digital, dengan pertumbuhan tahun-ke-tahun 52 persen menjadi 53 miliar dolar AS dari 35 miliar dolar AS. Media online menempati urutan berikutnya dengan 48 persen, diikuti oleh transportasi dan makanan dengan 36 persen.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa Indonesia telah melampaui Singapura dalam menjadi “hottest investment destination in the region,” (tujuan investasi terpanas di kawasan Asia Tenggara)”, menandakan era baru ekonomi digital di tahun-tahun mendatang.

“Meskipun pasar tidak pasti, modal global terus mengalir ke pasar mengingat fundamental pertumbuhannya yang kuat, terutama di mana ada peningkatan penggunaan akibat Covid-19, seperti di e-commerce, fintech, healthtech, dan edtech,” tulis laporan itu.

Tren ke depan di antaranya 5G, Internet of Things (IoT), blockchain, kecerdasan buatan, dan cloud computing, akan mengubah dan mempengaruhi hidup masyarakat Indonesia.

Sementara itu, menurut Menteri Perdagangan RI Muhammad Luthfi, disrupsi di dalam teknologi menjadi hal yang penting untuk pelaku ekonomi baru. Pada 2020, ekonomi Indonesia secara produk domestik bruto (GDP) sekitar Rp15.400 triliun atau setara 1,1 triliun dolar AS dan pada akhir 2030, akan tumbuh sekitar 1,5 kali lipat antara Rp24.000-Rp30.000 triliun.

Pertumbuhan terbesar sebesar 34 persen berasal dari perdagangan secara elektronik dengan nilai sekitar Rp1.908 triliun atau 120 miliar dolar AS. Namun, yang terpenting adalah bidang pendidikan sebesar 3 persen dengan nilai Rp160 triliun dan kesehatan sebesar 8 persen dengan nilai sekitar Rp476 triliun. Dua hal tersebut sangat penting karena membantu generasi emas (golden generation), generasi penerus Indonesia.

Continue Reading

Market

Janji Jokowi: Indonesia Tahun Depan Surplus Dagang dengan China

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), memberikan janji bahwa tahun depan neraca perdagangan antara Indonesia dengan China tak lagi defisit. Bagaimana?

Terakhir kali Indonesia menikmati surplus saat berdagang dengan China adalah pada tahun 2007. Adapun pada tahun 2020, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Negeri Tirai Bambu sebesar 7,86 miliar dolar AS.

“Khusus RRT (Republik Rakyat Tiongkok), yang dulu defisit tahun depan sudah surplus,” tegas Jokowi dalam pidato di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, Rabu (24/11/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Jokowi memiliki cara ampuh agar Indonesia tak lagi mengalami defisit perdagangan dengan China. Caranya adalah Indonesia harus mengekspor produk-produk bernilai tambah yang harganya lebih mahal. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan ekspor komoditas mentah, harus diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi.

Jokowi mencontohkan nikel. Saat Indonesia masih mengizinkan ekspor nikel mentah, nilainya sekitar US$ 1,1 miliar. Namun saat ekspor nikel mentah dilarang, industri pengolahan komoditas itu tumbuh dan menghasilkan ekspor sekitar US$ 20 miliar tahun ini.

“Kalau nanti bauksit disetop, nilainya akan melompat ke angka kurang lebih US$ 20-23 miliar. Bayangkan, diindustrilisasikan, dihilirisasikan di negara kita,” kata Jokowi.

Continue Reading

Trending