Connect with us

Internasional

Iran Ancam Balas Dendam ke AS jika Trump Tak Dihukum Atas Pembunuhan Soleimani

Published

on

Donald Trump
Donald Trump

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengeluarkan ancaman balas dendam terhadap Donald Trump jika mantan Presiden Amerika Serikat (AS) itu tak diadili terkait pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.

Ebrahim Raisi menyampaikan hal itu saat memperingati dua tahun kematian sang jenderal. Demikian dilansir daeu AFP, Selasa (4/1/2021).

Iran dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah menggelar momen emosional untuk memperingati dua tahun kematian Soleimani dan seorang letnan Irak dalam pembunuhan lewat serangan drone AS di bandara Baghdad pada 3 Januari 2020.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

“Jika Trump dan (mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike) Pompeo tidak diadili di pengadilan yang adil atas tindak kriminal pembunuhan Jenderal Soleimani, umat Muslim akan akan membalas dendam bagi martir kami,” tegas Raisi.

“Agresor, pembunuh dan pelaku utama — Presiden Amerika Serikat saat itu (Trump-red) — harus diadili dan dihakimi di bawah hukum kisas, dan keputusan Tuhan harus dijatuhkan terhadapnya,” imbuhnya.

“Jika tidak, saya akan memberitahu semua pemimpin AS bahwa tanpa diragukan tangan pembalasan akan muncul dari negara Muslim,” ucap Raisi.

Soleimani merupakan komandan Pasukan Quds, sayap operasional asing dari Garda Revolusi Iran, yang disebut terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata di Irak, Lebanon, Palestina, Suriah dan Yaman. Serangan drone AS yang menewaskan Soleimani diperintahkan oleh Trump yang saat itu menjabat Presiden AS.

Internasional

Rusia Serang Pusat Perbelanjaan, G7 Janjikan Dukungan Penuh untuk Ukraina

Published

on

By

Rusia Serang Pusat Perbelanjaan Ukraina

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan rudal Rusia menghantam pusat perbelanjaan yang ramai di Ukraina tengah. Di mana hal itu ketika Moskow berjuang untuk menguasai kota penting di timur.

Para pemimpin Barat pun berjanji mendukung Kyiv dalam perang selama itu dibutuhkan. Mengutip dari laman Channel News Asia pada Selasa (28/6/2022), Zelenskyy di Telegram menuliskan saat dua rudal Rusia menghantam mal di kota Kremenchuk, tenggara Kyiv terdapat lebih dari 1.000 orang berada di dalam.

Untuk mencari yang selamat, tim penyelamat menjaring melalui logam yang hancur dan puing-puing. Sementara itu Rusia belum mengomentari serangan tersebut yang dikecam oleh PBB dan sekutu Barat Ukraina ini.

Akan tetapi Ukraina dituduh oleh wakil duta besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy bahwa mereka hanay menggunakan insiden itu untuk mendapatkan simpati menjelang pertemuan puncak aliansi militer NATO pada 28-30 Juni mendatang.

Baca Juga:

  1. Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar
  2. Putin Bakal Lakukan 2 Hal Ini Sebelum Bertemu Jokowi
  3. Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Kita harus menunggu apa yang akan dikatakan Kementerian Pertahanan kita, tetapi sudah terlalu banyak perbedaan mencolok,” tulisnya di Twitter.

Sementara itu, para pemimpin negara-negara demokrasi utama Kelompok G7 berkumpul untuk pertemuan puncak tahunan mereka di Jerman. Di mana mereka mengutuk serangan keji yang disebut oleh mereka ini.

Dalam pernyataan bersama yang di-tweet oleh juru bicara pemerintah Jerman, mereka menuliskan bahwa, “Kami bersatu dengan Ukraina dalam berduka atas korban tak berdosa dari serangan brutal ini.”

“Presiden Rusia Putin dan mereka yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban,” sambung tulisan tersebut.

Para pemimpin G7, termasuk Presiden AS Joe Biden selama pertemuan puncak di Jerman mengatakan selama diperlukan dan mengintensifkan tekanan internasional pada pemerintah Presiden Vladimir Putin dan sekutunya Belarusia, mereka bakal mempertahankan sanksi terhadap Negeri Beruang Merah tersebut.

Continue Reading

Internasional

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Published

on

By

Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor.

Di mana pihak Rusia menuding terkait perang di Ukraina, Google sudah membantu menyebarkan informasi yang tidak dapat diandalkan. Selain itu juga mesin pencari itu juga dianggap telah gagal menghapus informasi tidak dapat diandalkan atau hoaks dari platform-nya tersebut.

Kemudian Roskomnadzor pun juga menyebut YouTube turut berkontribusi menyebarkan informasi tidak akurat soal perang di Ukraina. Sehingga membuat tentara Rusia terfitnah dalam hal ini.

Pengawas telekomunikasi menyebutkan YouTube kini menampung lebih dari 7.000 materi mempromosikan yang dianggap ilegal. Di mana termasuk mempromosikan pandangan ekstremis, seruan untuk protes, ketidakpedulian terhadap kehidupan dan kesehatan anak di bawah umur.

Baca Juga:

  1. Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah
  2. Rusia Memotong Pasokan Gas ke Belanda, serta Perusahaan di Denmark dan Jerman
  3. Menteri Energi Wijesekera Minta Maaf, Sri Lanka Bangkrut Kehabisan BBM

Mengutip dari Bleeping Computer pada Senin (27/6/2022) Roskomnadzor mengatakan bahwa, “Google LLC telah berulang kali dibawa ke tanggung jawab administratif atas pelanggaran undang-undang Rusia.”

“Adapun Google telah gagal menghapus informasi yang dilarang. Untuk ini, Google didenda total Rp 18 miliar,” sambung pengawas telekomunikasi Rusia tersebut.

Denda berbasis pendapatan setinggi 10 persen dari omset tahunan Rusia pun berisiko dikenakan Google. Hal tersebut dikarenakan perusahaan akses ke materi yang berisi informasi yang dilarang di Rusia, berulang kali gagal dilakukan oleh perusahaan.

Pada otoritas setempat, Google cabang Rusia dilaporkan telah mengajukan pailit. Di ketahui, informasi ini dari laporan Interfax berdasarkan pengajuan pada pengadilan yang dilakukan perusahaan.

Continue Reading

Internasional

Putin Bakal Lakukan 2 Hal Ini Sebelum Bertemu Jokowi

Published

on

Presiden Rusia Vladimir Putin

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini di Moskow. Namun sebelum bertemu Jokowi, Presiden Putin memiliki dua agenda. Apa saja?

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (27/6/2022), kedua agenda Putin itu adalah mengunjungi dua negara bekas Uni Soviet. Ini menandai kunjungan luar negeri pertama Putin setelah melakukan operasi militer spesial di Ukraina.

Koresponden Kremlin untuk televisi pemerintah Rusia, Rossiya 1, Pavel Zarubin mengungkapkan bahwa Putin akan mengunjungi Tajikistan dan Turkmenistan pekan ini dan kemudian bertemu Jokowi untuk melakukan pembicaraan di Moskow.

Baca Juga:

  1. Roti Djoen, Toko Roti Legendaris Yogya yang Sudah Ada Sejak Tahun 1935
  2. Simak, Sejarah Roti Cinnamon Roll Asal Swedia Menjadi Favorit Dunia
  3. Lezat! 3 Menu Roti dan Telur Ini Mengenyangkan dan Padat Nutrisi

Disebutkan bahwa di Dushanbe, ibu kota Tajikistan, Putin akan bertemu Presiden Imomali Rakhmon, yang merupakan sekutu dekat Rusia dan penguasa terlama untuk sebuah negara bekas Soviet.

Kemudian di Ashgabat, ibu kota Turkmenistan, Putin akan menghadiri pertemuan puncak negara-negara Kaspia. Ditambahkan Zarubin bahwa pemimpin Azerbaijan, Kazakhstan, Iran dan Turkmenistan akan menghadiri pertemuan itu.

Laporan kantor berita Rusia, RIA, yang mengutip ketua Majelis Atas Parlemen Rusia menyebutkan bahwa Putin juga berencana mengunjungi kota Grodno di Belarusia pada 30 Juni dan 1 Juli untuk menghadiri forum bersama Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.

Continue Reading

Trending