Connect with us

Culture

Inilah Ragam Jenis Tato Suku Dayak & Maknanya

Published

on

Tato Dayak. (Istimewa)

Suku Dayak Iban menjadi salah satu suku di Indonesia yang dikenal dengan seni tato di tubuhnya. Tato di beberapa daerah di Indonesia memang menjadi hasil budaya yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Seperti dinukil dari Laman resmi Kemendikbud, Kamis (29/9/2022), masyarakat Suku Dayak Iban sudah mengenal tato sejak tahun tahun 1500 SM-500 SM. Tato sebagai seni ukir atau rajah pada tubuh dikenal oleh suku Dayak Iban di Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu.

Ada beragam fungsi tato untuk masyarakat Dayak. Pertama, penanda bahwa pemiliki tato merupakan keturunan asli Suku Dayak. Mereka juga diberi tato dengan tujuan agar selalu terlindungi dari pengaruh roh jahat.

Baca Juga:

  1. Mulai Gaya Hidup Frugal Living, Lebih Hemat Atur Pengeluaran!
  2. Catat! 5 Tips Menghadapi Inflasi Gaya Hidup
  3. Ampuh Jaga Keharmonisan, Ini 3 Love Language yang Wajib Kamu Tahu
Baca Juga :  Tiwah, Upacara Kematian Suku Dayak

Kedua, tato dibuat sebagai penanda bahwa pemilik tato tersebut telah lulus Kinyah atau seni bela diri dengan menggunakan Mandau.

Ketiga, tato juga merupakan bentuk penghargaan bagi seseorang, bentuk penghargaan atas jasanya menolong orang sakit atau mengobati berbagai penyakit, penghargaan atas keberanian di medan perang dan penanda bahwa pemiliknya telah merantau ke berbagai suku.

Keempat, wanita yang memiliki tato pertanda mereka sudah siap menikah. Terakhir, tato berfungsi sebagai penanda status sosial seseorang.

Sejarah Pembuatan Tato Suku Dayak

Tato Dayak. (Istimewa)

Pada zaman dahulu pembuatan tato dilakukan dengan menggunakan duri pohon jeruk yang panjang dan tajam lalu menggunakan jelaga yang berwarna hitam pekat. Tetapi saat ini kehadiran jarum sudah mulai dikenal dan mulai digunakan sebagai pengganti duri pohon jeruk.

Selain itu bahan lain yang perlu dipersiapkan adalah: sake damar (arang damar) yang berasal dari damar mata kucing dan damar batu, upih pinang, seruas bambu buluh, bambu yang dibelah dua, besi gepeng sebesar telunjuk, dan kayu ulin sebesar telunjuk.

Baca Juga :  Jamasan Pusaka Kabupaten Ngawi, Ritual Adat Jawa Penolak Bala

Kemudian dimulailah proses pembuatan tato. Pertama-tama damar akan dibakar lalu upih pinang dibengkokan dengan menggunakan asapnya. Arangnya dikumpulkan dan disimpan di lumbung bulug lalu dicampur dengan sedikit air dan diletakan di dalam bambu yang telah dibelah dua.

Kulit kemudian ditato dengan cara dicacah menggunakan mata tutang atau jarum yang dipukulkan menggunakan kayu ulin bulat sebesar jari sampai berdarah. Luka yang timbul dari cacahan tersebut akan dibalurkan dengan sale damar.

Selain sale damar terkadang juga akan dicampurkan dengan emas atau tembaga. Setelah satu minggu atau satu bulan, luka akan sembuh dengan sendirinya.

Makna Tato Suku Dayak

Baca Juga :  Festival Jenang Solo Jadi Daya Tarik Wisatawan

Untuk laki-laki terdapat beberapa jenis tato yang memiliki makna sendiri. Tato pada jari menandakan orang tersebut telah berjasa dalam tolong-menolong. Tato motif Bunga Terung atau bunga terong dengan gambar tali nyawa (bentuk usus katak) di tengahnya, memiliki arti si pemilik telah memasuki masa dewasa.

Sedangkan tato motif harimau yang diletakan di bagian paha menunjukan status sosial tinggi bagi pemiliknya. Terakhir ada tato motif Ukir Rekong yang terletak di leher yang dibuat dengan tujuan memberi kekuatan pada tenggorokan atau sebagai pelindung agar tidak terpenggal Mandau musuh.

Untuk perempuan tentu saja berbeda bentuk dan artinya. Ada tato Tedak Kassa yang terletak dikaki menandakan bahwa perempuan tersebut sudah dewasa. Serta tato Tedak Usus dan Tedak Hapii yang terletak di tangan berfungsi sebagai pelindung dari roh jahat.

Culture

Mengenal Tradisi Afternoon Tea di Inggris

Published

on

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

mycity.co.id – Cityzen, pernahkah kalian bermimpi menjadi seorang putri kerajaan dan mengadakan pesta minum teh bersama para Putri, dan para bangsawan lain?

Jika iya, pasti penasaran bagaimana tradisi minum teh yang dimaksud. Dirangkum mycity.co.id  dari berbagai laman sumber,  ‘Afternoon Tea’ atau sering disebut sebagai tradisi minum teh, pada mulanya hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan Inggris saja.

Ini karena pada masa itu, sekitar pertengahan abad ke-17 kebanyakkan teh diimpor dari China sehingga harga teh hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan atas. Pada tahun 1840 Afternoon Tea diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang bangsawan bernama Anna Dutchess.

Pada tahun ini pula penemuan lampu minyak sudah ditemukan, sehingga waktu makan malam diundur menjadi lebih malam sekitar pukul 08.00 malam. Dalam keluarga bangsawan Inggris, waktu memakan makanan berat hanya pada pagi hari dan malam hari saja. saat siang hari mereka hanya diperkenankan makan makanan ringan.

Baca Juga :  Bau Nyale, Tradisi Unik dari Lombok untuk Bertemu Putri Mandalika

Sementara itu Anna Dutchess kerap kali dilanda lapar pada pukul empat sore, hal itu menjadikan Dutchess meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Baca Juga :  Mengenal Urak Wedalan, Tradisi Tarawih Unik di Indonesia

Ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung bersama untuk sekedar minum teh serta memakan kue dan cemilan-cemilan pada sore hari saat ia datang ke London. Kebiasan itu didukung oleh kerajaan dan diikuti oleh kerajaan lainnya juga. Teh yang disajikan selalu menggunakan teko perak nan elegan dan dituangkan ke dalam cangkir porselen yang indah.

Acara minum teh pada masa itu merupakan cara untuk menunjukkan kemewahan pada para tamu yang hadir. Pada 23 September 1658, surat kabar republik London Mercurius Politicus memuat iklan teh pertama di Inggris. Iklan ini mengumumkan bahwa minuman China yang disebut tcha, atau bangsa lain menyebutnya tay alias tea tersedia di beberapa kedai kopi. Dari situlah teh semakin populer.

Baca Juga :  Ampyang Maulid, Cara Leluhur Berintropeksi Diri di Perayaan Maulid Nabi

Pada akhir abad ke-19, harga teh mulai terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga orang-orang kelas menengah pun dapat melakukan tradisi afternoon tea.  Kegiatan tersebut pun menyebar luas ke seluruh Inggris dan bahkan ke Amerika Serikat.

Masyarakat Inggris biasanya menikmati kegiatan minum teh di tempat-tempat favorit mereka, misalnya kafe, rumah atau taman sambil sambil membaca buku atau mengobrol bersama teman. Kegiatan minum teh ini sekarang menjadi agenda yang selalu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Continue Reading

Culture

Mengulik Budaya Melukat Hindu di Bali

Published

on

Budaya Melukat Bali : Sociolla

Budaya Melukat Bali : Sociolla

mycity.co.idIndonesia mempunyai banyak budaya adat istiadat yang beragam dari Sabang sampai Merauke.Namun sayangnya masih banyak juga budaya yang mungkin belum terlalu dikenal oleh masyarakat secara luas.

Karena masih kurangnya minat masyarakat khususnya generasi muda dalam melestarikan dan menjalankan budaya yang sudah ada, karena sering dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Padahal di era yang serba modern sekarang ini semakin banyk cara untuk mengetahui dan juga melestarikan budaya yang ada.

Seperti budaya satu ini yang datang dari Bali yaitu Melukat. Akhir-akhir ini budaya Melukat sedang naik daun dikalangan masyarakat.

Budaya adat Melukat adalah tradisi umat hindu di Bali yang dipercaya berguna untuk membersihkan jiwa dari aura ataupun hal negatif. Melukat berasal dari kata “Sulukat” dengan “Su” yang artinya baik dan “Lukat” yang berarti penyucian, jadi secara singkat Sulukat berarti menyucikan diri untuk memperoleh kebaikan.

Baca Juga :  Mengenal Urak Wedalan, Tradisi Tarawih Unik di Indonesia

Ritual ini dilakukan dengan cara mandi dari pancuran air yang dianggap mampu membersihkan diri dan pikiran. Bahkan bisa menghalau dari hal-hal negatif yang akan masuk ke dalam tubuh kita.

Elemen air dipercaya dapat menghilangkan pengaruh kotor yang dapat merusak dalam diri dengan bantuan dari alam semesta.

Dalam proses ini seluruh lapisan di tubuh dibersihkan agar lebih seimbang, pikiran menjadi tenang, tidak mudah marah, lebih tabah bahkan merasa damai.

Ritual ini diketahui ada 7 jenis dua diantaranya adalah Melukat Asta Pungku yang berguna untuk membersihkan dan menyucikan diri dari malapetaka, lalu yang kedua ada Melukat Gini Nge Layang yang berguna untuk pengobatan penyakit.

Baca Juga :  Jamasan Pusaka Kabupaten Ngawi, Ritual Adat Jawa Penolak Bala

Melukat sendiri biasa dilakukan di tempat-tempat sejarah seperti pure, tempat pemandian, bahkan laut yang ada di Bali. Proses melukat biasanya dipimpin oleh pendeta Hindu dengan beberapa rangkaian prosesi yang dilakukan.

Secara umum, wisatawan yang mengikuti ritual Melukat akan diminta untuk datang ke suatu tempat. Ritual ini bisa juga dilakukan di suatu lahan tanah yang menghadap ke sungai atau mata air.

Khusus untuk umat Hindu, mereka bisa membawa sajen untuk dihaturkan saat sembahyang sebelum mulai Melukat.

Berikut adalah urutan prosesi Melukat.

1. Urutan melukat di pancuran air biasanya berbeda sesuai tempat, ada yang berurutan dari kanan ke kiri, kiri ke  kanan, bahkan dari tengah. Bahwa urutan tersebut bergantung dari kebiasaan yang ada di tempat tersebut dan     wisatawan tinggal mengikuti alurnya.

Baca Juga :  Makna Dibalik Tradisi Palang Pintu Betawi

2. Proses melukat akan dipimpin oleh sulinggih atau pendeta hindu. Selain itu, ada sesajen berupa pejati, dupa, dan canang sari yang akan diberikan mantra-mantra oleh sulinggih. Ada pula air kelapa gading yang dianggap sebagai  air suci.

3. Orang yang akan melukat akan dimantrai oleh sulinggih, kemudian disiram dengan air suci.

4. Ritual dilanjutkan dengan membasuh diri di mata air untuk membersihkan diri lahir dan batin.

5. Setelah menyucikan diri dengan air, wisatawan akan diperkenankan untuk membilas tubuh dan berganti pakaian         seperti semula.

6. Selanjutnya orang yang selesai melukat bisa melakukan sembahyang dan dipercikkan air suci oleh pendeta atau          petugas setempat.

Namun pada kegiatan ritual ini kembali lagi pada kepercayaan masing-masing bahwa kita semua mempunyai kepercayaan yang berbeda.

Continue Reading

Culture

4 Makhluk Penjaga Mata Angin dalam Mitologi Jepang

Published

on

4 makhluk mitologi Jepang ini diadaptasi dari kepercayaan China, yang mana makhluk-makhluk ini dipercaya sebagai penjaga mata angin.

4 makhluk mitologi Jepang ini diadaptasi dari kepercayaan China, yang mana makhluk-makhluk ini dipercaya sebagai penjaga mata angin. Foto: istimewa

mycity.co.id – Di era teknologi maju saat ini keberadaan makhluk mitologi juga masih terus melekat di masyarakat yang masih percaya dengan hal tersebut. Seperti Jepang yang sudah maju dengan teknologinya pun, masyarakatnya masih mempercayai keberadaan makhluk mitologi.

Bahkan di Jepang, makhluk-makhluk mitologi ini diadaptasi ke film atau series anime terkenal. Bisa dikatakan, Jepang memiliki segudang cerita rakyat atau legenda. Salah satu legenda yang paling terkenal dan banyak di percaya adalah legenda empat binatang yang menjaga negara Jepang dari empat arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat.

Sebenarnya, cerita asli empat binatang penjaga ini berasal dari kepercayaan masyarakat China, namun diadopsi menjadi cerita legenda Jepang. Dengan kekuatannya yang besar, keberadaan empat makhluk mitologi ini dipercaya oleh masyarakat Jepang. Berikut ini mycity.co.id telah merangkum makhluk-makhluk mitologi Jepang untuk cityzen dari jurnal Binus University:

Baca Juga :  Lawang Sakepeng, Tradisi Dayak Ngaju untuk Putus Malapetaka Pernikahan

1. Seiryu

Seryu, naga biru penjaga mata angin bagian timur. Foto: Istimewa.

Seryu, naga biru penjaga mata angin bagian timur. Foto: Istimewa.

Seiryu (Naga Biru) makhluk penjaga di bagian timur Jepang dan digambarkan dengan seekor naga berwarna biru. Elemen Seiryu adalah kayu dan dapat mengendalikan hujan. Seiryu dipercaya oleh masyarakat bahwa ia tinggal di laut dan sungai sehingga dapat menyebabkan banjir.

Saat kita coba memasuki pintu kuil Kiyomizu, disana terdapat patung naga Seiryu. Sebagian besar orang Jepang juga sering datang pada festival tahunan yang dibuat untuk menghormati Seiryu. Di China, Seiryu disebut Qing long dan di Korea disebut Chung Ryong. Di dua negara tersebut naga selalu dikaitkan dengan lambang kekaisaran. Sehingga, banyak simbol naga di kerajaan mulai dari jubah, ukiran meja dan lain-lain. Sementara itu di jepang naga Seiryu dikenal sebagai simbol kekuasaan, kemewahan, kekuatan, kreativitas, dan keganasan. Dalam beberapa versi cerita, Seiryu dianggap pemimpin dari keempat binatang penjaga di Jepang.

Baca Juga :  Tiwah, Upacara Kematian Suku Dayak

2. Byakko

Byakko, macan putih adalah penjaga bagian barat Jepang. Foto: Istimewa.

Byakko, macan putih adalah penjaga bagian barat Jepang. Foto: Istimewa.

Byakko (macan putih) adalah penjaga bagian barat Jepang. Byakko digambarkan sebagai harimau putih. Di China, Byakko dikenal sebagai Baihu dan di Korea dikenal sebagai Baekho. Elemen Byakko adalah logam dan dapat mengendalikan angin. Sosok Byakko sering dianggap sebagai pelindung dan penjaga, sehingga pada zaman dahulu banyak pemakaman orang-orang terkenal seperti raja dan jendral, diatas pemakamannya dilapisi logam dan banyak lukisan yang menggambarkan Byakko di dinding pemakaman di wilayah Nara. Dengan adanya hal itu, diharapkan orang-orang yang meninggal selalu mendapat perlindungan dari Byakko. Macan selalu digambarkan sebagai sumber kekuatan dan keberanian, oleh karena itu Byakko menyimbolkan tentara yang berperang sampai mati untuk negaranya.

3. Genbu

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular. Foto: Istimewa.

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular. Foto: Istimewa.

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular, terkadang Genbu digambarkan oleh kura-kura raksasa dengan ekor ular. Elemen yang dimiliki Genbu adalah air dan tanah. Genbu diabadikan di kastil Kyoto bagian utara Jepang dan dikenal sebagai simbol kemurnian, umur panjang, keseimbangan, dan kecerdasaan.
Sebelum diadopsi oleh Jepang, di China Genbu dinamakan Xuanwu dan di Korea disebut Hyunmoo. Warna asli dari mahluk ini adalah hitam, namun dalam adaptasi game mengambarkan Genbu dengan warna ungu.

Baca Juga :  Tradisi Sisingaan, Cara Masyarakat Subang Mengolok-olok Belanda

4. Suzaku

Suzaku (Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Foto: Istimewa.

Suzaku (Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Foto: Istimewa.

Suzaku ( Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Suzaku digambarkan dengan burung berwarna merah yang menyimbolkan api dan mirip dengan burung mitologi Yunani yaitu phoenix. Suzaku memiliki bulu yang bersinar-sinar dan kemunculannya dikaitkan dengan hari baik. Elemen yang dimiliki Suzaku adalah api. Suzaku merupakan binatang dewa yang anggun dan mulia dalam hal penampilan dan perilaku, serta menyamar dengan apa yang ia makan.

Dari keempat binatang penjaga di Jepang, banyak yang mengatakan bahwa Suzaku merupakan binatang yang paling indah. Di China, Suzaku disebut Zhuque dan di Korea disebut Jujak. Ibu kota zaman dahulu seperti Fujiwara, Heijo, dan Heian memasang simbol Suzaku di pintu gerbang selatan, berharap agar selalu dijaga oleh Suzaku. Suzaku dianggap sebagai simbol kesetiaan, kebaikan, semangat, serta kemulian.

Continue Reading
Advertisement

Trending