Connect with us

Histori

Inilah PNS Pertama di Indonesia

Published

on

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Cityzen pasti bertanya-tanya siapa Pegawai Negeri Sipil (PNS) pertama di Indonesia? Jawabannya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sri Sultan Hamengkubuwono memiliki Nomor Induk Pegawai 010000001. Dia diangkat oleh Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara, A. E. Manihuruk yang statusnya bukan PNS. Sebab pada saat itu Kepala Badan kebanyakan berasal dari pejuang, tentara, atau politikus.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu unsur Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain PNS ada juga yang merupakan ASN, yaitu pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) yang diangkat sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Hal ini diketahui dari unggahan akun Twitter resmi Pemerintah Daerah Yogyakarta, @humas_jogja. Pada 29 November 2019 yang lalu, tepatnya saat HUT Korpri 48, akun ini mengunggah gambar kartu keanggotaan PNS milik Sri Sultan

“Tahukah sedulur, bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah PNS pertama di Indonesia dengan NIP (Nomor Induk Pegawai) 010000001,” tulis @humas_jogja dalam unggahannya.

Dalam gambar terdapat foto Sri Sultan serta beberapa data lainnya, mulai dari NIP, nama, tanggal lahir, hingga tahun jadi pegawai. Dalam foto kartu keanggotaan ini tertulis Sri Sultan menjadi PNS sejak tahun 1940.

Meski Sri Sultan tertulis sudah menjadi PNS sejak 1940, surat keanggotaan itu ditandatangani Manihuruk pada tahun 1974.

“Alm. A.E Manihuruk yang mengangkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai PNS pertama di Indonesia. Beliau merupakan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara yang saat itu statusnya bukan PNS, karena Kepala Badan kebanyakan berasal dari pejuang, tentara atau politikus,” tulis penjelasan @humas_jogja.

Sekilas mengenai kehidupan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, penguasa Yogyakarta ke 9 ini memiliki nama asli Gusti Raden Mas Dorodjatun. Dia menjabat sebagai penguasa Yogyakarta sejak tahun 1940 hingga 1988, atau selama 48 tahun.

Sri Sultan juga sudah sering mondar-mandir masuk dalam jajaran pejabat negara, paling tinggi menjadi Wakil Presiden ke 2 Indonesia pada tahun 1973-1978. Kemudian dia juga merupakan Wakil Perdana Menteri ke 5 yang menjabat pada tahun 1950.

Selanjutnya, dia menduduki beberapa jabatan menteri, mulai dari jadi Menteri Pertahanan pada tahun 1948-1949. Hingga menjabat Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia pada tahun 1966-1973.

Histori

Dibilang Adidas dari Malaysia, Begini Sejarah Lahir & Tumbuhnya Wayang Kulit di Indonesia

Published

on

Wayang kulit
Wayang kulit

Baru-baru ini, jagat media sosial Indonesia dikagetkan dengan pernyataan Adidas soal wayang kulit berasal dari Malaysia. Hal itu menyulut amarah warga Indonesia dan membuat Adidas akhirnya melontarkan permintaan maaf.

Ya, brand Adidas menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia usai menyatakan wayang kulit, yang menjadi desain salah satu produk mereka, berasal dari Malaysia.

Semua berawal dari postingan Adidas di akun Instagram mereka @adidassg. Mereka memosting foto buatan mereka yang masuk dalam koleksi City Pack. Terdapat desain wayang kulit di masing-masing sisi sepatu itu.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Merayakan warisan budaya Malaysia lewat mata @JAEMYC dalam #UltraBOOST DNA City Pack berikutnya,” begitu caption foto unggahan Adidas.

Caption foto itu membuat Adidas digeruduk netizen Indonesia. Adidas, lewat Instgram story-nya, menyampaikan permohonan maaf.

“Terima kasih telah menghubungi kami. Sementara wayang kulit adalah bagian penting dari warisan budaya Malaysia, kita seharusnya menyebut asal-usulnya dari Indonesia di posting-an kami,” tulis Adidas.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas pelanggaran yang tidak disengaja yang mungkin telah dilakukan, dan sekarang telah mengubah posting-an kami,” tambah mereka.

Adidas, dalam membuat desain untuk produksinya, mengaku terinspirasi dari budaya negara-negara di Asia Tenggara. Mereka juga mengaku tak bermaksud mengklaim wayang kulit berasal dari Malaysia.

“Saat bekerja dengan seniman untuk mengembangkan perwakilan desain warisan Malaysia dan Asia Tenggara, kami dengan rendah hati terinspirasi oleh warisan budaya yang kaya di negara-negara Asia Tenggara. Untuk menghindari keraguan, baik brand maupun artis, tidak bermaksud untuk mengklaim bukan seni budaya dari Indonesia,” sebut Adidas.

“Kami berterima kasih sekali lagi atas dukungan Anda terhadap merek ini, dan pembuat konten yang berkolaborasi dengan kami untuk merayakan budaya unik kami serta identitas kami,” pungkas Adidas.

Sejarah Wayang Kulit

wayang kulit
wayang kulit

Wayang memang sedari dulu menjadi bagian dalam tradisi masyarakat Indonesia. Banyak ahli yang menyakini bahwa wayang kulit sudah ada sejak zaman kuni, yakni 1.500 sebelum Masehi (SM).

Wayang secara harfiah berarti bayangan yang merupakan istilah untuk menunjukkan teater tradisional di Indonesia. Tetapi lebih dari pertunjukan, wayang kulit menjadi media perenungan menuju roh spiritual para leluhur.

Masyarakat Indonesia percaya roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Roh nenek moyang yang mereka puja ini disebut hyang atau dahyang.

Orang dapat berhubungan dengan para hyang untuk meminta perlindungan. Sementara orang yang dapat berhubungan dengan hyang melalui seorang medium yang disebut syaman.

“Inilah awal pertunjukan wayang, hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan ini menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang,” jelas Bayu Wibisana dan Nanik Herawati, dalam buku berjudul Mengenal Wayang.

Ahli sejarah kebudayaan Belanda G.A.J Hazeau, dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897) menyakini wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Hazeau dalam desertasinya menyebut wayang sebagai walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

Catatan tertua tentang wayang terekam dalam Prasasti Kuti bertarikh 840 Masehi dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada prasasti ini telah terkenal sebutan haringgit atau dalang.

wayang kulit
wayang kulit

“Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam bahasa Jawa, yang berarti wayang,” catat Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu banyak naskah wayang sudah ditulis oleh pujangga Indonesia sejak abad ke 10 Masehi. Seperti naskah sastra kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada masa Dyah Balitung (899-911 Masehi).

Setelah itu para pujangga Jawa tidak hanya melakukan penerjemahan kepada Ramayana dan Mahabharata tetapi juga memasukan falsafah Jawa. Seperti karya Empu Kanwa, Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabharata.

Pertunjukan wayang juga diperkirakan telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahirupan (1009 -1042 Masehi). Beberapa prasasti juga telah menyebut kata-kata mawayang dan aringgit yang memiliki makna pertunjukan wayang.

Tradisi wayang juga bisa kita lihat dalam relief candi-candi di Jawa Timur, seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Kehadiran wayang dalam relief candi yang tersebar di tempat berbeda menunjukkan kesenian ini telah menyebar luas.

Sementara itu, pada zaman Majapahit telah mulai diperkenalkan cerita baru yang tidak berinduk kepada Ramayana dan Mahabharata. Saat itu muncul cerita Panji yang merupakan kisah leluhur raja Majapahit.

Tradisi menjawakan cerita wayang terus terjadi setelah masuknya pendakwah Islam, seperti para Wali Sanga. Saat itu mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, seperti cerita Damarwulan.

Pada masa Islam ini terjadi babak baru dalam perkembangan wayang kulit. Pertunjukan wayang tidak lagi eksklusif milik lingkungan istana, tetapi para pendakwah Islam mulai membawanya ke masyarakat akar rumput.

Para pendakwah ini juga mengubah bentuk-bentuk wayang menjadi sesuai dengan tradisi Islam. Salah satu pendakwah dan pendalang andal adalah Sunan Kalijaga.

Walau kini wayang kulit telah tampil dalam beragam wajah, tetapi pertunjukan ini tetap memikat dan lestari. Orang-orang dari luar negeri pun rela jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menonton dan mempelajari sejarah wayang.

Continue Reading

Histori

Sejarah Planetarium, Harapan Bung Karno Supaya Orang Indonesia Mengerti Langit

Published

on

Planetarium
Planetarium

Sebagai pusat pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat, Planetarium Jakarta juga memiliki sejarah yang panjang. Menurut situs resminya, presiden pertama RI Soekarno adalah orang yang pertama kali menggagas pembangunan planetarium ini.

Gagasan ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden RI No. 155 tahun 1963. Tempat wisata yang terdiri dari gedung planetarium dan observatorium ini pun mulai dibangun pada 9 September 1961, di mana Soekarno ikut hadir memancangkan tiang pertama.

Proses pembangunan yang berlangsung selama empat tahun akhirnya selesai pada 10 November 1968 dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Peresmian ini juga bersamaan dengan diresmikannya Taman Ismail Marzuki.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, chek up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar disegala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar didalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia,” kata Presiden Soekarno saat pemancangan tiang pertama Planetarium Jakarta.

Tidak diketahui sebenarnya darimana Bung Karno memperoleh gagasan mendirikan planetarium di Indonesia. Mungkin ketika beliau berkunjung ke luar negeri dan mendapati planetarium yang apik, tergerak hatinya untuk membangun sebuah di Indonesia.

Tetapi jika kita ingat lagi bahwa masa pendirian Planetarium Jakarta adalah masa perlombaan luar angkasa –space race– antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, bisa jadi gagasan Bung Karno mendirikan planetarium dipengaruhi oleh keadaan dunia internasional waktu itu.

Planetarium
Planetarium

Ketika itu manusia telah berhasil meluncurkan satelit pertama. Sputnik mengorbit ke luar angkasa dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke Bulan. Bung Karno, walau keadaan negara sedang sulit saat itu, menginginkan agar bangsanya tidak jauh tertinggal dengan negara lain.

Hal lain yang turut menambah rasa bangga orang-orang pada masa itu ialah karena pendirian Planetarium Jakarta ini nantinya akan menjadi planetarium yang terbesar di dunia.

Dalam pidatonya lagi Bung Karno berujar, “Planetarium akan kita dirikan di Jakarta ini, di tempat ini, adalah planetarium yang terbesar di seluruh dunia sehingga di bawah kubah itu bisa duduk orang. Lima ratus orang. Di lain-lain tempat cuma tiga ratusan saudara-saudara ini Indonesia bukan main.”

Selain itu, Planetarium Jakarta merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengungguli negara-negara tetangganya.

Adapun pemilihan lokasi pendirian di Jakarta, tepatnya di bekas kebon bintang Raden Saleh yang dianggap sudah tidak cocok lagi berada di tengah kota, mungkin dilandasi pemikiran bahwa Jakarta adalah ibukota negara.
Ibukota suatu negara sudah pasti menjadi cerminan karakter sebuah bangsa.
Disebutkan Bung Karno bahwa planetarium dan observatorium ini merupakan hadiah bagi kota Jakarta. Dengan demikian, planetarium di Jakarta diharapkan dapat menjadi cerminan masyarakat Indonesia yang maju atau ingin maju.

Uang yang diturunkan GKBI untuk pembangunan Gedung Planetarium Jakarta diturunkan secara berangsur yaitu pada tahun 1964, 1965, dan 1966.

Sementara itu ada juga yayasan yang dibentuk Bung Karno untuk pembelian mesin proyektor planetarium dan teropong bintang dari perusahaan Carl Zeiss-Jerman seharga 1,5 juta dolar AS, dan beragam pembangunan lain. Yayasan ini akan menghimpun beragam dana komisi yang biasa didapat saat pembelian barang ke luar negeri.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 155 tahun 1963 yang ditandatangani Presiden pada 26 Juli 1963 menjadi landasan dalam pembangunan Planetarium Jakarta. Namun ketika pecah pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) proyek Planetarium harus berhenti sejenak.

Akibat rentetan peristiwa G30S, GKBI pun kehabisan dana dan tidak mampu lagi membiaya pembanguan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Melihat kondisi ini Pemerintah DKI Jakarta kemudian mengambil alih proyek pada 1966-1968.

Planetarium
Planetarium

Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menunjuk beberapa ahli seperti staf Observatorium Bosscha, Santoso Nitisastro sebagai pemimpin pembangunan dan dibantu oleh teknisi senior bernama Kodrat Iman Satoto.

Akhirnya setelah pembangunan gedung planetarium, pemasangan proyektor serta perlengkapan lainnya berhasil diselesaikan. Gubernur Ali Sadikin lalu meresmikan Planetarium Jakarta pada 10 November 1968.

“Waktu diresmikan 10 November 1968, pintu masih terbuka, membawa masuk sinar dari luar, juga air ketika hujan. Orang keluar masuk dalam keadaan pintu yang terbuka. Saat itu Planetarium dan Observatorium Jakarta belum layak beroperasi,” kata Darsa Sukartadiredja, Kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta, periode 1977–2001.

Barulah pada 1 Maret 1969, planetarium Jakarta menggelar pertunjukan teater bintang pertama. Pengurus Planetarium pada masa itu akhirnya menerapkan hari itu sebagai tanggal lahir Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Walaupun saat itu kondisi bangunannya masih sangat sederhana. Tetapi tempat ini masih bisa memukau para penonton. Di dalamnya ada bangunan silinder beratap kubah, di tempat ini sering digelar pertunjukan teater bintang dengan proyektor yang dibeli dari Jerman dan 500 buah kursi di dalamnya, serta beberapa ruang kecil lainnya.

Continue Reading

Histori

Batu Belimbing, Kisah Persahabatan Abadi Melayu & Tionghoa

Published

on

Bantu Belimbing

Di Toboali, Bangka Selatan, terdapat batuan granit dengan ukuran besar yang menyerupai buah belimbing. Menurut legenda setempat, batuan ini muncul setelah dua orang pahlawan desa meninggal dan disemayamkan di lokasi tersebut.

Pemerintah Kabupaten setempat menjadikan gugusan batu belimbing sebagai tempat wisata ikonik yang layak dikunjungi. Berada persis di pinggir jalan, bebatuan langka ini terpaut sekitar 2 kilometer (km) dari pusat Kecamatan Toboali atau sekitar 80 km dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Secara administratif wisata Batu Belimbing ini berada di Desa Tanjung Ketapang dengan topografi perbukitan yang menghadap Laut Jawa.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Area wisata batu belimbing ini telah dilengkapi podium untuk pementasan, mushalla dan sejumlah gazebo sebagai tempat beristirahat.

Batu besar ini terikat dengan kisah dua orang pahlawan desa yang meninggal dan disemayamkan di lokasi tersebut. Dua sahabat itu bernama Bang Belim yang berasal dari Melayu dan Ko Abing dari Suku Tionghoa.

Diceritakan, mereka berdua merupakan dua sahabat sejak kecil. Mereka tumbuh layaknya saudara dan selalu menghabiskan waktu dengan menikmati matahari terbenam.

Namun pada suatu ketika, datanglah sebuah penyakit yang mendera desa mereka. Semua ramuan obat yang digunakan tidak mempan melawan wabah ini.

Banyak warga yang akhirnya berjatuhan sakit hingga meninggal. Korban jiwa berasal dari semua kalangan baik orang dewasa hingga anak-anak.

Batu Belimbing

Saat keadaan sudah sangat buruk, Bang Belim dan Ko Abing mendapat sebuah mimpi bahwa ada seorang tabib dari seberang lautan yang bisa menyembuhkan penyakit. Pergilah kedua pria ini untuk menemui tabib itu supaya warga di desanya bisa diselamatkan.

Setelah berlayar sehari penuh, kedua pria ini berhasil menemui tabib sakti itu. Tabib itu kemudian memberikan semacam obat berbentuk buah yang unik. Buah itu memiliki bentuk bergurat-gurat, harum dan jika dilihat dari atas tampak seperti bentuk bintang.

Setelah mendapat izin dari tabib, mereka berdua kemudian membawa sebanyak-banyaknya buah sakti tersebut. Pasalnya satu butir buah hanya bisa menyembuhkan satu orang saja.

Sekembalinya mereka berdua ke desa, Bang Belim dan Ko Abing segera membagikan buah sakti itu kepada para warga. Ajaib, setelah warga memakan buah itu penyakit yang mereka derita langsung lenyap.

Akhirnya buah yang tersisa tinggal dua, pas untuk Bang Belim dan Ko Abing. Namun ternyata masih terdapat warga yang belum mendapatkan dua buah itu.

Batu Belimbing

Keduanya kemudian merelakan buah sakti itu kepada warga yang merupakan ibu dan anak. Kedua sahabat sejati ini kemudian tidak tertolong dan wafat pada keesokan harinya dengan iringan tangis warga.

Sebelum wafat, kedua sahabat ini berwasiat agar dimakamkan bersama di tempat mereka biasa menghabiskan waktu memandang matahari terbenam. Warga kampung akhirnya memenuhi permintaan tersebut.

Tujuh hari setelah meninggalnya dua sahabat ini, tiba-tiba muncul sebuah batu raksasa di pemakaman Bang Belim dan Ko Abing. Ajaibnya, batu raksasa itu menyerupai buah sakti yang menyembuhkan wabah penyakit di desa itu.

Warga kemudian menamai batu raksasa ini dengan nama belimbing mengambil dari dua sahabat itu. Hingga kini batu besar itu selalu berdampingan menyaksikan matahari tenggelam layaknya dua sahabat itu.

Continue Reading

Trending