Connect with us

Edukasi

Inilah Arahan Jokowi Soal Sekolah Tatap Muka

Published

on

Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), memberikan arahan terkait pembelajaran sekolah tatap muka. Jokowi menegaskan sekolah tatap muka harus dilakukan dengan ekstra hati-hati dan terbatas.

Arahan dari Jokowi itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi. Dia menegaskan Jokowi ingin sekolah tatap muka hanya dihadiri maksima 25 persen murid.

“Bapak presiden tadi mengarahkan bahwa pendidikan tatap muka yang nanti akan dimulai itu harus dijalankan dengan ekstra hati-hati,” tegas Budi Gunadi Sadikin.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

“Tatap mukanya dilakukan tatap muka terbatas. Tidak boleh lebih dari 2 hari seminggu, jadi seminggu hanya 2 hari boleh melakukan maksimal tatap muka,” dia menambahkan.

Kemudian, lanjut Menkes Budi, sekolah tatap muka setiap hari dilakukan maksimal hanya 2 jam.

“Jadi dipastikan oleh Beliau Bapak pendidikannya dilakukan dengan metode tatap muka yang terbatas, terbatasnya tersebut adalah maksimal 25% dari jumlah murid yang boleh hadir,” terangnya.

“Maksimal seminggu hanya boleh dua kali dan maksimal sekali datang hanya boleh 2 jam,” tambahnya.

Terpenting dalam kaitan sekolah tatap muka, lanjut Menkes, keputusan untuk menghadirkan anak ke sekolah sepenuhnya ditentukan oleh orang tua.

“Opsi untuk menghadirkan anak ke sekolah adalah ditentukan oleh orang tua,” tegas dia.

Edukasi

Catat, Ini Jadwal Libur Sekolah 2022-2023

Published

on

Libur sekolah

Sebentar lagi pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA di Jawa Barat akan menyambut datangnya libur kenaikan kelas 2022 sebelum memulai tahun ajaran baru.

Libur kenaikan kelas biasanya disambut dengan antusias karena termasuk masa libur panjang sekolah yang umumnya berkisar antara dua hingga empat minggu.

Terlebih sebelum libur panjang kenaikan kelas, para pelajar harus melewati rangkaian ujian kenaikan kelas (UKK) atau penilaian akhir semester (PAS) yang melelahkan.

Baru setelah penerimaan rapor serta momen kenaikan kelas, pelajar bisa menikmati masa libur panjang kenaikan kelas 2022 sebelum memasuki kelas yang baru.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Jadwal Libur Sekolah dalam Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023

Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari Raya Idul Adha: Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Tahun Baru Islam 1444 Hijriah: Sabtu, 30 Juli 2022
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Rabu, 17 Agustus 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Maulid Nabi Muhammad SAW: Sabtu, 8 Oktober 2022
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari Raya Natal: Minggu, 25 Desember 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Isra Mi’raj: Sabtu, 18 Februari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Hari Suci Nyepi: Rabu, 22 Maret 2023
Perkiraan Libur Ramadhan: Kamis-Sabtu, 22-25 Maret 2023
Jumat Agung: Jumat, 7 April 2023
Perkiraan Libur Idul Fitri: Jumat, 21 April 2023 – Jumat, 28 April 2023
Hari Raya Idul Fitri: Sabtu-Minggu, 22-23 April 2023
Hari Buruh: Senin, 1 Mei 2023
Hari Waisak: Sabtu, 6 Mei 2023
Kenaikan Isa Almasih: Kamis, 18 Mei 2023
Hari Lahir Pancasila: Kamis, 1 Juni 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023
Tahun Baru Hijriyah: Rabu, 19 Juli 2023

Continue Reading

Edukasi

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Published

on

ilustrasi e-learning

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid -19 ini, sebagaian besar sekolah pun terdorong untuk melakukan aktivitas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) secara virtual. KBM (kegiatan belajaran mengajar) pun belum dapat sepenuhnya berjalan normal.

Saya sempat termenung, membayangkan apakah pembelajaran yang saya terapkan nanti akan efektif? Terlebih siswa baru sepenuhnya belum saya kenal. Karena, bagi saya perkenalan personal secara hakiki adalah pintu menuju keberhasilan KBM, terlebih dalam model virtual learning atau jarak jauh atau daring.

Namun, yang menjadi menarik dari kondisi ini ialah kesempatan untuk melihat keefektifan model pembelajaran virtual bagi pendidikan, khususnya pendidikan formal tingkat dasar-menengah.

Itikad baik pemerintah tatkala mencetuskan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pun Belajar dari Rumah (BDR) demi memutuskan penularan virus covid-19 tentu tak dapat dipungkiri keutamaannya.

Terlepas dari itu, apabila virtual learning dianggap sebagai big deal model pendidikan saat ini dan nanti, maka perlu diperbincangkan kemungkinan-kemungkinan ketercapaiannya.  

Sebagaimana gerakan A.W Tony Bates, dalam Teaching In Digital Age (2015) di Canada ketika mengembangkan model pembelajaran digital di kampus, itu dilakukan melalui banyak tahap seperti kajian ulang mengenai paradigma pendidikan, ilmu pengetahuan, dan keadaan masyarakat.

Tidak dimungkiri, pembelajaran virtual sangat efektif dalam memperluas ruang pembelajaran.

Seperti penjelasan Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls dalam Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, bahwa penerapan pembelajaran virtual sebagaimana “kelas maya”  bertujuan untuk mengatasi keterpisahan ruang dan waktu antara siswa dan guru

Untuk itu, gaya instruksional, penugasan, atau pun transfer knowledge tentu dapat dilakukan secara virtual dan distance sebagaimana online course, serta tayangan tutorial-tutorial bersifat teknis yang marak di youtube.

Baca Juga:

  1. Hindari Distraksi, Ini Tips yang Bisa Kamu Lakukan Saat Tugas Menumpuk
  2. Asesmen Nasional Tingkat SMP, Pembelajaran Tatap Muka Tetap Berjalan
  3. Nadiem: Pembelajaran Jarak Jauh Merusak Anak

Akan Tetapi, apakah aspirasi pendidikan bangsa secara filosofi maupun kurikulum dapat terpenuhi melalui model tersebut?

Karakter: Poros Utama Pendidikan

Pada kenyataan kurikulum, dimensi ketercapaian siswa khususnya di pendidikan menengah, tidak sebatas pada kognisi (knowledge), tapi juga sikap dan keterampilan. Terlebih, penguatan pendidikan karakter (PPK) merupakan poros pendidikan yang telah dicanangkan kemendikbud sejak 2016 lalu.

Secara resmi, Kemendikbud telah merumuskan lima nilai karakter utama yakni religius, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri, yang perlu ditanamkan dalam kepribadian siswa.

Saya tidak menyatakan model pembelajaran virtual gagal dalam menunjang kompetensi sikap dan keterampilan siswa.

Namun, perlu dipastikan kembali tentang apa yang siswa dapat -kecuali otaknya bekerja- ketika duduk di depan layar komputer, televisi, maupun gawai. Artinya, hal yang perlu dihindarkan adalah kecenderungan siswa menjadi “objek” teknologi digital, agar  dampak kontraproduktif bagi kepribadian mereka tak terjadi.

Pemerintah tentu telah menyadari hal tersebut, seperti yang disosialisasikan dalam Buku panduan BDR Melalui TVRI 13 -19 Juli 2020, bahwa program BDR menekankan kompetensi literasi dan numerasi, juga membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.  

Pada konteks ini, fungsi virtual learning termasuk program tayangan TV sebagai alternatif pembelajaran harus lebih dari sekadar penebas jarak, yang mungkin hanya dapat menumbuhkan karakter mandiri (dalam berpikir) siswa.

Pertemuan: Menjalin Spirit Guru dan Murid

Keterlibatan guru dan siswa dalam suatu momen bersama menjadi penting untuk membangun karakter siswa secara utuh.

Sebagaimana ajaran yang telah diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa guru memberi tauladan di hadapan siswa (Ing Ngarso Sung Tulodo), memberi spirit di tengah-tengah siswa (Ing Madya Mangun Karso), dan menunjang “perjalanan” siswa dari belakang (Tut Wuri Handayani ).

Begitu multidimensinya posisi guru, menyebabkan mereka dan siswa harus terjalin dalam kondisi yang “intim”.

Pandangan tersebut sejalan dengan paradigma pendidikan pesantren.  Hipzon Putra Azma, M.Hum (pengamat kebudayaan Islam) menjelaskan dalam sebuah Gelar Wicara, bahwa sebagaimana “halaqah” dalam tradisi di pondok pesantren, pertemuan siswa-guru atau kiai-santri mutlak harus terjadi.

Bahkan, momen hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan model penanaman karakter yang paling mendasar.

Wacana Pendidikan dan Realitas Masyarakat

Pada konteks pendidikan karakter ini, peran keluarga terlebih dalam program BDR otomatis menjadi keutamaan.

Maka, keadaan yang membuat siswa berjarak dengan sekolah atau guru, harus ditanggapi dengan sikap menerima, bahwa kurikulum akan terkikis otoritasnya dan tunduk pada keorganikan lingkungan keluarga.

Sebab, latar belakang siswa yang beragam pun menjadi tantangan bagi perumusan konsep pembelajaran yang tepat sasaran.

Kenyataan bahwa terdapat siswa berasal dari keluarga underprivileged, atau bahkan sebagian besar siswa berasal dari panti asuhan (asrama), maka penerapan pembelajaran akan lebih “unik “dari yang telah diagendakan secara umum.

Konsep-konsep pembelajaran virtual harus dikaji berdasarkan kenyataan tersebut. Sebab boleh jadi siswa dalam konteks kelas menengah ke bawah, akan lebih memilih membantu keluarganya berdagang di pasar, membantu ibunya mencuci pakaian, memijat punggung ayahnya yang letih pasca “narik ojek”, atau membersihkan lingkungan panti/pondok, ketimbang harus berlama-lama memegang gawai, mengerjakan tugas rangkuman makalah “virus covid-19”, atau sekadar menyimak tayangan “cara hitung cepat” di TV .

Saya jadi berpikir tentang dampak aktivitas pembelajaran tatkala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak maret lalu. 

Apakah siswa nantinya akan menjadi pribadi yang penuh otaknya, namun individualis dan kering karakternya?

Bagaimana mungkin kedewasaan beragama dan bernegara siswa dapat terbangun dengan hanya melihat tayangan visual, menerima runtutan tugas di WA, menyimak “omongan” di zoom, tanpa atmosfer komunal seperti yang terjadi di sekolah?

Bagaimana mungkin membangun kebiasaan gotong royong siswa melalui seberkas fail dalam google classroom?

Bagaimana caranya guru memupuk integritas siswa, tanpa mendorong dan menemani siswa secara langsung dari hari ke hari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumbuhkan potensi kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran virtual bagi pembangunan karakter siswa masih “tumpul”.

Tentu perlu riset lebih jauh untuk melihat potensi kesimpulan ini objektif atau tidak. 

Tulisan ini hanya sebatas “godaan”, untuk kita melihat kembali apakah pembelajaran virtual telah berdialog dengan wacana-wacana pendidikan serta kenyataan keluarga yang telah berlangsung di masyarakat. Sehingga, orientasi pendidikan karakter bangsa tidak benar-benar terkikis.

Continue Reading

Edukasi

Jangan Sedih jika Belum Lulus, Ini Jadwal PPDB Tahap II Jabar

Published

on

PPDB Jabar 2022

Hasil PPDB Jabar 2022 tahap 1 jenjang SMA/SMK diumumkan hari ini, Senin (20/6/2022) pukul 14.00 WIB. Bagi siswa yang belum lolos pada PPDB Jabar tahap 1, jangan khawatir karena masih ada kesempatan mendaftar di PPDB Jabar tahap 2.

PPDB Jabar 2022 tahap 2 ini khusus bagi siswa yang ingin mendaftar menggunakan jalur zonasi untuk jenjang SMA. Sedangkan pada PPDB Jabar 2022 tahap 2 untuk jenjang SMK khusus untuk jalur prestasi nilai rapor umum.


Melansir dari Instagram Dinas Pendidikan Jawa Barat, ada tanggal penting yang harus dicatat para calon peserta didik baru yang berencana mendaftar di PPDB Jabar 2022 tahap 2.

Bagi calon peserta didik yang belum lolos seleksi PPDB Jabar 2022 tahap 1, Anda tak perlu kecewa karena masih ada seleksi tahap 2 yang akan dibuka pada 23-30 Juni 2022.

Baca Juga:

  1. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  2. Sejarah Cijantung, Hutan Angker yang Jadi Markas Tentara Elite Kopassus
  3. Jadi Kota Kreatif Gastronomi, Ini Ragam Hal Menarik Soal Salatiga

PPDB Jabar tahap 2 dikhususkan bagi peserta yang ingin mendaftar melalui jalur zonasi SMA dan jalur prestasi nilai rapor umum SMK. Tahun ini, Disdik Jabar telah menghapus ranking rapor dari persyaratan. Jadi, peserta hanya perlu mengunggah nilai rapor semester 1 sampai 5.

Untuk jalur zonasi, terdapat penambahan daerah dari 68 menjadi 83. Hal ini untuk mengakomodir daerah-daerah perbatasan.

Agar bisa mengikuti jalur zonasi, peserta diminta untuk menyertakan Kartu Keluarga (KK) yang dikeluarkan paling singkat satu tahun sebelum PPDB. Bagaimana jika peserta menumpang alamat atau tidak berdomisili bersama orang tua? Melansir dari dokumen sosialisasi PPDB 2022, maka wajib menyertakan surat pernyataan tidak keberatan dari pemilik rumah.

Pendaftaran PPDB Jabar 2022 dibagi menjadi 2 jalur yakni jalur umum dan jalur khusus. Berikut persyaratannya

Jalur Umum

  1. Ijazah/Surat Keterangan Lulus/Kartu Peserta Ujian Sekolah
  2. Akta Kelahiran
  3. Kartu Keluarga/KTP
  4. Buku Rapor Semester 1 sampai 5
  5. Surat Tanggung Jawab Mutlak Orangtua.

Jalur Khusus

  1. Kartu Program Penanganan Kemiskinan (jalur Afirmasi)
  2. Surat Keterangan Domisili dari RT/RW (jalur Afirmasi korban bencana alam/sosial)
  3. Piagam dan Dokumentasi Prestasi (jalur Prestasi Kejuaraan) masa berlaku maksimal 5 tahun, minimal 6 bulan
  4. Surat Tugas Orangtua (jalur Perpindahan Tugas Orangtua/Anak Guru)

Continue Reading

Trending