Connect with us

Bisnis

Inilah 5 Perusahaan Pemilik Rekor IPO Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia

Published

on

Ipo

Saham, sebagai salah satu instrumen investasi di sektor pasar modal, saat ini semakin banyak diminati oleh generasi milenial. Tak heran, dalam beberapa waktu belakangan kaum milenial dinilai sudah ‘melek investasi.’

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan investor pasar modal Indonesia didominasi kalangan anak muda, terutama generasi milenial dan Gen-Z.

Di sisi lain, hal tersebut dibarengi dengan mulai masuknya berbagai perusahaan berbasis teknologi masa kini (startup), di mana ekosistemnya didominasi oleh kalangan muda seperti yang disebutkan di atas, untuk ikut menjadi pemain di industri pasar modal tanah air.

Baca Juga:

  1. Drone Israel Ditembak Jatuh Hizbullah di Lebanon
  2. Taliban Ancam Balik Amerika Serikat
  3. Demi Tingkatkan Perdagangan, Menteri Luar Negeri Israel Kunjungi Bahrain

Maka tidak heran, jika keputusan berbagai perusahaan teknologi untuk mulai masuk ke pasar modal lewat langkah IPO tidak hanya didasari oleh tujuan untuk meraih peluang pendanaan yang lebih besar, namun juga karena kondisi pasar yang saat ini didominasi oleh kalangan muda yang memiliki karakteristik sama dengan ekosistem perusahaan teknologi itu sendiri.

Seakan memberi angin segar, langkah mulai masuknya perusahaan teknologi startup ke pasar modal yang dilakukan Bukalapak, bahkan diproyeksikan akan mencetak sejarah baru berupa peraih dana IPO (Initial Public Offering) terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.

MyCity telah kerangkum beberapa perusahaan yang memiliki rekor IPO terbesar dalam sejarah Indonesia. Berikut daftarnya.

Adaro Energy

Adaro Energy

Adaro Energy yang memiliki nama emiten ADRO, merupakan perusahaan pertambangan batu bara terpadu yang berbasis di Indonesia. Adaro dan beberapa anak perusahaannya bergerak dalam bidang pertambangan batu bara, perdagangan batu bara, jasa kontraktor penambangan, infrastruktur, logistik batu bara, dan kegiatan pembangkit tenaga listrik.

Perusahaan ini mengambil langkah IPO pada 16 Juli 2008 dan melepas 34,83 persen kepemilikan saham ke publik, dengan penawaran harga Rp1.100 per lembar saham. Pada akhirnya, perusahaan berhasil meraih perolehan dana lewat IPO sebesar Rp12,2 triliun, yang sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam sejarah IPO di Indonesia hingga saat ini, mengingat IPO yang dilakukan Bukalapak belum disahkan secara resmi untuk tercatat di bursa saham.

Indofood CBP Sukses Makmur

Indofood CBP Sukses Makmur

Tercatat dengan nama emiten ICBP di BEI, Indofood melakukan IPO pada 7 Oktober 2010, dan melepas sebanyak 20 persen saham yang dimiliki ke publik dengan harga penawaran sebesar Rp5.395 per lembar saham.

Lewat langkah IPO tersebut, perusahaan dengan produk bintang Indomie yang mendunia ini berhasil meraih pendanaan mencapai Rp6,3 triliun.

Waskita Beton Precast

Waskita Beton Precast

Posisi ketiga dari rekor perolehan dana IPO tertinggi dalam sejarah Indonesia diraih oleh anak perusahaan BUMN Waskita Karya. Mencatatkan nama di bursa saham dengan kode WSBP, perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur ini melakukan langkah IPO pada 20 September 2016.

Banyaknya saham yang dilepas ke publik dapat dikatakan cukup besar namun dengan harga penawaran yang terbilang rendah dibanding 2 peringkat sebelumnya, yaitu sebanyak 40 persen saham yang dilepas dengan harga penawaran Rp490 per lembar saham.

Menariknya, langkah IPO yang dilakukan hanya berselang dua tahun sejak anak perusahaan ini didirikan pada tahun 2014, berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp5,6 triliun.

Bayan Resources

Bayan Resources

Sama halnya seperti Adaro Energy, Bayan Resources merupakan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara dan berlokasi di Kalimantan Timur serta Kalimantan Selatan. Perusahaan ini memproduksi batu bara mulai dari batu bara kokas semi lunak, batu bara sulfur ramah lingkungan, dan batu bara sub-bituminous.

Melakukan IPO pada 12 Agustus 2008, banyaknya persentasi saham yang dilepas ke publik sebesar 25 persen dengan harga penawaran Rp5.800 per lembar saham. Berkat langkah IPO tersebut, perusahaan yang memiliki nama emiten BYAN di BEI ini berhasil memperoleh dana sebanyak Rp5,55 triliun.

Borneo Lumbung Energi

Borneo Lumbung Energi

Posisi ke-5 yang berhasil meraih rekor pendanaan tertinggi lewat IPO kembali diraih oleh perusahaan pertambangan batu bara, yaitu Borneo Lumbung Energi. Perusahaan ini melepas saham perdana sebanyak 25 persen ke publik pada 26 November 2010, dengan harga penawaran Rp1.170 per lembar saham.

Lewat langkah IPO tersebut, perusahaan yang saat ini memiliki nama emiten BORN di BEI berhasil meraih pendanaan sebesar Rp5,1 triliun.

Dari kelima jajaran perusahaan di atas, dapat dilihat bahwa saat di mana startup berbasis teknologi belum semasif sekarang, pasar modal di Indonesia masih didominasi oleh emiten yang bergerak di industri manufaktur berbasis sumber daya alam, setidaknya sampai saat ini.

Bisnis

Merah Putih Fund, Solusi Jitu Pemerintah Jaga Startup Indonesia dari Intervensi Asing

Published

on

Merah Putih Fund
Merah Putih Fund

Industri startup di Indonesia saat ini mencapai puncak kejayaan. Salah satu indikatornya adalah gelar unicorn, terkait kemampuan perusahaan dalam melampaui ambang nilai valuasi yang telah ditentukan untuk dapat meraih gelar tersebut.

Kini, sudah banyak startup Indonesia yang meraih gelar unicorn. Belum lagi, ada sekitar selusin perusahaan startup Indonesia yang kini menunggu waktu untuk meraih gelar tersebut.

Namun terlepas dari pencapaian yang telah dimiliki, kondisi sebenarnya justru memunculkan keprihatinan yang mendapat perhatian bersar dari berbagai pihak, termasuk masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran serta kepedulian tinggi akan sektor industri startup di tanah air, yaitu mengenai keberhasilan startup Indonesia dalam meraih gelar unicorn yang nyatanya bisa terjadi karena sokongan dari sejumlah pihak dan investasi asing.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Ragam komentar dan pandangan kritis tersebut nyatanya sudah ramai dibicarakan oleh masyarakat selama beberapa waktu ke belakang. Yang di saat bersamaan juga menjadi perhatian tersendiri oleh pemerintah, dan pada akhirnya memunculkan solusi lewat inisiasi Merah Putih Fund.

Bukan baru-baru ini mendapatkan perhatian khusus, sejak beberapa waktu lalu sebenarnya sudah ramai sejumlah pihak yang menyayangkan banyaknya startup besutan Indonesia ternyata lebih banyak didominasi oleh pihak asing.

Menteri BUMN Erick Thohir, pada beberapa waktu lalu bahkan secara terang-terangan pernah mengungkapkan kekecewaan tersebut, dan disampaikan oleh Arya Sinulingga selaku Staf Khusus Kementerian BUMN.

“Kita ini kecewa, ternyata Gojek itu dikuasai asing sekarang, Tokopedia dikuasai asing, Bukalapak juga, tidak ada investor lokal masuk,” ujarnya.

Kekecewaan tersebut terjadi memang bukan tanpa alasan, selain banyaknya startup Indonesia yang pada mulanya masih merintis di tanah air namun berhasil meroket berkat pendanaan asing, fakta lain menunjukkan bahwa sejumlah bibit startup ternama yang ada di Indonesia ternyata memiliki founder atau pendiri utama yang merupakan warga negara non-Indonesia.

Sebut saja Ula, startup yang beroperasional di Indonesia dan baru-baru ini menarik perhatian karena mendapat pendanaan dari Jeff Bezos tersebut, ternyata pertama kali diprakarsai oleh Nipun Mehra yang inkubasinya berlangsung di Singapura.

Di lain sisi ada pula Xendit, startup yang sudah meraih gelar Unicorn tersebut didirikan oleh pemrakarsa utama asal Australia bernama Moses Lo.

Menyadari kesalahan yang diperbuat dengan kurangnya atensi sejumlah investor dalam negeri untuk memperhatikan startup tanah air saat masih dalam tahap pengembangan di masa lalu, membuat pemerintah melakukan pembenahan dengan menyiasati pendanaan di waktu yang akan datang agar tak lagi kehilangan momentum.

Strategi tersebut pun diupayakan dengan kehadiran Merah Putih Fund, yang sejak beberapa waktu lalu sebenarnya sudah sering dibicarakan.

Presiden Joko Widodo akan meluncurkan Merah Putih Fund pada pertengahan Desember mendatang. Merah Putih Fund merupakan pendanaan lokal guna mendukung perusahaan rintisan atau startup Indonesia agar menjadi perusahaan berskala lebih besar.

“Kita akan meluncurkan Merah Putih Fund didukung Telkom dan Telkomsel,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir.

Merah Putih Fund pun bakal melibatkan tiga perusahaan BUMN lainnya yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. Menurutnya, intervensi dari BUMN diperlukan dalam proses pendanaan agar perusahaan rintisan lokal lebih nasionalis.

Erick menegaskan, banyak perusahaan rintisan Indonesia yang pindah ke luar negeri untuk memperoleh pendanaan lebih besar. Maka guna menekan risiko tersebut, nantinya perusahaan rintisan yang akan memperoleh pendanaan harus dibangun oleh orang Indonesia, beroperasi di dalam negeri, dan harus melakukan penawaran saham perdana atau go public di Tanah Air.

“Boleh go public di luar negeri, tetapi harus terlebih dahulu di Indonesia,” tuturnya. Erick melanjutkan.

Erick menyatakan, BUMN merupakan sepertiga kekuatan ekonomi nasional. Sayangnya saat pandemi, 90 persen perusahaan milik negara tersebut turut terdampak.

“Selain kekuatan, BUMN juga penyeimbang dan intervensi. BUMN itu unik, dia korporasi tapi juga public service, misal karena Covid-19 penumpang kereta api hanya 15 persen, kalau rugi begitu perusahaan swasta bisa setop, tapi BUMN nggak boleh setop,” tutur Erick.

Adapun syarat yang dimaksud memuat sejumlah ketentuan yang melibatkan kegiatan di dalam negeri, mulai dari pendirian hingga kemungkinan membuka saham ke publik.

“Ada tiga benang merahnya. Satu founder-nya harus orang Indonesia, kedua operasional perusahaannya di Indonesia, ketiga go public-nya mesti di Indonesia, bukan go public di Singapura,” dia memungkasi.

Continue Reading

Bisnis

Indonesia Kini Punya Senjata Sendiri, Erick Thohir Bentuk BUMN Industri Pertahanan

Published

on

PT LEN Industri
PT LEN Industri

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera membentuk Holding BUMN Industri Pertahanan (Inhan). Holding ini nantinya akan dikepalai oleh PT LEN Industri (Persero).

Sedangkan BUMN yang akan menjadi anak usahanya adalah PT PAL Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero).

“Setiap kreditur atau pihak yang memiliki tagihan terhadap masing-masing perusahaan yang disebutkan di atas dapat mengajukan keberatannya atas Rencana Pengambilalihan di masing-masing perusahaan ini secara tertulis kepada masing-masing perusahaan dengan alamat sebagaimana disebutkan berikut ini dalam jangka waktu 14 hari kalender setelah tanggal pengumuman,” tulis pengumuman tersebut, Selasa (30/11/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Dalam rangka pembentukan holding ini, perusahaan telah mengumumkan rencana pengalihan seluruh saham seri B milik negara di empat BUMN tersebut ke Len Industri.

Jika sudah melewati maka keberatan yang disampaikan tidak akan diterima dan dianggap setuju terhadap rencana pengalihan saham tersebut.

Len Industri yang akan menjadi induk usaha Holding BUMN Pertahanan ini menjalankan usaha pengembangan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana.

Beberapa proyek yang digarap seperti sistem kersinyalan kereta api, pembangunan urban transport, jaringan infrastruktur telekomunikasi, elektronika untuk pertahanan, baik darat, laut, maupun udara, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan radar cuaca, Stasiun Monitoring Gempa Bumi, Broadcasting.

Holding ini ditargetkan akan selesai tahun. Saat ini tahapannya dalam proses harmonisasi dan menunggu diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP).

Direktur Utama Len Industri Bobby Rasyidin mengatakan pembentukan holding BUMN Indhan merupakan solusi untuk mempercepat kemandirian industri pertahanan Indonesia, serta opsi paling optimal karena dapat menyeimbangkan faktor penciptaan nilai dan faktor kemudahan implementasi.

“Holdingisasi akan meminimalisir terjadinya tumpang tindih produk dan sistem dari masing-masing BUMN anggota holding,” kata Bobby dalam siaran persnya, dikutip Selasa (30/11/2021).

Selain itu, holdingisasi akan dapat memperkuat struktur modal dan akses pendanaan, meningkatkan daya saing, bargaining power dalam kerjasama dan alih teknologi, membuat operasional menjadi efisien, dan mendorong ekosistem industri pertahanan secara keseluruhan yang ada di dalam negeri.

Continue Reading

Bisnis

4 Merek Sepeda Lokal dengan Kualitas Internasional

Published

on

Element
Element

Pandemi Covid-19 membuat semua orang fokus untuk menjaga kesehatan untuk menambah imunitas tubuh. Selain mengonsumsi vitamin, olahraga menjadi hal yang penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh.

Bersepeda menjadi olahraga terpopuler selama pandemi Covid-19. Selain untuk olahraga, orang-orang juga menjadikan kegiatan bersepeda sebagai hiburan sekaligus menjadi moda transportasi untuk bepergian ke berbagai tempat.

Banyak pula orang yang bersepeda untuk mengusir kejenuhan karena adanya pembatasan sosial membuat masyarakat tidak leluasa untuk bepergian.

Bersepeda tentunya menjadi tren yang positif di tengah pandemi. Pun, meski tren akan memudar seiring waktu, kegiatan bersepeda tentu bisa tetap dilakukan kapanpun dan tak lekang oleh waktu.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

MyCity telah merangkum beberapa merek sepeda buatan lokal yang kualitasnya mampu bersaing dengan produk internasional. Harganya pun tak terlalu mahal.

Polygon

Polygon

Salah satu merek sepeda lokal yang terkenal dengan kualitasnya adalah Polygon Bikes. Merek sepeda ini telah berdiri sejak tahun 1989 dan berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur.

Sejak tahun 2010, Polygon Bikes telah melebarkan sayap ke pasar internasional dan sepeda buatan lokal ini sudah tersebar ke 33 negara, termasuk Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Saat ini, Polygon Bikes juga memiliki 300 jaringan mitra di Indonesia dan lebih dari 650 outlet di luar negeri. Keberhasilan dalam menembus pasar internasional salah satunya karena konsistensi Polygon dalam produksi sepeda, yang tak hanya untuk alat transportasi, tetapi untuk kebutuhan gaya hidup serta fokus pada penentuan desain dan kualitas sehingga mampu bersaing dengan merek-merek dari luar negeri.

Polygon telah melakukan berbagai inovasi yang diakui dunia seperti Floating Suspension System di tahun 2012 dan tren Enduro-All Mountain pada tahun 2016.

United

United
United

United juga bukanlah pemain baru, merek ini sudah ada di Indonesia sejak tahun 1991. Produk-produk yang dihadirkan United antara lain sepeda gunung, sepeda lipat, road bike, BMX, sepeda anak, dan sepeda touring. Dari tahun ke tahun, United selalu mengembangkan varian sepeda dengan mengikuti tren dan teknologi terbaru.

United menjadi salah satu merek sepeda asli Indonesia yang dikenal inovatif, ramah lingkungan, beradaptasi dengan teknologi, serta telah menembus pasar mancanegara. Jenama satu ini sudah menjual produknya sampai ke Denmark, Spanyol, Italia, Portugal, dan Kanada. Pada tahun 2017 lalu, United berhasil mengekspor 10 ribu unit sepeda ke Spanyol.

Pada bulan November 2021 ini, United baru saja merilis sepeda lipat seri Plasm Matic yang punya fitur ganti gigi otomatis dengan harga Rp5 jutaan.

Pacific

Pacific
Pacific

Merek sepeda Pacific yang berada di bawah naungan PT. Roda Pasifik Mandiri di Semarang, Jawa Tengah telah berkiprah di industri sejak tahun 1995. Dari tahun ke tahun, Pacific terus berinovasi dan menambah varian sepeda seperti sepeda lipat, sepeda gunung, BMX, hingga city bike.

Awalnya, Pacific mengeluarkan sepeda gunung dengan kelas menengah ke bawah. Namun, pada tahun 2018, Pacific pun melebarkan lini produksinya untuk menyasar pasar kelas menengah ke atas. Terbukti sepeda gunung buatan Pacific pun mendukung timnas balap sepeda di gelaran ASIAN Games tahun 2018.

Tahun ini, Pacific pun mengeluarkan seri terbarunya yaitu Pacific Splendid 100, sepeda lipat dengan harga Rp2,5 jutaan dan sepeda balap Pacific Whizz seharga Rp22 juta untuk para pebalap dengan frame dari bahan karbon ringan yang aerodinamis untuk memaksimalkan kecepatan.

Element

Element

Kemudian, ada merek sepeda Element di bawah naungan PT. Roda Maju Bahagia. Salah satu produk unggulan Element adalah sepeda gunung dengan desain menarik, berkualitas, tapi tetap terjangkau.

Element telah berdiri sejak tahun 2008 dan mengimpor sepeda dari Taiwan serta China. Baru pada tahun 2015 mereka membuka pabrik seluas 12 ribu meter di Tangerang kemudian bermigrasi menjadi perusahaan manufakturing sepeda.

Pada tahun 2019, perusahaan sepeda lokal tersebut mampu meraih penjualan sampai 150 ribu unit dan setiap harinya mereka bisa menghasilkan 850-1.000 unit sepeda. Kemudian, sepanjang tahun 2020 rekor penjualan mereka mendekati Rp1 triliun dan mayoritas berasal dari penjualan sepeda lipat.

Saat ini, penjualan sepeda Element tak hanya tersebar di seluruh penjuru Nusantara, tetapi sudah diekspor ke beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, India, dan Korea.

Continue Reading

Trending