Connect with us

Traveling

Inilah 3 Pilihan Destinasi Sport Tourism Paling Ciamik di Indonesia

Published

on

Sport tourism di Indonesia

Pemerintah Indonesia berupaya keras untuk mengembangkan sport tourism atau wisata olahraga. Untuk mewujudkannya, dua kementerian, yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), bekerjasama.

Menurut Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf, Rizki Handayani, sebenarnya sport tourism telah lama dikembangkan di Indonesia, khususnya untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Baca Juga:

  1. 5 Tren Jilbab Tahun 2021, Bikin Kamu Makin Fashionable
  2. Tradisi Omed-Omedan Bali yang Sakral dan Sarat Makna
  3. 5 Fakta Menarik Drakor “The Witch’s Dinner”

“Sebenarnya kita sudah jalan lama kalau bicara mengenai sport tourism, dari dulu kita sudah punya event olahraga seperti Tour de Singkarak, Ironman 70.3 Bintan, dan masih banyak lagi,” kata Rizki.

MyCity telah merangkum tiga daerah wisata di Indonesia yang telah siap untuk menggelar sport tourism.

Paralayang di Sidenreng Rappang (Sidrap)

Sidrap


Bukit Bujung Pitue, Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Sulawesi Selatan, akan jadi lokasi sport tourism untuk paralayang. Pada Minggu, 23 Mei 2021, Bupati Sidrap, Dollah Mando didampingi sejumlah pejabat Pemkab Sidrap menyaksikan langsung sejumlah atlet terbang dengan paralayang.

“Olahraga ini menjadi aktivitas menarik dan objek wisata baru di Bumi Nene Mallomo. Tak hanya itu, Paralayang dapat mengangkat sektor olahraga sekaligus pariwisata. Insya Allah juga akan memberi nilai tambah perekonomian masyarakat,” ujar Dollah Mando, seperti dikutip rakyatsulsel.co.

Pemkab Sidrap ke depannya akan mendukung pengembangan olahraga paralayang. Bahkan, mereka akan membangun tempat latihan untuk mencetak atlet. Nantinya, akan ada dua lokasi yang bisa digunakan untuk wisata paralayang, yaitu Desa Lainungan untuk rekreasi dan pemula serta daerah Mallocie bagi penerbang profesional.

Berkuda di Dieng

Dieng


Selama ini, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, lebih terkenal dengan aneka wisata alamnya. Nah, kali ini Dieng juga akan dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata olahraga berkuda. Sebenarnya potensi cabang olaharga berkuda memang sudah ada di Dieng. Mengingat populasi kuda pacu di daerah tersebut cukup banyak.

“Kami sangat mengapresiasi para penggemar olahraga berkuda di Dieng dan mendorong segera dibentuk Pengkab PORDASI karena potensi dan populasi kuda di Banjarnegara ternayata cukup besar,” ujar Nurohman Ahong, Ketua KONI Banjarnegara, kepada timesindonesia.co.id.

Nurohman melanjutkan, pihaknya akan menggelar acara regional Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk olahraga berkuda. Acara tersebut bertajuk Kejuaraan Berkuda Se-Jateng dan DIY Piala KONI Banjarnegara.

Mandalika

Mandalika


Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Mandalika di Lombok Tengah sedang dicanangkan menjadi destinasi wisata olahraga. Menparekraf tengah melakukan percobaan olahraga triatlon di Mandalika.

Nantinya, pengunjung bisa berenang sejauh 500 meter di Pantai Tanjung Aan, lanjut bersepeda 7 kilometer ke arah West Gate The Mandalika, kemudian berlari sejauh 2,5 kilometer sampai Kuta Beach Park.

Abdulbar M. Mansoer, Direktur Utama ITDC, menyampaikan bahwa kawasan Mandalika ini snagat lengkap dan bisa disiapkan untuk beragam jenis olahraga. Ia pun yakin kalau Mandalika akan jadi destinasi sport tourism unggulan Indonesia.

Beberapa tahun terakhir ini, Mandalika juga sudah pernah jadi tempat diadakannya sejumlah acara olahraga besar seperti TNI Marathon, acara paralayang Trip of Indonesia (TROI) di Kuta Beach Park, Mandalika Offroad Championship, hingga kompetisi selancar internasional di Pantai Seger. Bahkan, Mandalika juga jadi lokasi untuk MotoGP 2022 dan balap sepeda internasional L’Etape yang merupakan bagian dari Tour de France.

Pada 8 Agustus 2021 yang akan datang, akan diadakan ajang olahraga triatlon Hutama Karya Endurance Challenge (HKEC). Peserta akan berenang dua kilometer dari Gili Air menuju pantai Sire Lombok Utara. Kemudian, dilanjutkan berspeda 100 kilometer sampai ke Mandalika, lalu berlari hingga 21 kilometer di kawasan Mandalika.

Traveling

Air Terjun Sri Gethuk, Indah tapi Sering Ada Suara Terompet Gaib

Published

on

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk merupakan bagian dari wisata Gunung Kidul yang menawarkan pesona, dan adventure ke lokasi utama air terjun yang berbeda dari yang lain.

Berlokasi di Mungguran II, Bleberan, Kec. Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta(maps). Tempat ini sekarang sudah mulai ramai pengunjung.

Meskipun kondisi jalan yang tidak mudah dilalui terutama jika menggunakan kendaraan besar, akan tetapi tidak menyurutkan langkah para pengunjung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Untuk bisa menuju kesana, dari arah kota Jogja kamu bisa meluncur ke Jl. Wonosari sampai ke Piyungan dan lanjuk ke Pathuk kemudian Sambipitu sampai ketemu pertigaan Lanud TNI AU atau lapangan Gading. Dari sana kamu ambil kanan ke arah Playen. Nanti setiba di pasar Playen kamu bisa bertanya ke penduduk sekitar lokasi tepatnya Air Terjun Sri Gethuk ini.

Air terjun Sri Gethuk juga sering di sebut Air terjun Slempret. Nama slempret diambil dari satu cerita mengenai keberadaan air terjun, yang sering terdengar bunyi seperti slompret alat musik tiup.

Masyarakat sekitar mempunyai keyakinan bahwasannya air terjun tersebut merupakan tempatnya para jin, yang keberadaannya dipimpin oleh sorang jin bernama Jin Anggo Menduro.

Air Terjun Sri Gethuk

Para jin tersebut sangat menyukai dengan kesenian. Pada saat-saat tertentu dari balik air terjun terdengar suara salah satu jenis alat musik. Namun, kalau didekati suara tersebut akan menghilang. Nah, dari cerita tersebut menjadikan nama air terjun seperti nama alat musik yang terdengar dari air terjun.

Bila Kawan mengunjungi air terjun ini, Kawan dapat menimati dua tempat wisata bersamaan, yaitu Sungai Oyo dan Air Terjun Sri Gethuk. Kawan juga bisa berfoto ria maupun bermain air di bawah air terjun.

Air Terjun Sri Gethuk

Untuk dapat memasuki kawasan wisata ini, Kawan diwajibkan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang dan bila ingin menggunakan perahu dikenakan biaya Rp10.000 per orang untuk pulang pergi. Apabila Kawan membawa kendaraan, Kawan juga akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.

Jika Kawan berkunjung ke tempat ini, pasti Kawan akan suka dan takjub. Disarankan juga bila ingin berkunjung, hindari pada saat musim penghujan karena arus Sungai Oyo yang semakin deras dan debit air terjun yang semakin tinggi akan lebih membahayakan.

Continue Reading

Traveling

Bubohu, Desa Wisata Religi Berbasis Alam di Gorontalo

Published

on

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

Desa Adat Bubohu yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Religius oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo karena pesona dari wisata budaya yang tersimpan baik di desa ini. Desa adat ini juga merupakan sebuah pesantren alam di mana di dalamnya terdapat para santri yang tengah menimba ilmu agama Islam.

Selain mempelajari agama Islam, Desa Adat Bubohu juga merupakan tempat belajar untuk mengenal lebih jauh sejarah dari Kerajaan Gorontalo. Maa Taduwolo, sebuah tempat di dalam lingkungan desa adat ini menyimpan berbagai macam sumber yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Gorontalo.

Ketika menyambangi Desa Adat Bubohu, pengunjung akan disambut oleh kumpulan fosil kayu di depan pintu masuk desa yang berbaris rapi di atas permukaan tanah.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Di dalam lingkungan pesantren alam Bubohu, terdapat satu pemandangan khas yaitu barisan gubuk khas Gorontalo yang disebut Wambohe berjajar rapi di lingkungan pesantren.

Selain Wombohe, di dalam lingkungan pesantren juga terdapat beberapa bangunan kayu yang bentuknya menyerupai Toyopo atau wadah yang biasa digunakan masyarakat Bungo untuk menyimpan kue saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, jauh di atas puncak bukit, namun masih masuk daerah Desa Bubohu, terdapat juga sebuah mesjid yang diberi nama Masjid Walima Emas.

Menparekraf Sandiaga Uno menyatakan, keberadaan Desa Wisata Religi Bubohu ini menandakan kebangkitan dari pariwisata berbasis komunitas, edukasi, dan religi. Potensi yang sudah ada pun harus dikembangkan lagi demi menarik minat wisatawan, terutama untuk wisata religinya serta untuk menggerakan perekonomian masyarakat.

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

“Kita melihat tadi ada potensi untuk dibuatkan paket-paket yang bisa ditawarkan di saat liburan karena wisatawan nusantara sekarang sangat ingin mendapatkan pengalaman spiritual,” kata Sandiaga, seperti dikutip dari laman Kemenparekraf.

“Kita bisa kembangkan wisata berbasis komunitas karena ada 11 miliar dolar AS yang dihabiskan Orang Indonesia untuk berwisata di luar negeri termasuk wisata religi di negara-negara yang memiliki paket wisata religi, sejarah, dan lain sebagainya,” dia menambahkan.

Di kawasan puncak bukit, ada sebuah masjid yang tampil mencolok dengan kubah warna emas, yaitu Masjid Walima Emas. Masjid tersebut baru dibangun pada tahun 2008 dan bagian kubahnya berlapiskan emas. Lokasinya yang berada di atas bukit pun menjadi daya tarik tersendiri. Dari masjid, pengunjung bisa melihat pemandangan Teluk Tomini yang begitu memukau.

Daya tarik lain di desa ini adalah Parade Walima yang biasa dilakukan untuk merayakan Maulid Nabi. Walima umumnya diadakan di masjid-masjid terdekat dan diawali dengan melantunkan zikir sepanjang malam.

Di area luar masjid, warga sudah menyiapkan aneka kue tradisional seperti pisangi, kolombengi, curuti, wapili, dan buludeli yang dikemas dalam plastik, kemudian disusun membentuk gunungan. Kemudian, gunungan kue itu akan diarak oleh warga. Setelah masyarakat berkumpul dan berdoa, mereka pun akan berebut kue yang diyakini akan mendapatkan keberkahan.

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

Soal kesenian, di Desa Buboho pengunjung bisa melihat penampilan tari-tarian tradisional. Misalnya tari longgo yang berasal dari seni beladiri kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.

Tari longgo menggambarkan ketangguhan para prajurit dalam mengawal raja. Saat ini, tarian tersebut biasa ditampilkan untuk menyambut tamu yang berwisata ke Desa Bubohu. Kemudian, ada tari tidi lo o’ayabu, yang merupakan tarian klasik dan pertunjukkan hiburan. Tarian ini juga biasa digunakan untuk menyambut tamu di desa.

Kuliner menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang dilakukan masyarakat Desa Bubohu. Jika mengunjungi desa wisata tersebut, Anda mesti mencoba kue kolombengi, kue sukade, bubur leluhur, lalapan leluhur, dan kue roda.

Untuk produk kriya, ada karawo yaitu kain tradisional Gorontalo yang dibuat manual dengan tangan. Karawo memiliki nilai seni yang tinggi sebab dibuat dengan proses penyulaman rumut dan motifnya pun bervariasi.

Kerajinan karawo pun merupakan keterampilan yang telah dilakukan oleh kaum wanita sejak zaman Kerajaan Gorontalo dan diwariskan secara turun-temurun.

Continue Reading

Traveling

Desa Wisata Liya Togo, Masuk Nominasi 50 Besar ADWI 2021 & Punya Benteng Peninggalan Kerajaan Buton

Published

on

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Perkembangan wisata di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara kian pesat. Desa Wisata Liya Togo menjadi salah satu tempat yang menunjukkan pesatnya perkembangan wisata di sana.

Bahkan, Desa Liya Togo masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Salah satu desa wisata Sultra ini dapat bersaing saat seleksi 100 besar nominasi ADWI 2021.

Ada 4 desa wisata Sultra berhasil lolos ADWI 2021. Yakni, Desa Wisata Sani-sani, Desa Wisata Wabula, Desa Wisata Liya Togo, dan Desa Wisata Limbu Wantiro. Namun, hanya Desa Liya Togo yang berhasil lolos 50 besar.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa potensi Desa Wisata Liya Togo dapat membantu masyarakat setempat dalam meningkatkan perekonomiannya.

“Saya sangat berbangga bisa sampai di Desa Wisata Liya Togo di Kabupaten Wakatobi. Saya sebelumnya sudah menerjunkan tim, dan ada banyak potensi yang dapat kita kembangkan. Desa ini luar biasa potensinya dan itu terbukti karena berhasil menembus 50 besar,” kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Desa Wisata Liya Togo adalah Benteng Liya. Benteng ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Buton yang juga dikenal dengan nama Benteng Keraton.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Keunikan benteng ini yaitu dibangun dari susunan batu gunung kemudian direkatkan dengan kapur dan putih telur. Benteng ini memiliki luas hingga 52 hektare dan terdiri 12 lawa atau pintu yang bisa jadi pintu keluar bagi masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar.

Di dalam kawasan benteng tersebut, pengunjung bisa melihat sebuah masjid tua bernama Masjid Mubarok yang dibangun pada tahun 1546. Namanya juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Keraton Liya. Di bagian kri masjid ini terdapat pemakaman yang cukup lebar dan ciri khasnya adalah barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Area divsekitar malam dikelilingi pagar batu dan bunga kamboja.

Konon makam itu adalah tempat peristirahatan seorang pemuda bernama sakti Talo-Talo yang diberikan daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, Talo-Talo dianggap berjasa dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sana.

Selain keberadaan masjid, di kawasan desa juga ada baruga yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk bermusyawarah. Berada di kepulauan, Desa Wisata Liya Togo juga bisa memberikan pengalaman baru pada pengunjung untuk melihat kehidupan warga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Selain menyaksikan kegiatan nelayan, pengunjung juga dapat melihat proses budidaya rumput laut dan memasak menu masakan tradisional.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Desa Wisata Liya Togo juga dikenal dengan produk kriya seperti kain tenun yang dijadikan sarung, selendang, tas, hingga ikat kepala. Kemudian ada pula kerajinan anyaman tikar, mengolah limbah jadi tas, dang katu bangko atau tudung saji.

Ibu-ibu di desa biasa melakukan homoru atau kegiatan menenun di sela-sela kegiatan utama sebagai petani atau nelayan. Kain ini juga sering disebut wuray ledha. Biasanya untuk menyelesaikan sebuah kain sarung siap pakai dibutuhkan waktu menenun hingga satu bulan.

Sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif yang dijalankan masyarakat desa Liya Togo, Menparekraf memberikan dua buah mesin jahit dan dua mesin obras. Sebab, selama ini diketahui masyarakat di desa belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir.

Selain produk kerajinan tangan, ada pula sektor kuliner yang dikembangkan masyarkat desa. Pengunjung bisa mencoba soami (kudapan dari singkong dan parutan kelapa), sirup tangkulela (belimbing wuluh), jus sampalu dari buah asam yang banyak ditemukan di sekitar benteng, keripik singkong, keripik ikan, dan lumpia abon ikan.

Continue Reading

Trending