Connect with us

CityView

Inilah 10 Kota Paling Sepi di Indonesia

Published

on

Subulussalam

Indonesia merupakan negara besar dengan populasi penduduk keempat terbesar di dunia. Namun, pemerataan penduduk masih menjadi salah satu masalah utama di Tanah Air.

Ya, konsentrasi penduduk terbanyak saat ini berada di Pulau Jawa. Data Kementerian Dalam Negeri RI tahun 2019 menunjukan sebagian besar penduduk menghuni Pulau Jawa, porsinya lebih dari 50%.

Hal ini membuat sejumlah wilayah di Pulau Jawa dikenal sebagai kota terpadat di Indonesia.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Namun, ada juga daerah-daerah berjuluk kota tersepi di Indonesia, karena penduduknya sedikit.

Biasanya, kota-kota kecil di luar Jawa memang memiliki jumlah penduduk yang sedikit, apalagi dibandingkan luas wilayah.

Bahkan, sejumlah ibu kota provinsi seperti Mataram, Nusa Tenggara Barat memiliki jumlah penduduk hanya 500 ribu orang.

Jumlah ini tentu sedikit jika dibandingkan dengan Depok, Jawa Barat yang memiliki penduduk di atas 1,5 juta jiwa.

Berikut MyCity telah merangkum beragam kota di Indonesia yang memiliki penduduk paling sedikit.

Subulussalam

Subulussalam
Subulussalam

Menduduki posisi pertama sebagai kota tersepi di Indonesia adalah Subulussalam, kota yang masih baru ini terletak di provinsi Aceh.

Terbentuk pada 2007 lalu, kepadatan penduduk kota itu hanya 67 jiwa per km persegi, luas kota Subulussalam adalah 1.391 km2 atau sekitar dua kalinya wilayah DKI Jakarta.

Kepulauan Tidore

Kepulauan Tidore
Kepulauan Tidore

Di tempat kedua sebagai kota tersepi di Indonesia adalah di Kepulauan Tidore, Maluku Utara, salah satu provinsi hasil pemekaran.

Kota yang sempat dikenal sebagai pusat penghasil rempah-rempah ini memiliki kepadatan penduduk sebesar 71 jiwa/km2, sepi juga ya.

Palangka Raya

Palangka Raya
Palangka Raya

Dengan luas wilayah 2.853 km2, Kota Palangka Raya hanya dihuni oleh 266.020 jiwa, bandingkan kalau jumlah penduduk Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan itu mencapai 105 ribu orang.

Jikla dihitung-hitung, maka kepadatan penduduk ibukota Kalimantan Tengah itu hany 93 jiwa/km2, sepi juga ya kalau tinggal di sini.

Dumai

Dumai
Dumai

Kota yang dikenal paling sepi penduduk di Indonesia selanjutnya adalah Dumai, salah satu kota penghasil minyak di Riau.

Salah satu kota terkaya di Indonesia ini hanya dihuni oleh 174 jiwa/km2, padahal Dumai memiliki luas wilayah 1.772 km2, luas sekali kan.

Pagar Alam

Pagar Alam
Pagar Alam

Kota yang berlokasi d Sumatra Selatan ini memiliki luas wilayah seluas 633 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak 189.761 jiwa.

Bila dihitung, kepadatan penduduk di daerah tersebut hanya 211 jiwa /km2, hal inilah yang mendasari Pagar Alam termasuk sebagai kota paling sepi penduduk di Indonesia.

Sawah Lunto

Sawah Lunto
Sawah Lunto

Di posisi keenam sebagai kota paling sepi di Indonesia ditempati oleh Sawahlunto, luas wilayah kota itu sejauh 273 km2 dengan jumlah penduduk hanya 62.524.

Kalau dihitung, kepadatan penduduk salah satu kota di Sumatera Barat itu hanya 230 jiwa/km2, tentunya termasuk sepi juga ya.

Sungai Penuh

Sungai Penuh

Dengan luas wilayah 391 km2, kota Sungai Penuh yang berada di Jambi ini ditempati oleh 90.910 jiwa, kota itu memiliki kepadatan penduduk hanya 231 jiwa/km.

Sungai Penuh menduduki peringkat ketujuh sebagai kota tersepi di Indonesia, cocok kalau kamu memang tidak suka memiliki tetangga.

Sabang

Sabang
Sabang

Berlokasi di Provinsi Aceh, Sabang memiliki luas wilayah 153 km2, sementara hanya 40.040 jiwa yang tercatat menghuni kota paling ujung di Indonesia tersebut.

Bila dihitung, kepadatan penduduk di kota Sabang relatif kecil, hanya 261 jiwa/km2, mungkin kamu tertarik untuk pindah ke kota ini.

Gunungsitoli

Gunungsitoli
Gunungsitoli

Di posisi kesembilan sebagai kota paling sepi di Indonesia diisi oleh Gunungsitoli, kota ini berada di Pulau Nias, pulau kecil di sebelah timur Sumatera.

Luas wilayahnya mencapai 469 km2 dan dihuni oleh 136.017 penduduk, kepadatannya berada diangka 290 jiwa/km2.

Jayapura

Jayapura
Jayapura

Kota yang berada di Provinsi Papua ini memiiki luas wilayah 940 km2, luas wilayah tersebut ditempati oleh 303.760 jiwa.

Jika dibagi, maka kepadatan penduduk Jayapura hanya 323 jiwa/km2, tentunya tidak semua wilayah dipadati penduduk.

Kalau dibandingkan dengan Pulau Bungin, tentunya memang berbeda terbalik, inilah pulau seluas 8,5 hektare yang dihuni 3.400 orang.

CityView

Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara RI, Begini Nasib DKI Jakarta

Published

on

DKI Jakarta
DKI Jakarta

DKI Jakarta tidak lagi menjadi ibukota negara dengan akan dipindahkannya ke Kalimantan Timur dengan nama baru yaitu Nusantara. Jakarta sendiri akan tetap mendapatkan status kekhususan dan Pemprov DKI Jakarta menjamin akan tetap mengelola kota ini untuk menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata.

Pemerintah telah menetapkan ibukota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur menggantikan DKI Jakarta. Untuk nama ibukota baru juga telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Nusantara dan untuk status baru Jakarta masih menunggu rancangan undang-undang (RUU) yang saat ini masih terus dibahas.

Menurut Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, saat ini merupakan timing yang sangat penting untuk membahas mengenai UU baru mengenai Jakarta dan mengulas mengenai kekhususan Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibukota negara. Pembahasan mengenai persoalan ini juga harus dilakukan segera begitu UU IKN disahkan.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

“Jakarta sebagai ibukota negara harus segera diubah supaya jangan ada dua ibukota negara. Makanya UU tentang ibukota baru harus segera disahkan dan tahap berkutnya kita harus merevisi UU mengenai Jakarta atau menerbitkan UU baru terkait Jakarta kalau tidak memungkinkan dilakukan revisi,” ujarnya.

Lebih tepatnya lagi menurut Doli, harus diterbitkan UU baru mengenai Jakarta jadi bukan lagi merevisi UU yang lama. UU mengenai Jakarta harus diterbitkan UU baru yang menyatakan perubahan status mengenai kota ini supaya tidak terjadi kebingungan.

Jakarta juga harus tetap memiliki kekhususan kendati status ibukota berpindah dan menjadi Ibukota Nusantara. Jakarta harus tetap mendapatkan status kekhususan itu karena terkait dengan sejarah maupun kontribusi kota yang selama ini telah menjadi ibukota negara.

DPR sendiri pernah menyinggung soal status Jakarta setelah pemindahan ini dan hampir semuanya sepakat untuk tetap menyematkan status kekhususan kepada Jakarta kendati bukan lagi khusus ibukota. Untuk kekhususan Jakarta sendiri akan dibahas lebih lanjut setelah status ibukota resmi disandang IKN baru.

Status baru mengenai Kota Jakarta juga nantinya bisa dibayangkan seperti kota-kota lain di dunia yang juga ibukotanya berpindah. Kita bisa melihat status maupun kekhususan di New York yang pindah ke Washington DC dengan New York berkembang menjadi kota bisnis. Begitu juga dari Melbourne ke Canberra di Australia dan Melbourne dikenal menjadi kota pendidikan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria sendiri memastikan, Jakarta akan tetap nyaman dihuni meski ibu kota pindah ke Kalimantan Timur setelah DPR RI mengesahkan Undang-Undang tentang IKN nantinya. Masih ada banyak keunggulan terkait fasilitas maupun berbagai perkantoran di kota ini yang akan menarik minat bagi masyarakat dari seluruh Indonesia bahkan dunia.

“Pemprov DKI Jakarta akan tetap bekerja untuk membuat kota ini menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata dengan baik. Salah satunya dengan mengintegrasikan transportasi di Jakarta termasuk penataan kota, antisipasi banjir, dan hal lainnya yang akan menjadikan kota ini tetap membanggakan,” katanya.

Continue Reading

CityView

Ini Dia 5 Bandara Terbesar di Indonesia

Published

on

By

Bandara

Bandara menjadi penghubung perjalanan orang maupun barang, dari satu tempat ke tempat lain melaui jalur udara. Di Indonesia pun terdapat banyak bandara yang besar, dengan fasilatas yang lengkap.

Bandar udara, atau sering disingkat dengan kata Bandara ini merupakan sebuah fasilitas di mana pesawat terbang seperti pesawat udara dan helikopter dapat lepas landas dan mendarat. Setiap orang pasti mendatangi tempat ini jika ingin berpergian jauh ke suatu wilayah, lewat jalu udara.  Biasanya dengan transportasi udara ini, membuat waktu perjalanan yang jauh menjadi lebih singkat.

Di Indonesia pun ada begitu banyak Bandara yang tersedia di setiap daerahnya. Berikut mycity telah merangkum 5 bandara terbesar yang ada di Indonesia:

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Bandara ini sudah sangat terkenal diberbagai kalangan. Hal itu karena tempatnya yang luas, dibandingkan dengan Bandara lainnya yang ada di Indonesia. Bahkan Bandara ini memang dijuluki Bandara terbesar di Indonesia. Bandara Internasional Soekarno-Hatta terletak di Kota Tangerang, Banten. Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1985, dengan luas arenya mencapai 2.555 hektar. Diketahui Bandara ini menampung sekitar 43 juta penumpang setiap tahunnya.

Baca Juga:

  1. Inilah 8 Desa Wisata Indonesia yang Terkenal Seantero Dunia
  2. PPKM Level 3 Dibatalkan, Turis Lokal yang Kunjungi Bali Diprediksi Capai 20 Ribu Orang per Hari
  3. Inilah 6 Wisata Islami di Bali

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati

Posisi kedua untuk Bandara terbesar di Indonesia ditempati oleh Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Luas tanah Bandara ini sekitar 1.800 hektar. Bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka ini pada tanggal 24 Mei 2018, telah sah diresmikan. Sekitar 29 juta untuk kapasitas BIJB Kertajati per tahunnya.

Bandara Internasional Hang Nadim

Selanjutnya ada Bandara Internasional Hang Nadim, yang merupakan Bandara terbesar ke-3 yang ada di Indonesia. Bandara ini memiliki luas area sekitar 1.762 hektar, dengan kapasitas 5 juta penumpang per tahunnya. Lokasi Bandara tersebut berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Batam, Kepulauan Riau.

Bandara ini juga berada di jalur perdagangan segita emas anatar Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Hampir lebih dari 1.4000 orang per harinya Bandara ini melayani penumpang saat jam operasional memuncak.

Bandara Internasional Kualanamu

Peringkat 4 Bandara terbesar di Indonesia, jatuh kepada Bandara Internasional Kualanamu. Bandara ini terletak di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Luas area yang dimiliki bandara ini mencapai 1.650 hektar. Sekitar 8 juta per tahun untuk kapasitas penumpang di bandara ini. Bandara tersebut diharapkan bisa menjadi Bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Bandara Internasional Kualanamu diresmikan sejak 25 Juli, 2013.

New Yogyakarta International Airport (NYIA)

Terakhir, urutan nomor 5 untuk Bandara terbesar di Indonesia diraih oleh New Yogyakarta International Airport (NYIA). Luas area pada bandara ini mencapai 587 hektar. Bandara ini berlokasi di Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. New Yogyakarta International Airport (NYIA) jam terbang operasinya masih belum lama. Walupun terbilang baru, Bandara tersebut ditargetkan mempunyai kapasitas penumpang sampai 20 juta per tahunnya. Akan tetapi dikarenakan situasi pandemi yang melanda, hanya berkisar 1,2 juta orang pada tahun 2021.

Continue Reading

CityView

Sejarah Panjang Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, dari Era Soekarno Hingga Jokowi

Published

on

IKN Nusantara
IKN Nusantara

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), memutuskan Ibu Kota Negara (IKN) baru berada di Balikpapan, Kalimantan Timur. Jokowi memberi nama IKN baru tersebut Nusantara.

Sebenarnya, proses untuk memindahkan ibu kota negara Indonesia dari Jakarta sudah tercetus sejak zaman Presiden pertama Soekarno. Pada tahun 1957, Soekarno menggagas pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya.

Soekarno saat itu meresmikannya sebagai Ibu Kota Kalimantan Tengah. Namun, rencana tersebut akhirnya tak pernah terwujud hingga kejatuhannya pada periode 1966-1967.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

Kemudian di era Presiden kedua RI, Soeharto, wacana pemindahan ibu kota negara Indonesia juga tercetus. Pada tahun 1997, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 1 tahun 1997 Tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol sebagai kota mandiri.

Soeharto kala itu bertujuan menjadikan Jonggol sebagai pusat pemerintahan. Rencana daripada era Soeharto itu kemudian gagal, karena reformasi menggulingkan Soeharto.

Era kepresidenan BJ Habibie, Gus Dur dan Megawati, yang kesemuanya sangat singkat menjadi presiden, isu pindah ibukota tak terdengar. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), wacana pindah ibukota muncul lagi.

Bulan September 2010, Presiden SBY membentuk tim kecil untuk mengkaji ide pemindahan ibukota negara. Hasilnya kemudian muncul skenario terkait pemindahan ibukota negara. Pertama, mempertahankan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kedua, memindahkan ibukota dari Jakarta ke daerah baru yang masih dalam pulau Jawa. Ketiga, memindahkan ibukota negara ke luar pulau Jawa.

Pada masa SBY, muncul beberapa kandidat ibu kota negara. Palembang salah satunya.

Palembang adalah kota tua sudah lama berkembang di Sumatera belahan selatan. Kota sungai ini kebetulan terkait dengan kerajaan Sriwijaya di masa lalu.

Isu Palembang sebagai kandidat ibukota negara tentu disambut masyarakat Palembang. Pada 2011 kota ini semakin dilengkapi banyak fasilitas umum seperti LRT karena Sea Games 2011 diadakan pula di sana.

Kandidat lain, Lampung Timur, yang sebelum ada isu ibu kota negara sudah mengalami masa menjadi daerah tujuan transmigrasi. Daerah dataran ini tidaklah jauh dari sumber pangan. Sama seperti Palembang yang dekat dengan Belitang sebagai lumbung beras Sumatra Selatan.

Kandidat lainnya lagi Karawang, Jawa Barat, sempat pula masuk bursa calon ibu kota negara, juga daerah penghasil beras ini tidaklah jauh dari Jakarta.

Ya, Nusantara merupakan wujud konkret rencana-rencana dari para Presiden Indonesia terdahulu. Jika di zaman mereka hanya sebatas wacara dan kajian, Presiden Jokowi mewujudkan hal ini di eranya.

Continue Reading

Trending