Connect with us

CityView

Inilah 10 Gereja Tertua & Terindah di Indonesia

Published

on

Gereja tertua di Indonesia

Meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, ada pula masyarakat yang memeluk agama lain termasuk Kristen. Hal ini terbukti dari banyaknya gereja-gereja tua yang dibangun pada masa lampau dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Sejumlah gereja tua di Indonesia tentunya memiliki nilai historis dan menjadi saksi dari berkembangnya agama Kristen, baik Katolik dan Protestan, di Indonesia. Beberapa gereja telah dibangun pada masa kolonial Belanda dan terlihat dari arsitekturnya yang megah serupa bangunan-bangunan di Eropa.

Namun, ada juga yang memadukan gaya Eropa dengan unsur tradisional Nusantara. MyCity telah merangkum 10 gereja tertua di Indonesia.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Gereja Santa Maria de Fatima

Gereja Santa Maria de Fatima
Gereja Santa Maria de Fatima

Terletak di daerah pecinan Glodok, Jakarta Barat, Gereja Santa Maria de Fatima atau dikenal juga dengan Gereja Ricci merupakan gereja bersejarah di Indonesia yang sekilas terlihat seperti klenteng . Hal itu dikarenakan gereja tertua dan bersejarah ini dibangun dengan arsitektur khas Fukien atau Tiongkok Selatan yang akrab dengan dominasi ornament berwarna merah, kuning, dan emas.

Gedung yang menjadi tempat ibadah umat Katholik ini dibangun pada abad ke-19 tepatnya pada tahun 1954 oleh seorang kapten keturunan Tionghoa bermarga Tjioe.

Nama gereja ini diambil dari cerita penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala di Fatima, Portugal. Kamu bisa melihat gambaran cerita tersebut dalam relief Gua Maria yang terletak di sisi kanan gereja. Dari awal berdiri hingga sekarang, Gereja Santa Maria de Fatima masih mempertahankan ibadah menggunakan bahasa Mandarin yang menjadi bahasa pengantar warga Hoakiau yang tinggal di kawasan Glodok.

Berdasarkan tahun berdiri, sejarah, serta arsitekturnya yang unik, gereja bersejarah di Indonesia yang satu ini kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai bangunan cagar budaya Tionghoa semenjak tahun 1972.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk
Gereja Blenduk

Sering menjadi destinasi wisata dan tujuan ibadah utama di Kota Semarang, Gereja Blenduk yang memiliki nama asli GPIB Immanuel ini menjadi bangunan bersejarah penting bagi masyarakat kota tersebut. Tak hanya menjadi rumah ibadah, Gereja bersejarah di Indonesia satu ini berperan sebagai lanskap Kota Lama Semarang yang bersejarah.

Dibangun pada tahun 1753, pada masa penjajahan Belanda, gereja umat Protestan ini merupakan gereja tertua di Jawa Tengah. Gereja bersejarah ini memiliki gaya arsitektur Neo-Klasik dan sebuah alkitab berbahasa Belanda yang pernah diterbitkan pada tahun 1784. Keduanya menjadi daya tarik utama para wisatawan yang pergi mengunjungi gereja tersebut untuk liburan.

Candi Hati Kudus Yesus

Candi Hati Kudus Yesus

Terletak di Ganjuran, Gereja Hati Kudus Yesus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Ganjuran ini merupakan gereja tertua di Bantul. Gereja bersejarah di Indonesia ini didirikan pada tahun 1924 oleh keluarga Schmutzer yang pernah memiliki pabrik gula di wilayah tersebut.

Selain berusia tua, gereja ini menjadi sangat unik karena sekilas tampak seperti tempat ibadah umat Hindu dan memiliki arsitektur yang kental akan kebudayaan Jawa Hindu. Berjalan-jalan di komplek gereja tertua dan bersejarah di Indonesia ini, kamu bisa melihat berbagai relief yang mirip seperti relief Candi Borobudur lengkap, Gua Maria berarsitektur Jawa, hingga Candi Hati Kudus Yesus.

Gereja Katedral Santo Petrus

Gereja Katedral Santo Petrus

Gereja Katedral Santo Petrus atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Katedral Bandung terletak di jalan Merdeka Bandung. Tempat ibadah umat Nasrani ini merupakan gereja tertua di Bandung dan memiliki gaya arsitektur neo-Gothic akhir.

Selesai dibangun pada tahun 1921, salah satu gereja bersejarah di Indonesiaini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan diberi nama St Franciscus Regis. Dari mulai berdiri hingga sekarang, gereja tertua ini masih aktif menjalankan kegiatan keagamaan dan memfasilitasi jemaat yang datang untuk merayakan perayaan besar umat Nasrani.

Gereja Merah

Gereja Merah
Gereja Merah

Di Kediri, Jawa Timur, terdapat sebuah gereja tua yang dibangun pada awal abad ke-19. Memiliki gaya arsitektur Eropa yang kental, Gereja Protestan Barat (GPIB) atau Kerkeeraad Der Protestanche Te Kediri ini dibangun oleh JA Broers pada tahun 1904.

Awalnya bangunan gereja bersejarah di Indonesia ini memiliki cat warna putih gading. Baru pada tahun 2005, saat dipugar pertama kali, gereja ini dicat dengan warna merah untuk menghemat biaya perawatan dan semenjak saat itu Gereja Protestan Barat (GPIB) lebih dikenal luas dengan julukan Gereja Merah.

Berkunjung ke gereja tertua dan bersejarah di Indonesia yang satu ini, kamu bisa melihat kitab injil kuno berbahasa Belanda yang dibuat tahun 1867 dan koleksi empat buah gelas kuno terbuat dari bahan perunggu. Gereja Merah telah ditetapkan menjadi satu-satunya gereja cagar budaya di daerah Kediri.

Gereja Kepanjen

Gereja Kepanjen
Gereja Kepanjen

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria atau yang lebih populer dikenal sebagai Gereja Kepanjen merupakan salah satu gereja tua di kota Surabaya. Dibangun pada tahun 1899, pembangunan tempat ibadah umat Nasrani ini dibantu oleh arsitek W. Westmaas dan diresmikan pada tahun 1900.

Berkat arsitekturnya yang indah, Gereja Kepanjen pernah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996. Dua tahun berikutnya, Gereja tua dan bersejarah di Indonesia ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Walikota Surabaya.

Gereja Immanuel

Gereja Immanuel
Gereja Immanuel

Gereja bersejarah dan tertua di Indonesia selanjutnya adalah Gereja Immanuel. Terletak di Jakarta, tepatnya berdiri di seberang Stasiun Gambir, gereja bersejarah ini selesai dibangun pada tahun 1839. Gereja ini memiliki arsitektur serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladin dengan balok mendatar. Pilar paladian ini merupakan bagian dari arsitektur gaya klasisisme abad ke-18 yang menonkolkan simetri serta perbandingan harmonis.

Lewat konstruksinya yang unik dan dilengkapi kubah, salah satu gereja tertua di Indonesia ini mendapat penerangan sinar matahari yang merata. Berkunjung ke gereja bersejarah ini, kamu juga bisa melihat menara bundar atau lantern yang terletak di atas kubah dan dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

GPIB Sion

GPIB Sion
GPIB Sion

Disebut-sebut sebagai salah satu gereja tertua di Jakarta, GPIB Sion yang dahulu bernama Portugeesche Buitenkerk alias Gereja Portugis merupakan cagar budaya kelas A dan nomor 1 di Indonesia.

Selain arsitekturnya yang sangat khas dan otentik, kamu juga bisa menemukan makam salah satu pemimpin Hindia Belanda serta lonceng tua yang berada di bagian luar saat berkunjung ke gereja bersejarah di Indonesia yang berada dekat dengan kawasan Kota Tua Jakarta ini.

Gereja Katedral Bogor

Gereja Katedral Bogor

Gereja tertua dan bersejarah di Indonesia selanjutnya adalah Gereja Katedral Bogor yang telah ada sejak masa pemerintahan kolonial, tepatnya sejak tahun 1896. Gereja bersejarah di Bogor satu ini memiliki nama resmi Gereja Katedral Santa Perawan Maria

Seperti gereja-gereja tua dan bersejarah peninggalan kolonial lainnya, Gereja Katedral Bogor ini berdiri megah dengan arsitektur khas yang sangat indah.

Gereja Ayam

Gereja Ayam

Gereja bersejarah di Indonesia selanjutnya ini juga berlokasi di Jakarta. Dijuluki “Gereja Ayam” dikarenakan gereja bersejarah yang bangunan aslinya telah berdiri sejak 1850 ini memiliki penujuk arah mata angin pada bagian puncaknya yang berbentuk ayam.

Arsitektur unik dari gereja dengan nama resmi GPIB Pniel ini merupakan hasil rancangan Ed Cuypers dan Hulswit yang memadukan gaya arsitektur berlanggam Portugis dan Italia. Selain arsitekturnya yang unik dan bersejarah, di gereja ini kamu juga bisa menemukan berbagai peningalan bersejarah lainnya seperti sebuah Alkitab besar berbahasa Belanda dari 1855 diletakkan di atas mimbar gereja bersejarah dan tertua di Indonesia ini.

CityView

Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara RI, Begini Nasib DKI Jakarta

Published

on

DKI Jakarta
DKI Jakarta

DKI Jakarta tidak lagi menjadi ibukota negara dengan akan dipindahkannya ke Kalimantan Timur dengan nama baru yaitu Nusantara. Jakarta sendiri akan tetap mendapatkan status kekhususan dan Pemprov DKI Jakarta menjamin akan tetap mengelola kota ini untuk menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata.

Pemerintah telah menetapkan ibukota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur menggantikan DKI Jakarta. Untuk nama ibukota baru juga telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Nusantara dan untuk status baru Jakarta masih menunggu rancangan undang-undang (RUU) yang saat ini masih terus dibahas.

Menurut Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, saat ini merupakan timing yang sangat penting untuk membahas mengenai UU baru mengenai Jakarta dan mengulas mengenai kekhususan Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibukota negara. Pembahasan mengenai persoalan ini juga harus dilakukan segera begitu UU IKN disahkan.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

“Jakarta sebagai ibukota negara harus segera diubah supaya jangan ada dua ibukota negara. Makanya UU tentang ibukota baru harus segera disahkan dan tahap berkutnya kita harus merevisi UU mengenai Jakarta atau menerbitkan UU baru terkait Jakarta kalau tidak memungkinkan dilakukan revisi,” ujarnya.

Lebih tepatnya lagi menurut Doli, harus diterbitkan UU baru mengenai Jakarta jadi bukan lagi merevisi UU yang lama. UU mengenai Jakarta harus diterbitkan UU baru yang menyatakan perubahan status mengenai kota ini supaya tidak terjadi kebingungan.

Jakarta juga harus tetap memiliki kekhususan kendati status ibukota berpindah dan menjadi Ibukota Nusantara. Jakarta harus tetap mendapatkan status kekhususan itu karena terkait dengan sejarah maupun kontribusi kota yang selama ini telah menjadi ibukota negara.

DPR sendiri pernah menyinggung soal status Jakarta setelah pemindahan ini dan hampir semuanya sepakat untuk tetap menyematkan status kekhususan kepada Jakarta kendati bukan lagi khusus ibukota. Untuk kekhususan Jakarta sendiri akan dibahas lebih lanjut setelah status ibukota resmi disandang IKN baru.

Status baru mengenai Kota Jakarta juga nantinya bisa dibayangkan seperti kota-kota lain di dunia yang juga ibukotanya berpindah. Kita bisa melihat status maupun kekhususan di New York yang pindah ke Washington DC dengan New York berkembang menjadi kota bisnis. Begitu juga dari Melbourne ke Canberra di Australia dan Melbourne dikenal menjadi kota pendidikan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria sendiri memastikan, Jakarta akan tetap nyaman dihuni meski ibu kota pindah ke Kalimantan Timur setelah DPR RI mengesahkan Undang-Undang tentang IKN nantinya. Masih ada banyak keunggulan terkait fasilitas maupun berbagai perkantoran di kota ini yang akan menarik minat bagi masyarakat dari seluruh Indonesia bahkan dunia.

“Pemprov DKI Jakarta akan tetap bekerja untuk membuat kota ini menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata dengan baik. Salah satunya dengan mengintegrasikan transportasi di Jakarta termasuk penataan kota, antisipasi banjir, dan hal lainnya yang akan menjadikan kota ini tetap membanggakan,” katanya.

Continue Reading

CityView

Ini Dia 5 Bandara Terbesar di Indonesia

Published

on

By

Bandara

Bandara menjadi penghubung perjalanan orang maupun barang, dari satu tempat ke tempat lain melaui jalur udara. Di Indonesia pun terdapat banyak bandara yang besar, dengan fasilatas yang lengkap.

Bandar udara, atau sering disingkat dengan kata Bandara ini merupakan sebuah fasilitas di mana pesawat terbang seperti pesawat udara dan helikopter dapat lepas landas dan mendarat. Setiap orang pasti mendatangi tempat ini jika ingin berpergian jauh ke suatu wilayah, lewat jalu udara.  Biasanya dengan transportasi udara ini, membuat waktu perjalanan yang jauh menjadi lebih singkat.

Di Indonesia pun ada begitu banyak Bandara yang tersedia di setiap daerahnya. Berikut mycity telah merangkum 5 bandara terbesar yang ada di Indonesia:

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Bandara ini sudah sangat terkenal diberbagai kalangan. Hal itu karena tempatnya yang luas, dibandingkan dengan Bandara lainnya yang ada di Indonesia. Bahkan Bandara ini memang dijuluki Bandara terbesar di Indonesia. Bandara Internasional Soekarno-Hatta terletak di Kota Tangerang, Banten. Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1985, dengan luas arenya mencapai 2.555 hektar. Diketahui Bandara ini menampung sekitar 43 juta penumpang setiap tahunnya.

Baca Juga:

  1. Inilah 8 Desa Wisata Indonesia yang Terkenal Seantero Dunia
  2. PPKM Level 3 Dibatalkan, Turis Lokal yang Kunjungi Bali Diprediksi Capai 20 Ribu Orang per Hari
  3. Inilah 6 Wisata Islami di Bali

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati

Posisi kedua untuk Bandara terbesar di Indonesia ditempati oleh Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Luas tanah Bandara ini sekitar 1.800 hektar. Bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka ini pada tanggal 24 Mei 2018, telah sah diresmikan. Sekitar 29 juta untuk kapasitas BIJB Kertajati per tahunnya.

Bandara Internasional Hang Nadim

Selanjutnya ada Bandara Internasional Hang Nadim, yang merupakan Bandara terbesar ke-3 yang ada di Indonesia. Bandara ini memiliki luas area sekitar 1.762 hektar, dengan kapasitas 5 juta penumpang per tahunnya. Lokasi Bandara tersebut berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Batam, Kepulauan Riau.

Bandara ini juga berada di jalur perdagangan segita emas anatar Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Hampir lebih dari 1.4000 orang per harinya Bandara ini melayani penumpang saat jam operasional memuncak.

Bandara Internasional Kualanamu

Peringkat 4 Bandara terbesar di Indonesia, jatuh kepada Bandara Internasional Kualanamu. Bandara ini terletak di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Luas area yang dimiliki bandara ini mencapai 1.650 hektar. Sekitar 8 juta per tahun untuk kapasitas penumpang di bandara ini. Bandara tersebut diharapkan bisa menjadi Bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Bandara Internasional Kualanamu diresmikan sejak 25 Juli, 2013.

New Yogyakarta International Airport (NYIA)

Terakhir, urutan nomor 5 untuk Bandara terbesar di Indonesia diraih oleh New Yogyakarta International Airport (NYIA). Luas area pada bandara ini mencapai 587 hektar. Bandara ini berlokasi di Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. New Yogyakarta International Airport (NYIA) jam terbang operasinya masih belum lama. Walupun terbilang baru, Bandara tersebut ditargetkan mempunyai kapasitas penumpang sampai 20 juta per tahunnya. Akan tetapi dikarenakan situasi pandemi yang melanda, hanya berkisar 1,2 juta orang pada tahun 2021.

Continue Reading

CityView

Sejarah Panjang Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, dari Era Soekarno Hingga Jokowi

Published

on

IKN Nusantara
IKN Nusantara

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), memutuskan Ibu Kota Negara (IKN) baru berada di Balikpapan, Kalimantan Timur. Jokowi memberi nama IKN baru tersebut Nusantara.

Sebenarnya, proses untuk memindahkan ibu kota negara Indonesia dari Jakarta sudah tercetus sejak zaman Presiden pertama Soekarno. Pada tahun 1957, Soekarno menggagas pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya.

Soekarno saat itu meresmikannya sebagai Ibu Kota Kalimantan Tengah. Namun, rencana tersebut akhirnya tak pernah terwujud hingga kejatuhannya pada periode 1966-1967.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

Kemudian di era Presiden kedua RI, Soeharto, wacana pemindahan ibu kota negara Indonesia juga tercetus. Pada tahun 1997, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 1 tahun 1997 Tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol sebagai kota mandiri.

Soeharto kala itu bertujuan menjadikan Jonggol sebagai pusat pemerintahan. Rencana daripada era Soeharto itu kemudian gagal, karena reformasi menggulingkan Soeharto.

Era kepresidenan BJ Habibie, Gus Dur dan Megawati, yang kesemuanya sangat singkat menjadi presiden, isu pindah ibukota tak terdengar. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), wacana pindah ibukota muncul lagi.

Bulan September 2010, Presiden SBY membentuk tim kecil untuk mengkaji ide pemindahan ibukota negara. Hasilnya kemudian muncul skenario terkait pemindahan ibukota negara. Pertama, mempertahankan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kedua, memindahkan ibukota dari Jakarta ke daerah baru yang masih dalam pulau Jawa. Ketiga, memindahkan ibukota negara ke luar pulau Jawa.

Pada masa SBY, muncul beberapa kandidat ibu kota negara. Palembang salah satunya.

Palembang adalah kota tua sudah lama berkembang di Sumatera belahan selatan. Kota sungai ini kebetulan terkait dengan kerajaan Sriwijaya di masa lalu.

Isu Palembang sebagai kandidat ibukota negara tentu disambut masyarakat Palembang. Pada 2011 kota ini semakin dilengkapi banyak fasilitas umum seperti LRT karena Sea Games 2011 diadakan pula di sana.

Kandidat lain, Lampung Timur, yang sebelum ada isu ibu kota negara sudah mengalami masa menjadi daerah tujuan transmigrasi. Daerah dataran ini tidaklah jauh dari sumber pangan. Sama seperti Palembang yang dekat dengan Belitang sebagai lumbung beras Sumatra Selatan.

Kandidat lainnya lagi Karawang, Jawa Barat, sempat pula masuk bursa calon ibu kota negara, juga daerah penghasil beras ini tidaklah jauh dari Jakarta.

Ya, Nusantara merupakan wujud konkret rencana-rencana dari para Presiden Indonesia terdahulu. Jika di zaman mereka hanya sebatas wacara dan kajian, Presiden Jokowi mewujudkan hal ini di eranya.

Continue Reading

Trending