Connect with us

Infrastruktur

Ini Harapan Besar Jokowi untuk Bandara Soedirman

Published

on

Presiden Jokowi

Usai sebelumnya meninjau pembangunan LRT, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), hari ini, Jumat (11/6/2021), meninjau pembangunan Bandara Soedirman di Purbalingga, Jawa Tengah.

Jokowi senang dengan perkembangan pembangunan bandara tersebut. Meskipun belum rampung, Bandara Soedirman sudah mulai beroperasi dan okupansinya mencapai 70 persen.

Jokowi menyebut penerbangan sudah dilakukan dari Jakarta menuju Purbalingga dan Purbalingga menuju Surabaya, dengan tingkat keterisian penumpang (okupansi) 70 persen.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

“Meskipun terminalnya belum selesai, tapi minggu lalu telah dilakukan penerbangan dari Jakarta ke Purbalingga, kemudian dari Purbalingga ke Surabaya,” katanya pada konferensi pers.

Jokowi mengharapkan agar bandara ini bisa memberikan kontribusi ekonomi terhadap daerah di sekitar Purbalingga, seperti Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, hingga Kebumen.

Menurut Jokowi, pengoperasian bandara di tengah pembangunan sebagian terminalnya menjadi contoh baik untuk bandara yang lain agar lebih produktif. Ia menyebut bandara tidak harus selesai dikerjakan untuk dapat mulai dioperasikan.

“Ini bagus, saya senang meski terminal masih darurat dan belum selesai, tapi bandaranya sudah dipakai. Saya kira ini akan lebih produktif daripada menunggu terminal harus selesai baru bisa dilakukan penerbangan,” tegas Jokowi.

Di kesempatan sama, dalam presentasinya Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan penyelesaian bandara akan menggunakan anggaran tahun depan. Namun, bandara baru bakal 100 persen rampung pada kuartal I 2023 mendatang.

Infrastruktur

Tekad Membara Jokowi Bangun 57 Bendungan Sebelum Pensiun Jadi Presiden RI

Published

on

Presiden Jokowi

Sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) bertekad untuk membangun 57 bendungan di seluruh Indonesia.

Jokowi menyampaikan keinginan itu saat meresmikan bendungan dk-29 di masa pemerintahannya, Jokowi menegaskan air adalah kunci dalam ketahanan dan kemandirian pangan.

Jokowi juga menegaskan bendungan adalah cara pemerintah memastikan ketersediaan air untuk masyarakat.

Baca Juga:

  1. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Kirim Sindiran Pedas untuk Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

“Insyaallah nanti pada akhir 2024 total bendungan yang akan diselesaikan adalah 57 bendungan di seluruh Tanah Air Indonesia,” terang Jokowi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Jokowi menyampaikan Bendungan Bintang Bano dibangun sejak 2015. Pemerintah mengeluarkan dana hingga Rp1,44 triliun untuk mengongkosi proyek bendungan ini.

Mantan wali kota Solo itu menyebut Bendungan Bintang Bano mampu menampung air sebanyak 76 juta meter kubik. Bendungan ini mampu mengairi sawah seluas 6.700 hektare (ha).

“Kita harapkan bendungan ini akan mendukung ketersediaan air di Sumbawa Barat, mendukung ketahanan pangan di Provinsi NTB, dan juga bisa memenuhi kebutuhan air baku,” ucap Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi menggenjot pembangunan bendungan di seluruh wilayah Indonesia. Ia ingin bendungan menjadi tumpuan untuk menciptakan kemandirian pangan.

Pada tahun lalu, Jokowi meresmikan 13 bendungan di 9 provinsi. Bendungan-bendungan itu adalah Bendungan Tukul, Jawa Timur; Bendungan Tapin, Kalimantan Selatan; Bendungan Napungete, NTT; Bendungan Sindangheula, Banten; Bendungan Bendo, Jawa Timur.

Continue Reading

Infrastruktur

Bank Ini Tertarik Kembangkan KEK Tanjung Lesung

Published

on

KEK Tanjung Lesung

Berbagai pihak terus mendorong potensi yang ada di kawasan wisata KEK Tanjung Lesung, Banten. Bank Banten menjalin kerja sama dengan pihak pengembang dan stakeholder lainnya untuk terus mendorong potensi kawasan ini khususnya dengan layanan perbankan yang mumpuni.

Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten, merupakan kawasan pariwisata yang oleh pemerintah pusat ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) Pariwisata sejak tahun 2015 lalu. Hal ini untuk terus mendorong pengembangan industri pariwisata maupun perekonomian masyarakat setempat melalui sektor pariwisata.

Tanjung Lesung juga menyimpan banyak potensi terlebih lokasinnya yang cukup strategis hanya 170 km dari Jakarta. Kawasannya juga bisa ditempuh melalui jalan darat dan saat ini telah tersambung dengan jalan tol sehingga bisa ditempuh hanya sekitar 3 jam dari Jakarta dan ke depan akan semakin cepat dengan terus dibangunnya infrastruktur jalan tol.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

KEK Tanjung Lesung memiliki area seluas 1.500 hektar dengan potensi pariwisata bukan hanya pantai tapi juga ada banyak potensi lainnya yang bisa dikembangkan. Berbagai potensi ini diproyeksikan bisa menarik investasi hingga lebih dari 92 triliun pada tahun 2030 mendatang dan menyerap tenaga kerja hingga 85 ribu orang hingga tahun 2025.

Besarnya potensi yang ditawarkan dari KEK Tanjung Lesung ini bukan hanya menarik minat kalangan perusahaan pengembang tapi juga dari perbankan. Bank Banten misalnya, tengah menyiapkan berbagai layanan jasa keuangan untuk melayani nasabah potensial di kawasan KEK Tanjung Lesung.

Menurut Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarrudin, peluang pasar ritel maupun korporasi di kawasan ini akan terus didorong dan dijadikan prioritas oleh perusahaan untuk meningkatkan performa keuangan bank masyarakat Banten tersebut.

“Kami akan all out dalam mendukung pengembangan mega proyek KEK Tanjung Lesung dengan potensi investasi dari beragam instumen yang sangat luar biasa. Pengembangan kawasan Tanjung Lesung bukan hanya dapat meningkatkan perekonomian tapi juga menjamin sustainability yang akan terus berkembang sehingga kami siap untuk all out mendukung kawasan ini,” ujarnya.

Terkait dukungan ini Bank Banten telah memulainya dengan bermitra melalui PT Banten West Java Tourism Development Corporation untuk pengembangan kawasan Tanjung Lesung. Hal ini juga sejalan dengan ekosistem ekonomi di wilayah Banten yang terus disiapkan dengan DPRD Banten dan akan keluar menjadi peraturan daerah (perda).

Dengan begitu Bank Banten akan bisa terus memantau untuk melingkupi aspek permodalan maupun layanan jasa keuangan lainnya yang memungkinkan untuk dikembangkan di kawasan ini. Terlebih ada banyak pendukung untuk terus membuat Tanjung Lesung dan wilayah Banten lainnya terus berkembang seperti jalan tol Serang-Panimbang, Kawasan Industri Cileles, tol Serang-Balajara, dan banyak lagi.

“Kerja sama kami dengan berbagai pihak untuk pengembangan KEK Tanjung Lesung ini diharapkan bisa memberikan dampak yang lebih luas bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas. Kami juga terus mengembangkan diversifikasi layanan untuk terus mengikuti perkembangan guna menjawab tantangan yang ada,” pungkas Agus.

Continue Reading

Infrastruktur

3 Kementerian Bersatu, Tahun 2030 Tak Boleh Lagi Sedot Air Tanah

Published

on

Kolaborasi antar Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, dan Pemprov DKI Jakarta
Kolaborasi antar Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, dan Pemprov DKI Jakarta

Kolaborasi antar Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, dan Pemprov DKI Jakarta untuk menyediakan air perpipaan di Jakarta dan mengatasi penurunan muka tanah (land subsidence). Kementerian PUPR akan membangun tiga SPAM regional untuk memenuhi kebutuhan air perpipaan hingga tahun 2030.

Merespons penurunan muka tanah (land subsidence) Jakarta yang menjadi isu nasional dan memenuhi target melayani 100 persen warga Jakarta dengan air perpipaan pada 2030, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berkomitmen membangun tiga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Kolaborasi pencegahan land subsidence dan pemenuhan kebutuhan air perpipaan ini dilakukan Kementerian PUPR bersama Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui penandatanganan Nota Kesepakatan (MOU) Sinergi dan Dukungan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang dihadiri juga oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Menurut Luhut, kolaborasi antar pemangku kepentingan seperti ini sangat penting untuk merespons isu tenggelamnya Jakarta karena penggunaan air tanah terus menerus oleh masyarakat. Pemerintah merespons hal tersebut dan mengambil inisiatif untuk mengurangi dan menghentikan pemanfaatan air tanah di Jakarta dengan penyediaan air minum perpipaan yang mencukupi bagi masyarakat Jakarta.

“Untuk mewujudkan hal tersebut Pemerintah Pusat berkolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta telah menyusun sebuah perencanaan bersama yang menyinergikan proyek inisiatif SPAM dan dituangkan dalam Nota Kesepakatan yang mencakup rincian program, jangka waktu, serta skema pembiayaan yang tepat,” katanya.

Saat ini kondisi cakupan layanan air minum perpipaan di Jakarta baru bisa memenuhi cakupan layanan seluas 64 persen dan menyuplai 20.725 liter per detik air untuk 908.324 sambungan pelanggan. Akibatnya masyarakat yang tidak memiliki akses air minum perpipaan cenderung menggunakan air tanah secara terus menerus sehingga menjadi salah satu penyebab penurunan muka tanah secara cepat.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, untuk menjawab kebutuhan air warga Jakarta, Kementerian PUPR akan membangun tiga SPAM regional yang meliputi SPAM regional Jatiluhur I berkapasitas 4.000 liter/detik yang akan menambah 13 persen layanan, SPAM Karian-Serpong berkapasitas 3.200 liter/detik menambah 10 persen layanan, dan SPAM Juanda II berkapasitas 2.054 liter/detik yang menambah 7 persen layanan.

“Mudah-mudahan pada 2030 semua penduduk di Jakarta bisa dilayani dengan air minum perpipaan. Dengan begitu harapan kita semua untuk bisa mengendalikan pemanfaatan air tanah yang lebih terkendali dan mengurangi laju land subsidence bisa dilaksanakan,” katanya.

Sementara itu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, kebutuhan air minum masih banyak dipenuhi dari air tanah yang menyebabkan penurunan permukaan tanah sehingga kehadiran SPAM ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat melainkan juga dapat berpengaruh pada penyelamatan lingkungan.

Gubernur DKI Anies Baswedan sendiri optimistis pelayanan air perpipaan bagi masyarakat di Jakarta bisa terpenuhi sebelum 2030. “Ditandatanganinya MoU ini merupakan langkah untuk memenuhi target melayani 100 persen masyarakat Jakarta dapat tercapai bahkan bisa lebih awal. Kita tangani bersama-sama ketidaktersediaan air minum perpipaan ini dan harapannya land subsidence juga bisa tertangani,” tandasnya.

Continue Reading

Trending