Connect with us

COVID-19Update

Ini Dia Kunci Utama Cegah Penyebaran Omicron di Indonesia

Published

on

Prof. Wiku Adisasmito
Prof. Wiku Adisasmito

Varian Omicron saat ini menghantui dunia. Bahkan, varian ini sudah masuk ke Indonesia. Satgas Penanganan Covid-19 mengungkapkan cara ampuh untuk mencegah penyebaran Varian Omicron di Tanah Air.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengingatkan adanya keterbatasan sarana, prasarana dan sumber daya jika dibandingkan kedatangan luar negeri yang terlampau besar, maka potensi meledaknya kasus bukan tidak mungkin terjadi.

“Ketidakpatuhan protokol kesehatan dan mobilitas yang tidak terkendali merupakan situasi yang mendukung kasus. Termasuk Omicron untuk semakin meluas dan berpotensi menimbulkan lonjakan di lokasi lainnya,” tegas Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19, Kamis (23/12/2021) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Kunci mencegah masuknya lebih banyak varian Omicron adalah pelaksanaan karantina yang ketat. Baik ditempat terpusat maupun yang karena kewajibannya diperbolehkan karantina Mandiri. Serta testing pada saat kedatangan dan diakhir masa karantina.

Seluruh masyarakat juga dimohon menerapkan protokol kesehatan meskipun telah divaksin lengkap. Disiplin memakai masker dan sebisa mungkin menjaga jarak dan menghindari kerumunan adalah kunci mencegah penularan. Walaupun kondisi kasus saat ini rendah, namun potensi penularan masih ada.

Untuk itu, bagi masyarakat yang mengalami gejala COVID-19 atau merasa tidak sehat, sebisa mungkin tidak keluar rumah dan beristirahat. Terlebih pula meskipun kecil, peluang lolosnya orang positif untuk berkeliaran dan berkegiatan di luar rumah masih harus tetap menjadi perhatian.

Kepada Pemerintah diharapkan untuk terus meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19. Utamanya dosis lengkap untuk memaksimalkan proteksi pada masyarakat. Selain itu terus tingkatkan testing dan tracing pada kasus COVID-19 serta monitor hasil whole genum sequencing (WGS) pada pelaku perjalanan ke luar negeri untuk mendeteksi dini kasus Omicron dan mencegah semakin meluasnya di tengah masyarakat.

COVID-19Update

Kasus Covid-19 Melonjak Pesat, Pemerintah Tetap Pertahankan PPKM Level 2 di DKI Jakarta

Published

on

Covid-19 DKI Jakarta

DKI Jakarta saat ini masuk asesmen level 3. Meski demikian, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan Pemerintah Pusat tetap konsisten pada Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2 untuk wilayah aglomerasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

“Teater perang pandemi yang terjadi di DKI Jakarta menyebabkan asesmen situasi Provinsi tersebut masuk ke dalam Level 3,” kata Luhut.

“Namun dalam melakukan asesmen level PPKM, pemerintah secara konsisten memperlakukan DKI sebagai satu kesatuan wilayah aglomerasi. Secara aglomerasi, Jabodetabek saat ini masih pada level 2,” dia menambahkan.

Baca Juga:

  1. Ragam Fasilitas yang Segera Dibangun di IKN Nusantara
  2. IKN Nusantara Bikin 20.000 Masyarakat Adat Tergusur
  3. Inilah Alasan Utama Kalimantan Timur Dipilih Sebagai Lokasi IKN Nusantara

DKI Jakarta sebelumnya berstatus PPKM Level 2 pada 18-24 Januari 2022. Namun tercatat tren kenaikan kasus di DKI Jakarta selama sepekan terakhir.

Sebagai informasi, Pemerintah mengevaluasi pelaksanaan PPKM di Jawa-Bali setiap satu pekan. Dalam hal ini, pemerintah akan mengkategorikan sejumlah kabupaten/kota dalam level 1-4 berdasarkan indikator penilaian yang ditetapkan.

Indikator yang dihitung di antaranya jumlah kasus Covid-19, kematian, kesembuhan, testing, dan tracing, keterisian tempat tidur rumah sakit, hingga capaian jumlah warga yang sudah menerima dosis vaksin Covid-19 di wilayah masing-masing tersebut.

Dalam konferensi pers itu, Luhut mengakui kenaikan angka Covid nasional, khususnya didominasi wilayah aglomerasi Jabodetabek.

“Berdasarkan data yang kami himpun kasus di Jawa Bali mendominasi kasus harian yang naik, kenaikan di Jawa Bali kami identifikasi masih bersumber dari peningkatan aglomerasi di Jabodetabek. Selain itu kasus yang disebabkan dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri sudah berada di bawah 10 persen dari total kasus nasional,” kata Luhut.

“Dari sini dapat disimpulkan bahwa transmisi lokal di Indonesia sudah lebih mendominasi dari sebelumnya,” imbuh Luhut.

Meskipun kasus meningkat, Luhut menegaskan pemerintah tetap bisa melakukan kendali penuh terutama terkait pula dengan risiko Covid-19 varian Omicron.

“Namun kita tidak perlu jumawa atas kondisi ini. Kata kunci kita adalah disiplin,” kata dia.

Continue Reading

COVID-19Update

Cek Gejala Buang Air Besar Ini Sebagai Tanda Kalian Terpapar Varian Omicron

Published

on

Varian Omicron

Beragam fakta terbaru mengenai varian Omicron terus bermunculan. Satu di antaranya adalah orang yang terinfeksi varian Omicron bakal mengalami diare parah.

Ya, selain anosmia (kehilangan indera penciuman), salah satu gejala baru yang ditemukan para peneliti adalah terkait dengan buang air besar.

Seperti dinukil dari Daily Mail, Senin (24/1/2022), beberapa pasien di Inggris menderita masalah berupa diare parah yang muncul. Kasus Covid-19 Omicron sejak pertama kali ditemukan memang tidak memicu gejala Covid-19 serupa seperti infeksi sebelumnya.

Baca Juga:

  1. Pentingnya Peran Padang Lamun Bagi Kehidupan Biota Laut
  2. Merak Hijau, Si Cantik yang Hampir Punah
  3. Passilliran, Tradisi Unik Suku Toraja Memakamkan Bayi di Batang Pohon

Infeksi Covid-19 sebelumnya lebih mudah dikenali karena umumnya memiliki gejala khas seperti batuk kering terus menerus, demam, hingga kehilangan indra perasa dan penciuman. Sementara mayoritas pasien Covid-19 Omicron mengeluhkan gejala seperti influenza atau flu biasa.

Meski gejala Covid-19 Omicron terbilang ringan, angka penularan yang tinggi memicu kekhawatiran para ahli. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut banyak pasien Covid-19 yang memiliki beragam gejala termasuk diare.

Menurut CDC, jika pasien mengalami gejala Covid-19 diare, ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang terpapar Covid-19 Omicron.

“Orang dengan sistem kekebalan yang lemah adalah yang paling mungkin mengalami diare dan gejala gastrointestinal lainnya,” demikian laporan NBC Chicago, dikutip Senin (24/1/2022).

John Hopkins Medicine menunjukkan sekitar 20% pasien Covid-19 cenderung mengalami diare sebagai gejala awal setelah terpapar Covid-19 Omicron. Namun, penting untuk diingat bahwa diare ini bukan satu-satunya gejala Covid-19 Omicron. Umumnya keluhan tersebut diikuti dengan kelelahan, masalah pernapasan, nyeri otot dan tubuh serta sakit kepala atau sakit tenggorokan.

Awal bulan ini, tanda-tanda paling umum dari gejala Covid-19 Omicron terungkap setelah pasien mencatat sederet keluhan mereka dalam Studi ZOE Covid. Lima gejala teratas adalah pilek, sakit kepala, kelelahan, bersin, dan sakit tenggorokan.

Ada pula gejala Covid-19 lain yang paling banyak dikeluhkan pasien seperti suara serak, menggigil, pusing, dan kehilangan nafsu makan. Selain itu, mual dan refluks asam dilaporkan masing-masing sebesar 18%, sementara diare memengaruhi 15% dari mereka yang pulih dari Covid-19.

Gejala yang kurang umum dikeluhkan pasien Covid-19 Omicron adalah kembung, dilaporkan oleh 14% pasien dan gejala sendawa yang dialami 10% pasien. Di sisi lain, muntah adalah keluhan 9% pasien, sementara sakit perut menyerang 7% dari mereka yang keluar dari rumah sakit usai pulih dari Covid-19.

Continue Reading

COVID-19Update

Gawat! Kasus Omicron di Indonesia Sentuh Angka 1.000

Published

on

Ilustrasi Varian Omicron

Kasus varian Omicron di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan total kasus Omicron di Indonesia sudah menyentuh angka seribu. Sementara itu, 831 kasus di antaranya adalah pelaku perjalanan luar negeri.

Berdasarkan data Kemenkes, mayoritas yang terpapar Omicron sudah mendapatkan vaksinasi lengkap. Oleh karenanya, dampak Covid-19 yang ditimbulkan cenderung lebih ringan dan bahkan tanpa gejala.

“Sejak 15 Desember secara kumulatif jumlah kasus Omicron yang kita identifikasi hingga sekarang ada 1.161 dengan yang lokal (penularan dalam negeri) sebanyak 282 orang,” tutur dr Nadia.

Baca Juga:

  1. Begini Ramalan Bill Gates Soal Metaverse
  2. Korea Selatan Bangun Metaverse Seoul, Kota Digital Pertama di Dunia
  3. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse

“Umumnya sebagian besar sudah mendapatkan vaksinasi, dan mereka gejala yang timbul lebih ringan,” dia menambahkan.

Adapun pelaku perjalanan luar negeri yang paling banyak menyumbang kasus Omicron adalah pekerja migran indonesia dari Arab Saudi hingga wisatawan yang baru pulang dari Turki. dr Nadia juga memantau jemaah umroh keberangkatan perdana, apakah akan ikut menyumbang penambahan kasus Omicron di Tanah Air.

“Bagi masyarakat yang tidak punya kepentingan mendesak, dimohon untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri,” tegas dia.

Continue Reading

Trending