Connect with us

Energi

Ini Alasan Utama Erick Thohir Copot Dirut PLN

Published

on

Erick Thohir
Erick Thohir

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, memutuskan mencopot Direktur Utama (Dirut) PLN, Zulkifli Zaini. Posisi Dirut PLN kini diisi oleh Darmawan Prasojo. Apa alasannya?

Pergantian posisi Dirut ini diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Surat Keputusan RUPS ini disampaikan langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir dan berlaku pada Senin (6/12/2021).

Erick mengatakan penggantian ini dilakukan bukan karena kinerja buruk yang dicatatkan oleh Zulkifli. Sebaliknya, dia menyebut kinerja Zullkifli selama menjadi direktur utama di perusahaan ini selama dua tahun berhasil memperbaiki kinerja keuangan PLN.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Kinerja tersebut tercermin dari pendapatan usaha sebesar Rp 345,4 triliun dan laba bersih Rp 5,99 triliun pada 2020. Laba ini naik 39,3% dibandingkan pada 2019.

Selain itu juga PLN berhasil menurunkan jumlah rasio utang menjadi senilai Rp 452,4 triliun serta secara paralel, mendorong potensi nilai saving atas biaya sebesar Rp 25,90 triliun dengan melakukan renegosiasi jadwal Commercial Operation Date (COD) atas 14 pengembang listrik swasta (Independent Power Producers/ IPP).

“Semua pencapaian ini adalah hasil akumulatif dari transformasi PLN dengan fokus pada peningkatan pendapatan, penurunan biaya pokok penyediaan, dan peningkatan layanan,” kata Erick.

Meski demikian, Erick menyebut tantangan ke depan bukan hanya di perbaikan finansial namun juga kemampuan untuk menyediakan akses kelistrikan ramah lingkungan bagi masyarakat, terutama karena penerapan gaya hidup hijau dan ramah lingkungan atau ‘eco-lifestyle’ di tengah masyarakat.

Sejalan dengan kebutuhan ‘eco-lifestyle’ akan menjadi hal utama untuk masyarakat masa depan. Mulai dari ekosistem kendaraan listrik, kompor induksi dan pembangkit listrik berbasis energi hijau.

“Oleh karena itu, arahan saya agar Direktur Utama dapat memimpin PLN untuk mulai melakukan perbaikan atas model bisnis dan juga menyiapkan organisasi PLNyang lebih lean dan efektif. PLN perlu mempersiapkan diri untuk melakukan akselerasi bisnis dalam menghadapi tren baru seperti ekosistem kendaraan listrik,” terang dia.

Senada, Wakil Menteri BUMN 1 Pahala Nugraha Mansury mengatakan dengan pergantian ini diharapkan akan mendorong percepatan transisi energi PLN.

“Kami terima kasih kepada Pak Zul Dirut PLN yang sudah bertugas selama 2 tahun dengan kinerja yang baik di masa-masa pandemi, Kita berharap penggantian akan mendorong percepatan transisi energi,” tuturnya.

Energi

Indonesia Ketiban Durian Runtuh, Jerman Pesan 150 Juta Ton Batu Bara

Published

on

Batu Bara

Indonesia bak mendapatkan durian runtuh di sektor komoditas batu bara. Jerman dikabarkan meminta Tanah Air menyuplai batu bara hingga 150 juta ton.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin. Dia menyatakan, pesanan 150 juta ton batu bara diketahui usai Menteri ESDM Arifin Tasrif melakukan lawatannya ke negara tersebut.

“Pak Menteri kan yang ke sana, kemarin dua minggu lalu. Yang saya dengar, belum terkonfirmasi langsung, 150 juta ton, itu Jerman yang bilang segitu,” katanya.

Baca Juga:

  1. Pantai Nihiwatu, Harta Karun Menawan Sumba
  2. Ini Dia Primadona Baru di Lombok, Pantai Orong Bukal
  3. Desa Wisata Wimbo Wolio, Punya Benteng Terluas di Dunia

Ridwan sendiri optimistis RI dapat memenuhi permintaan pasokan, mengingat sumber batu bara yang berasal dari perusahaan-perusahaan di Indonesia masih cukup besar.

“Termasuk PTBA (PT Bukit Asam Tbk.) dan lain-lain masih cukup kita,” kata dia.

Seperti diketahui, Indonesia bakal mendapat ‘durian runtuh’ dari kegiatan ekspor batu bara. Negara-negara di Uni Eropa seperti Jerman, Polandia, bahkan India sudah melobi Indonesia untuk dapat mengirimkan batu bara ke negaranya.

Continue Reading

Energi

Keren, Indonesia Punya Potensi 52 Ribu Lokasi Pembangkit Hidro

Published

on

By

Indonesia Memiliki Potensi 52 Ribu Lokasi Pembangkit Hidro

PT PLN (Persero) dengan total kapasitas 10,4 gigawatt hingga 2030, berkomitmen untuk mengembangkan pembangkit hidro.

Kesuksesan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030 akan ditopang oleh tercapainya target tersebut. Hingga Februari 2022, kapasitas litrik yang berasal dari pembangkit hidro sebesar 6,6 gigawatt.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana. Dari kapasitas total 74,4 GW jumlah itu sekitar 9 persen. Menurutnya, mencapai 95 GW untuk potensi pembangkit hidro di Indonesia.

“Eksploitasinya memang masih kecil meski potensinya besar. Tapi kami yakin pengembangannya bisa sesuai dengan RUPTL 2021-2030,” tuturnya.

Baca Juga:

  1. Potensi Besar Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia
  2. Potensi Besar Budidaya Kakao Organik, Dulang Banyak Keuntungan
  3. Potensi Raksasa Properti di Kawasan Jakarta Timur

Ditunjukan ada lebih dari 52 ribu lokasi yang berpotensi sebagai pembangkit hidro. Hal ini berdasarkan dari hasil penghitungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (P3TEK).

Sementara itu juga terdapat total sebesar 94.627 MW potensi energi hidro dengan sistem run off river. Baginya, akan membantu Indonesia dalam meraih target net zero emission 2060 atas pembangkit tenaga hidro yang pengembangannya membutuhkan waktu panjang ini.

“Pengembangan PLTA akan memberikan manfaat tidak terbatas terhadap bauran energi baru terbarukan. Sekaligus menyeimbangkan pembangkit listrik EBT yang masih bersifat intermittent,” jelas Rida.

Continue Reading

Energi

Terinspirasi Hulk, BRIN Kembangkan Radiasi Gamma

Published

on

BRIN Radiasi Gamma
BRIN Radiasi Gamma

Jika mendengar istilah radiasi gamma, Cityzen pasti langsung terpikir tentang superhero avengegers, Hulk. Dia berubah menjadi raksasa hijau akibat terpapar radiasi sinar gamma. Nah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan sedang mengembangkan radiasi Gamma berbasis skandium-46 pengganti kobalt-60.

Lantas, apa itu sinar gamma? Seperti dilansir dari Live Science, sinar gamma adalah bentuk radiasi elektromagnetik, seperti gelombang radio, radiasi inframerah, radiasi ultraviolet, sinar-X, dan gelombang mikro.

Salah satu materi yang membentuk petir ini dapat diproduksi oleh empat reaksi nuklir yang berbeda, yaitu fusi, fisi, peluruhan alfa, dan peluruhan gamma. Sinar gamma juga umum digunakan untuk keperluan medis.

Dalam dunia industri, keberlangsungan proses produksi menjadi salah satu faktor yang sangat penting dan harus dijaga dengan serius agar tidak terjadi kerusakan. Hal itu dikarenakan, kerusakan pada peralatan akan mengganggu proses produksi dan pada akhirnya menimbulkan kerugian.

Baca Juga:

  1. Mengupas Tradisi Kariya, dari Muna untuk Para Gadis Muda
  2. Perang Api, Tradisi Tolak Bala Umat Hindu untuk Rayakan Nyepi
  3. Mengupas Tradisi Ayak Abu dalam Perayaan Imlek

Ditambah lagi bila kerusakan yang terjadi tidak diketahui lokasinya, sehingga solusi yang mungkin ditawarkan adalah menghentikan proses produksi, kemudian dicari sumber kerusakannya.

Solusi seperti itu tentunya sangat dihindari oleh pelaku industri, karena hal itu akan menghentikan proses produksi dan mendatangkan kerugian yang besar bagi pihak industri.

Agar terhindar dari kemungkinan terjadinya kerugian dikarenakan berhentinya produksi untuk mendeteksi kerusakan peralatan, maka diperlukan teknologi deteksi kerusakan yang dapat digunakan tanpa mengganggu aktivitas produksi. Salah satu teknologi deteksi tersebut yakni dengan menggunakan gamma scanning.

Deteksi gamma scanning itu sering disebut sebagai uji tak merusak, karena deteksi itu dapat dilakukan tanpa harus membongkar/merusak peralatan yang diduga mempunyai kerusakan. Bahkan teknologi deteksi itu dapat digunakan tanpa menghentikan proses produksi yang sedang berlangsung.

Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) – Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Duyeh Setiawan mengatakan, pada prosesnya, gamma scanning ini memanfaatkan sinar gamma dari sumber radiasi kobalt-60 (Co-60).

Kobalt-60 itu dapat diproduksi dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), namun, hingga saat ini Indonesia belum mempunyai satupun PLTN. Jadi untuk mendapatkan kobalt-60 harus impor dari negara yang telah memiliki PLTN dengan harga yang mahal.

Menurut Duyeh, fungsi kobalt-60 sebagai sumber radiasi pada proses gamma scanning dapat digantikan dengan sumber radiasi gamma lainnya yang berasal dari radioisotop skandium-46 (Sc-46). Radioisotop Sc-46 dapat diproduksi dari reaktor riset yang dimiliki Indonesia.

Perlu diketahui bahwa saat ini, Indonesia telah memiliki tiga reaktor riset yakni Triga Mark 2000 di Bandung, Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy di Serpong, dan reaktor Kartini di Yogyakarta. Dengan memberdayakan reaktor riset tersebut maka sumber radiasi dari radioisotop Sc-46 menjadi terjangkau dan limbahnya dapat digunakan kembali melalui proses radiasi ulang.

Untuk itulah, jelas Duyeh, PRTRRB melakukan pengembangan Sumber Radioaktif Tertutup skandium-46 untuk Gamma – Ray Scanning.
“Pengembangan itu meliputi pembuatan desain sumber radiasi Sc-46 melalui teknik aktivasi netron di Reaktor Triga 2000 Bandung, sebagai upaya untuk menguji keandalan sumber Sc-46 dalam deteksi kerusakan peralatan di industri, terutama pada kolom distilasi atau penyulingan,” ujar Duyeh, seperti dikutip dalam laman BRIN.

Secara rinci, Duyeh mengungkapkan proses pengembangan yang saat ini tengah dilakukan bersama rekan-rekan peneliti di PRTRRB.

“Scanning kolom distilasi atau penyulingan bejana dapat dilakukan menggunakan radioisotop gamma bersegel (sealed) tertutup dan detektor radiasi. Baik sumber sinar gamma dan detektor dipindahkan bersamaan dalam pergerakan pelan di sisi yang berlawanan, di sepanjang eksterior unit dilakukan scan,” lanjutnya.

“Profil kepadatan relatif dari isi kolom akan diperoleh yaitu area yang mengandung bahan dengan kepadatan yang relatif tinggi, seperti cairan dan/atau logam, memberikan intensitas radiasi yang relatif rendah, sedangkan area dengan kepadatan yang relatif rendah, seperti ruang uap di antara baki, menghasilkan tingkat intensitas radiasi yang tinggi,” sambungnya.

Melalui teknik itu jelas Duyeh, didapatkan informasi signifikan tentang kondisi seluruh proses dan bejana itu sendiri serta dapat mengidentifikasi malfungsi instalasi dalam kolom distilasi seperti baki yang rusak atau hilang dari posisinya (collapsed trays), tingkat banjir dan lokasinya (flooding), tetesan cairan dan berbusa (foaming), tingkat cairan dan penyumbatan.

Dengan demikian, teknisi dan operator dapat menentukan status kolom tersebut dan akibatnya membuat pengaturan untuk pemeliharaan dan pemecahan masalah untuk mencegah penutupan darurat.

“Karena prosesnya tidak melibatkan kotak langsung dengan bagian dalam bejana, proses itu juga menghindari kemungkinan korosi, suhu atau masalah tekanan. Sementara itu, kolom proses adalah komponen penting dalam penyulingan minyak mentah untuk mengubahnya menjadi bahan bakar yang berharga, serta dalam mempertahankan sistem pendingin pabrik. Penutupan pabrik untuk pemeliharaan bisa menelan biaya sekitar ribuan dollar per jam, yang berarti jutaan Rupiah dalam kerugian setiap hari untuk beroperasi,” jelas Duyeh.

Continue Reading

Trending