Connect with us

Teknologi

Inggris Izinkan Cina Bangun Infrastruktur 5G

Published

on

Pada Selasa (23/6/2020), mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, mengatakan akan mendukung Amerika Serikat mengenai penolakan izin Huawei Technologies membangun jaringan 5G.

“Saya kira kita harus bernegosiasi dan ini harus mendukung AS pada akhirnya,” ujar Blair kala ditanya mengenai Huawei di acara Reuters Newsmaker.

“Sangat sulit bagi kami untuk tidak mendukung apapun yang berkaitan dengan keamanan AS,” imbuh Blair, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (26/6/2020).

Blair yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 1997-2007 mengatakan satu masalahnya adalah infrastruktur Huawei jauh lebih murah dibandingkan alternatif lain. Diizinkannya Cina membangun infrastruktur 5G di Inggris memberikan Cina keuntungan.

“Salah satu hal luar biasa dari 5G adalah Barat menguntungkan Cina dengan mendapat superioritas,” ujarnya.

Dibandingkan dengan oposisi Perang Dingin dengan Uni Soviet, AS khawatir dominansi 5G merupakan kemajuan besar supremasi teknologi Cina yang bisa menentukan geopolitik abad ke-21.

Huawei adalah pabrik peralatan telekomunikasi terbesar dunia. Huawei mengatakan Washington ingin menghambat pertumbuhannya karena tak ada perusahaan AS yang mampu menawarkan teknologi yang sama dengan harga kompetitif.

Pada Kamis (25/6/2020), Huawei menerima izin rencana untuk membangun fasilitas penelitian dan pengembangan sebesar £ 1 miliar (Rp 17,7 T) di Inggris.

Blair mengatakan Barat perlu menjalin hubungan dengan Beijing untuk menghadapi masalah global seperti perubahan iklim dan ekonomi global.

“Sikap memusuhi Cina sangat tak masuk akal,” ujar Blair. Blair juga mengatakan Partai Komunis Cina memperkuat cengkramannya secara domestik dan menjadi lebih asertif secara global.

“Rasanya kita berada di era baru. Anda harus mempunyai tanggapan strategis, tidak hanya bereaksi seperlunya terhadap aktivitas atau kekuatan Cina,” ujar Blair.

Blair mengatakan Barat harus bisa bersaing dengan Cina dan menantangnya bila perlu. “Hal penting menurut saya adalah berada di posisi di mana Barat membangun seperangkat aliansi kuat sehingga kita mampu mengendalikan Cina bagaimana pun dan apapun arah Cina nanti,” Blair memaparkan. (Al-Hanaan)

Foto: China Focus

Advertisement

Teknologi

Berani Jual Foto KTP dalam Bentuk NFT, Hukuman 10 Tahun Penjara & Denda Rp1 Miliar Menanti

Published

on

Jual foto KTP dalam bentuk NFT

Keberhasilan Ghozali Everyday meraup cuan miliaran dengan cara menjual foto selfie dalam bentuk NFT di OpenSea membuat banyak orang kini melakukan hal serupa. Bahkan, ada yang sampai menjual foto KTP. Namun, ternyata ada sanksi berat jika kita menjual foto KTP.

Beberapa waktu lalu netizen Indonesia dikejutkan dengan tingkah username Indonesia Identity Card (KTP) Collection menjual 38 item NFT berisi foto KTP warga negara Indonesia yang beberapa di antaranya menyertakan foto selfie. Akan tetapi, hari ini akun OpenSea itu sudah tidak dapat diakses lagi.

Akibat fenomena ini, Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan sanksi keras bagi penjual NFT KTP di OpenSea.

Baca Juga:

  1. Peuyeum, Si Manis Ikonik Kota Bandung yang Disukai Orang Eropa
  2. 8 Makanan yang Mendadak Viral Selama Pandemi Covid-19
  3. Sambel Colek Ikan Wader, Hidangan Para Raja Majapahit

Dia menegaskan, bagi pihak-pihak yang mendistribusikan dokumen kependudukan termasuk dirinya sendiri yang memiliki dokumen kependudukan seperti foto KTP-el di media online tanpa hak, terdapat ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan terancam denda paling banyak Rp1 miliar.

Hal ini tertuang dalam Pasal 96 dan Pasal 96A Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

Selain itu, Zudan juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat foto selfie dengan dokumen KTP-el di sampingnya untuk verivali.

Sebab, hal tersebut sangat rentan adanya tindakan fraud/penipuan/kejahatan oleh ‘pemulung data’ atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab karena data kependudukan ‘dapat’ dijual kembali ke pasar underground. Atau bahkan berpotensi digunakan dalam transaksi ekonomi online seperti pinjaman online.

“Oleh karena itu, edukasi kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah menampilkan data diri dan pribadi di media online apapun,” ujarnya.

Continue Reading

Teknologi

Begini Ramalan Bill Gates Soal Metaverse

Published

on

By

Ilustrasi Metaverse

Bill Gates berikan tanggapannya soal Metaverse, di mana dunia virtual tersebut dikatakan akan mengubah masa depan dunia kerja dan aktivitas manusia.

Bernama lengkap William Henry Gates III, atau lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates merupakan seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat. Selain itu juga, Bill Gates adalah mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen.

Metaverse, merupakan bagian Internet dari realitas virtual bersama yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata. Segala macam kegiatan bisnis bisa berlangsung di sana, jika seseorang atau perusahaan memiliki tanah di metaverse.

Pengguna metaverse akan memiliki avatar,  dengan hal tersebut membuat mereka bisa berinteraski dengan avatar lainnya. Bill Gates mengatakan bahwa, “Idenya adalah Anda akhirnya akan menggunakan avatar untuk bertemu dengan orang di ruang virtual yang mereplikasi perasaan di ruang sebenarnya bersama mereka.”

Baca Juga:

  1. Korea Selatan Bangun Metaverse Seoul, Kota Digital Pertama di Dunia
  2. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  3. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse

Bill Gates juga mengatakan, jika tahun ini bakal menjadi permulaannya, sedangkan di masa mendatang manusia akan bekerja lewat dunia Metaverse. Seperti yang dikutip dari GatesNotes, Minggu (16/1/2022). Menurutnya, kebiasaan dalam dunia kerja akan dapat berubah dengan kehadirannya Metaverse.

Nantinya kehidupan manusia akan sangat bergantung terhadap dunia digital. Segala sesuatunya yang biasa dilakukan tatap muka, akan beralih secara virtual. Baik untuk bekerja, bahkan sampai aktivitas sehari-hari lainnya.

Ia juga beranggapan bahwa di masa depan, perusahaan akan lebih fleksibel terhadap karyawannya, mereka tidak lagi harus ke kantor untuk bekerja, melainkan bisa dilakukan dengan jarak jauh.

Bill Gates mengatakan bahwa, “Pengguna harus memakai headset dan kacamata virtual reality untuk bisa melakukannya. Saat ini, Microsoft tengah berusaha untuk menambahkan avatar 3D.”

Tidak akan lama lagi Metaverse akan digunakan sebagai pola hidup, terutama dalam dunia kerja. Bill Gates meyakini hal itu nantinya dapat terjadi dan bisa mempengaruhi segala sistem kehidupan yang sebelumnya sudah ada.

Continue Reading

Teknologi

Gara-Gara Ghozali Everyday, Kominfo Bakal Awasi NFT

Published

on

Ghozali Everyday

Nama Ghozali Everyday mendadak viral usai meraup cuan hingga miliaran rupah berbekal menjual foto selfie secara Non-fungible token (NFT). Terkait hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan mengawasi para penyelenggara sistem elektronik (PSE) NFT.

Hal itu ditegaskan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi. Dia menegaskan, pengawasan itu dilakukan sesuai amanat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Kementerian Kominfo senantiasa mengawasi para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) termasuk pihak yang mengoperasikan NFT agar tetap patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Dedy dalam keterangan tertulisnya.

“Sesuai amanat UU ITE dan peraturan pelaksanaannya, Kementerian Kominfo berwenang melakukan pengawasan terhadap PSE,” imbuh dia.

Baca Juga:

  1. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Kirim Sindiran Pedas untuk Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

Dedy menyatakan pengawasan itu dilakukan untuk memantau dan menindaklanjuti jika adanyanya pelanggaran yang dilakukan PSE. Pihaknya khawatir ada tranaksi jual beli porno dalam NFT tersebut.

Sementara itu, pihaknya tidak melakukan pengawasan terhadap spesifik transaksinya. Ia menyebut, hal itu merupakam kewenangan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Dia menuturkan pelanggaran terhadap ketentuan transaksi aset kripto dan kegiatan serupa dapat dilakukan oleh Bappebti.

Sebelumnya, Ghozali Everyday (22) tidak menyangka foto selfie dalam bentuk non-fungible token (NFT) ada peminatnya. Ghozali pun meraup cuan sekitar Rp1,5 miliar dari jual foto NFT.

Continue Reading

Trending