Connect with us

CityView

Indonesia Punya 111 Pulau Kecil yang Siap untuk Dikembangkan

Published

on

111 pulau kecil terluar

Indonesia memiliki 111 pulau kecil terluar yang merupakan perbatasan negara. Pulau-pulau ini harus terus dikelola untuk menunjukan eksistensi kita kepada negara tetangga. Di sisi lain, pulau-pulau ini juga memiliki potensi yang besar untuk masuknya investasi.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam salah satu program pembangunannya yaitu membangun Indonesia dari pinggiran yang mencakup wilayah kepulauan, pesisir, maupun daerah perbatasan. Untuk hal ini juga telah diterbitkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 6 Tahun 2017 tentang penetapan pulau-pulau kecil terluar.

Menurut Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Surya Tjandra, konsep membangun Indonesia dari pinggiran ini sangat tepat karena Indonesia memiliki 111 pulau kecil terluar yang merupakan batas negara Indonesia dengan negara lain.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

“Kenapa membangun dari wilayah pinggiran itu penting? Karena ketika kita melakukan negosiasi wilayah dengan negara tetangga, kita harus bisa menunjukkan bukti kalau kita atau wilayah Indonesia memang ada di situ. Salah satu bukti ini dengan dikeluarkannya sertifikat resmi dan itu menjadi tugas kami di Kementerian ATR/BPN,” ujarnya.

Karena itu Kementerian ATR/BPN juga sangat aktif menggandeng berbagai pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya. Misalnya, Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo). Kita juga harus lebih fokus untuk membangun 111 pulau terkecil dan terluar guna menunjukan eksistensi keberadaan negara kita kepada negara lain.

Beberapa pulau kecil dengan posisi terluar itu antara lain seperti di Pulau Karang Unarang di Kalimantan Utara, Pulau Pelampong di Kepulauan Riau, Pulau Mengkudu di Nusa Tenggara Timur, hingga Kampung Enggros di Jayapura, Papua. Beberapa tantangan yang harus diselesaikan antara lain soal perizinan dan hak.

Karena itu untuk permasalahan ini tidak boleh ada ego sektoral karena berbagai kegaduhan yang kerap terjadi hanya akan memperlama proses legalitas kawasan terluar ini bahkan berpotensi hilang karena diakui oleh negara lain. Seluruh stakeholder harus berupaya untuk memberikan legalitas kepada pulau-pulau terluar ini.

Surya juga mengatakan, wilayah-wilayah pulau kecil terluar maupun Indonesia keseluruhannya tidak boleh lagi abai dan bersikap “memunggungi laut”. Harus terus diperkuat pembangunan infrastruktur dan di sisi lain meningkatkan perekonomian yang juga harus dirasakan di wilayah-wilayah terluar ini.

Saat ini kita harus bisa mengatasi tantangan untuk pembangunan wilayah pesisir dan pulau terluar khususnya persoalan konektivitas. Selain itu juga harus ada keseimbangan khususnya terkait pengenaan hak baik individualitas maupun kolektivitas. Apakah masyarakat kolektif atau individualitas bisa diberikan hak yang sama dan berbagai hal lainnya yang harus diatur.

“Jangan nanti ego-ego sektoral yang selalu muncul dan ini yang kerap menghambat pembangunan di wilayah pesisir dan perbatasan yang membuat masyarakatnya miskin absolut. Banyaknya pulau ini harus kita manfaatkan jadi poros maritim dunia dan ini potensi yang besar karena ketertarikan investasi di kawasan pesisir juga semakin kuat,” beber Surya.

CityView

Pesona Keindahan Nglanggeran, Desa Wisata yang Dapat Penghargaan Best Tourism Village 2021 dari PBB

Published

on

Desa Wisata Nglanggeran

Indonesia kembali mencatatkan prestasi internasional. Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO). Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meraih penghargaan Best Tourism Village 2021 dan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam penghargaan tersebut.

Penghargaan tersebut merupakan inisiasi UNWTO untuk memajukan peran pariwisata dalam menjaga desa-desa beserta bentang alam, budaya, nilai dan aktivitas lokal, serta gastronomi lokal.

“Pariwisata dapat menjadi pendorong kohesi dan inklusi sosial dengan mempromosikan distribusi manfaat yang lebih adil di seluruh wilayah dan memberdayakan masyarakat lokal,” kata Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili, seperti dilansir laman resmi UNWTO.

“Inisiatif ini mengakui desa-desa yang berkomitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai pendorong yang kuat bagi pembangunan dan kesejahteraan mereka”.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menanggapi prestasi Desa Nglanggeran tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno berharap bisa menjadi momentum bagi kebangkitan ekonomi Indonesia khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Masyarakat manunggal dengan pemerintah daerah, pengelola, serta masyarakat yang mendorong pariwisata sebagai salah satu penggerak pembangunan desa. Ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam rangka memaksimalkan kontribusi desa wisata, lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan di pedesaan,” katanya.

Desa Nglanggeran memperoleh penghargaan ini karena lolos dalam sembilan kriteria penilaian yang ditentukan UNWTO Best Tourism Village. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu, mengatakan selain penghargaan tingkat nasional dan internasional, proses penilaian dan perolehan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kemenparekraf tahun lalu juga turut mendorong Desa Wisata Nglanggeran mampu memenuhi seluruh area evaluasi oleh UNWTO.

Desa Nglanggeran
Desa Nglanggeran

“Pengelolaan berkelanjutan melalui peran aktif dan inovasi yang dilakukan pengelola, keberlanjutan sosial ekonomi yang ditunjukkan melalui rantai nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat, keberlanjutan budaya, serta lingkungan melalui upaya pengelolaan dan konservasi aset alam dan budaya,” ujar Vinsensius.

Ini bukan penghargaan skala internasional pertama yang diperoleh Desa Nglanggeran. Pada tahun 2017, Desa Wisata Nglanggeran meraih predikat sebagai Desa Wisata Terbaik ASEAN dengan konsep Community Best Tourism.

Pesona Desa Nglanggeran

Desa Nglanggeran memiliki berbagai potensi wisata yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Beberapa di antaranya adalah Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Air Terjun Talang Purba, Kampung Piyu, dan Air Terjun Kedung.

Selain itu, ada pula pagelaran budaya seperti karawitan dan reog Mataram. Untuk kegiatan lain, wisatawan dapat menikmati kuliner khas Desa Nglanggeran seperti Griya Cokelat Nglanggeran, Pawon Purba, Soto Mbak Jam, RM Terrace Petruk.

Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu objek wisata unggulan di desa ini. Gunung Purba tersebut memiliki ketinggian 700 mdpl dan banyak dikunjungi wisatawan untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Gunung ini disebut purba karena memang telah terbentuk sekitar 60-80 tahun lalu.

Desa Nglanggeran

Karena dinilai memiliki potensi wisata dan budaya, maka situs gunung api tersebut pun mulai tahun 2008 dikelola oleh Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran dan menambahkan beberapa fasilitas yang menunjang kegiatan wisata.

Kemudian, ada pula Embung Nglanggeran, bangunan kolam seperti telaga dengan luas 0,34 hektare. Embung tersebut memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi itu berfungsi menampung air hujan untuk mengairi kebun buah kelengkeng, durian, dan rambutan di sekeliling embung.

Waduk mini ini berada di ketinggian 495 mdpl juga sering dikunjungi oleh wisatawan karena memiliki keindahan alam yang memesona.

Continue Reading

CityView

Gunung Semeru: Tempat Bersemayam Para Dewa & Catatan Sejarah Panjang Letusannya

Published

on

Gunung Semeru
Gunung Semeru

Gunung Semeru, yang berlokasi di Provinsi Jawa Timur, mengalami erupsi dan mengeluarkan awan panas pada Sabtu (4/12/2021) sore WIB. Hal itu membuat petugas gabungan segera mengevakuasi warga.

Hari ini, Senin (6/12/2021), sekitar pukul 08.30 WIB, kembali terdengar gemuruh kencang dari Gunung Semeru. Petugas gabungan yang berjaga terpaksa mengevakuasi warga Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh.

Petugas gabungan juga menjemput warga yang nekat kembali ke rumah mereka. Saat gemuruh kencang terdengar, debit air turun deras dari Gunung Semeru. Alhasi, status berubah menjadi zona merah dan petugas meminta warga menjauh.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Petugas langsung menggendong warga yang sudah tua dan anak-anak. Sebagian lagi membawa mereka dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan petugas dengan tergopoh-gopoh menggendong beberapa kambing, karena warga memaksa menuntun hewan ternaknya yang selamat.

Ya, ini bukan kali pertama Gunung Semeru meletus. Gunung ini pertama kali meletus pada 1818. Namun, catatan mengenai letusan dari tahun 1818 hingga 1913 tak banyak terdokumentasikan.

Baru tahun 1941, catatan mengenai letusan Gunung Semeru ada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Tak berhenti sampai di sini, Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar. Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.

PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Menurut data PVMBG, aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Sedangkan karakter letusannya, Gunung Semeru ini bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3 – 4 kali setiap jam. Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru.

Keindahan Gunung Semeru

Gunung Semeru
Gunung Semeru

Orang-orang di Pulau Jawa menyebut Gunung Semeru tempat bersemayam para dewa. Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang dalam kosmologi Hindu diartikan sebagai pusat jagat raya.

Gunung ini memang mewakili sebuah wujud kebesaran, karena memiliki ketinggian yang mencapai 3.676 m. Kedigdayaan Semeru tidak hanya tercatat dalam naskah Belanda, tetapi juga sudah terekam dalam naskah kuno Tantu Panggelaran dari abad 15.

Dalam naskah itu, diceritakan Semeru merupakan gunung yang berasal dari India. Kala itu Pulau Jawa masih terombang-ambing oleh Samudra dan kedudukannya masih belum mantap di dunia ini.

Kemudian para dewa dan raksasa beramai-ramai mengangkat gunung itu. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang besar bukan main, lalu menggendong Mahameru.

Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular yang panjang sekali, lalu melilit gunung itu agar bisa ditarik. Para dewa dan raksasa bergotong royong menyeretnya ke Tanah Jawa.

Pada proses pemindahan ini, para dewa kesulitan memilih tempat untuk menancapkan Mahameru, bila ditaruh di Jawa bagian barat, ternyata membuat bagian timur Pulau Jawa menjungkit ke atas.

Akhirnya mereka memindahkan lagi ke arah Timur, sehingga mantaplah kedudukannya di Pulau Jawa sekarang. Dalam pemindahan ini, banyak bagian dari Semeru yang tercecer dan membentuk gunung-gunung di Pulau Jawa.

Tetapi masalah belum selesai, Mahameru miring ke arah utara, sehingga diputuskanlah untuk memotong ujung gunung itu, setelahnya dipindahkan ke barat laut dengan nama Gunung Pawitra.

“Mahameru itu adalah Gunung Semeru sedangkan Pawitra sekarang dikenal sebagai Gunung Pananggungan,” jelas Edwin.

Gunung Semeru
Gunung Semeru

Dalam naskah Tantu Panggelaran juga diceritakan Gunung Semeru merupakan pertapaan Dewa Syiwa. Untuk memperindah pertapaannya, diceritakan lagi bahwa Dewa Syiwa telah membuat tempat pemandian yang konon itu adalah Ranu Kumbolo.

Kisah ini diperkuat dengan penemuan beberapa situs purbakala di Gunung Semeru. Prasasti itu terdapat di Ranu Kumbolo dan Arcapada.

Misalnya pada prasasti di Ranu Kumbolo yang diperkirakan telah ada sejak awal abad 12. Diceritakan sebuah kunjungan dari Kameswara, raja yang berasal dari
kerajaan Kediri.

Raja itu meninggalkan kerajaan untuk berziarah ke pemandian suci dan diduga dirinya datang ke Gunung Semeru untuk melakukan pertapaan.

Gunung Semeru memiliki dua jalur pendakian yaitu jalur Ranu Pane yang dapat diakses melalui kota Malang dan jalur kedua yaitu Jalur Senduro, dapat diakses melalui Lumajang. Dari kedua jalur ini, jalur Ranu Pane lah yang paling umum digunakan oleh para pendaki.

Untuk menggapai puncak Gunung Semeru waktu paling cepat yang diperlukan yaitu 2 hari 1 malam atau agar lebih santai bisa 3 hari 2 malam dengan mendaki lewat jalur kota Malang atau Lumajang. Perjalanan dapat dimulai dari terminal kota Malang menuju Desa Tumpang, kemudian naik jeep menuju Pos Ranu Pani di mana para peserta trekking diharuskan mengurus terlebih dahulu surat ijin pendakian di Desa Gubuk Klakah.

Setelah berjalan sekitar 3 jam dari pos Ranu Pani, kita akan menemui sebuah pemandangan alam dari surga cantik tersembunyi yaitu Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau seluas 14 hektar yang terletak pada ketinggian 2.400 mdpl. Danau dengan air yang sangat jernih ini dijadikan sebagai pos bagi para pendaki sebelum mereka meneruskan perjalanan menuju puncak Mahameru. Pendaki dapat menikmati keindahan pesona alam yang damai di Ranu Kumbolo serta menikmati sunrise di pagi harinya.

Dari Ranu Kumbolo, para pendaki masih harus melewati beberapa daerah diantaranya Padang Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, pos Kalimati, dan pos terakhir sebelum menuju Mahameru, yaitu Arcopodo.

Meskipun mendaki Semeru bagi beberapa orang terdengar menyeramkan karena medan yang cukup sulit dan menantang, namun keindahan Gunung Semeru memiliki banyak keistimewaan yang tidak dapat dipungkiri. Penikmat alam dan pendaki mana yang tak ingin kesana? Menikmati indahnya Ranu Kumbolo dan sensasi menggapai atap tertinggi di Pulau Jawa tentunya akan memberi kesan dan pengalaman yang luar biasa.

Continue Reading

CityView

Inilah Kota Termahal di Dunia

Published

on

Kota Tel Aviv
Kota Tel Aviv

Economist Intelligence Unit (EIU) merilis daftar kota termahal di dunia untuk ditempati. Namun, tak disangka jika kota termahal di dunia justru berada di negara Israel.

Seperti dilansir dari CNN International, Kamis (2/12/2021), Kota itu adalah Tel Aviv. Kota itu kini menempati posisi pertama usai sebelumnya berada di peringkat kelima.

EIU mengatakan bahwa Tel Aviv naik peringkat terutama karena mata uang Israel, shekel, telah melonjak. Shekel perks terhadap dolar AS, dan menuet 4% tahun ini.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Belum lagi keberhasilan peluncuran vaksin Covid-19 Israel, yang merupakan tercepat di dunia. Menurut angka dari Our World in Data, 62% populasi Israel telah divaksinasi penuh.

Disebutkan bahwa sekitar sepersepuluh harga telah mengalami kenaikan di kota itu. Ini merujuk 200 produk dan layanan di 173 kota.

EIU mengatakan bahwa tingkat inflasi dari harga yang dilacaknya telah meningkat sebesar 3,5% tahun-ke-tahun dalam mata uang lokal hingga September 2021 atau naik dari hanya 1,9% pada tahun 2020. Dikatakan ini mewakili laju inflasi tercepat dalam indeksnya selama lima tahun terakhir.

“Masalah rantai pasokan, fluktuasi nilai tukar mata uang dan perubahan permintaan konsumen menyebabkan kenaikan harga komoditas dan barang lainnya,” tulis laporan EIU.

“Transportasi mengalami kenaikan biaya terbesar, dengan harga bensin per liter naik rata-rata 21% pada tahun 2021.”

Kepala biaya hidup di seluruh dunia di EIU, Upasana Dutt, mengatakan bahwa harga diperkirakan akan naik lebih jauh di banyak kota selama tahun mendatang. Ini karena gaji meningkat.

“Namun, kami juga mengharapkan bank sentral menaikkan suku bunga, hati-hati, untuk membendung inflasi,” katanya, seraya menambahkan bahwa kenaikan harga ini harus, oleh karena itu, mulai moderat dari level saat ini.

Sementara itu di peringkat dua, ada ibu kota Prancis, Paris. Tetangga RI, Singapura brada di peringkat yang sama.

Daftar Kota Termahal di Dunia:

  1. Tel Aviv, Israel
  2. Paris, Prancis
  3. Singapore
  4. Zurich, Swiss
  5. Hong Kong, China
  6. New York, AS
  7. Geneva, Swiss
  8. Copenhagen, Denmark
  9. Los Angeles, AS
  10. Osaka, Jepang

Continue Reading

Trending