Connect with us

Huawei Akan Pangkas 70 Persen Pegawainya di India

Published

on

Huawei mengatakan telah memangkas lebih dari setengah pegawainya di India. Perusahaan teknologi asal Cina itu juga memangkas target pendapatannya hingga 50 persen.

Economic Times melaporkan Huawei akan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan 60-70% pegawainya.

Pegawai di bagian riset dan pengembangan serta Global Service Center disebut tidak akan terdampak PHK ini. Huawei India kemudian membantah laporan tentang PHK ini, tapi mereka tidak memberi penjelasan lebih lanjut.

Baca Juga: Inilah Syarat untuk Menjadi Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19

Huawei saat ini diperkirakan mempekerjakan 700 pegawai di India, termasuk ratusan pegawai lainnya dari perusahaan pihak ketiga. Jumlah ini tidak termasuk pegawai yang ada di pusat riset dan pengembangan milik Huawei.

Sementara itu, Huawei disebut akan memangkas target pendapatan mereka di India pada tahun 2020. Awalnya mereka menargetkan pendapatan sekitar USD 700-800 juta, tapi kemudian dikoreksi menjadi USD 350-500 juta.

Perkembangan terbaru ini sepertinya didasari oleh tekanan dari pemerintah India yang semakin besar terhadap perusahaan China setelah perselisihan kedua negara di perbatasan pada bulan lalu yang berujung pada kematian 20 tentara India.

Baca Juga: WhatsApp Akan Tambahkan Dukungan Multiple Devices

Setelah konflik tersebut, masyarakat India menyerukan boikot terhadap produk dan aplikasi buatan China. Bahkan pemerintah India telah melarang ratusan aplikasi buatan China termasuk Tiktok, WeChat dan masih banyak lagi.

Pemerintah India juga meminta operator telekomunikasi lokal untuk tidak menggunakan peralatan milik Huawei untuk uji coba jaringan 5G. Padahal saat ini Huawei memiliki dua mitra operator besar di India yaitu Bharti Airtel dan Vodafone Idea.

Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Insentif Rp3 Triliun Untuk Ringankan Tagihan Listrik

Huawei India mengatakan mereka akan terus melayani konsumennya di negara Asia Selatan tersebut. “Operasi dan sumber daya kami di India, didukung dengan talenta lokal telah dirancang untuk memenuhi permintaan apapun dari konsumen,” kata juru bicara Huawei. (Dimas Satrio)

Foto: Istimewa

Advertisement

Teknologi

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi

Published

on

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

mycity.co.idPihak kepolisian menyatakan perkembangan teknologi kamera ETLE yang digunakan untuk melakukan tilang elektronik. Kini pihak kepolisian diketahui tengah membuat fungsi kamera tersebut agar menjadi lebih canggih.

Selama ini, Kamera ETLE hanya memiliki fungsi untuk mengetahui pelanggaran lalu lintas berdasarkan pelat nomor kendaraan pelaku.

Tetapi, teknologi kamera ETLE tengah dikembangkan untuk kemampuan lebih canggih lagi.

Ke depannya kamera ETLE bisa mendeteksi alamat hingga status SIM pelanggar lalu lintas yang nantinya akan diincar oleh polisi.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Latif Usman menyatakan hal ini dimungkinkan berkat adanya teknologi baru bernama Face Recognition.

Teknologi baru ini akan mendeteksi wajah pengguna kendaraan lalu mencocokannya dengan data yang ada di dokumen kependudukan hingga kepengurusan SIM.

“Jadi nanti itu (ETLE) bisa nangkap wajah, namanya siapa, alamatnya di mana, punya SIM atau tidak,” ujar Latif Usman dikutip mycity.co.id dari NTMC Polri, Jumat (9/12/2022).

“Itu semua bisa terdeteksi gitu. Kamera ini sudah ada alatnya demikian,” paparnya.

Dengan kemampuan seperti itu, polisi hanya perlu bekerja sama dengan beberapa pihak untuk nantinya melakukan pencocokan data.

Data pelanggar lalu lintas bisa diketahui menggunakan dokumen Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Jadi kami nanti kerja sama dengan Dukcapil. Nanti data orang akan berkembang dan dicari menggunakan face recognition,” pungkasnya.

Continue Reading

Otomotif

Toyota Klaim Innova Zenix Dipesan Nyaris 4.000 Unit, 80 Persen Hybrid

Published

on

Innova Zenix sudah terpesan mendekati 4.000 unit dalam tempo tidak sampai sebulan sejak peluncuran. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Toyota Astra Motor (TAM) mengklaim model baru Kijang Innova Zenix yang punya varian hybrid menuai reaksi positif dari konsumen Tanah Air. Total pemesanan mobil itu disebut nyaris 4.000 unit padahal belum genap satu bulan dirilis.

“Artinya kalau sudah sebulan pemesanan bisa lebih dari itu,” kata Direktur Pemasaran TAM Anton Jimmi di Jakarta, Kamis (8/12).

Generasi anyar atau ketujuh Kijang yang dinamakan Kijang Innova Zenix perdana meluncur pada 21 November 2022. Generasi ini membawa perubahan penuh pada Innova, yang salah satunya menyugukan teknologi ramah lingkungan hibrida.

Soal harga, Innova Zenix di Indonesia dijual mulai Rp419 juta-Rp470 juta. Sedangkan Innova Zenix Hybrid dibanderol Rp458 juta sampai Rp614 juta.

Anton melanjutkan permintaan varian Zenix Hybrid saat ini mendominasi ketimbang varian mesin bensin. Ada lebih dari 80 persen komposisi varian hybrid dari permintaan Zenix.

“Bahkan total pesanan atau SPK Kijang Innova Zenix mencapai hampir 4.000 unit meski belum sebulan diluncurkan, dengan 82 persen dari komposisinya adalah Innova Zenix Hybrid dan tipe Q Hybrid TSS paling banyak diminati dengan SPK mencapai 1.578 unit,” kata Anton.

Tak hanya Innova Zenix, menurut Anton mobil listrik baru berbasis baterai dari Toyota yakni bZ4X juga diklaim mendapat respons positif dari konsumen Indonesia.

bZ4X yang juga menjadi mobil delegasi KTT G20 ini meluncur lebih dahulu dari pada Innova Zenix meski dilakukan pada bulan yang sama. Mobil ini dijual Rp1,19 miliar on the road Jakarta.

“Untuk permintaannya sudah lebih dari 1.300 unit, ini melebihi dari perkiraan kami,” ucap Anton.

Continue Reading

Teknologi

Satelit ICON Milik NASA Hilang Kontak, Belum Pasti Pulang ke Bumi

Published

on

Ilustrasi satelit. Satelit ICON milik NASA hilang kontak sejak akhir November lalu. Foto: AFP PHOTO / CNES

Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) kehilangan kontak dengan salah satu satelitnya bernama Ionospheric Connection Explorer (ICON). Satelit itu hilang kontak sejak 25 November dan tidak bisa lagi dilacak sejak saat itu.

“Tim saat ini masih bekerja untuk menjalin koneksi. Kami bekerjasama dengan Jaringan Pengawasan Luar Angkasa dari Departemen Pertahanan dan telah memverifikasi satelit itu tetap utuh,” tulis pernyataan resmi NASA seperti dikutip Space.

Satelit ICON sebenarnya memiliki ‘command loss timer’ yang didesain untuk mengatur ulang satelit itu jika tak merespon kepada tim kontrol di Bumi selama delapan hari. Akan tetapi, satelit tersebut tetap diam sejak pengaturan ulang tuntas pada Senin (5/12).

ICON merupakan satelit yang diluncurkan pada Oktober 2019 dan mengeksplorasi lapisan ionosfer Bumi yang belum pernah dilakukan satelit manapun sebelumnya. Ionosfer sendiri merupakan lapisan atmosfer Bumi yang membentang dengan jarak 80-640 kilometer.

Melansir Space News, satelit ICON berharga $252 juta atau Rp3,9 triliun. ICON dirancang untuk memelajari interaksi cuaca luar angkasa dengan cuaca terestrial di lapisan ionosfer.

Hal itu bertujuan memberi pemahaman lebih baik soal variasi di ionosfer. Salah satunya adalah pengukuran yang menunjukkan erupsi gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada Januari 2022 punya efek hingga lapisan ionosfer dan merusak gelombang listrik.

Lebar lapisan ionosfer memang secara teratur berganti karena merespon radiasi matahari. Pergantian itulah yang bisa berdampak kepada teknologi komunikasi.

ICON didesain untuk mengeksplorasi ionosfer hingga Desember 2021. Saat ini, ia masih dalam status menjalani misi perpanjangan. ICON juga akan menjadi bagian dari misi tinjauan heliofisik pada 2023 untuk menentukan apakah misi itu harus diperpanjang.

Namun NASA menemukan sejumlah masalah pada ICON antara lain dengan sistem aviasi dan sub sistem komunikasi frekuensi radionya. Belum diketahui apakah ICON akan pulang ke Bumi.

“Tim saat ini belum bisa menentukan kesehatan satelit itu dan kurangnya sinyal downlink bisa jadi indikasi kegagalan sistem,” kata tim NASA.nasa

Continue Reading
Advertisement

Trending