Connect with us

Sosial-Budaya

Hiburan Warga Pinggir: Seni Jemblung dalam Arus Lalu Lintas Jaman

Published

on

seniman Jemblung

Kesenian Jemblung sendiri ialah sebuah kesenian yang mengandalkan omongan atau tutur kata. Istilah Jemblung sampai saat ini belum ada yang mengetahui secara pasti apa maknanya.

Tetapi menurut Dinas Seni dan Budaya Banyumas dalam Suara Merdeka tahun 2014 bahwa kata Jemblung merupakan jarwo dosok yang berarti jenjem-jenjem ewong gemblung (rasa tenteram yang dirasakan oleh orang gila). 

Pengertian ini diperkirakan bersumber dari tradisi pementasan Jemblung yang menempatkan pemain kesenian ini seperti layaknya orang gila. Sumber lain menyebutkan istilah Jemblung berasal dari kata gemblung yang artinya gila.

Menurut Dolyana Kusuma dalam jurnalnya yang berjudul Pendidikan Karakter Dalam Pertunjukan Dalang Jemblung, Kajian Peran dan Fungsi Kesenian Dalang Jemblung Pada Masyarakat Banyumas menulis bahwa pengertian ini cukup bisa diterima, karena saat pertunjukan berlangsung sang dalang berakting seperti orang gila.

Berakting layaknya orang gila tersebut ditunjukkan oleh pemainnya yang selama proses pertunjukkan akan berbicara sendiri seperti dialog tanpa ada lawan bicaranya, layaknya orang gila yang ngomong-ngomong sendiri.

Dolyana Kusuma menyebut jika kemunculan kesenian Jemblung hingga saat ini belum dapat dipastikan awal munculnya, sebab berdasarkan literatur sumber, ada tiga macam versi yang menyatakan tentang kemunculan kesenian ini. salah satu literatur mengatakan bahwa kesenian Jemblung telah muncul pada masa Amangkurat 1 sekitar tahun 1677.

Saat itu, kesenian ini pertama kali muncul dengan tujuan untuk acara pemujaan terhadap sang pencipta. Tidak hanya itu saja, zaman dahulu kesenian ini juga digunakan sebagai media dakwah ajaran Islam.

Ini cukup bisa dibuktikan karena apabila kita ikuti rangkaian pagelaran kesenian ini, maka kita akan memahami di dalam kesenian ini akan diselipi ajaran keagamaan.

Oleh sebab itu, tidak salah kalau kesenian ini merupakan salah satu kesenian legendaris yang selain untuk hiburan juga digunakan pula untuk media dakwah.

Baca Juga:

  1. Tayub: Menari Bersama Moral dan Tradisi
  2. Kisah Sunan Kalijaga Sebarkan Islam Pakai Wayang
  3. Mengenal Perlon Unggahan, Tradisi Unik Masyarakat Bonokeling Sambut Ramadan

Pertunjukan Jemblung merupakan bentuk sosio drama yang mudah dicerna masyarakat luas. Pada prinsipnya pertunjukan ini dapat dipentaskan dimana saja termasuk tiga tempat berikut, seperti di balai-balai rumah atau di panggung.

Para pemain Jemblung yang hanya melibatkan 4 (empat) orang seniman, dalam pementasannya tanpa properti artistik, sangat dibutuhkan kemahiran dan kekompakannya dalam menghidupkan suasana pertunjukan.

Dalam pertunjukannya, pemain Jemblung duduk di kursi menghadap sebuah meja yang berisi hidangan yang sekaligus menjadi properti pementasan dan sebagai santapan mereka saat pertunjukan berlangsung. Semua hidangan ditaruh diatas tampah, kecuali wedang (minuman; kopi, teh, air putih) ditaruh diluar tampah.

Hidangan tersebut antara lain: jajan pasar yaitu aneka kue yang biasa dijual di pasar tradisional, kemudian ada buah pendem seperti jenis ubi-ubian yang sudah dimasak, pisang, nasi gurih, dan minuman; wedang teh, kopi, dan wedang bening (air putih).

Dalam hal ini cerita yang disajikan juga bukan saja dari cerita babad atau perembon, umar maya-umar madi, karena, ceritanya juga terkadang mengambil dari kisah wayangpurwo. Cara menyajikan cerita dengan gaya tanya jawab sendiri tanpa iringan gamelan dan wayang.

Misalnya dalam salah satu adegan pertunjukan Jemblung, sang dalang mendodog meja kemudian disambut instrumen kendang selanjutnya masuk repertoargending sampak atau srempegan yang semua menyajikannya dengan mulut.

Jalannya sajian gending atau lagu tersebut secara musikal, musisi tahu prinsip-prinsip dasarnya (konvensi) karawitan yang kemudian secara dinamika akan dibarengi dengan aksenaksen instrumen gamelan, seperti; kendang, bonang, gong, vokal tembang, dan sebagainya.

Dalam babak ini, musisi akan menyantap makanan. Mereka kemudian mengambil salah satu makanan yang ada didepannya, dengan irama lagu tersebut mereka akan memberikan aksen pada instrumen kendang, dan jika makanan di tangannya sudah siap disantap mereka akan beralih megang instrumen gong dan dibarengi dengan memasukkan makanan ke dalam mulutnya (sambil mengunyah sambil menyuarakan ide musikal).

Dalam penyajiannya, seorang musisi akan memainkan lebih dari empat atau lima instrumen gamelan sekaligus dengan cara berpindah pindah/melompat dari satu instrumen ke instrumen lainnya, sesuai dengan nafas, aksen-aksen dan tapsir garap serta ide musikal dalam repertoar gending (lagu) yang dibutuhkan.

Misalnya di samping musisi menyuarakan instrumen kendang, mereka kadang-kadang melompat untuk memainkan saron, kenong, kempul, gong, dan sebagainya walaupun mereka tidak selalu urut dari instrumen mana yang didahulukan. Begitu juga dengan musisi lain mereka akan memainkan instrumen bonang, suling, siter, gambang, gong.

Kekhasan dan keunikan penyajian Jemblung inilah yang tidak didapatkan pada bentuk dan jenis kesenian-kesenian di daerah lain. Sebagai kesenian rakyat, Jemblung memiliki daya tarik luar biasa. Tidak salah kalau Jemblung kerap dijadikan media propaganda bagi kepentingan-kepentingan tertentu.

Salah satu seniman Jemblung yang bernama Hardjo Parman mengaku tahun 1960-an merupakan krisis eksistensi dari Jemblung. Menjelang peristiwa G 30 S, seniman Jemblung tersandung batu tajam sebab seni Jemblung dijadikan mesin propaganda oleh PKI. Dan akibatnya bisa ditebak setelah PKI jatuh, sejumlah dalang dan pelaku Jemblung diburu untuk dijebloskan ke penjara.

Kemudian di era 70-an seniman Jemblung patut bersyukur, karena saat itu Jemblung dijadikan media penerangan di desa-desa.

Namun seiring dengan gonjang-ganjing politik di tanah air, nasib Jemblung kembali terpuruk ketika rezim Orde Baru tumbang, terutama dengan dibubarkannya 5 Departemen Penerangan. Sejak saat itu, Seni Jemblung kembali dipayungi awan kelabu hingga kini.

Untuk saat ini sangat sulit kita bisa menjumpai kesenian ada dan mengadakan pertunjukan. Jangankan pertunjukan, kelompok atau grup kesenian ini saja untuk saat ini akan sangat sulit kita jumpai. Padahal kesenian ini dahulunya punya andil dan peran yang cukup besar dalam dakwah Islam maupun hiburan warga.

Sosial-Budaya

Mengenal Mangenta, Tradisi Suku Dayak yang Sukses Pecahkan Rekor MURI

Published

on

Tradisi Mangenta

Provinsi Kalimantan Tengah berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas prosesi tradisi Mangenta dengan peserta terbanyak, dengan peserta seribu lebih.

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran menyatakan, pencapaian ini sangat luar biasa. Ia memuji kekompakan masyarakat Kalteng.

“Capaian ini, berkat partisipasi dan dukungan masyarakat di Kalteng,” kata Gubernur Sugianto Sabran.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Setidaknya, sebanyak 1.043 peserta turut berpartisipasi dalam kegiatan itu, dan hal ini dinilai sebagai langkah untuk melastarikan warisan budaya kuliner Kalteng.

Orang nomor satu di Bumi Tambun Bungai ini juga berharap, melalui kegiatan tersebut masyarakat luas dapat mengenal kuliner khas Kalteng dan mengembangkannya menjadi aneka varian rasa, sehingga dapat dinikmati banyak orang termasuk generasi milenial.

“Tidak hanya sekadar varian original saja, sehingga kuliner kenta bisa menjadi kuliner modern yang digemari semua orang termasuk generasi milenial,” tambahnya.

Masih dalam perhelatan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Kalteng ke 62. Selain Mangenta, Pemerintah Daerah Provinsi Kalteng juga memecahkan rekor bakar jagung sebanyak 62 ribu bonggol atau tongkol. Hal ini menjadi penanda, direbutnya predikat Muri bakar jagung yang sebelumnya dipegang oleh Kota Jember, Provinsi Jawa Timur dengan total 52 ribu.

Tradisi Mangenta

Tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

Setelah itu, beras disangrai dengan tungku di atas kayu bakar hingga matang. Apabila matang padi akan meletup dan terpisah dari kulitnya menjadi beras. Selanjutnya, beras ditumbuk dengan kayu ulin.

Kemudian, beras dibersihkan dari kotoran yang masih tertinggal dan siap dihidangkan bersama air hangat, gula pasir, gula merah, dan parutan kelapa muda.

Koordinator sekaligus keturunan suku dayak, Agus menuturkan, saat ini tradisi mangenta mulai ditinggalkan sebab wara juga sudah jarang bertani padi.

“Sebenarnya orangtua itu tahu, namun yang bertani sekarang sudah sedikit, penduduk lokal juga jarang yang bertani, sedangkan tradisi mangenta merupakan khas lokal suku Dayak,” dia menambahkan.

Continue Reading

Pojok

Mengenal Serunai, Alat Musik Tiup Kebanggaan Minangkabau

Published

on

Alat musik Serunai

Serunai bukanlah suling, namun lebih mirip clarinet dengan ujung mengembang seperti corong. Alat musik tiup khas Ranah Minang Sumatera Barat ini, terbuat dari batang padi, kayu, bambu, batang kelapa atau tanduk kerbau.

Alat musik tersebut, bisa dimainkan sendiri atau berbarengan dengan alat musik lain. Suaranya yang melengking dan khas kerap digunakan untuk mengiringi tarian, pencak silat, ataupun sekadar untuk menghibur diri kala di sawah atau ladang.

Bagian yang ujung mengembang seperti corong, biasanya terbuat dari kayu atau tanduk kerbau. Tapi bisa juga terbuat dari daun kelapa yang dililit. Serunai memiliki empat lubang dengan jarak antar lubang sejauh 2,5 cm.

Baca Juga:

  1. Ragam Potensi Besar Pengembangan Properti di Jakarta Timur
  2. Asal-usul Nama Kramat Jati, Tempatnya Pohon Keramat di Jakarta Timur
  3. Begini Potensi Jakarta Timur Hingga Karawang Jadi Jakarta Garden City

Kemudian bagian tengah serunai terdiri dari dua batang kayu atau bambu dengan ukuran berbeda. Ukuran yang lebih kecil disebut pupuik atau puput, fungsinya sebagai tempat untuk meniup. Sedangkan yang lebih besar berguna untuk mengatur nada, dan di bagian ini pula empat lubang itu berada. Membuka dan menutup lubang ini akan menghasilkan nada berbeda. Ukuran serunai hanya sekitar 20 cm.

Diceritakan dalam sejarah, alat musik Serunai ini berasal dari Lembah Kashmir, dataran India Utara dengan nama Shehnai. Alat musik Shehnai ini diperkirakan merupakan produk budaya hasil perkembangan dari alat musik pungi yang dipakai dalam musik para pemikat ular tradisional India.

Setelah banyak dikenal luas di dataran tinggi Minangkabau, Sumatera Barat, kemudian Serunai menjadi alat musik tiup yang populer khas Minang. Alat musik ini dikenal merata di daerah Sumatera Barat, terutama di bagian dataran tinggi seperti di daerah Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, serta sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat.

Alat musik Serunai telah dipopulerkan ke seluruh Indonesia oleh para imigran dari Minang. Selain itu, Serunai juga banyak dikenal sebagai alat musik tradisional Malaysia dan masyarakat Banjar di Kalimantan dengan sebutan nama yang sama.

Alat musik Serunai

Alat musik Serunai biasanya dimainkan dalam berbagai acara adat yang identik dengan keramaian, seperti upacara adat pernikahan, penghulu atau batagak pangulu, dan lain sebagainya.

Alat musik jenis ini juga biasa dimainkan secara bebas, seperti dimainkan secara perorangan pada saat memanen padi atau di kala luang setelah bekerja di ladang. Maupun dimainkan bersama-sama untuk mengiringi pertunjukan pencak silat Minang.

Alat musik Serunai atau juga dikenal dengan sebutan puput Serunai adalah alat musik tradisional yang memiliki bentuk menyerupai Seruling. Serunai memiliki ukuran panjang sekitar 10 sampai 12 cm.

Alat musik Serunai ini juga hampir menyerupai dengan Saluang, namun bagian ujungnya lebih mengembang semacam terompet. Bagian mengembang tersebut berguna sebagai media untuk memperkeras volume suara yang dikeluarkan.

Continue Reading

Histori

Kesenian Senjang, Tradisi Lisan Sarat Sejarah Masyarakat Musi Banyuasin

Published

on

kesenian senjang

Sejarah kebudayaan Sumatera Selatan memiliki ciri khas yang unik dan tidak semua provinsi di Indonesia memiliki ciri-ciri tersebut.

Ciri budaya Sumatera Selatan dibangun selama berabad-abad, lapisan demi lapisan mulai dari lapisan kebudayaan Austronesia yang datang ke kawasan ini sejak lebih kurang dari 5000 tahun yang lalu.

Tradisi Autroneisa ini bertahan dan mampu menyesuaikan dengan kebudayaan-kebudayaan yang masuk ke seluruh daerah yang ada di Sumatera Selatan dan juga seiring perkembangan zaman maka kebudayaan tersebut kelak akan menjadi kebudayaan Melayu Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan di ibaratkan pot raksasa tempat munculnya beragam kebudayaan sehingga menghasilkan kebudayaan muda yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri.

Faktor lingkungan memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan kebudayaan campuran tersebut. Bentang alam berupa laut, rawa-rawa, sungai, dan daratan rendah dan perbukitan membentuk ciri khas sub-sub kebudayaan Melayu Sumatera Selatan.

Kebudayaan Sumatera Selatan yang juga dikenal dengan kebudayaan Batanghari Sembilan karena masyarakat pendukungnya yang hidup dan berkembang di daerah sepanjang aliran sungai Musi dan anak sungainya.

Kebudayaan Sumatera Selatan mampu bertahan di tengah gempuran kebudayaan asing yang mulai masuk dan berkembang seperti sekarang ini.

Maka banyak kebudayaan asli pada akhirnya mulai tergerus dan terancam keberadaannya sebagai akibat kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan kebudayaan asli yang ada di daerah Sumatera Selatan.

Senjang sebagai salah satu warisan budaya tak benda masyarakat Musi Banyuasin yang hadir sebagai salah satu hasil dari kebudayaan nenek moyang masyarakat pada zaman dahulu.

Senjang hadir sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang ada di masyarakat, berupa hasil dari kebudayaan masyarakat Melayu Sumatera Selatan yang ada di daerah Musi Banyuasin. Dan juga disebut sebagai salah satu dari tradisi masyarakat Batanghari Sembilan. Mengingat kabupaten Musi Banyuasin di lintasi oleh sungai Musi.

Sungai berfungsi sebagai tempat perdagangan dan perniagaan ini memiliki arti dan posisi strategis dalam membesarkan kebudayaan Musi Banyuasin.

Melalui fungsi ini, dapat dilihat bagaimana kebudayaan Musi Banyuasin adalah kebudayaan yang terbuka terhadap pertukaran dan penyerapan budaya dari daerah lain.

Melalui perdagangan juga, maka masyarakat Musi Banyuasin membiasakan diri menjadi komunitas yang terbuka, toleran, dan memuliakan tamunya.

Senjang tidak hanya menggambarkan kondisi geografis, flora, dan fauna yang ada di kabupaten tersebut tetapi juga menjelaskan berbagai penguasaan teknologi membuat perangkap ikan, seperti membuat rawai, bubu.

Selain itu, pemukiman seperti bentuk pemukiman pada lingkungan sungai yang mengikuti alur sungai dan bentuk-bentuk rumah selalu menghadap ke sungai yang disebut rumah rakit adalah pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Musi Banyuasin.

Penyampaian Senjang Pada awalnya senjang di sampaikan di balai-balai desa setempat dan musik pengiringnya pun menggunakan kenong karena belum adanya musik pengiring senjang, setelah itu barulah seiring perkembangan zaman pada masa kolonial Belanda senjang disampaikan memakai alat musik.

Alat musik yang digunakan pertama kali untuk mengiring seni senjang adalah Tanjidor. Tanjidor alat musik yang berkembang luas di masyarakat Sumatera Selatan ketika Belanda dapat memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke pedalaman Sumatera Selatan.

Pada saat Kesultanan Palembang Darussalam sedang berperang melawan Belanda yang dikenal dengan perang Menteng.

Perang ini berakhir pada tahun 1821 yang dimenangkan oleh pihak Belanda yang ditandai dengan ditangkapnya Sultan Mahmud Badaruddin II dan diasingkan ke Ternate hingga akhir hayatnya.

Budaya Eropa yang masuk seiring masuknya bangsa Belanda ke Sumatera Selatan ditandainya dengan percampuran kebudayaan Nusantara dengan kebudayaan Eropa yang sering dikenal dengan kebudayaan Indies.

Setelah menguasai Sumatera Selatan Belanda membagi daerah tersebut menjadi Iliran dan Uluan dan sebagai pusat pemerintahan berpusat di Palembang.

Baca Juga:

  1. Kesenian Ketoprak, Dulunya Hiburan Tani
  2. Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar
  3. Seni Reog: Dilarang Semasa Penjajahan, Jadi Alat Politik Setelah Merdeka

Daerah Iliran disebut sebagai daerah yang berada di kawasan delta sungai Musi dan daerah Uluan disebut sebagai daerah yang berada di pedalaman atau daerah luar Keresidenan Palembang.

Selanjutnya pemerintah kolonial Belanda membagi Palembang menjadi dua daerah yang disebut Afdeeling, dan daerah yang berada secara langsung dibawah pengawasan Belanda mengakui secara langsung pemerintahan Belanda.

Pada saat itu pemerintah Belanda membentuk sistem pemerintahan yang dikendalikan oleh seorang residen yang berkedudukan di Palembang.

Sedangkan di pedalaman Sumatera Selatan Belanda mengangkat Controleur sebagai pendamping divisi.

Wilayah pemerintahan Karesidenan Palembang, kemudian dibagi menjadi tiga Afdeeling dan Onder-Afdeeling yang meliputi: Afdeeling Palembangsche Bendenladen Palembang Ilir dan Afdeeling Palembangsche Bovenlanden Palembang Ulu. 

Afdeeling Palembangsche Afdeeling Bendenlanden Palembang Ilir dengan Asisten Residen berkedudukan di Palembang yang membawahi beberapa Onder-Afdeeling yaitu: Palembang, Ogan Ilir Komering Ilir, Banyuasin, Musi Ilir dan Rawas.

Afdeeling Palembangsche Bovenlanden Palembang Ulu dengan Asisten Residen berkedudukan di Lahat yang membawahi beberapa Onder- Afdeeling yaitu: Lematang Ulu, Lematang Ilir, Tanah Pasemah, Tebing Tinggi dan Musi Ulu.

Ogan dan Komering Ulu, dibawah Asisten Residen yang berkedudukan di Baturaja yang membawahi Onder-Afdeeling yaitu: Ogan Ulu, Muara Dua, dan Komering Ulu.

Ketika Sekayu menjadi Onder- Afdeeling dari Afdeeling Palembangsche Bendenladen, maka seluruh adat dan budaya masyarakat Sekayu pun sebagian bercampur dengan kebudayaan orang Eropa. 

Percampuran itulah menyebabkan dari segi alat musik pengiring senjang pun mengalami perubahan dahulu sebelum Belanda masuk ke Sumatera Selatan.

Senjang di sampaikan dengan cara tidak memakai alat musik melainkan disampaikan secara sederhana barulah ketika masuknya kekuasaan Belanda di Onder-Afdeeling Musi Hilir barulah senjang disampaikan memakai musik pengiring Tanjidor.

Selain disampaikan di dalam acara pernikahan senjang disampaikan dalam acara resmi seperti acara khitanan dan acara pemerintahan dalam menyambut tamu.

Pelakon senjang ingin menunjukkan kepada khalayak yang mendengar bahwa mereka punya budaya lama yang bernama senjang.

Bersenjang agar hati bisa terhibur. Tapi pelakon senjang menyadari jika budaya lama terancam. Globalisasi membuat budaya lama perlahan (begoyo) hilang.

Namun demikian, pelakon senjang berusaha optimis karena masih berusia muda masih ada kesempatan untuk mempertahankan tradisi ini, apalagi dengan diadakannya festival randik atau festival tradisi makin ada harapan agar budaya lama tidak akan terendam.

Senjang disampaikan sebagai informasi dan pesan pada acara pernikahan agar nanti perkawinannya berjalan langgeng dan tidak akan ada masalah yang timbul di kemudian hari nanti.

Senjang bukan hanya disampaikan acara pernikahan saja tetapi juga disampaikan dalam acara perpisahan sekolah, acara penyambutan tamu penting dan juga acara lainnya.

Senjang sebagai budaya lama dan milik Musi Banyuasin terus menerus disuarakan, tidak hanya dalam acara perkawinan semata-mata tetapi juga dalam acara-acara festival.

Bahasa yang digunakan dalam bersenjang memakai bahasa Musi. Bahasa Musi digunakan sebagai salah satu bahasa yang digunakan sebagai bersenjang, penyampaian senjang yang salah dapat menyebabkan arti dan pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan ini senjang.

Senjang berbentuk seperti pantun yang terdiri dari 4 sampiran dan juga ter diri dari 4 sisi dan juga ada yang 8 sampiran dan 8 sisi.

Ada juga yang 10 sampiran dan juga 10 isi dan juga senjang memiliki nada penyampaian yang berbeda misalkan senjang sungai Keruh dan senjang Babat Toman senjang sungai Keruh.

Perbedaan senjang sungai Keruh berbeda dengan senjang Sekayu senjang sungai Keruh lebih cenderung bahasanya yang berbeda dari bahasa Sekayu justru juga senjang Sanga Desa berbeda juga dengan senjang sungai Keruh perbedaannya ialah dari segi logat bahasannya saja tetapi mengandung arti yang sama.

Continue Reading

Trending