Connect with us

Internasional

Heboh! Warga China Berebut & Berdesakan Demi Beli Iphone 13

Published

on

Foto Ilustrasi Warga China Berdesakan Beli Iphone 13.

Sebuah video viral di media sosial yang menayangkan ribuan orang menyerbu salah satu mal di Provinsi Shaanxi, China.

Ribuan orang tersebut terlihat rela berlari-lari dan berdesakan berebut antrean untuk membeli iPhone 13 pada penjualan hari pertama, 24 September 2021.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Peminat iPhone 13 di China benar-benar luar biasa. Ponsel terbaru keluaran Apple itu seolah jadi barang yang wajib dimiliki, sehingga mereka rela berdesakan demi menjadi orang pertama yang menggunakannya.

Dilansir dari South China Morning Post, peningkatan jumlah pemesan ini salah satunya dipengaruhi karena tidak ada ponsel kelas atas dari Huawei yang menjadi pesaing iPhone. Seperti diketahui, Huawei adalah pabrikan ponsel no 1 di China.

Namun, masuknya Huawei ke dalam daftar hitam Amerika Serikat, membuat mereka tidak bisa memakai komponen tertentu. Salah satunya modem 5G. Alhasil, ponsel flagship Huawei tidak cukup kompetitif.

Kebijakan Peggunaan Peralatan Teknologi Asing di China

Sebelumnya diketahui, China menyatakan akan lebih membuka ekonominya kepada dunia. WTO (Organisasi Perdagangan Dunia PBB) juga mendesak pemerintah China agar membuat perdagangannya lebih terbuka.

Hal ini terjadi lantaran pemerintah China terlalu ketat memberi aturan penyensoran terhadap aplikasi asing di negara tersebut. Biasanya ada dua alasan dibalik kebijakan penyensoran, politik dan ekonomi.

Belakangan, pemerintah China terus memperkuat sensor negaranya yang dikenal sebagai Great Firewall, meniru istilah peninggalan sejarah terkenal di China, Great Wall (Tembok Besar China).

Kebijakan teknologi China telah berkembang melalui empat fase sejak berdirinya negara tersebut pada tahun 1949.

Pada fase pertama, 1949-1959, perkembangan teknologi China ditujukan untuk mendukung terbentuknya industri-industri di China dengan bantuan utama dari Uni Soviet.

Sementara fase kedua, 1959-1976 (revolusi budaya), teknologi di China tidak terlalu berkembangan karena stagnansi ekonomi dan dominasi ideologis komunisme.

Fase ketiga, di bawah reformasi Deng Xiaoping dan diteruskan oleh Jiang Zemin hingga tahun 2001, perkembangan teknologi ditekankan pada penelitian yang terbebas dari ideologi komunis dan secara bertahap ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Pada tahap terakhir, semenjak tahjun 2002, kebijakan teknologi China didedikasikan seutuhnya untuk industrialisasi teknologi, dengan mulai memperhatikan teknologi yang ramah lingkungan.

Dengan kebijakan tersebut, China mampu mendominasi pasar global yang membuat China dijuluki sebagai pabrik dunia.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dominasi pemerintahan China dalam merancang dan mengatur perkembangan keilmuan dan teknologi (John R. Campbell, 2013).

Terkait dengan program keantariksaan, China mempersepikan hal tersebut sebagai puncak aktualiasasi teknologi canggih yang dimiliki China.

Dalam rekam sejarah, keberhasilan China ditandai dengan kesuksesan program rudal balistik pada tahun 1960-an dan 1970-an.

China sendiri berhasil meluncurkan satelit pertamanya pada tahun 1970, dan satelit yang dapat dikembalikan (recoverable satellite) pada tahun 1978.

Keberhasilan tersebut menuntun teknologi roket China untuk memasuki industrialisasi pada tahun pada tahun 1987 melalui Chang Zeng Rocket Series, yang berhasil diluncurkan empat tahun kemudian (John M Lodgson, 2018).

Walaupun ditujukan untuk kepentingan sipil dan komersial, berbeda dengan Amerika dan negara-negara Eropa lainnya yang mana perkembangan teknologi dipimpin oleh aktor sipil, aktor utama yang mengembangkan teknologi roket China adalah militer China, People’s Liberation Army (PLA) sejak tahun 1950-an.

China National Space Administration (CNSA) dibentuk untuk fokus pengembangan pada keilmuan dan teknologi keantariksaan pada tahun 1993.

Pada tahun 2003, CNSA berhasil melaksanakan misi keantariksaan dengan awak, yang membuat China sebagai negara ke-3 di dunia, setelah AS dan Soviet, yang mampu mengirim warganya ke antariksa.

Perencanaan China untuk perkembangan teknologi roket sangat ambisius.

Dilansir dari buku putih China 2016, program keantariksaan China menginginkan pengadaan laboratorium antariksa dan mengirim robot untuk mengambil beberapa sample bulan (China National Space Administration, 2016).

Pada tahun 2020, China ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada satelit Amerika dengan
membuat sistem satelit Beidou Navigation yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil dan militer (Yun Zhao, 2016).

Keinginan China untuk menjadi negara yang maju di bidang teknologi keantariksaan dapat dilihat dari keadaan domestik dan internasional yang dihadapi oleh China.

Prersiden seumur hidup China, Xi Jinping, dalam sambutannya pada hari pekerja ilmiah dan teknologi nasional China (30/5/2018) menyampaikan, hanya dengan menguasai teknologi kita dapat menjamin keamanan ekonomi nasional dan pertahanan nasional dan berbagai aspek keamanan lainnya.

“Karena hal itu inisiatif untuk inovasi dan perkembangan harus berada di tangan kita”.

Dengan demikian, perkembangan teknologi keantariksaanTiongkok yang pesat memang sudah dimaksudkan oleh pemimpin China itu sendiri.

Internasional

Jokowi: Indonesia Siap Bantu Afghanistan

Published

on

Presiden Jokowi

Pemerintahan inklusif di Afghanistan saat ini belum terbentuk dan hal itu membuat situasi kemanusiaan di sana memburuk. Untuk itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menyatakan siap membantu Afghanistan.

Jokowi mengungkapkan hal itu saat berbicara secara virtual pada Sesi Retreat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Europe Meeting (ASEM) ke-13 di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat, 26 November 2021.

“Saat ini, pemerintahan inklusif belum terwujud. Situasi kemanusiaan memburuk. Sekitar 23 juta rakyat Afghanistan terancam krisis pangan. Bantuan kemanusiaan menjadi prioritas. Kami berkomitmen memberikan bantuan, termasuk untuk bantuan kapasitas,” ujar Presiden Jokowi, seperti dikutip dari keterangan resmi Istana.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Selain isu kemanusiaan, ada dua isu yang jadi perhatian Indonesia. Pertama, pemberdayaan perempuan. Presiden Jokowi mengingatkan bahwa penghormatan hak-hak perempuan adalah salah satu janji Taliban.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia ingin berkontribusi agar janji tersebut dapat dipenuhi, antara lain melalui Indonesia-Afghanistan Women Solidarity Network yang akan dimanfaatkan untuk kerja sama pemberdayaan perempuan ke depan.

“Kami juga siap memberikan beasiswa pendidikan bagi perempuan Afghanistan. Kami akan terus lanjutkan upaya pemberdayaan perempuan Afghanistan melalui kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Kedua, kerja sama antarulama. Presiden Jokowi memahami betul peran penting ulama di masyarakat. Pada 2018 Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan trilateral ulama Afghanistan-Pakistan-Indonesia untuk mendukung proses perdamaian.

“Meskipun situasi Afghanistan sudah berbeda, namun ulama tetap berperan penting. Kami siap memfasilitasi dialog antara ulama, termasuk ulama Afghanistan,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri I Gede Ngurah Swajaya.

Continue Reading

Internasional

Kabar Baik, Masyarakat Indonesia Kini Boleh Kunjungi Uni Eropa

Published

on

bendera Uni Eropa
bendera Uni Eropa

Indonesia mendapatkan kabar baik di tengah pandemi Covid-19. Uni Eropa (UE) memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang diizinkan mengunjungi kawasan tersebut.

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (22/11/2021), kini Warga Negara Indonesia (WNI) kini dapat melakukan kunjungan perjalanan ke-27 negara yang berada di Uni Eropa, yang sebelumnya perjalanan WNI ke wilayah UE hanya untuk keperluan penting (esensial) saja.

Keputusan ini Uni Eropa setelah mempertimbangkan jumlah kasus Covid-19 yang terus menurun. Salah satu yang menjadi pertimbangan Uni Eropa adalah jumlah kasus di bawah 75 dari 100 ribu penduduk dalam dua pekan. Indonesia melaporkan tambahan kasus di bawah di bawah 1.000 sepanjang November, kurang 1 persen dari 100 ribu penduduk.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Menyusul review akan pencabutan berkala pembatasan sementara untuk perjalanan non-esensial, Dewan Uni Eropa memperbarui daftar negara yang dicabut larangan perjalanannya, Indonesia yang ditambahkan ke daftar,” demikian keterangan pers yang dirilis oleh Uni Eropa.

Uni Eropa juga mengizinkan warga Cina untuk mengunjungi kawasan tersebut. Namun, dengan catatan, jika Cina memberikan hak yang sama bagi warga Uni Eropa untuk mengunjungi negara Tirai Bambu tersebut.

Uni Eropa memberlakukan pembatasan kunjungan sejak Maret lalu untuk menekan kasus Covid-19. Mereka akan memperbarui daftar negara yang bisa diizinkan untuk masuk ke kawasan tersebut setiap dua minggu.

Bagi WNI yang berencana ke negara-negara Uni Eropa, perlu mempertimbangkan beberapa hal, selain visa, dan kewajiban tes PCR, tentu adalah apakah negara bersangkutan menerima pengunjung yang sudah divaksin Sinovac (jenis vaksin yang paling banyak dipakai di Indonesia), mengingat belum semua negara mau membuka pintu bagi mereka yang divaksin Sinovac (maupun vaksin-vaksin lain).

Daftar 19 Negara yang Boleh Mengunjungi Uni Eropa:

Argentina
Australia
Bahrain
Kanada
Chile
Kolombia
Indonesia
Yordania
Kuwait
Namibia
Selandia Baru
Peru
Qatar
Rwanda
Saudi Arabia
Korea Selatan
United Arab Emirates
Uruguay
China (asas resiprokal)

Continue Reading

Internasional

Kronologi Lengkap Kontroversi Nama Putri Nabi Muhammad SAW di Botol Wiski Malaysia

Published

on

Wiski Timah
Wiski Timah

Negeri tetangga, Malaysia, dihebohkan dengan kontroversi nama putri Nabi Muhammad SAW di botol Wiski merk lokal. Alhasil, permasalahan ini dibawa hingga ke sidang pemerintah.

Ya, kehebohan terjadi di Malaysia sejak pekan lalu. Nama merk Wiski lokal itu adalah Timah. Nama tersebut dianggap menyinggung putri Nabi Muhammad SAW, Fatimah.

Label botol wiski ini juga menjadi kontroversi karena bergambar mirip seorang pria yang mengenakan peci, yang menjadi ciri khas Muslim.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Organisasi Muslim mengklaim penggunaan nama itu tidak peka pada umat Islam negeri itu, mengingat ada larangan meminum alkohol.

“Kami tidak keberatan dengan non-Muslim minum alkohol,” katanya Mufti Penang, Wan Salim Wan Noor, dikutip dati situs lokal The Star.

“Tetapi kami meminta pemerintah untuk memerintahkan produsen mengubah mereknya serta gambar pada botol menjadi nama dan gambar, yang tidak membangkitkan kepekaan umat Islam di negeri ini,” dia menambahkan.

Masalah ini menyebabkan terjadinya rapat besar di pemerintahan Malaysia. Jajaran menteri Malaysia bahkan mengundang produsen melakukan dialog soal perubahan nama dan label botol.

Dalam akun Facebook, Menteri Transportasi Wee Ka Siong menyatakan bahwa kabinet telah membahas persoalan ini. Ia menyebutnya sekarang telah selesai.

“Timah tidak perlu mengubah namanya dan produsen juga sepakat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang asal-usul Timah. Timah berarti bijih timah, yang berkaitan dengan bijih timah atau tambang timah,” ucapnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Malaysia memberikan pembelaan ke produsen wiski Timah. Menurut Wakil Menteri Keuangan Yamani Hafez Musa, wiski telah memiliki izin cukai sejak 2003.

Continue Reading

Trending