Connect with us

Heritage

Gua Pawon, Rumah Orang Jawa Barat di Masa Purba

Published

on

Gua Pawon
Gua Pawon

Bandung merupakan salah satu wilayah Indonesia yang potensi wisatanya sangat besar dan beragam. Salah satu objek wisata yang layak kamu sambangi di Bandung adalah Gua Pawon. Gua Pawon berlokasi di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.

Menurut sejarah, kawasan Bandung, termasuk Gua Pawon dulunya merupakan danau purba yang sangat luas. Berdasarkan hasil penelitian ahli geologi, jutaan tahun lalu Bandung merupakan lautan yang mengalami proses pergerakan tektonik lempeng bumi dan memunculkan gunung-gunung purba.

Kemunculan gunung-gunung purba ini menciptakan cekungan besar yang akhirnya menghasilkan danau raksasa. Danau tersebut kemudian dinamakan Danau Sunda Purba, yang digadang-gadang menjadi awal mula peradaban leluhur orang Sunda di Bandung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Jejak kehidupan manusia prasejarah di Gua Pawon itu didapat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tim Arkeologi Jawa Barat. Penelitian atau proses ekskavasi dimulai sejak 2003.

Dari proses ekskavasi, Tim Arkeolog Jawa Barat sudah menemukan tujuh rangka manusia prasejarah dari lima kronologi (pertanggalan karob) yang meguatkan kesimpulan bahwa manusia pawon hidup pada era Pleistosen Akhir-Awal Holosen.

Rangka pertama ditemukan September 2013 yang berumur 5.600 tahun lalu. Begitupun usia rangka kedua dan kelima pun sama. Rangka ketiga diperkirakan berusia 7.300 tahun lalu, rangka keempat berusia 9.500 tahun yang lalu, rangka keenam berusia 10.000 tahun lalu dan rangka ketujuh berusia 12.000 tahun lalu.

Gua pawon memiliki panjang 38 meter dan lebar 16 meter, tetapi atap dari tempat ini tidak diketahui pasti karena telah runtuh ketika ditemukan. Penanaman Gua Pawon diketahui berasal dari warga sekitar.

Gua Pawon

“Pemberian nama tersebut didasarkan karena bentuk atap gua yang sudah berlubang mirip seperti pawon dalam bahasa sunda, pawon berarti cerebong asap yang ada di dapur,” ungkap Geizka Medina Rozal dalam tulisannya berjudul Jejak Penemuan Manusia Purba di Gua Pawon Padalarang Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.

Penemuan tujuh rangka ini dianggap cukup penting untuk mengisi potong mata rantai jejak manusia prasejarah yang hilang. Diketahui pada 8 Juli 1999, ditemukan potongan gigi seri manusia prasejarah berusia 600 ribu tahun yang lalu di Tambaksari, Ciamis.

Sementara itu di Subang Larang, Tim Eskavasi Gua Pawon juga berhasil menemukan fosil kerangka manusia yang lebih muda, diperkirakan berusia 45 tahun sebelum Masehi. Dengan penemuan di Tambaksari dan Pawon, tim ini memercayai masih ada jejak manusia prasejarah yang terkubur di Jabar.

Gua Pawon
Gua Pawon

“Kita ingin mendapatkan periode yang lebih tua lagi karena dari proses migrasi untuk umur-umur hunian prasejarah seperti Pawon ini, Jawa Barat punya lapisan antara 30 hingga 35 ribu tahun yang lalu, makanya kita gali lagi,” ujar Ketua Tim Eskavasi Gua Pawon, Lutfi Yondri.

Pada proses ekskavasi lanjutan, tim belum berhasil menemukan individu manusia prasejarah. Tetapi mereka berhasil menemukan beragam artefak yang terbuat dari bahan batuan obsidian, andesit, dan rijang yang diperoleh Manusia Pawon dari tempat lain.

“Batu gamping di antaranya digunakan sebagai perkutor (alat batu pukul), juga ada yang digunakan dalam bentuk alat serpih. Perkutor digunakan untuk memecah tulang yang kemudian mereka gunakan sebagai artefak seperti lancipan,” papar Lutfi.

Jabar diketahui memiliki banyak monumen prasejarah, khusus di wilayah selatan. Misalnya terdapat situs arkeologi berupa puden berundak di Gunung Padang, Cianjur yang berjarak tidak lebih 50 kilometer dari Gua Pawon.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Heritage

Rumah Adat Tambi, Mungil tapi Tahan Gempa

Published

on

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) memiliki tiga rumah adat yang menjadi kebanggaan mereka. Namun dari ketiga rumah adat tersebut, Rumah Adat Tambi menjadi yang paling unik.

Rumah adat Tambi merupakan bangunan tradisional milik Suku Lore dan Kaili. Ini adalah rumah panggung yang bagian atapnya berguna sebagai dinding. Adapun, alasanya terbuat dari balok yang tersusun dan batu alam dijadikan fondasi.

Biasanya Rumah Adat Tambi menggunakan ijuk untuk menutupi atapnya. Dipilihnya ijuk karena bagi masyarakat Sulteng, bahan ini lebih mudah ditemukan dan sekaligus mampu mendinginkan rumah.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Tidak terdapat kamar dalam Rumah Adat Tambi, pasalnya para penghuninya lebih senang tidur di ruang tamu dengan menggunakan tempat tidur yang berasal dari kulit kayu.

Rumah adat Sulawesi Tengah ini memiliki hal yang unik dan membuatnya beda dari rumah adat lainnya.

Keunikan dari rumah adat Tambi berada pada bentuk atapnya yang terlihat seperti prima, ukuran rumahnya, dan jumlah anak tangganya.

Rumah yang berbentuk segitiga ini memiliki filosifi yaitu dua relasi antara garis horizontal dan vertikal.

Garis horizontal menjadi alas atau dasar dari segitiga yang melambangkan hubungan antara sesama manusia.

Sementara garis vertikal yang merupakan kaki segitiga, melambangkan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Pada bagian atap rumah atau pada ruangan utama rumah adat di Indonesia ini, biasanya terdapat sebuah tanduk kerbau atau kepala kerbau yang disebut pebaula.

Selain pebaula, keunikan lain dari rumah tradisional Tambi adalah adanya corak berbentuk ayam, kerbau, dan babi yang konon melambangkan kesejahteraan juga kesuburan.

Bedasarkan catatan laman Kebudayaan Kemdikbud, Rumah Tambi digunakan sebagai tempat tinggal. Tetapi karena ukurannya tidak terlalu besar mereka pun memiliki dua bangunan tambahan yang berada di luar rumah.

Dua bangunan pendampingan itu terkenal dengan nama Bohu dan Pointua yang memiliki fungsi masing-masing. Misalnya Bohu merupakan bangunan yang mempunyai dua lantai dan memiliki ruangan seperti pada rumah utama.

Pada lantai satu digunakan untuk menerima tamu, sedangkan pada lantai dua digunakan untuk tempat menyimpan padi. Sedangkan Pointua digunakan sebagai tempat menumbuk padi.

Dalam buku Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018) karya Kasdar, diketahui bahwa belakangan Rumah Adat Tambi mulai dibuatkan ornamen pada bagian pintu sebagai hiasan.

Motifnya banyak terinspirasi dari lingkungan, misalnya binatang atau tumbuh-tumbuhan. Terlihat pada bagian luar atap yang terdapat tanduk kerbau atau ada juga ukiran berbentuk kepala ayam atau babi.

“Dahulu dipasangnya tanduk kerbau pada atas atap tersebut melambangkan bahwa pemilik rumah pernah berburu,” jelas Kasdar dalam penelitiannya.

Tetapi Kasdar menemukan fakta baru bahwa simbol-simbol ini memiliki makna tersendiri, misalnya kerbau melambangkan kekayaan, hati merupakan simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Hal yang menarik juga adalah pendirian rumah adat ini juga tidak lepas dari beberapa kepercayaan, misalnya corak berbentuk hewan ini konon untuk menangkal gangguan roh jahat.

Rumah Adat Tambi juga menampilkan sisi spiritual masyarakat, misalnya rumah Tambi dominan berbentuk segitiga, di mana bentuk ini melambangkan sisi horisontal dan vertikal.

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Pada sisi horizontal, memperlihatkan hubungan antara manusia, sedangkan pada sisi vertikal melambangkan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Rumah Adat Tambi juga sekarang menjadi simbol dari Provinsi Sulteng sehingga beberapa kantor pemerintah mengadopsi gaya arsitekturnya. Walau untuk penggunaan ruangannya lebih dari satu.

Rifai Mardin, dosen teknik arsitektur dari Universitas Tadulako menyebutkan rumah adat berasitektur panggung ini juga tahan gempa. Selain itu juga tahan dengan banjir dan tsunami.

Tentunya dengan catatan tingginya tidak setinggi badan bangunan atau di atas dua meter dari lantai dasar rumah. Rumah juga akan mampu bertahan bila gelombang air tidak membawa debris yang besar.

Rifai pun yakin masyarakat zaman dahulu telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi tempat tinggalnya. Apalagi masyarakat dahulu sudah biasa hidup dengan gempa, hal inilah yang terlihat dari budaya lokal setempat, khususnya dalam rancang bangunan.

Hal ini karena material yang digunakan memengaruhi kekuatan struktur suatu bangunan terhadap guncangan. Misalnya dalam bangunan tradisional biasa menggunakan kayu yang mempunyai daya lentur lebih baik daripada beton. Material yang digunakan pun merupakan kayu pilihan yaitu dengan kualitas terbaik.

Continue Reading

Heritage

Rujak Cingur Kini Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Published

on

Rujak Cingur
Rujak Cingur

Kementerian Pnedidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menetapkan Rujak Cingur sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021. Keputusan ini ditetapkan dalam sidang penetapan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek dan Tim Ahli Warisan Budaya.

Dengan demikian, total WBTB 2021 mencapai 289 dan terbagi dalam beberapa kategori meliputi tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukkan, adat istiadat masyarakat dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta, serta kemahiran tradisional.

Rujak Cingur merupakan satu di antara 289 WBTB tersebut. Ya, rujak memang bukan makanan yang asing di Indonesia. Di berbagai daerah, ada banyak jenis rujak yang umumnya terdiri dari potongan buah segar dan sambal pedas-manis.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Paling pas mengonsumsi rujak di siang hari sebagai camilan segar atau biasa jadi pilihan kudapan saat kumpul-kumpul dengan teman atau keluarga. Pemilihan buah dalam ruka biasanya cenderung memadukan rasa asam dan manis, kemudian dicocol dengan sambal yang pedas.

Namun, rujak cingur yang banyak dijumpai di Surabaya ini cenderung berbeda karena perpaduannya terbilang unik. Meski namanya rujak, penampilannya sangat berbeda, begitu pula dengan rasanya. Bagi yang belum pernah mencobanya mungkin akan terheran-heran dengan makanan ini. Namun, karena rasanya enak dan perpaduannya unik, maka rujak cingur jadi salah satu makanan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Surabaya.

Dalam satu porsi rujak cingur terdiri dari irisan mentimun, bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, krai atau mentimun khas Jawa, lontong, tahu, tempe, taoge, kangkung, kacang panjang, dan cingur. Dalam bahasa Jawa, cingur artinya congor, mulut atau moncong sapi.

Setelah semua bahan dicampur jadi satu, rujak diberi bumbu yang terbuat dari petis udang, gula merah, cabai, kacang tanah goreng, dan pisang klutuk yang diulek sampai halus.

Menurut sejarahnya, Rujak Cingur berasal dari Mesir dan menjadi favoritnya Firaun. Berdasarkan cerita yang beredar, terciptanya rujak cingur berawal dari Raja Firaun Hanyokrowati yang sedang bertahta di Mesir. Saat itu Raja tengah berulang tahun.

Rujak Cingur
Rujak Cingur

Kemudian Raja mengadakan sayembara barangsiapa yang bisa menyajikan makanan enak dan istimewa, maka akan dikabulkan permintaannya. Semua juru masak Istana pun berlomba-lomba menyajikan makanan lezat.

Namun, makanan-makanan tersebut tidak ada yang cocok di lidah Raja Firaun. Lalu, seorang penggawa kerajaan mengatakan kepada Raja bahwa ada seseorang yang ingin menyajikan masakan untuknya.

Orang itu bernama Abdul Rozak yang membawa makanan dibungkus daun pisang. Makanan tersebut lebih dulu dicek keamanannya oleh ahli kesehatan. Makanan itu terbuat dari cingur unta, aneka sayur dan bumbu.

Baru kemudian dicicip oleh Raja. Raja pun makan dengan lahap, bahkan keringatnya sampai bercucuran karena rasanya yang pedas. Makanan buatan Abdul Rozak itulah yang berhasil memuaskan Raja Firaun.

Abdul Rozak pun diberi hadiah berupa kapal laut dan sebidang tanah. Bukan hanya itu, ia juga diangkat menjadi juru masak istana. Namun, hanya menerima hadiah berupa kapal laut dan menolak hadiah lainnya.

Dengan kapal laut itulah Abdul Rozak mengembara hingga menginjakkan kaki ke Tanjung Perak, Surabaya, tepatnya di masa-masa perdagangan. Saat itulah, Abdul Rojak menyebarkan resep makanan tersebut.

Continue Reading

Heritage

Jadi Warisan Budaya Baru Indonesia, Ini Sejarah Tempe Mendoan

Published

on

Tempe mendoan
Tempe Mendoan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menetapkan Tempe Mendoan sebagai warisan budaya takbenda dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya TakBenda Indonesia 2021 yang berlangsung 26-30 Oktober 2021.

“Mendoan akhirnya terdaftar sebagai WBTb kategori Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional setelah mengalami perjalanan panjang. Proses pengusulannya sudah dilakukan sejak tahun 2020,” kata Kepala Seksi Nilai Tradisi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas Mispan di Purwokerto, Banyumas, Sabtu dikutip dari Antara.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Padahal, Tempe Mendoan tahun lalu gagal masuk ke dalam daftar ini. Pemilihan Tempe Mendoan sendiri didasari karena Mendoan sudah menjadi makanan sehari-hari dan identitas warga Banyumas.

Mendoan adalah tempe berbentuk kotak yang diiris tipis kemudian dibalut dengan tepung encer yang sudah ditambahkan irisan daun bawang di dalamnya.

Tempe ini kemudian digoreng dalam minyak panas selama beberapa menit. Namun bedanya dengan tempe goreng lainnya, mendoan hanya digoreng sebentar sehingga tak garing melainkan tepungnya masih basah. Untuk menyantapnya, mendoan biasa dicelup dalam sambal kecap pedas ataupun dimakan dengan gigitan cabe rawit hijau yang pedas

Sejarah Tempe Mendoan

Tempe mendoan
Tempe Mendoan

Makanan ini dinamakan mendoan karena cara memasaknya, yakni dimasak hanya setengah matang, atau dalam bahasa daerah Purwokerto disebut Mendo, hingga tercetuslah nama Tempe Mendoan atau tempe yang digoreng setengah matang.

niknya, tempe yang digunakan untuk membuat mendoan khas Purwokerto sendiri berasal dari daerah lain, yakni Banyumas yang tipis mirip kartu ATM.

Tempenya sendiri dibungkus dengan daun pisang dan khusus dibuat untuk sekali goreng. Sehingga tidak dipotong-potong seperti tempe kebanyakan.

Sebelum digoreng, tempe biasanya dibalur dengan adonan tepung yang telah dibumbui dan diirisi dengan daun bawang segar.

Cara menggorengnya cukup berbeda dari tempe biasa, yakni digoreng dengan minyak panas dan hanya dimasak sekitar 3 hingga 4 menit saja agar tidak sampai kering, atau hanya sampai mendo alias setengah matang.

Tempe Mendoan
Tempe Mendoan

Tempe Mendoan mulai menjadi komuditas ekonomis dan dikelola secara komersial dalam dunia kepariwisataan sejak awal 1960-an. Makanan ini bukan sekadar kudapan nikmat untuk menemani minum teh, tetapi juga sebagai ujung tombak pariwisata Kabupaten Banyumas.

Hal ini bersamaan dengan munculnya pusat oleh-oleh sawangan dan kripik Nyoya Sutrisno yang mengolah bentuk lain dari mendoan yang kering atau disebut dengan nama kripik.

Continue Reading

Trending