Connect with us

Market

Gawat, Bos Koin Kripto Terra & Luna Diincar Kejaksaan Korea

Published

on

Bos Koin Kripto Terra & Luna, Do Kwon.

Diketahui kejaksaan Korea Selatan kini sedang mengincar pembuat stablecoin Terra dan Luna, yakni Do Kwon.

Usai banyaknya investor kehilangan uangnya dan nilai dua token tersebut anjlok hal itu pun terjadi. Penyelidikan pada organisasi di balik proyek Terra Terraform Labs telah dimulai.

Hal ini dikatakan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Selatan Seoul. Di mana pemimpin proyek itu diketahui adalah Do Kwon. Mengutip dari Tech Crunch pada Senin (23/5/2022) Kantor Kejaksaan mengatakan dilimpahkan pada Tim Investasi Gabungan Kejahatan Keuangan Siber dalam kasus itu.

berselang sehari setelah lima investor kripto berbasis di Korea mengajukan pengaduan pidana pada Do Kwon dan Daniel Shin, pengumuman itu datang. Daniel Shin sendiri merupakan salah satu pendiri dari Terraform.

Baca Juga:

  1. Mengenal CBDC Kripto, Mata Uang Digital dari Bank Sentral
  2. Keren, Singapura Mulai Terima Pembayaran dengan Kripto
  3. Curhat Bos Bursa Kripto Terbesar di Dunia yang Kini Kembali Miskin

Keduanya itu dituding melakukan pelanggaran peraturan keuangan lain dan juga penipuan. Tech Crunch melaporkan memiliki gabungan kerugian sebesar 1,4 miliar won terkait lima investro itu.

Di sisi lain, diperkirakan oleh otoritas keuangan setempat bahwa 280 ribu pengguna memiliki jumlah gabungan 70 miliar Luna di Korea.

Pembuat Luna dan Terra gagal memberitahu investornya soal kekurangan dua koin tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh perwakilan LKB & Partners, firma hukum yang disewa kelima investor.

“Desain dan penerbitan Luna dan Terra untuk menarik investor, namun gagal memberitahu mereka dengan benar mengenai kekurangannya dan perluasan penerbitan Luna yang tidak terbatas sama dengan menipu investor,” tuturnya.

Market

Waduh! Koin Kripto Senilai Rp1,48 T Juta Digondol Maling

Published

on

By

Koin Kripto Senilai Rp1,48 T Juta Digondol Maling

Kripto koin (cryptocurrency) senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,48 triliun dari Horizon, yang mengembangkan blockchain telah dicuri oleh hacker (peretas).

Saat ini masih terus diselidiki untuk rincian terkait peretasan tersebut. Akan tetapi Harmony, pengembang di balik Horizon menyebut sejak Rabu pagi mereka terus melakukan identifikasi pencuri. Satu akun yang diduga sebagai pelakukan pun sudah dikantongi oleh Harmony.

mengutip dari CNBC Internasional pada Minggu (26/6/2022) perusahaan rintisan itu mengatakan bahwa, “Kami telah mulai bekerja dengan otoritas nasional dan spesialis forensik untuk mengidentifikasi pelakunya dan mengambil kembali dana yang dicuri.”

Untuk menyelidiki serangan tersebut, Harmony mengungkapkan tengah bekerja dengan Biro Investigasi Federal dan sejumlah perusahaan keamanan siber lainnya.

Baca Juga:

  1. Mengenal Cara Kerja Tambang Aset Kripto
  2. Wah, Aplikasi Trading Kripto PINTU Dapat Pendanaan Rp1,6 Triliun
  3. Gara-Gara Harga Kripto Lesu, Deretan Perusahaan Ini Terpaksa PHK Karyawan

Di mana serangan itu dikatakan Harmony tidak mempengaruhi jembatan terpisah untuk bitcoin. Seperti aspek lain dari DeFi yang bertujuan untuk membangun kembali layanan keuangan tradisional. Misalnya seperti pinjaman dan investasi di blockchain.

Hal itu pun sudah menjadi target utama bagi peretas karena kerentanan dalam kode dasarnya yang ada.

Pemimpin penelitian di perusahaan analisis blockchain Elliptic Jess Symington menjelaskan bahwa, “Jembatan menjaga simpanan likuiditas yang besar, menjadikannya target yang menggoda bagi hacker.”

“Agar individu dapat menggunakan jembatan untuk memindahkan dana mereka, aset dikunci di satu blockchain dan tidak dikunci, atau dicetak, di blockchain lain,” tambahnya.

Sementara itu soal bagaimana dana tersebut dicuri, belum diungkapkan secara pasti oleh Harmony. Namun, sejak April lalu satu investor telah menyuarakan keprihatinan tentang keamanan jembatan Horizonnya.

Continue Reading

Market

Mengenal Cara Kerja Tambang Aset Kripto

Published

on

By

Cara Kerja Tambang Aset Kripto

Popularitas aset kripto terbilag tetap tinggi di berbagai kalangan, meski nilainya sedang merosot tajam. Termasuka pada cara menambangnya itu sendiri.

Mining atau kegiatan menambang kripto, serta miners atau berarti penambang kripto, merupakan dua unsur yang sangat penting dalam dunia kripto. Mining sendiri adalah proses pembuatan koin baru dan juga proses melakukan validasi transaksi kripto.

Direktur All Time Mining – Christoper Vittorio Simon mengatakan, pemilik alat mining akan mendapat komisi karena alatnya telah digunakan sebagai alat validasi transaksi saat proses transaksi berhasil.

Vito mengatakan, “Dalam teknologi blockchain, butuh sebuah validator untuk melakukan validasi transaksi. Contohnya bank sebagai validator di saat kita mengirim uang, dan ada biaya transkasi.”

Baca Juga:

  1. Gara-Gara Harga Kripto Lesu, Deretan Perusahaan Ini Terpaksa PHK Karyawan
  2. Miliarder AS: Perang Rusia Lawan Ukraina Percepat Adopsi Kripto
  3. Bos IMF: Kripto Penipuan Skema Piramida

Selain itu ia juga menyebutkan untuk membentuk satu block, akan dilakukan penyelesaian kode (puzzle). Miners atau penambangan yang berhasil membentuk blok akan mendapatkan upah berupa koin sebagai biaya transaksi nantinnya.

Diketahui, alat menambang atau mining rig juga menjadi faktor penting lainnya dalam kegiatan menambang kripto. Mining rig adalah seperangkat komputer yang disusun agar memudahkan dan meningkatkan performa komputer ketika proses menambang kripto.

Sementara itu penambang, khususnya penambang kripto pemula dalam memilih mining rig harus memperhatikan sejumlah hal. Ini dikatakan oleh Chief Technical Officer All Time Mining Herry Pieter.

“GPU ini paling memengaruhi kecepatan dan konsumsi daya listrik watt. VGA juga akan sangat berpengaruh ke break event-point atau titik keseimbangan hasil dari pendapatan dan modal yang dikeluarkan,” terangnya.

Namun tak hanya sampai di situ saja, melainkan juga seperti membuat lokasi menambang atau mining site dengan aliran udara yang baik pun perlu diperhatikan. Hal tersebut karena demi ketahanan mesin, suhu ruangan mining site harus terjaga.

“Untuk ukuran ruangan tidak perlu terlalu besar, tapi lebih menyesuaikan berapa banyak rig yang ada. Kelembapan juga sangat berpengaruh, jadi kita tidak perlu pakai AC,” kata Herry.

Continue Reading

Market

Dituntut Rp3.800 Triliun, Elon Musk Ngotot Dukung Dogecoin

Published

on

Elon Musk

Elon Musk beserta dua perusahaannya, yaitu SpaceX dan Tesla, digugat 258 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.800 triliun oleh seorang investor uang kripto Dogecoin (DOGE) bernama Keith Johnson.

Dalam gugatannya, Johnson mengaku telah kehilangan banyak uang setelah berinvestasi di Dogecoin. Johnson menilai Elon Musk telah memanipulasi harga Dogecoin. Gugatan ini dilayangkan di pengadilan di kota Manhattan, New York, Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/6/2022) waktu setempat.

Dalam dokumen gugatan tersebut, Johnson, sebagai warga AS yang telah membeli, memiliki, dan melakukan perdagangan Dogecoin sejak 2019, menuduh Musk dan dua perusahaannya bahwa mereka telah menjadikan Dogecoin sebagai mainan belaka.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Meski demikian, Elon Musk menegaskan tetap akan mendukung dogecoin. Musk juga menyebut pernyataannya ini merupakan dukungan untuk co-creator Dogecoin Billy Markus. Markus menyatakan keinginannya agar orang-orang dapat menggunakan DOGE untuk sesuatu yang lebih dibandingkan hanya untuk skema pump and dump.

“Saya akan terus mendukung Dogecoin,” cuit Musk.

Musk telah lama dikenal sebagai pendukung dogecoin. Di komunitas kripto, Musk juga dijuluki sebagai Dogefather. Dia percaya DOGE adalah kripto rakyat dan memiliki potensi sebagai mata uang. Sebaliknya, dia mengatakan bitcoin lebih cocok sebagai penyimpan nilai.

Musk juga sebelumnya mengungkapkan dia secara pribadi memiliki beberapa DOGE selain BTC dan ETH sebagai aset investasinya.

Continue Reading

Trending