Connect with us

Histori

Fosil Waduk Saguling, Bukti Kehidupan Hewan Purbakala 12 Ribu Tahun Lalu

Published

on

Fosil Waduk Saguling

Tim dari Prodi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap soal temuan fosil hewan purba di Pulau Sirtwo yang berada di tengah Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

Tim berhasil memverifikasi bahwa tulang yang ditemukan pada batuan di sepanjang pulau merupakan fosil, bukan hewan yang sifatnya modern atau kontemporer.

Temuan fosil-fosil hewan purba ini berasal dari kelompok Bovidae (sapi, kerbau dan banteng), Cervidae (kelompok rusa) dan Elepha maximus (gajah).

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Mika Rizki Puspaningrum, dari kelompok keahlian (KK) Paleontologi dan Geologi Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) menuturkan survei dilakukan pada dua hari berbeda yaitu Minggu (10/11/2021) dan Jumat (15/10/2021).

Selama kegiatan survei, tim melakukan pengamatan di 17 titik di sepanjang Pulau Sirtwo. Tim berhasil memverifikasi bahwa tulang yang ditemukan pada batuan di sepanjang pulau merupakan fosil, bukan hewan yang sifatnya modern atau kontemporer.

“Jenis fosil itu berasal dari kelompok Bovidae (sapi, kerbau, dan banteng), Cervidae (kelompok rusa), dan Elephas maximus (gajah),” terangnya yang dikutip dari situs ITB.

Fosil waduk Saguling

“Fosil-fosil yang ditemukan di permukaan dan juga yang telah terekspos kemudian diangkat dan disimpan oleh pihak yang berwenang di lokasi. Berdasarkan temuan tersebut, tim berhasil mengidentifikasi fosil-fosil yang telah dikumpulkan,” tambah Mika.

Penemuan fosil kaki gajah tersebut bermula ketika salah seorang warga setempat, Jahidin (43), yang hendak menjala ikan di bantaran Waduk Saguling, mendapati tulang belulang mirip paha, kaki, kepala dan gigi binatang.

“Awalnya, saya kira hanya tulang biasa, tapi saya lihat ukurannya besar dan tersebar di beberapa titik,” jelas Jahidin.

Informasi itu sampai ke pihak pengelola wisata Sirtwo Island, yang segera melaporkan ke peneliti di ITB.

Mika menjelaskan, sekitar tahun 2020, beberapa warga lokal mengembangkan objek wisata Pulau Sirtwo, pulau-pulau di sekitar Bendungan Saguling. Pulau-pulau ini dulunya dimanfaatkan warga untuk menambang pasir.

Bahkan, katanya, sudah dilakukan beberapa kali wisata terbatas ke sana. Awalnya wisata yang ada hanya susur perahu, foto-foto di pinggir danau, dan ke menara Sirtwo.

“Sambil mengeksplorasi pulau, Pak Rizky, pegiat Pemandu Geowisata Indonesia, mendapatkan laporan dari warga sekitar yang bernama Pak Jahidin mengenai batuan yang seperti tulang. Kemudian beliau mengecek ke lapangan, lalu mengambil beberapa foto,” ujarnya melalui keterangan pers.

Foto tersebut kemudian disampaikan kepada salah satu anggota tim ITB, yang kemudian berinisiatif untuk mengecek lokasi tersebut untuk melakukan verifikasi temuan warga.

Fosil Waduk Saguling

Survei pun dilakukan tim ITB pada dua hari berbeda yaitu pada 10 dan 15 Oktober yang melibatkan Alfend Rudyawan (KK Geodinamika dan Sedimentologi), Astyka Pamumpuni (KK Geologi Terapan), Sukiato Khurniawan (Dosen Prodi Geologi Universitas Indonesia, Alumni T. Geologi ITB angkatan 2011), dan Alfita Handayani (Dosen T. Geodesi ITB).

Tim yang bekerja sama dengan Museum Geologi ini juga melakukan ekskavasi terhadap tulang kaki depan gajah yang telah terbuka dan mengalami kerusakan yang cukup parah. Maka dari itu Tim ITB berinisiatif untuk melindungi fosil tersebut dengan cara membungkusnya dengan gips untuk kemudian dapat diangkat dan diteliti lebih lanjut.

“Selain paleontologi, tim juga akan mengembangkan penelitian pada aspek geologi secara menyeluruh, meliputi kajian stratigrafi, umur dan lingkungan purba,” ucap Mika.

Lutfi Yondri memperkirakan fosil hewan yang ditemukan peneliti ITB di Pulau Sirtwo merupakan bukti adanya kehidupan prasejarah 12 ribu tahun lalu. Pasalnya fosil ini ditemukan pada lapisan yang tidak jauh berbeda dengan temuan manusia pawon.

“Kalau kita lihat dari formasi geologinya, kemudian dikaitkan dengan keberadaan temuan vertebrata itu yang sama jenisnya dengan hewan buruan manusia pawon, periode di sekitar 10 sampai 12 ribu tahun lalu,” terang pria yang merupakan Arkeolog sekaligus Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Jawa Barat.

Temuan fosil-fosil hewan purba tersebut, menurutnya sezaman dengan kehidupan manusia pawon di gua-gua alam di wilayah Cipatat, Padalarang. Dicatat oleh Lutfi, keberadaan manusia pawon ini berkisar pada periode 5.600 tahun hingga 10 ribu tahun. Namun berdasarkan temuan rangka manusia dengan kedalaman 3 meter, dia menemukan rangka manusia pawon memiliki usia sekitar 12 ribu tahun.

Histori

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Published

on

Kota Depok

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga Ibu Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman, kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata serta sebagai kota resapan air.

Kota Depok sendiri diresmikan pada 27 April 1999. Peresmian Kota Depok berdasarkan Undang-undang No. 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999.

Nah mengenai asal-usul nama Kota Depok, ada beberapa versi. Versi pertama adalah nama Depok merujuk dari bahasa Belanda De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen yang artinya organisasi kristen yang pertama.

Baca Juga:

  1. Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia
  2. Sate Bulayak, Sate Sedap Khas Lombok yang Sarat Nilai Filosofis
  3. Lontong Roomo, Makanan Nikmat Khas Gresik yang Lahir di Era Sunan Giri

Dalam Jejak-jejak Masa Lalu Depok: Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingn melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.

Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Prancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Chastelein membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Serengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Serengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian.

Versi lain menyatakan nama Kota Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Kata Depok merupakan kependekan kata dari Bahasa Sunda Padepokan yang memiliki arti tempat pertapaan.

Ada pula versi yang menyebutkan Depok berasal dari kata ‘Deprok’ atau duduk santai ala melayu.

Kota Depok

Penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian Depok membuat Prabu Siliwangi ngedeprok di kawasan yang tidak jauh dari Sungai Ciliwung.

Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba dari Kesultanan Banten saat melakukan perjalanan ke Cirebon menggunakan jalur yang melintasi kawasan Depok dan sempat menetap di Beji.

Seiring berjalanya waktu. Wilayah Depok setelah merdeka dan banyak peristiwa di daerah itu. Depok masuk di wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Mengutip dari situs resmi Pemerintah Kota Depok. Wilayah Depok berawal dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor.

Kemudian pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI).

Serta meningkatnya perdagangan dan Jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Kota Depok

Pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1981 yang peresmiannya pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri dalam Negeri H. Amir Machmud yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu :Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoram Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.

Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukma Jaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, Desa Kalimulya.

Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan.

Khususnya bidang Pemerintahan semua Desa berganti menjadi Kelurahan dan adanya pemekaran Kelurahan , sehingga pada akhirnya Depok terdiri dari 3 (Kecamatan) dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yaitu :

Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahjn Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji terdiri dari (enam) Kelurahan,yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurah Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka, Kelurahan Kukusan, Kelurahan Tanah Baru.

Continue Reading

Histori

Tren Mobil Listrik, Sudah Ada Sejak Abad 19

Published

on

ilustrasi mobil listrik

Mobil listrik perlahan mulai diminati oleh masyarakat umum di belahan dunia. Selain menjadi tren dan diminati pasar, mobil listrik diminati lantaran diklaim lebih ramah lingkungan dari kendaraan yang berbahan bakar energi fosil.

Namun tahukah Cityzen, sebelum nge-hits seperti sekarang ini, ternyata cerita dan sejarah mobil listrik telah dimulai sejak abad ke-19 lalu?

Mengutip salah satu cerita sejarah mobil listrik dunia, penemuan kendaraan bertenaga listrik pertama kali ditemukan pada 1828 oleh Anyis Jedlik.

Ia adalah seorang pendeta sekaligus fisikawan dari Hungaria. Di saat eksperimennya, Anyis Jedlik menciptakan motor penggerak elektrik pertama yang kemudian disematkan ke mobil berukuran kecil.

Versi lain pun menceritakan jika mobil listrik pertama ditemukan pada 1843 oleh investor asal Skotlandia bernama Robert Anderson.

Ia juga diketahui membuat kereta listrik mentah serta membuat mobil elektrik skala kecil dengan baterai sekali pakai. 

Di akhir tahun 1890-an, tercatat satu rekor dunia terkait kendaraan listrik yang dibuat oleh Camille Jenatzy.

Kendaraan listrik tersebut bernama Jamias Concrete, diperkenalkan pada 29 April 1899. Dengan bentuk unik seperti roket, mobil listrik ini mampu melesat hingga kecepatan 105,88 km/jam.

Abad ke-20: Mulai Temui Kendala dan Popularitas Menurun

Memasuki abad ke 20, minat masyarakat terhadap mobil listrik pun semakin meningkat. Contohnya di Inggris (1897), di mana telah tersedia taksi bertenaga baterai.

Sedangkan di New York terdapat perusahaan penyedia transportasi bertenaga baterai bernama Samuel’s Electric Carriage and Wagon Company.

Minat masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat terhadap mobil listrik kala itu karena mobil listrik tidak memiliki getaran, bau, atau suara-suara bising yang biasanya ditemukan pada kendaraan berbahan bakar minyak.

Baca Juga:

  1. Elon Musk Akui Pabrik Mobil Listrik Tesla Rugi Miliaran Dolar
  2. Jajal Mobil Listrik Buatan Lokal, Jokowi: Halus & Tak Ada Suaranya
  3. Ini Dia 4 Mobil Listrik Termurah di Indonesia, Harga Cuma Rp400 Jutaan

Meskipun begitu, mobil listrik ‘generasi pertama’ tersebut banyak memiliki kekurangan, yakni keterbatasan jarak tempuh serta kurangnya infrastruktur pengisian ulang baterai.

Saat itu sebenarnya juga telah ditemukan solusinya yaitu layanan tukar baterai kendaraan pertama yang diterapkan oleh Hartford Electric Light Company.

Cara kerjanya, pemilik mobil listrik dari perusahaan General Vehicle Company membeli baterai listrik kendaraan di Hartford Electric.

Pasalnya, saat itu hanya Hartforf Electric yang mampu menyediakan penyediaan baterai untuk kendaraan listrik. Pelayanannya pun berlangsung singkat, yakni dari tahun 1910 hingga 1924.

Meski sudah ada solusi tukar baterai, di tahun 1920-an pula, popularitas mobil listrik mulai jatuh di pasaran.

Menurunnya minat mobil listrik dipicu oleh penemuan sumber minyak yang berlimpah, dan produsen mobil berbahan bakar bensin banyak menawarkan teknologi terbaru serta lebih mudah digunakan.

Kali Kedua Kebangkitan Mobil Listrik di Abad 21

Tidak lama berselang, tepatnya di akhir abad ke-20 minat terhadap mobil listrik di belahan dunia pun muncul kembali. Salah satu yang memulainya adalah California Air Resource Board (CARB), Amerika Serikat.

Mereka mulai menganjurkan kepada semua pabrikan otomotif untuk mulai membuat kendaraan yang efisien bahan bakar dan minim emisi. Keputusan tersebut mendapatkan hasil positif.

Terbukti, memasuki abad ke-21, pabrikan mobil dunia mulia meninggalkan mobil-mobil bongsor seperti SUV dan berfokus pada mobil kecil, hybrid, dan mobil listrik.

Salah satu perusahaan otomotif yang paling terekspos saat ini adalah TeslaYa, dengan mobil listrik bernama Roadster yang dikembangkan sejak 2004 ini, mampu memikat masyarakat dunia.

Bahkan dengan tipe mobil Roadster ini, Tesla mampu menggiring berbagai produsen otomotif agar beralih ke kendaraan listrik.

Hal ini bisa dilihat dari salah satu produsen kendaraan asal Jepang, Mitsubishi, yang merilis mobil listrik pada Juli 2009 bernama i-MiEV. Lalu langkah ini juga diikuti produsen mobil dunia lainnya dari Nissan-Chevrolet yang mendatangkan mobil listrik lewat Leaf dan Volt.

Dengan begitu, hal ini sejalan dengan kesepakatan global yang terjalin di antara negara-negara di dunia untuk meminimalisir dampak perubahan iklim dengan menargetkan nol emisi karbon hingga nol emisi gas rumah kaca, dengan menciptakan mobil-mobil futuristis yang tidak lagi membutuhkan bahan bakar minyak.

Kini, minat terhadap kendaraan listrik mulai meningkat lagi. Bahkan Indonesia, saat ini telah menjadi salah satu ‘surga’ bahan utama baterai listrik yaitu nikel. Tentu saja hal ini menjadi kesempatan emas bagi Indonesia sebagai pemain besar kendaraan listrik dunia.

Continue Reading

Histori

Sejarah Bakso di Indonesia: Berawal dari Cinta Kasih Anak untuk Ibunya

Published

on

Bakso

Siapa yang tak kenal bakso? Hampir di setiap tempat di penjuru Indonesia selalu ada penjual bakso yang khas dari daerahnya masing-masing. Begitupun bakso bagi masyarakat Indonesia.

Seolah makan bakso menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menjalin kebersamaan, misalnya melalui perayaan, kumpul keluarga, hingga menjamu tamu dari lain tempat.

Namun, siapa yang mengira menu ini ternyata memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Dibawa oleh para pedagang Tiongkok, makanan dari daging giling ini mendapat tempat di hati seluruh masyarakat Indonesia. Hingga, bakso pun mengalami percampuran atau akulturasi budaya oleh berbagai suku bangsa di tanah air.

Baca Juga:

  1. Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet
  2. Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta
  3. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia

Bakso punya sejarah panjang. Bermula dari ungkapan kasih sayang dan bakti seorang anak kepada ibunya pada masa Dinasti Ming (1368-1644) di Cina, terciptalah jenis kuliner oriental yang kelak merambah Nusantara dan menjadi sangat populer di Indonesia.

Di masa akhir Dinasti Ming pada abad ke-17 Masehi, hidup seorang anak bernama Meng Bo yang tinggal bersama ibunya di Fuzho, Cina. Meng Bo sangat ingin memasak daging yang disukai sang ibu. Namun, lantaran usia yang sudah renta, gigi ibunya sudah tidak mampu lagi mengunyah daging.

Sebab itulah, Meng Bo berinisiatif membantu agar ibunya dapat makan daging yang menjadi kesukaannya. Sepanjang malam, Meng Bo memikirkan bagaimana caranya mengolah daging yang keras agar dapat dimakan oleh ibunya. Hingga suatu ketika, Meng Bo melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi.

Melihat hal itu, Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging seperti cara tetangganya membuat olahan kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya seperti bulatan bulatan kecil agar ibunya mudah untuk memakannya, dari aroma rebusan olahan daging itu tercium aroma yang sangat lezat. Sehingga Ibunya penasaran dengan aroma kaldu daging yang dibuat oleh Meng Bo itu dan ingin mencicipi makanan yang memiliki aroma sedap itu.

Bakso

Setelah olahan daging matang, Meng Bo menyajikan olahan tersebut kepada ibunya. Sang ibu merasa gembira sebab tak hanya lezat namun adonan tersebut mudah untuk dimakan olehnya. Tak hanya sang ibu, Meng Bo pun merasa senang sebab sang ibu tercinta dapat merasakan makan daging kembali. Dan kini mereka sering memasak dan memakan bakso sebagai makanan utama mereka.

Cerita bakti Meng Bo dan sejarah bakso tersebar luas hingga ke seluruh Kota Fuzhou. Tak hanya tetangga namun banyak penduduk yang berdatangan untuk belajar membuat bakso yang dibuat Meng Bo. Dan resep tersebut terus menyebar hingga sampai ke Indonesia.

Walau resep asli dengan resep Indonesia berbeda namun bentuk bakso yang bulat serta teksturnya yang empuk tetap sama layaknya resep Meng Bo.

Sejarah Bakso di Indonesia

Bakso

Bakso yang kita kenal saat ini diperkenalkan oleh pedagang china yang menetap di Indonesia. Namun, sejarah bakso di Indonesia mengalami perubahan pada resep asli dimana penggunaan daging babi yang memang tidak familiar di Indonesia.

Sehingga pedagang tersebut menggantinya dengan daging sapi, begitu juga dengan bumbu menggunakan rempah-rempah yang cocok dengan lidah orang Indonesia. Walau tak mirip dengan resep asli, namun daging bakso yang empuk tetap menjadi ciri khas masakan ini.

Asal nama bakso terdiri dari dua suku kata yakni Bak dan So. Bak berarti Daging babi dan So yang berarti kuah. Sehingga dapat diartikan kuah dengan daging babi. Di dataran China, daging babi sudah biasa di kalangan penduduk.

Namun, saat memasuki kawasan Indonesia, daging babi diganti dengan daging lainnya seperti daging sapi, ayam, dan ikan (seafood). Ada pula dalam Bahasa Hokkien yang secara harfiah Bak-So berarti “daging giling”.

Continue Reading

Trending