Connect with us

Bisnis

Fenomena Pengusaha Glodok Ramai-Ramai Bangkrut Akibat Kripto

Published

on

Ilustrasi Pasar Glodok yang Sepi

Sektor ritel khususnya elektronika yang dijual secara offline benar-benar mengalami efek besar dari pandemi selama dua tahun lebih.

Hal itu membuat pusat-pusat perbelanjaan legendaris untuk elektronika seperti Glodok, sampai ITC Roxy dan lainnya terdampak, sehingga kondisinya menjadi begitu sepi. Kios-kios yang biasanya ramai oleh pengunjung mendadak tidak seramai dahulu.

Para pedagang ponsel di ITC Roxy pun sangat terpukul keras dari kondisi pandemi yang terjadi. Oleh sebab itu banyak dari mereka yang mengambil jalan pintas agar bisa mendapatkan uang.

Salah satunya mereka yang meoncoba berinvestasi di mata uang digital kripto. Akan tetapi bukannya mendulang keuntungan, mereka malah buntung atau rugi.

Baca Juga:

  1. Pulau Wisata Khusus di Karibia Terima Bitcoin & Kripto Sebagai Alat Pembayaran
  2. Bitcoin cs Ambruk Lagi, Cobaan Bagi yang Punya Kripto
  3. Mulai Berlaku 1 Mei, Ini Transaksi Kripto yang Dipajaki Sri Mulyani

Mengutip dari laman CNBC Indonesia pada Kamis (13/4/2022) Roy pemilik Loy’s Shop yang berlokasi di lantai I ITC Roxy mengatakan bahwa, “Banyak yang ketipu kripto, banyak temen saya yang jualan di sini juga, karena PSBB orang jadi main gituan (kripto). Siapa sih yang nggak tergiur ketika itu.”

Investasi kripto memang menawarkan keuntungan besar dengan singkat kala itu. Sehingga hal itu yang membuat para pedagang tertarik, terlebih mereka yang sedang mengalami tekanan dalam bisnis dan keuangan sejak awal pandemi.

“Loss ada yang miliaran, ada yang Rp 400 juta. Akhirnya tutup bangkrut. Di sini tutup nggak jualan lagi,” ucap Roy.

Sementara itu diketahui pusat perbelanjaan legendaris di DKI Jakarta seperti Glodok City semakin mengkhawatirkan. Kondisi sepinya Glodok pun merata di setiap lantainya. Sejumlah pemilik juaga ada yang menuliskan kiosnya disewakan, bahkan turut ada yang disegel oleh pengelola karena tidak memenuhi kewajiban dalam membayar pajak.

Bisnis

Sampai Korbankan Motor, Begini Kisah Perjalanan Nikuba Sampai Dapat Pendanaan Rp36 Miliar

Published

on

Nikuba

Warga Cirebon, Jawa Barat bernama Aryanto Misel diketahui berhasil menciptakan alat yang dapat mengubah air menjadi bahan bakar kendaraan yang dinamai Nikuba.

Menurut channel YouTube Aryanto Misel, alat ini akan memisahkan Hidrogen dan Oksigen yang terkandung dalam air melalui proses yang disebutnya elektrolisis.

“Dengan alat ini air dapat terproses secara elektrolisis untuk dijadikan hidrogen, H2O dipecah secara elektrolisis menjadi H2 dan O2, H2 atau Hidrogen inilah yang dimanfaatkan untuk menjadi bahan bakar kendaraan” kata Aryanto dalam channel YouTube Aryanto Misel.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Aryanto mengaku jika alat yang diberi nama Nikuba itu telah dilakukan uji coba pada kendaraan roda empat, sepeda motor, mesin genset, dengan efisiensi penghematan BBM sampai tujuh puluh persen pada mobil dan hingga seratus persen pada motor.

Terlihat dalam salah satu postingan di akun sosial media Instagram @aryantomisel, memperlihatkan alat Nikuba tersebut tengah diuji coba oleh anggota TNI.

Dalam keterangan juga disebut jika 1 cc air yang digunakan dapat menempuh jarak hingga 40 km.

“Nikuba Zero Emisi Uji di jalan Tanjakan di Cililin Bandung Oleh Anggota TNI Kodam Siliwangi, Dengan 1 cc air bisa menempuh jarak hingga 40Km , tenaga super maksimal,” ujar Aryanto.

“Dalam jangka lima tahun saya melakukan riset. Kurang lebih saya sudah menghabiskan dua unit motor,” dia menambahkan.

Karya Aryanto itu pun dijual dengan harga Rp4,5 juta per unit. Kemampuan atau daya tahan sekali bepergian bisa menempuh jarak dari Cirebon hingga Semarang, pulang-pergi.

Dapat Pendanaan

Nikuba

Chief Executive Officer (CEO) perusahaan rintisan Nikuba Hydrogen Nusantara, Narliswandi Piliang, menceritakan bagaimana dia bisa terlibat dalam proyek alat Nikuba. Perangkat ini dikatakan mampu mengubah air menjadi bahan bakar kendaraan berbasis hidrogen untuk kendaraan roda dua, menggantikan bahan bakar.

Pria yang kerap disapa Iwan ini mengaku mengenal Aryanto Misel, penemu alat Nikuba sejak 11 tahun lalu. Saat itu, Aryanto dikenal sebagai penemu sejumlah inovasi produk seperti bahan kain alami tanah air dan alat pemadam api berbahan dasar singkong.

Proyek Nikuba dimulai pada 2017. Saat itu, peralatan Nikuba yang dipasang di kendaraan roda dua mampu menghemat konsumsi bahan bakar 30% hingga 40%.

“Pak Aryanto membuat penghemat bahan bakar menggunakan genset, menghasilkan hidrogen dan kemudianmencampur (campur) dengan BBM,” ujarnya seperti dilansir dari Katadata, Sabtu (21/5/2022).

Nikuba

Masih di tahun yang sama, mereka berdua memperoleh pendanaan berupa pendanaan awal senilai Rp 2,5 miliar yang sahamnya saat ini dipegang oleh Santi Sandra Widana dan Aryanto yang juga merupakan pemegang saham mayoritas.

“Karena itu adalah produk dari penemuan baru Bagikan (saham) mayoritas kita usahakan tetap di tangan inventor,” lanjut Iwan.

Kembali pada tahun 2015, Iwan memberikan kuliah tamu di Sekolah Staf dan Komando TNI (SESKO), Bandung. Di sana ia bertemu Kunto Arif Wibowo yang saat itu berpangkat Kolonel.

Belakangan, saat Kunto menjadi Pandam III Siliwangi, Iwan kembali ke Kunto untuk menawarkan pemasangan Nikuba di sejumlah sepeda motor Aviar 200 CC. Sepeda motor ini biasanya digunakan sebagai operasional Babinsa.

“Kenapa saya menawarkan untuk menggunakannya? Ini analogi yang sama seperti awal mula laptop ditemukan. Pengguna komputer lipat pertama adalah seorang tentara Amerika. Dan Kunto sebagai pribadi senang dengan penemuan (invention) tersebut,” kata Iwan.

Nikuba adalah alat memiliki fungsi memisahkan antara Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2) yang terkandung dalam Air (H2O) melalui proses elektrolisis.

Hidrogen yang telah dihasilkan kemudian dialirkan ke ruang pembakaran kendaraan bermotor sebagai bahan bakar. Sementara Oksigennya akan kembali dielektrolisis menjadi Hidrogen dan dialirkan lagi ke ruang pembakaran kendaraan bermotor.

Hanya saja, kata Aryanto, Air yang bisa dikonversi menjadi Hidrogen untuk bahan bakar kendaraan bermotor melalui alat Nikuba adalah air yang sudah tidak memiliki kandungan logam berat.

Continue Reading

Bisnis

Selama Pandemi Covid-19, Penjualan Produk Komersial & Kawasan Industri Meningkat Pesat

Published

on

Kawasan Industri Intiland

Pengembang PT Intiland Development Tbk mencatatkan pertumbuhan signifikan untuk penjualan produk komersial dan pergudangan pada tahun 2021 lalu atau saat situasi pandemi. Pertumbuhannya mencapai seribuan persen yang ditopang dari penjualan di Batang Industrial Park dan Aeropolis Techno Park.

Situasi pandemi Covid-19 yang kita alami sejak awal tahun 2020 lalu membuat kalangan developer menjadi lebih jeli menelaah range produk mana yang diserap pasar dengan baik. Berdasarkan hal itu umumnya produk yang diluncurkan ke pasar lebih fokus pada produk-produk yang penyerapannya masih baik dan menghindari produk baru yang sifatnya masih spekulatif.

Rumah tapak misalnya, merupakan salah satu segmen yang penyerapannya masih cukup baik saat situasi pandemi. Karena itu banyak kalangan pengembangan yang menghadirkan rumah tapak khususnya untuk menyasar kalangan pekerja maupun keluarga muda first time home buyer.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Seiring itu ada beberapa produk lain juga terus meningkat penjualannya, misalnya untuk produk komersial hingga pergudangan. Pengembang PT Intiland Developement Tbk misalnya, menutup kinerja bisnis pada tahun 2021 lalu dengan lonjakan kinerja bisnis untuk kawasan industri.

“Sepanjang tahun 2021 lalu pendapatan usaha dari pengembangan kawasan industri melonjak hingga 1.285 persen atau dari Rp36,7 miliar tahun 2020 menjadi Rp508,6 miliar. Pendapatan usaha yang meningkat hingga seribuan persen ini ditopang dari penjualan lahan industri di Batang Industrial Park dan pergudangan Aeropolis Techno Park,” ujar Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland.

Segmen lain yang juga meningkat yaitu dari pengembangan perumahan dari Rp432,8 miliar tahun 2020 menjadi Rp688,3 miliar tahun berikutnya atau naik mencapai 59 persen. Sementara segmen pengembangan mixed use & high rise mengalami penurunan 58 persen dari Rp1,8 triliun menjadi Rp772,4 miliar.

Penurunan kinerja untuk segmen pengembangan mixed use & high rise ini dikarenakan tahun 2020 lalu sudah terdapat pengakuan penjualan yang cukup besar dari Apartemen Graha Golf maupun The Rosebay dan Spazio Tower yang sudah melakukan proses serah terima kepada konsumen.

Selain itu kondisi sektor properti yang secara umum belum terlalu kondusif pada tahun 2021 lalu membuat Intiland menerapkann strategi bisnis ekstra hati-hati. Sejumlah insentif kebijakan yang diluncurkan pemerintah juga belum sepenuhnya memberikan imbas pada semua segmen pengembangan properti khususnya penyerapan produk apartemen.

Secara total, Intiland membukukan pendapatan usaha mencapai Rp2,63 triliun dan segmen pengembangan mixed use & high rise masih tercatat memberikan kontribusi yang besar mencapai Rp772,4 miliar atau 29,4 persen dari total pendapatan perusahaan. Kontribusi berikutnya dari segmen kawasan perumahan sebesar Rp688,3 miliar (26,2 persen), disusul segmen pengembangan kawasan industri dengan kontribusi Rp508,6 miliar (19,3 persen).

“Segmen perumahan terbukti mencatatkan kinerja bisnis yang paling besar saat situasi pandemi dan ini tidak terlepas dari berbagai insentif yang dikeluarkan pemerintah. Insentif belum menyentuh untuk menggairahkan penjualan segmen high rise seperti apartemen baik untuk mendorong pembelian maupun investasi,” imbuh Archied.

Continue Reading

Bisnis

Ini 3 Perusahaan Raksasa Dunia yang Bakal Bangun Investasi Kendaraan Listrik di Batang

Published

on

Batang, Jawa Tengah

Produsen mobil listrik Tesla telah menunjukkan minat untuk berinvestasi di industri baterai mobil dan kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Batang, Jawa Tengah dipilih sebagai lokasinya. Ternyata, lokasi ini menjadi favorit bagi berbagai investor kendaraan listrik untuk membangun pabrik.

Ya, keinginan Tesla untuk membangun pabrik di Btaang diungkap Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Ada dua investasi besar yang akan digelontorkan Tesla, yakni mobil listrik dan ekosistem aki mobil.

“Insya Allah Tesla akan (didistribusikan) di Indonesia. Ini (Tesla) akan masuk kedua investasi besar, yang pertama tentang ekosistem aki mobil. Yang kedua adalah mobil,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Menurut Lahadalia Tesla akan memulai investasinya pada tahun 2022. Namun, dia menghindari menyebutkan nilai komitmen yang dibuat oleh perusahaan Elon Musk tersebut.

“Kalau ditanya kapan (mulai), insya Allah 2022, tapi saya belum bisa kasih tahu (detailnya) bulannya. Kita tunggu saja karena belum ada tanda tangan kesepakatan. Nilai investasinya masih ada. dirahasiakan, dan kami masih menunggu. Namun, ini barang bagus, barang besar,” katanya.

Tak hanya Tesla, perusahaan LG juga sebelumnya sepakat untuk membangun pabrik baterai listrik di Batang. Keputusan ini setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara konsorsium BUMN dengan LG Energy Solution Ltd, anak perusahaan konglomerasi LG Group ini, senilai US$ 9,8 miliar atau setara dengan Rp142 triliun.

Dijelaskan Bahlil Lahadalia, sebagian proyek pemgembangan industri baterai kendaraan listrik akan berlokasi di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah yang sudah ditinjau oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada akhir Juni lalu.

“Kawasan industri seluas 4.300 ha ini merupakan percontohan kerjasama pemerintah dan BUMN dalam menyediakan lahan yang kompetitif dari sisi harga, konektivitas, dan tenaga kerja,” ujarnya.

MoU berisi tentang kerja sama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining), serta industri prekursor dan katoda.

Adapun lokasi pabrik, nantinya akan dibagi dua, di mana pembangunan smelter dan tambang akan berada di Maluku Utara, sedangkan preskursor dan katoda serta sebagian baterai sel akan ditempatkan di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah.

Rencananya, sebagian baterai yang dihasilkan dari proyek ini akan disuplai ke pabrik mobil listrik pertama di Indonesia, yang sudah lebih dahulu ada dan dalam waktu dekat akan segera memulai tahap produksi.

Ada pula, perusahaan perakit iPhone dari Taiwan, yaitu Foxconn akan menjadi pemain baru dalam industri mobil listrik di Indonesia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman perjanjian investasi pada awal Januari 2022 lalu.

Foxconn sebelumnya dikenal sebagai perusahaan perakit handphone iPhone. Perusahaan asal Taiwan ini resmi investasi di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Foxconn akan berinvestasi dalam industri kendaraan listrik Tanah Air.

“Awal bulan kami sudah tandatangan MoU dengan Foxconn. Jadi Foxconn akan masuk di batang,” kata Bahlil.

Nantinya, Foxconn juga akan memindahkan sebagian volume pabrik sparepart telekomunikasi dari China ke Indonesia. Bahlil mengaku, untuk mencapai kesepakatan investasi ini tidak mudah dan butuh kerja keras.

“Ini perintah Bapak Presiden katanya dari awal nggak jalan-jalan. Kami waktu itu datang ketahuan ada negara yang mungkin memprotes kehadiran saya di sana, tapi saya bilang selama tidak ada UUD yang melarang kita dagang, kenapa harus takut kepada negara tertentu,” tegasnya.

Berdasarkan bahan paparan Bahlil, kerja sama Foxconn untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia itu memiliki nilai investasi sebesar US$ 8 miliar atau setara Rp 114,57 triliun (kurs Rp 14.321).

“Foxconn: industri baterai listrik, industri kendaraan listrik (roda 4, roda 2, e-bus) dan industri pendukung (termasuk charging station, R&D dan training) US$ 8 miliar,” demikian penjelasan paparan tersebut.

Continue Reading

Trending