Connect with us

Teknologi

Elon Musk Ciptakan Manusia Pekerja, Jutaan Karyawan Terancam

Published

on

Ilustrasi robot Tesla. (Tesla)

Elon Musk memiliki sudut pandang menarik dalam melihat manusia, dunia dan alam semesta. Salah satunya adalah mengembangkan rencana ambisius untuk menyebarkan ribuan robot humanoid (menyerupai manusia), yang dikenal sebagai Tesla Bot atau Optimus.

Perusahaan Tesla di Texas sekarang kabarnya sedang merancang Optimus di dalam pabriknya, yang pada akhirnya akan berkembang menjadi jutaan “manusia buatan” di seluruh dunia.

Dalam jangka panjang, Musk mengatakan di TED Talk, robot dapat digunakan di rumah, membuat makan malam, memotong rumput, dan merawat orang tua.

Baca Juga:

  1. Begini Trailer Kisah God of War Ragnarok Terbaru
  2. Inilah 4 Fitur Baru iPhone 14 yang Sudah Lama Ada di Android
  3. Tingkatkan Kualitas SDM Industri, Kemenperin Terapkan TVET 4.0
Baca Juga :  Dukung Indonesia, Vietnam Beberkan Cara Agar Timnas Bisa Kalahkan Singapura

Menurut Musk, dikutip dari Global Times, Jumat (23/9) bisnis robot pada akhirnya mungkin bernilai lebih dari pendapatan mobil Tesla.

Awalnya, Optimus akan melakukan pekerjaan yang membosankan atau berbahaya, termasuk memindahkan suku cadang di sekitar pabriknya.

Musk mengakui bahwa robot humanoid tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk menavigasi dunia nyata tanpa diinstruksikan secara eksplisit.

Namun dia mengatakan Tesla dapat memanfaatkan keahliannya dalam AI dan komponen utama untuk mengembangkan dan memproduksi robot humanoid yang cerdas, namun lebih murah, dalam skala besar.

Pada “Hari AI” 30 September, Tesla akan mengungkap prototipe Optimus, sebuah gambaran untuk pemimpin Autobots yang kuat dan baik hati dalam seri Transformers. Produksi bisa dimulai tahun depan, kata Musk.

Baca Juga :  Adaro Minerals Indonesia Kian Alami Peningkatan Penjualan dan Kenaikan Harga Jual

Tesla menghadapi skeptisisme bahwa ia dapat menunjukkan kemajuan teknologi yang akan membenarkan biaya robot “tujuan umum” di pabrik, rumah, dan di tempat lain, menurut pakar robotika, investor dan analis.

Tesla Bot Humanoid. (Tesla)

Tesla sudah mempekerjakan ratusan robot yang dirancang untuk pekerjaan tertentu untuk produksi mobilnya.

Robot humanoid telah dikembangkan selama beberapa dekade oleh Honda Motor Co dan unit Boston Dynamics Hyundai Motor Co. Seperti mobil self-driving, robot memiliki masalah dengan situasi yang tidak terduga.

“Mobil self-driving tidak benar-benar terbukti semudah yang dipikirkan orang. Dan itu sama dengan robot humanoid sampai batas tertentu,” kata pemimpin Tim Robotika Dexterous NASA, Shaun Azimi, kepada Reuters.

“Jika sesuatu yang tidak terduga terjadi, menjadi fleksibel dan kuat terhadap perubahan semacam itu sangat sulit.”

Baca Juga :  Jaringan 5G mmWave Telah Hadir di Korsel

Pada acara “Otonomi” pada tahun 2019, Musk menjanjikan 1 juta taksi robot pada tahun 2020 tetapi sampai saat ini janjinya tak terealisasi.

Robot Musk mungkin dapat menunjukkan kemampuan dasar di acara tersebut, tetapi akan sulit bagi mereka untuk mengesankan harapan publik tentang robot yang mampu seperti manusia.

Agar berhasil, Tesla perlu menunjukkan robot melakukan banyak tindakan tanpa baris perintah.

“Jika dia hanya membuat robot berjalan-jalan, atau dia membuat robot menari, itu sudah selesai. Itu tidak terlalu mengesankan,” kata seorang profesor teknik sistem manusia di Arizona State University Nancy Cooke.

Teknologi

Elon Musk Rekrut Hacker sebagai Karyawan Twitter

Published

on

 

Elon Musk Rekrut Hacker sebagai Karyawan Twitter/Repro

Elon Musk Rekrut Hacker sebagai Karyawan Twitter/Repro

mycity.co.idElon Musk merekrut seorang peretas sebagai karyawan magang Twitter. Bukan sembarang hacker, hacker tersebut adalah George Hotz, yang terkenal sebagai hacker pertama yang membobol iPhone pada tahun 2007.

George Hotz, yang dikenal sebagai hacker iPhone, Hotz tidak diangkat langsung sebagai karyawan tetap, melainkan sebagai karyawan kontrak di Twitter. Ia melamar menjadi magang Twitter selama 12 minggu.

Baca Juga :  Bulan Depan, PeduliLindungi Dapat Diakes dengan 11 Aplikasi Ini

Elon Musk yang merupakan pemilik dan pimpinan baru raksasa teknologi tersebut, menyambut baik usulan tersebut. Pada 19 November, dia mengunggah tweet yang mengumumkan bahwa dia telah resmi menjadi orang dalam Twitter.

Baca Juga :  Jokowi: Bangkitlah Industri Otomotif Indonesia

“Ini adalah sikap untuk membangun hal-hal hebat,” tulisnya, mencantumkan kesediaannya untuk bekerja magang selama 12 minggu.

“Tentu, mari kita bicara,” Ujar Elon Musk menanggapi tweetnya.

Hotz telah berupaya meningkatkan fungsi pencarian selama 12 minggu. Menghapus undangan juga mencegah orang masuk tanpa masuk.

Merujuk pada ocehannya di Twitter, Hotz mengaku tanggung jawab yang diberikan cukup berat dalam waktu yang sangat singkat.

Baca Juga :  BlackBerry Disuntik Mati, Akhir Kisah Ponsel Legendaris QWERTY

Sebelumnya, Hotz bekerja hampir di bawah Elon Musk di Tesla. Tetapi pembicaraan itu dibatalkan karena Musk sering mengubah ketentuan kedua kontrak tersebut, kata Hotz.

Hotz juga pernah magang di perusahaan besar lainnya. Seperti Facebook, Google, Space X. Saat ini, Hotz mendirikan perusahaannya sendiri yang bernambernama Comma.ai.

Continue Reading

Teknologi

Data 5,4 Juta Pengguna Twitter Bocor, Dijual RP 472 Juta di Forum Hacker

Published

on

Ilustrasi Hacker, Digital Art Wallpapers

Data pribadi milik 5,4 juta pengguna Twitter dilaporkan bocor dan dibagikan gratis di forum peretas (hacker). Data ini kabarnya bocor akibat adanya kerentanan Application Programming Interface (API) di Twitter.

Di antara data pribadi pengguna yang bocor meliputi ID Twitter, nama pengguna, status pengguna, lokasi, jumlah pengikut, tanggal pembuatan akun, dan informasi lainnya. Karena sifatnya cukup umum, data-data ini dibagikan ke publik. 

Baca Juga :  Garena Hadirkan Konten One-Punch Man di Free Fire

Selain beberapa di atas, ada pula informasi seperti alamat e-mail dan nomor telepon, tetapi tidak dimasukkan dalam data yang dipublikasikan hacker. Data inilah yang kemudian dijual di forum peretasan seharga 30.000 dollar AS (Rp 472 juta).

Informasi pengguna Twitter itu dihimpun pada Desember 2021 dengan memanfaatkan kerentanan API Twitter. Kerentanan ini memungkinkan orang mengirimkan nomor telepon dan e-mail-nya ke API, untuk mengambil ID Twitter yang berkaitan. 

Baca Juga :  Epic Games Store Akan Hadirkan Fitur Keranjang Belanja

Kerentanan itu terungkap dalam program pelacakan bug HackerOne dan kemudian diperbaiki pada Januari 2022. Sayangnya, ID Twitter itu juga memungkinkan haicker untuk mengorek informasi lainnya. 

Para hacker bahkan memakai memanfaatkan bug Twitter itu untuk mencuri data pribadi pengguna, dihimpun KompasTekno dari BleepingComputer. 

Jadi, selain 5,4 juta data yang dijual tadi, ternyata ada tambahan 1,4 data profil pengguna Twitter lainnya yang ditangguhkan hacker. Data ini dihimpun memakai API yang berbeda.

Baca Juga :  BlackBerry Disuntik Mati, Akhir Kisah Ponsel Legendaris QWERTY

Twitter sendiri sudah mengonfirmasi adanya pelanggaran data yang memanfaatkan bug API, kemudian diperbaiki pada Januari 2022. Namun perusahaan belum memberikan tanggapan soal adanya tambahan 1,4 juta data yang bocor dari bug yang sama.

Continue Reading

Teknologi

Elon Musk Marah-marah dan Ancam Apple di Twitter, Ada Apa?

Published

on

Elon Musk sebut dirinya bisa saja meninggal secara misterius setelah cekcok dengan kepala badan antariksa Rusia Roscosmos (Foto: Reuters)

Pemilik sekaligus CEO Twitter, Elon Musk, kembali terlibat perseteruan. Kali ini “lawannya” tidak main-main, yakni raksasa teknologi Apple. Salah satu hal yang memicu perseteruan ini adalah perkara iklan dan moderasi konten di Twitter. 

Dalam serangkaian twit pada Senin (28/11/2022), Elon Musk mempertanyakan bila Apple membenci kebebebasan berbicara di Amerika Serikat sehingga menghentikan sebagian besar iklannya di Twitter. “Apple kebanyakan berhenti beriklan di Twitter. 

Apakah mereka membenci kebebasan berbicara di Amerika?” kata Elon Musk. Apple sendiri dilaporkan menjadi salah satu pengiklan terbesar di Twitter. The Washington Post menyebutkan, Apple menghabiskan 48 juta dollar AS atau setara 755,6 miliar untuk beriklan di Twitter pada kuartal I (Januari-Maret) 2022 saja. 

Selain Apple, Twitter disebut telah kehilangan setengah dari 100 pengiklan teratasnya semenjak dibeli oleh Elon Musk.

Perusahaan besar seperti AT&T, CNN, Dell, Allstate, DirecTV, HP, Nestle, Coca-Cola, Verizon, General Mills, Volkswagen, Wells Fargo, dan lainnya disebut tak lagi beriklan di Twitter. Hal ini pun tak ayal membuat Twitter menghadapi kerugian besar dalam pendapatan iklan.

Baca Juga :  Perkenalkan Tlusure, Aplikasi Pemandu Wisata di Masa Pandemi Covid-19 Karya Anak Bangsa

Musababnya, para pengiklan teratas ini menghabiskan 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 31,4 triliun pada tahun 2020. Tahun ini, pengiklan 750 juta dollar AS atau setara Rp 11,8 triliun pada tahun 2022, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari MacRumors, Selasa (29/11/2022).

Twitter terancam dihapus dari App Store? 

Dalam twit terpisah, Elon Musk juga mengeklaim bahwa Apple mengancam akan menghapus Twitter dari toko aplikasi App Store tanpa alasan. Sebagai konteks, Elon Musk mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai “free speech absolutist” atau pemegang teguh prinsip kebebasan berbicara. 

Makanya, Musk ingin membeli Twitter guna mengatur moderasi konten dan memprioritaskan kebebasan berbicara.

Salah satu “bukti” yang diambil Elon Musk soal kebebasan berbicara adalah dengan membuka blokir akun Twitter pribadi mantan Presiden AS Donald Trump. Padahal, di era kepemimpinan Jack Dorsey, Twitter tidak memberi ampun bagi akun @realdonaldtrump yang permanen sejak Januari 2021. 

Baca Juga :  Ini Tips Jitu Mengatasi AC Tak Dingin

Akun Trump diblokir selama-lamanya setelah dua kicauannya dinilai melanggar kebijakan Twitter dan berisiko melanggengkan kekerasan dan ujaran kebencian, terkait peristiwa kerusuhan di gedung DPR/MPR Amerika Serikat (AS) yang menelan korban jiwa. 

Selain soal moderasi, Elon Musk juga tampak tidak senang dengan aturan komisi 30 persen yang dipungut Apple dari pembelian aplikasi atau konten di App Store. 

Twitter sendiri saat ini mulai gencar memonetisasi layanan berlangganan Twitter Blue. Angka 30 persen tersebut tentu akan dipungut di setiap transaksi, termasuk langganan Twitter Blue.

Apple sendiri belum memberikan tanggapan dari pertanyaan Elon Musk tersebut. Namun, Apple memang memiliki aturan yang ketat untuk memperbolehkan aplikasi muncul di toko aplikasi App Store, termasuk soal moderasi. 

Baca Juga :  Potensi Raksasa Pengembangan Properti di Bandung Selatan

Apple tak segan-segan menghapus aplikasi yang dinilai tak melakukan moderasi konten yang cukup dari App Store. Misalnya seperti yang dialami “Parler”, aplikasi media sosial yang digunakan para konservatif dan ekstremis sayap kanan pendukung Donald Trump tahun lalu.

Musababnya, Parler memiliki aturan moderasi konten yang longgar sehingga membuat aplikasi menjadi sarang unggahan yang mendorong kekerasan dan perbuatan kriminal. Aplikasi Parler baru bisa kembali muncul di App Store setelah mengimplementasikan sistem moderasi konten berbasis kecerdasan buatan (atificial intelligence/AI) di platformnya. 

Pada 2018, Apple juga sempat menghapus Tumblr gara-gara konten dewasa di mikroblog tersebut, sebagaimana dihimpun dari Engadget. Bila moderasi konten di Twitter menjadi longgar, tak menutup kemungkinan Apple juga bakal menghapus Twitter dari App Store. Namun, Apple memberikan komentar terkait masalah Twitter ini.

Continue Reading
Advertisement

Trending