Connect with us

Internasional

Eks Putra Mahkota Picu Krisis di Yordania, Ada Peran Arab Saudi?

Published

on

Raja Abdullah dan istrinya Ratu Rania.

Kalangan pejabat Arab Saudi membantah dugaan bahwa mereka berperan dalam dugaan upaya kudeta di Yordania.

Pada hari Sabtu, mantan putra mahkota Yordania Pangeran Hamzah secara de facto ditempatkan dalam tahanan rumah dan dituduh mengganggu keamanan nasional setelah menghadiri pertemuan para pemimpin suku tempat Raja Abdullah, saudara tirinya, dikritik secara terbuka.

Pangeran Hamzah kemudian merilis dua video ke BBC yang menyebut pemerintah negaranya korup dan tidak kompeten, dan mengatakan bahwa orang-orang takut untuk berbicara karena takut mereka akan diganggu oleh pasukan keamanan.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Krisis telah mereda usai mediasi oleh paman raja, namun telah tersebar spekulasi tentang peran Arab Saudi dalam krisis ini.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, terbang ke ibu kota Yordania, Amman, dengan seorang delegasi yang bertujuan, kata para pejabat Saudi, “mengungkapkan solidaritas penuh dengan Raja Yordania Abdullah dan pemerintahannya”.

Ini, kata mereka, adalah satu-satunya posisi Saudi, dan anggapan bahwa Arab Saudi terlibat dalam upaya menggoyahkan negara tetangganya adalah “omong kosong yang dibuat-buat”.

Ketika krisis mencapai puncaknya selama akhir pekan, pemerintah Yordania mengatakan badan keamanan mereka sudah cukup lama memantau aktivitas Pangeran Hamzah dan belasan pejabat lainnya.

Mereka mengatakan “entitas asing” yang tidak disebutkan namanya terlibat dalam apa yang mereka sebut sebagai rencana untuk mengacaukan negara dan wangsa Hasyimiyah yang berkuasa – tuduhan yang dibantah oleh Pangeran Hamzah.

Ternyata pada dasarnya ada dua masalah yang terpisah di sini. Masalah pertama adalah Pangeran Hamzah, putra sulung almarhum Raja Hussein, yang mengusik kepala keamanan Yordania setelah pertemuannya baru-baru ini dengan beberapa pemimpin suku yang merasa tidak puas pada pemerintah. Masalah lainnya melibatkan sejumlah pejabat yang diduga menjalin hubungan dengan setidaknya satu negara lain.

Salah satu tokoh paling terkemuka yang ditangkap pada hari Sabtu adalah Bassim Awadallah, mantan kepala Pengadilan Kerajaan Yordania yang sekarang menjadi penasihat ekonomi Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman. Dia mengantongi kewarganegaraan ganda Saudi-Yordania dan pernah muncul sebagai moderator di forum Inisiatif Investasi Masa Depan Arab Saudi.

Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa delegasi menteri luar negeri Saudi menolak meninggalkan Yordania tanpa membawa Bassim Awadallah kembali ke Riyadh bersama mereka. Ini tidak benar, kata pemerintah Saudi.

Bassim Awadullah punya koneksi dengan sejumlah orang berkuasa di luar negeri. Selain posisinya yang dekat dengan Putra Mahkota Arab Saudi, ia memiliki hubungan dengan penguasa de facto UEA, Putra Mahkota Muhammad bin Zayid. Dia dikabarkan terlibat dalam pembelian tanah Palestina di sekitar Yerusalem yang didukung UEA baru-baru ini.

Arab Saudi dan Yordania, meskipun sangat berbeda dalam hal ekonomi, punya banyak kesamaan. Ikatan sejarah mereka yang dalam telah ada selama berabad-abad dan hubungan antar suku melintasi perbatasan kedua negeri padang pasir itu.

Ketika di usia 20-an saya tinggal bersama orang Badui dari Bani Huwaitat di Yordania selatan, mereka sering pergi bolak-balik ke Arab Saudi, bertukar barang dan berita sambil menggembalakan domba, kambing, dan unta.

Saat kerajaan Arab Islam Sunni yang masih tersisa di belahan dunia lain diguncang oleh pemberontakan Arab Spring, penguasa kedua negara punya kepentingan untuk saling mendukung satu sama lain.

Jelas sulit untuk melihat kemungkinan salah satu tetangga terkuat Yordania – Arab Saudi atau Israel – berniat mengguncang kerajaan kecil yang relatif miskin ini. Di bawah pemerintahan almarhum Raja Hussein dan sekarang putranya Raja Abdullah, kerajaan Yordania, dinasti Hasyimiyah, dapat bertahan dari hentakan angin politik Timur Tengah.

Perjanjian damai dengan Israel pada 1994, meskipun tidak populer secara domestik, telah membawa stabilitas regional. Namun Yordania memiliki sedikit sumber daya alam dan infrastrukturnya yang sudah terbatas kini harus menangani masuknya pengungsi dalam jumlah besar, pertama dari Irak dan kemudian dari Suriah.

Pandemi Covid-19 telah mematikan sementara industri pariwisata Yordania, memberikan pukulan lain pada ekonominya yang lemah. Sementara itu, ketidakpuasan pada apa yang dilihat masyarakat sebagai pemerintah yang salah urus terus berkembang.

Namun pemerintahan-pemerintahan di Jazirah Arab tahu jika kerajaan Yordania jatuh, ia dapat memicu rangkaian peristiwa berbahaya di wilayah itu.

Karena itu negara-negara tetangga segera mengumumkan pernyataan dukungan untuk Raja Abdullah.

Sementara itu, menunggu dalam bayang-bayang, baik al-Qaeda maupun ISIS akan sangat senang melihat kekacauan di negara yang selama ini menjadi kunci stabilitas di Timur Tengah.

Advertisement

Internasional

Krisis SDM, Perdana Menteri Ajak Backpacker & Pelajar Asing Bekerja di Australia

Published

on

Ilustrasi pekerja di Australia
Ilustrasi pekerja di Australia

Pandemi Covid-19 menimbulkan masalah tersendiri bagi tetangga Indonesia, Australia. Negeri Kangguru kini kekurangan sumber daya manusia (SDM). Mereka pun mengundang backpacker dan pelajar asing untuk datang dan bekerja.

Seperti dinukil dari CNN International, Kamis (20/1/2022), Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menyatakan negaranya bakal menggratiskan aplikasi visa senilai A$630 (Rp6,5 juta) bagi semua backpacker atau pelajar asing yang datang ke Australia dalam 12 pekan ke depan.

Morrison mendukung para pelancong dan mahasiswa asing itu untuk mencari pekerjaan selama berada di Negeri Kanguru.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

“Ayo pergi sekarang jika kamu ingin mengunjungi Australia,” ujarnya.

“Kelilingi seluruh negeri, dan di waktu yang sama ikut bergabung dengan tenaga kerja kami, dan membantu kami di sektor agrikultur, di sektor perhotelan, dan berbagai sektor ekonomi lain yang mengandalkan tenaga kerja tersebut,” lanjutnya.

Australia kini dihantui varian Omicron. Kendati demikian, Morrison optimistis bahwa tingkat kematian akibat virus Covid-19 di Australia merupakan satu di antara yang terendah di dunia.

“Australia terus membuktikan ketangguhannya terlepas dari rasa frustrasi dan kekhawatiran yang muncul (akibat pandemi),” kata Morrison lagi.

“Sistem kesehatan kita, meskipun mengalami banyak tekanan, masih tetap bertahan.”

Undangan untuk para pelancong ini diumumkan setelah Morrison kerap mendapatkan kritik atas penanganan pandemi Covid-19, yang beberapa waktu lalu mencatat rekor infeksi dan kematian.

Continue Reading

Internasional

Makam Kuno Berusia 4.500 Tahun Ditemukan di Jalanan Arab Saudi

Published

on

By

Ilustrasi Makam Kuno

Makam kuno ditemukan dalam keadaan yang baik oleh arkeolog, di jalan Arab Saudi yang berusia 4.500 tahun. Diketahui jalan tersebut memang dipenuhi oleh makam yang menghampar di sana.

Makam adalah tempat tinggal, kediaman, yang merupakan tempat persinggahan terakhir manusia yang sudah meninggal dunia. Dalam makna lain juga dapat diartikan yaitu, ada jenazah orang yang dikuburkan di tempat tersebut.

Mulai dari meneliti kondisi tanah, survei udara menggunakan helikopter, hingga pemeriksaan satelit, akhirnya para ahli dari University of Western Australia berhasil menemukan jalan tersebut. Mereka melakukan penelitian kurang lebih selama setahun kebelakangan ini.

Seorang peneliti bernama Matthew Dalton mengatakan kepada CNN bahwa, “Orang-orang yang tinggal di daerah ini telah mengetahui tentang mereka selama ribuan tahun.” Namun dirinya juga berpikir hal itu tidak benar-benar diketahui, sampai ia dan teman-temannya mendapatkan citra satelit seberapa luas mereka.

Baca Juga:

  1. Inilah 6 Pasar Tertua di Indonesia
  2. Gunung Semeru: Tempat Bersemayam Para Dewa & Catatan Sejarah Panjang Letusannya
  3. Jejak Peradaban Sejarah Berusia Ribuan Tahun di Ibu Kota Negara Baru

Peneliti lain bernama Dalton juga mengungkapkan bahwa, “Sebenarnya dalam beberapa kasus, makam itu sendiri sangat padat, sehingga anda tidak bisa berjalan di rute kuno itu sendiri karena anda seperti dikelilingi makam.”

Dari penglihatannya di atas helikopter, ia melihat jalan pemakaman tersebut membentang hinga ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Dalton juga mengatakan bahwa jalan tersebut bahkan membentang sampai ke Yaman, sebab di negara tersebut dan juga Suriah Utara ditemukan makam yang serupa.

Makam tersebut ditemukan dalam kondisi yang sangat baik, hal ini seperti yang diungkapkan oleh peneliti bernama Melissa Kennedy, “Makam-makam ini berusia 4.500 tahun, dan mereka masih berdiri setinggi aslinya, yang benar-benar tidak pernah terdengar sebelumnya. Kondisinya pun masih sangat terpelihara.”

Penemuan tersebut cukup mengejutkan karena biasanya makam yang telah lama, keadaanya tidak mungkin sebagus itu. Belum lagi usia makam yang diperkirakan sudah 4.500. Peneliti menganggap bahwa jalanan itu telah lebih dulu digunakan sebelumnya da makam-makam yang membentang di sana.

Sebelum menganalisis data mereka, langkah selanjutnya untuk tim peneliti adalah melakukan lebih banyak penanggalan radiokarbon dan kembali ke lapangan. Melissa Kennedy juga mengatakan bahwa penelitian ini harus terus dilakukan.

Continue Reading

Internasional

Arab Saudi Gelontorkan Dana Fantastis untuk Bangun Al Ula, Wilayah yang Dihindari Nabi Muhammad

Published

on

Kota Al Ula
Kota Al Ula

Pemerintah Arab Saudi menggelontorkan dana sebesar 15 miliar dolar AS atau Rp214 triliun untuk membangun Kota Al Ula. Uniknya, wilayah ini dulunya dihindari oleh Nabi Muhammad.

Seperti dinukil dari Al Arabiya, Sabtu (15/1/2022), Al Ula selama ini dieknal sebagai kawasan yang ‘berhantu’.Banyak masyarakat Saudi percaya kawasan itu merupakan tempat jin dan ruh jahat sehingga harus dihindari.

Pembangunan ini dilakukan untuk meningkatkan ekonomi dengan memperluas sektor wisata di beberapa daerah, salah satunya Al Ula.

Baca Juga:

  1. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Akui Tak Tertarik dengan Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

Pembangunan Al Ula dibagi menjadi tiga tahap yakni 2023, 2030, 2035. Sebagai dana awal, Saudi memberi US$2 miliar atau sekitar Rp28 triliun untuk mengembangkan kawasan Al Ula.

CEO Komisi Kerajaan untuk Al Ula (RCU), Amr AlMadani mengatakan dana juga didapat dari kemitraan swasta sebesar US$3.2 miliar atau sekitar Rp45 triliun. Dana itu telah dialokasikan untuk prioritas infrastruktur jelang penyelesaian proyek fase 2023.

“Kita tak ada masalah dalam mengeksekusi fase satu, termasuk pengembangan bandara, yang sudah selesai,” kata Al Madani.

RCU didirikan Kementerian Keuangan Saudi pada Juli 2017 untuk mengelola perkembangan situs bersejarah.

Proyek itu, katanya, juga akan mulai mengembangkan infrastruktur trem rendah karbon. Hal ini, termasuk 22 km pertama sistem trem rendah karbon dari rencana sepanjang 46 km pengembangan jaringan energi terbarukan, dan peningkatan sistem pasokan air dan instalasi pengolahan air limbah.

“Dan sejauh ini, pengalaman pengunjung kami di situs warisan dan alam sedang ditingkatkan,” ujar Al Madani.

Al Ula terletak 1.100 kilometer dari Riyadh. Kota ini terdiri dari 22.561 kilometer persegi padang pasir, pegunungan batu pasir, dan situs warisan budaya kuno, termasuk Hegra, Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Arab.

Continue Reading

Trending