Connect with us

CityView

DPR RI Sahkan RUU IKN, Ini Catatan dari Demokrat &PKS

Published

on

Rapat Pengesahan RUU IKN
Rapat Pengesahan RUU IKN

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI hari ini, Selasa (18/1/2022), menggelar rapat paripurna untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ibu Kota Negara (IKN).

Setelah RUU IKN disahkan dan diketok palu, Ketua DPR RI, Puan Maharani, memberikan kesempatan bagi para anggota dewan yang menyampaikan interupsi. Tercatat, ada empat anggota dewan yang mengajukan interupsi.

“Apakah bisa disepakati empat saja karena ini sudah pukul 13.00 WIB, waktunya shalat zuhur,” ujar Puan.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Interupsi perihal UU IKN ini hanya disampaikan oleh dua anggota dewan, yaitu Suhardi Duka dari Fraksi Demokrat dan Hamid Noor Yasin dari Fraksi PKS. Sisanya yang juga dari Fraksi PKS tak terkait UU IKN.

Suhardi menyampaikan, tetap konsisten sepakat menerima RUU IKN tersebut menjadi UU. Namun, dia meminta perlu digarisbawahi beberapa catatan Fraksi Demokrat.

Pertama, kata dia, yang menjadi catatan adalah harus diprioritaskannya pembangunan sekolah, transportasi, fasilitas rumah sakit dan fasilitas sosial lainnya termasuk limbah dan sampah saat memindahkan IKN dari Jakarta ke IKN baru.

“Kita harus sadarai pemindahan ibu kota tidak hanya memindahkan ruang kerja tapi memindahkan ruang hidup orang banyak oleh karena itu perlu jadi perhatian, jadi prioritas,” tegas dia.

Selain itu, dia mengingatkan, pembangunan IKN baru nantinya juga akan menggunakan 258 ribu hektar kawasan hutan yang memiliki potensi kayu, tambang dan lainnya. Sehingga tidak boleh menjadi rebutan pihak-pihak tertentu.

“Dengan demikian pemerintah harus berhati-hati dan sekaligus melakukan perencanaan yang matang untuk ke semuanya bisa menjadi kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan orang per orang,” tutur Suhardi.

Adapun Hamid Noor Yasin yang mendapat kesempatan kedua mengingatkan tidaktepatannya waktu persetujuan RUU IKN ini di tengah masa krisis ekonomi yang dialami masyarakat Indonesia dan minimnya keuangan negara.

Menurutnya, untuk bisa membangun IKN dibutuhkan anggaran kurang lebih Rp466 triliun sedangkan saat ini pemerintah tengah menanggung beban utang yang per Oktober 2021 sebesar Rp6.687,28 triliun.

“Oleh sebab itu Fraksi PKS melihat bahwa pemindahan IKN di saat seperti saat sekarang ini sangat membebani keuangan negara dan membuat negara tidak fokus dalam penanganan pemulihan ekonomi,” ungkap Hamid.

CityView

Kemandirian Kota dalam Bayangan: Depok di Antara Wilayah Jabo(de)tabek

Published

on

mobilitas warga kota

Depok tidak memiliki sumberdaya alam mineral, akan tetapi posisinya sangat strategis, berbatasan langsung dengan Jakarta menjadikan Depok dimasukkan dalam rencana pengembangan Jabo(de)tabek.

Ketika Depok dirancang menjadi satelitnya Jakarta, sebenarnya kota ini hanya dijadikan sebagai kota tempat tinggal (dormitory town) bagi penduduk Jakarta.

Sejalan dengan hal tersebut Cosmas Batubara mengatakan bahwa Depok memang direncanakan hanya untuk tempat beristirahat bagi penghuni Perumnas, sementara pekerjaan sehari-hari tetap berada di Jakarta.

Pada saat ditetapkan sebagai Kotamadya pada 1999, kota baru ini diharapkan dapat mencukupi kebutuhan warganya dari segala segi. Namun dalam kenyataannya, hingga saat ini Depok masih belum dapat melepaskan diri dari kota Jakarta.

Hal ini terjadi karena peran yang diberikan kepada kota ini adalah untuk menampung kelebihan penduduk Jakarta, yang mempunyai pekerjaan tetap di tempat asalnya. Dengan demikian, Depok baru pada sebatas menampung penduduk Jakarta, tanpa penyediaan fasilitas pekerjaan.

Para migran ini setiap hari pulang pergi dari Depok-Jakarta, dan sebaliknya. Ida Bagoes Mantra menyebut mobilitas penduduk tersebut sebagai penglaju.

Pemindahan kampus Universitas Indonesia ke Depok pada 1987 mengakibatkan penurunan jumlah penduduk yang bekerja di Jakarta.

Dengan kepindahan UI ke Depok para karyawan dan para pengajar yang telah membeli rumah di Perumnas Depok I, dengan sendirinya tidak lagi melakukan perjalanan ulang-alik ke Jakarta.

Sebagian besar penghuni Depok yang merupakan pindahan dari Jakarta adalah pegawai negeri yang bekerja di Jakarta. Perpindahan mereka ke Depok bukan disebabkan oleh faktor ekonomi, melainkan persoalan permukiman.

Para pendatang yang menempati kompleks Perumnas sebagian besar pindah ke Depok karena mencari tempat tinggal yang murah dalam arti sesuai dengan kemampuan, dan dekat dengan tempat kerja.

Dapat dikatakan bahwa Depok hanya menjadi tempat “titipan” menginap bagi mereka, karena mereka telah mempunyai pekerjaan tetap di Jakarta.

Hingga tahun 1982, belum tersedia lapangan kerja bagi pegawai negeri. Mengingat bahwa Depok adalah desa yang agraris, maka jumlah pekerjaan sebagai petani cukup besar.

Meskipun dalam kenyataannya pekerjaan sebagai buruh jumlahnya lebih besar daripada petani, hal ini diasumsikan bahwa sebahagian dari mereka, pada awalnya juga berprofesi sebagai petani, namun ketika terjadi pembangunan proyek Perumnas secara besar-besaran, lahan pertanian mereka terkena penggusuran.

Faktor geografis juga memicu lambannya kemandirian Depok, karena kedekatan jarak antara Depok dan Jakarta ditambah dengan peningkatan penyediaan prasarana dan sarana angkutan umum yang semakin membaik menyebabkan kemudahan aksesibilitas antara kedua kota itu.

Namun di lain pihak, fasilitas perkotaan yang ada di Depok kurang lengkap dan kurang menarik dibandingkan dengan fasilitas yang tersedia di Jakarta menyebabkan warga memilih melakukan perjalanan pulang pergi setiap hari.

Hal yang sama berlaku juga pada para mahasiswa yang lebih memilih tinggal di Jakarta dari pada harus tinggal di kamar kos.

Ketika Depok pada 1981 peran dan statusnya berubah menjadi Kota Administrasi, maka sejumlah fasilitas perkotaan juga mulai ditata kembali.

menurut Kompas edisi 25 Mei 1987, kehadiran UI secara tidak langsung juga berdampak pada peningkatan penyediaan fasilitas pekerjaan di bidang perdagangan (antara lain warung makan atau restoran), dan jasa kemasyarakatan.

Terbentuknya Kota administratif Depok pada 1981 juga memerlukan sejumlah jasa kemasyarakatan seperti PNS yang bekerja di dinas pemerintahan (Depok), dan Hankam /ABRI, perbankan dan jasa keuangan lain serta industri.

Baca Juga:

  1. Mengadu Nasib di Kota: Migrasi Orang-Orang Madura ke Surabaya
  2. Ini Alasan Depok Jadi Kota Paling Tak Toleran di Indonesia
  3. Margonda Depok dan Aneka Kisahnya

Jumlah pertambahan usaha di bidang perdagangan menunjukkan jumlah yang besar dibandingkan dengan bidang-bidang yang lain. Namun kesempatan kerja yang ada pada bidang-bidang tersebut hanya sebatas pada tingkat pendidikan sekolah menengah atas, atau di bawahnya.

Untuk rumah makan misalnya, tenaga kerja yang direkrut adalah sebatas untuk pelayan, demikian juga penginapan. Artinya kesempatan kerja yang ada, tidak terlalu mengandalkan ketrampilan khusus.

Sementara, bidang pekerjaan yang dibutuhkan oleh kebanyakan penduduk Depok adalah jasa di bidang pemerintahan dan perusahaan.

Dalam hal ini, Depok dikondisikan hanya sebatas sebagai tempat permukiman. Artinya, menurut pemerintah Jakarta, di Depok tidak perlu ada kegiatan industri besar.

Kenyataan ini didukung dengan adanya larangan dan pembatasan untuk industri besar dan menengah, yang dituangkan dalam Keppres No. 21 Tahun 1989.

Realisasi dari Keppres ini, nampak pada tidak adanya bantuan dari pemerintah untuk memajukan industri yang telah ada di Depok.

Menanggapi hal ini Badrul Kamal menyatakan bahwa di dalam pemerintahan Kota Depok, tidak

terdapat subdinas atau bagian industri yang mengkoordinasi industri-industri yang ada di Depok. Kondisi Depok yang serba terbatas menyebabkan penduduk memilih menjadi penglaju ke kota metropolitan Jakarta, untuk mencukupi kebutuhannya.

Ulang alik tidak hanya dilakukan oleh pengajar dan karyawan UI saja, tetapi juga dari kalangan pegawai negeri yang bekerja di kementrian atau BUMN.

Menurut catatan Boy Loen, kaum Belanda Depok juga banyak yang bekerja di dunia perbankan di Jakarta. Mereka dapat dikatakan termasuk dalam migran sirkuler Depok – Jakarta seperti yang dikatakan oleh Ida Bagus Mantra.

Perjalanan ulang-alik dari pegawai kementrian, atau Badan-badan usaha lebih disebabkan karena kepindahan mereka ke Depok tidak disertai dengan perpindahan tempat kerjanya.

Di Depok belum ada kantor wilayah dari kementrian atau badan-badan usaha tersebut, sehingga mereka tetap melakukan perjalanan pulang pergi dari Depok ke Jakarta.

Pemerintah Kota Depok juga telah berupaya untuk menyediakan lapangan kerja dan tempat usaha di Depok. Upaya yang dilakukan dengan tujuan sebagai daya tarik bagi para urban, dan mengurangi perjalanan ulang alik antara Depok – Jakarta.

Dengan demikian diharapkan ketergantungan pada kota induknya dapat dikurangi. Namun dalam kenyataannya hal tersebut belum dapat dicapai sepenuhnya.

Pengembangan ekonomi di kota Depok direncanakan dikembangkan sektor perdagangan dan jasa, juga di sektor industri, sementara sektor pertanian peranannya untuk menyerap tenaga kerja semakin berkurang.

Pengurangan lahan pertanian itu antara lain disebabkan adanya pembangunan perumahan secara besar-besaran dan fungsi-fungsi lain.

Pada beberapa daerah di kecamatan Beji yang terletak di sekitar kampus UI, banyak penduduk Depok yang mengubah fungsi lahannya dari pertanian menjadi tempat pondokan atau menjual lahannya kepada pengusaha/ penduduk Jakarta untuk dibangun pondokan atau usaha lain.

Continue Reading

CityView

Mengenal Lebih Dalam Perkampungan Masyarakat Arab di Pekojan Jakarta Barat

Published

on

kampung arab pekojan

Masyarakat Arab cukup banyak yang tinggal dan menetap di Nusantara. Orang-orang Arab menetap di kampung-kampung yang diberikan dari sebuah dampak terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda.

Kebijakan wijkenstelsel memberikan aturan yang menciptakan pemukiman orang-orang Arab di sejumlah kota pada masa Hindia Belanda. Mereka tidak diperbolehkan untuk tinggal disembarang tempat pada masa tersebut. Dengan begitu, orang-orang Arab tidak bisa melakukan perjalanan jauh tanpa ada surat jalan dari pemerintah Kolonial.

Orang-orang Arab yang bermukim di kampung tersebut dinamakan sebuah kampung Pekojan. Hingga saat ini, kampung Pekojan menjadi kampung yang dihuni oleh orang-orang yang berketurunan Arab.

Kebanyakan orang-orang Arab dari Hadramaut di Indonesia yang tinggal di kampung Pekojan memiliki hubungan keturunan dengan nenek moyang yang berhasil sampai ke negeri tersebut. Istilah ‘nenek moyang’ tidak dipilih secara sembarangan.

Pertama, sebagian besar orang-orang Arab Hadramaut yang bermigrasi adalah laki-laki bujangan atau laki-laki yang meninggalkan keluarga mereka di Hadramaut dan menikah dengan penduduk setempat di negara tuan rumah mereka.

Kedua, kesamaan dengan sebagian besar masyarakat Timur Tengah, silsilah terutama dilacak melalui laki-laki. Oleh karena itu, keturunan seorang pria Hadramaut dan seorang wanita lokal Indonesia dapat dianggap sebagai Hadrami.

Menurut Frode F.Jacobsen dalam buku Hadrami Arab In Present-Day Indonesia, Di Indonesia dengan komunitas Arab yang cukup besar dan organisasi-organisasi Arab Hadramaut yang sangat berkembang, identifikasi yang dapat dilihat dengan masyarakat di tuan rumah sebenarnya sudah biasa di Hadramaut selama beberapa abad terakhir, berbeda dengan masyarakat Hadramaut yang tersebar di wilayah Hydrabad, India dan Sudan.

Eksistensi keberadaan masyarakat Arab di Indonesia telah membentuk komunitas Arab-Hadrami dari peranakan Arab Yaman mulai bermukim dan menempati wilayah-wilayah di Jawa terutama di Jakarta. Di Jakarta terdapat sebuah kampung Arab yaitu Kampung Pekojan.

Masyarakat Arab bermukim di kampung Pekojan yang selalu menghadirkan nuansa-nuansa keAraban dalam bentuk hubungan sosial, aktivitasnya bahkan hingga ke arsitekturnya.

Pada abad ke-18 dan hingga sampai saat ini kampung Pekojan masih ramai dan hidup berdampingan dengan penduduk Pribumi.

Awal mula Pekojan terdapat imigran-imigran dari India yang menetap di wilayah tersebut. Nama Pekojan berasal dari kata ‘Koja’ yang merupakan sebuah sebutan yang cukup popoler di kala itu menemui orang-orang India disana.

Tetapi karena kebijakan Pemerintahan Kolonial, akhirnya keturunan Arab yang menjadi mayoritas di Pekojan dan menggantikan orang-orang India yang dulu tinggal di Pekojan.

Baca Juga:

  1. Kedatangan Arab Hadhrami di Nusantara
  2. Masjid Sunan Ampel Surabaya, Wujud Perpaduan Islam dan Jawa
  3. Kampung Arab Al-Munawar, Kampung Arab-Palembang yang Tak Kalah dengan Surabaya

Kampung Pekojan adalah suatu kampung dengan hubungan sosial diantara pedagang Gujarat dengan masyarakat Indonesia yang memunculkan sebuah perkampungan yang disebut Pekojan.

Hingga saat ini, beberapa kota besar di Indonesia terdapat kampung Pekojan. Pekojan yang diartikan sebagai pendagang Gujarat. Sebagian dari pendagang tersebut menikah dengan wanita Indonesia dari putri-putri raja hingga bangsawan.

Oleh karena itu, banyak dari keluarga raja atau bangsawan yang masuk Islam dan kemudian diikuti oleh rakyatnya. Pada abad ke-18, Pekojan menjadi salah satu kawasan atau tempat tingga khusus bagi komunitas Arab dari keturunan India maupun keturunan Arab yang beragama Islam.

Dalam sistem yang dilakukan Pemerintahan Kolonial Belanda pada saat itu, memisahkan setiap orang berdasarkan suku dan etnis serta agama tertentu dengan membentuk kelompok pada saat itu.

Selain ingin lebih mudah mengatur suatu kawasan/wilayah dan untuk lebih mudah pula untuk dapat mendata jumlah penduduk baik yang sudah lama menetap ataupun pendatang yang baru di kawasan tersebut, maka dibentuklah kawasan-kawasan tersebut. Salah satunya kampung Pekojan sebagai kampung Arab di Batavia.

Alwi Shahab dalam Maria Van Engels: Menantu Habib Kwitang, Di Pekojan inilah Belanda memberlakukan sistem passen stelsel. Mereka yang tinggal di kawasan Pekojan bila hendak pergih ke daerah harus terlebih dahulu mendapatkan surat jalan dari Kapiten Arab di wilayah Pekojan.

Kampung Arab Pekojan masuk ke dalam bagian dari Distrik Penjagalan. Pada masa pemerintahan Belanda kelurahan Penjagalan berada di bawah Penjaringan Wijk, Onderdistn’ct Penjaringan dan District Batavia yang pada masa itu masih disebut Kampung Penjagalan.

Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Penjagalan masuk Penjaringan Son, Kawedanan Jakarta Kota. Setelah Kemerdekaan sampai tahun 1967 Kampung Penjagalan masuk wilayah Kelurahan Penjagalan. Kec. Penjaringan, Jakarta Utara.

Tetapi, pemekaran kota, pada tahun 1967, wilayah Kelurahan Penjagalan dipecah menjad 2, yaitu sebagian masuk kedalam wilayah Kelurahan Pekojan, Kec. Tambora, dan Sebagian masuk wilayah Penjagalan Utara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Selama ini Arab berbagi tempat dengan Muslim asing lainnya. Di Batavia, tempat tinggal orang-orang Arab ini disebut Pekojan, setelah Koja atau Moor yang melebihi jumlah minoritas Muslim lainnya sampai pada awal abad ke-19.

Namun, setelah 1880, jumlah imigran Arab secara bertahap meningkat dan Pekojan akhirnya menjadi seperempat Arab. Pertumbuhan konstan komunitas Arab di Hindia terlihat dari pendirian tempat baru, penciptaan pangkat Jurumudi (wijkmeester), dan pengangkatan dan gaji pejabat seperempat.

Pada tahun 1873, Hindia Belanda memiliki 35 perempat untuk “Orang Asing Orang Asing Lain”, di antaranya orang Arab menjadi kelompok terbesar, 23 di Jawa dan 12 di Kepulauan Quter. Di hampir semua kota, perdagangan menjadi cukup penting bagi kawasan yang didirikan oleh orang-orang Arab.

Dan hingga abad ke-20, sebagian besar orang-orang Arab di Jakarta tinggal di kampung Pekojan dan seperempat orang-orang Moor, antara Ammanusgracht (sekarang jalan Bandengan Selatan) dan Bacherachtsgracht (sekarang jalan Pekojan).

Aktivitas Perdagangan dan Keagamaan Masyarakat Arab di Pekojan

Perdagangan menjadi salah satu upaya untuk membangun perekonomian masyarakat yang cendrung dalam kemerosotan.

Menurut pendapat Adam Smith terkait perdagangan, bahwa masyarakat terbelakang ditandai dengan mata pencarian berburu, sedangkan masyarakat di daerah maju ditandai dengan mata pencarian berdagang.

Pada periode masa-masa awal perdagangan dikuasai oleh masyarakat Arab yang disebut dengan masyarakat pemimpin. Keberhasilan yang dilakukan oleh pendagang-pendagang Arab terhadap negara-negara perdagangan ialah menciptakan perdagangan dengan metode keramahan dan kemuliaan hati.

Dengan keberhasilan tersebut masyarakat Arab dapat diterima dengan baik secara suka rela oleh kalangan pendagang di seluruh dunia.

Tepatnya Smith menulis: “Ketika mereka memasuki kota, mereka mengundang orang-orang dijalan, baik kaya maupun yang miskin untuk makan bersama dengan duduk bersila. Mereka memulai makan dengan mengucapkan bismillah dan mengakhirinya dengan ucapan hamdallah”.

Adapun dilihat dari aktivitas Perdagangan yang dilakukan oleh orangorang yang berketurunan Arab, cukup memiliki kontribusi besar dalam menjalin hubungan erat dengan pendagang-pendagang Cina, Betawi, Jawa, Batak dan lainnya.

Dalam hal ini cukup banyak toko-toko milik orang Arab di Batavia, sekitar tahun 1920. Barang yang mereka jual seperti terlihat di Tanah Abang seperti minyak wangi, madu, korma dan ma’jun. di depan sekali tampak hoga yang kala itu banyak juga terdapat di kediaman etnis Arab.

Para pendagang ini menggunakan jubah dan sorban serta peci putih. Orang Arab banyak berdatangan ke Nusantara terutama pada abad ke-19.

Mereka diharuskan untuk tinggal di perkampungan Arab, Pekojan dan Krukut, karena Belanda juga mengenakan passen stelsel terhadap mereka.

Bila mereka ingin berpergian ke daerah lain seperti Jatinegara, mereka diharuskan untuk menyiapkan surat jalan.

Kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut ke Nusantara ini, selain untuk berdagang, mereka juga melakukan kegiatan keagamaan.

Dalam kegiatan keagamaan, terdapat masjid yang cukup terkenal disana yaitu masjid An-Nawier.

Pengaruh dari Masjid An-Nawier yang namanya berarti cahaya ada di Jalan Pekojan, Jakarta Barat, dan ditugaskan oleh seorang keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah putrinya yaitu Abdullah bin Hussein Alaydrus.

Sayyid Abdullah membangun masjid An-Nawier pada tahun 1760. Masjid ini juga menjadi salah satu pusat kampung Arab Pekojan dari segi keagamaan.

Masjid yang jauh dari jalan besar dengan keramaiannya menjadi ketertarikan tersendiri terhadap masyarakat Arab Pekojan maupun penduduk lokal disana untuk beribadah di masjid tersebut.

Dengan kata lain aktivitas keagamaan menjadikan unsur Islamiyah yang dipraktikkan oleh rakyat masyarakat Pekojan.

Maka dari itu, manfaat dari masjid tersebut bagi masyarakat di Pekojan maupun di luar Pekojan secara langsung juga ikut dalam aktivitas keutamaan shalat lima waktu, serta shalat jum’at dan doa khusus pada waktu akhir yang pada umumnya diajarkan didalam agama Islam. 

Serta kegiatan keagamaan juga disampaikan oleh ulama-ulama yang ada di Pekojan maupun dari luar Pekojan dengan memberikan pidato dan khutbahnya.

Pada abad ke-20 migrasi orang-orang Arab dari Hadramaut ke Nusantara mulai cukup banyak dan menempati beberapa daerah-daerah yang sudah di tetapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.

Tidak heran jika di Pekojan, Krukut, Tanah Abang, Kwitang dan baru-baru ini wilayah Condet menjadi sentral perekonomian orang-orang berketurunan Arab yang senantiasa menjajakan dagangan mereka di depan toko-toko mereka. Kesukaaan mereka adalah makan daging kambing, juga memasok kebutuhan makanan seperti daging kambing.

Continue Reading

CityView

Meraih Kemerdekaan dan Kedigdayaan: Amerika Serikat Melompat Jauh Ke depan

Published

on

ilustrasi patung liberty

Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka kita menghancurkan diri kita sendiri”, – Abraham Lincoln

Kini raksasa dunia kian melonglong. Negara Adidaya Amerika Serikat menerima tantangan dari raksasa lain, dari benua yang kaya akan mitos, sejarah dan budaya. China meraung dan memamerkan taringnya dalam unjuk gigi perang dagang.

Negara China mengobarkan semangat mengembalikan kejayaan perdagangan yang telah terkubur berabad-abad silam.

Sementara Amerika Serikat ‘memaksakan diri’ untuk melanjutkan posisi sentralnya sebagai negara penguasa perekonomian global. Sayangnya, artikel ini hanya mengupas sejarah Amerika Serikat merangkak menuju digdaya.

Semua bermula pasca Deklarasi Kemerdekaan, bangsa Amerika telah memperoleh kemerdekaan pada 4 Juni 1776. Founding Father Amerika bukan saja mengumumkan kelahiran sebuah negara baru, melainkan juga mencanangkan sebuah filosofi kebebasan manusia.

Seiring sejalan, negara Amerika senantiasa berusaha meningkatkan kemakmuran rakyatnya melalui upaya diplomatik, yang di kemudian hari menjelma menjadi imperium raksasa, bahkan mempengaruhi segala penjuru bangsa di berbagai belahan dunia.

Demi mematahkan kepentingan Inggris, negara baru Amerika mengoptimalkan kinerja diplomatik dan mengadakan penetrasi militer terhadap pelabuhan dagang yang berada dalam kekuasaan Inggris (pelabuhan dagang West Indies).

Pemerintah negara baru Amerika menjalin relasi dengan para pedagang, terutama yang berkebangsaan Amerika, sehingga Inggris tersudutkan dan terpaksa membuka pelabuhan lainnya di daerah koloninya.

Langkah sukses berupaya dipertahankan, bahkan negara baru tersebut terus-menerus menggerogoti imperium Inggris di benua Amerika.

Baca Juga:

  1. Mengenal Presiden Amerika Tersingkat
  2. Ambang Kehancuran Meksiko
  3. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Bangsa Amerika menyakini revolusi ini merupakan tonggak awal untuk mengakhiri kolonialisme Eropa sekaligus pertanda kebangkitan imperium raksasa yang akan menguasai daratan dan lautan.

Relatif cukup lama, bangsa Amerika menyusun pilar-pilar imperium kontinental, terlebih mengembangkan perdagangan yang mengusung perekonomian pasar ekspansif dengan target seluruh penjuru dunia, guna menggantikan posisi dan peran bangsa Eropa (Portugal pada abad ke-16; Belanda pada abad ke-17; Inggris pada abad ke-18).

Akhir abad ke-20, bangsa Amerika boleh bangga atas prestasinya yang mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia, baik dari segi politik, ekonomi, militer maupun budaya.

Semenjak perang dingin (cold-war) usai, Uni Soviet tumbang, dan Amerika Serikat terangkat menuju podium tertinggi panggung dunia.

Kemajuan Amerika Serikat dapat dilacak, berawal dari penetapan kebijakan luar negeri guna melakukan ekspansi agresif ke beberapa wilayah disekitarnya.

Dengan menjunjung nilai-nilai kebebasan individu, Amerika Serikat menunjukkan sikap dan ketegasannya dalam kebijakan politik luar negerinya.

Setiap ekspansi militer mengusung kepentingan perekonomian Amerika, karena prinsipnya tak jauh beda dengan kolonialisme Eropa, yang membonceng perusahaan dibalik tank dan ribuan serdadu bersenjata.

Tahun 1776, Amerika Serikat sudah terdiri dari 13 negara bagian yang harus menghadapi negara-negara imperalis Eropa, seperti Inggris, Perancis dan Spanyol.

Oleh karena itu, menurut David F. Burg dalam The America Revolution, Amerika Serikat berperan aktif mengupayakan cara diplomasi untuk menjaga dan memperluas wilayah teritorialnya. Ekspansi militer pun berlangsung sporadis sejak zaman koloni.

Para pionir Amerika menjelajah ke arah barat untuk membuka lahan-lahan baru sampai ke pegunungan Appalachian.

Setelah mendapatkan wilayah Lousina, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan ancaman dari Inggris yang masih menguasai wilayah Canada.

John Soule dalam Garis Besar Sejarah America melanjutkan, terpikat oleh tanah yang subur yang belum pernah dijumpai, mendorong para perintis berdatangan ke pegunungan Appalachian dan daerah disekitarnya.

Hingga pada 1790, penduduk daerah lintas pegunungan Appalanchian berkembang mencapai angka 120.000 jiwa.

Keadaan Negara terus berkembang mantab, disusul migrasi dari Eropa meningkat. Penduduk Amerika pun mulai pindah kearah barat.

Penduduk New England dan Pennsylvania beranjak ke Ohio, sedangkan orang-orang Virginia dan Carolina masuk ke Kentucky dan Tennessee.

Lahan pertanian yang bagus bisa dimiliki dengan harga murah, tenaga kerja sangat dibutuhkan.

Faktor yang paling utama adalah meningkatnya perkembangan industri kapas yang sangat besar di wilayah selatan yang terdorong oleh pengenalan jenis-jenis baru teknologi pembangunan.

Perang tahun 1812, dalam batas tertentu merupakan perang kemerdekaan kedua, karena sebelumnya Amerika Serikat masih dianggap setara dengan rumpun bangsa terjajah lainnya.

Dengan diakuinya negara baru Amerika, banyak kesulitan serius yang menerjangnya. Persatuan nasional di bawah konstitusi membawa keseimbangan antara kemerdekaaan dan ketertiban.

Utang nasional yang rendah dan tanah yang luas menunggu untuk diolah menjadi modal utama yang diharapkan dapat menunjang kemakmuran dan kemajuan negara baru tersebut.

Melalui semangat itulah kemudian Amerika berkeinginan menyalurkan hasratnya dengan mengadakan ekspansi dan politk luar negerinya.

Continue Reading

Trending