Connect with us

Sosial-Budaya

Dombreng, Tradisi Indonesia untuk Permalukan Koruptor

Published

on

Dombreng

Kasus korupsi seringkali menghiasi pemberitaan di Indonesia. Bahkan, para koruptor di Indonesia seolah tak memiliki rasa malu ketika ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Namun, sebenarnya Indonesia memiliki tradisi untuk menghukum oknum yang mencuri uang rakyat. Tradisi itu bernama Dombreng. Tradisi ini muncul di masa revolusi sosial di Tanah Air.

Revolusi sosial ini terkenal dengan sebutan Peristiwa Tiga Daerah yang terjadi sekitar Agustus 1945 sampai Desember 1945.

Baca Juga:

  1. Seruan Puan Maharani ke Jokowi Soal Kapal China Masuk ke Natuna
  2. Patroli di Laut Natuna Utara, TNI AL Pastikan Tak Menemukan Kapal Asing!
  3. GNPF, FPI & PA 212: Waspada Bangkitnya PKI, Komunis Itu Nyata

Peristiwa Tiga Daerah terjadi di daerah pesisir pantai utara jawa, tepatnya di Kabupaten Pemalang, Tegal dan Brebes (eks karesidenan Pekalongan). Kondisi ini muncul karena pengalaman sejarah yang diwarnai dengan tekanan, penindasan, kesengsaraan, dan kemelaratan, yang dialami oleh masyarakat pada masa kolonial.

Kondisi ini membangkitkan rasa benci dan dendam terhadap sistem dan struktur yang telah menyebabkan kesengsaraan itu. Bukan hanya kepada para pemerintahan penjajah, tapi juga para pejabat-pejabat tradisional, terutama penguasa-penguasa yang memperlihatkan tanda-tanda kerjasama dengan pemerintah penjajah saat itu.

Kondisi perekonomian rakyat di tiga daerah itu sangat buruk pada masa kolonial, terutama pada saat dijalankannya Tanam Paksa. Eksploitasi dalam lapangan ekonomi dijalankan tidak saja oleh pemerintah penjajah, tapi juga oleh penguasa-penguasa tradisional dan pedagang-pedagang kaya.

Hal ini membuat rakyat jelata, petani kecil serta pekerja dan buruh menjadi sangat menderita. Kemelaratan hebat ini kembali bertambah pada zaman penjajahan Jepang.

Rakyat menemui kenyataan ekonomi lebih buruk pada masa ini; adanya wajib setor padi, penjatahan bahan pangan, di samping banyak terdapat korupsi dan penindasan oleh pihak penguasa tradisional dari pemungutan setoran oleh masyarakat.

Anton Lucas dalam bukunya Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi, menulis distribusi beras kepada rakyat seringkali tersendat pada tingkat birokrasi kecamatan dan desa. Alih-alih segera membagikan kepada rakyat, padi dibiarkan menumpuk di gudang.

Keresahan akibat kelaparan banyak terjadi di wilayah Tiga Daerah. Tuntutan rakyat kepada para pamong agar membagi-bagikan beras tidak ditanggapi. Birokrat desa tak berani mengambil langkah apa-apa, seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Moga, Pemalang Selatan, September 1945.

Rakyat berkumpul menuntut pembagian beras, namun wakil camat enggan meluluskan permintaan rakyat kendati kemarahan mereka kian memuncak. Di Kabupaten Brebes, yang letaknya disebelah barat Kabupaten Tegal, gejolak revolusi juga terjadi dimana-mana.

kemarahan rakyat terhadap otoritas pemerintahan Desa Cerih. Pada 7 Oktober 1945 malam hari, warga yang desanya miskin namun jadi pusat gerakan radikal sejak era kolonial Belanda, mengepung rumah Raden Mas Harjowiyono, Lurah Cerih.

Harjowiyono bertahan di dalam rumah semalamanan dan baru keluar rumah pada pagi harinya setelah warga mengancam akan membakar rumahnya. Dengan berpakaian resmi, Harjowiyono menemui warganya yang marah, bertanya apa kesalahannya.

Warga Desa Cerih kemudian melucuti pakaian lurahnya, menggantinya dengan karung goni, sebagaimana yang banyak dikenakan rakyat pada masa Jepang. Sementara itu istri lurah dikalungi seikat padi.

Pasangan suami istri ini lantas diarak keliling kampung di bawah iringan suara gamelan milik lurah yang dimainkan serampangan oleh rakyat. Di sepanjang perjalanan, mereka dihina dan diperlakukan seperti ayam.

“Dipaksa minum air dalam tempurung kelapa dan makan dedak (kulit padi),” tulis Lucas

Aksi seperti ini juga terjadi di tempat lain di wilayah Tiga Daerah. Polanya sama, yakni mengarak pamong desa dan kaum feodal yang dianggap sebagai antek penjajah. Mereka menyebut aksi ini sebagai Dombreng, meniru suara yang tercipta dari tetabuhan kentongan kayu dan kaleng yang dimainkan rakyat saat mengarak dan mempermalukan mereka yang dianggap simbol penindas rakyat kaki tangan penjajah.

Dombreng juga diartikan sebagai ritual tentang majikan yang diusir (disepak keluar) oleh abdinya. Korbannya tak hanya si pejabat, namun keluarganya pun bisa ikut kena ritual tersebut.

Raden Ayu Kardinah, salah seorang adik R.A. Kartini menjadi korban pendombrengan. Kardinah yang saat itu telah berusia 64 tahun adalah istri Reksonegoro X, Bupati Tegal yang menjabat pada 1929-1935. Ia juga merupakan mertua dari Raden Soenarjo, Bupati Tegal pada 1944-1945. Pada era kolonial, saudari Kartini ini juga dikenal sebagai orang yang berjiwa sosial.

Sosial-Budaya

Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar

Published

on

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Garut adalah sebuah kota atau kabupaten kecil namun dengan sejuta keindahan yang terdapat didalamnya. Garut juga dikenal sebagai kota penghasil dodol khas yang dibuat untuk oleh–oleh bagi pelancong yang datang ke kota ini.

Meski demikian, Kota ini juga masih menyimpan dan melestarikan kesenian yang menjadi salah satu budaya kebanggaan warga Garut, salah satu kesenian itu adalah kesenian Lais.

Kesenian ini adalah sebuah pertunjukan kesenian akrobatik dimana seorang pemain bermain diatas seutas tali yang memiliki panjang 6 meter yang terbentang dan di ikat diantara dua buah bambu yang ketinggian bambu tersebut sekitar 12–13 meter.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Kesenian ini sudah ada sejak zaman belanda, tepatnya di kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening, Garut, Jawa Barat. Nama kesenian ini diambil dari seseorang bapak – bapak bernama “Laisan” yang terampil dalam memanjat pohon kelapa, yang sehari – harinya dipanggil Pak Lai

Pertunjukan yang ditampilkan pertama–tama pelais memanjat bambu lalu berpindah ke tambang sambil menari dan berputar di atas tali tanpa menggunakan sabuk pengaman yang di iringi dengan musik kendang pencak, reog, terompet dan dog–dog.

Kesenian ini mempertontonkan ketangkasan pemainnya dan sebenarnya hampir mirip dengan akrobat yang ada di acara sirkus. Pemain Lais yang beratraksi dapat membuat penonton terpesona karena selalu membuat atraksi ini berdebar–debar.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Lais merupakan kesenian yang menggabungkan dua budaya, yaitu Budaya Sunda dan Budaya Jawa Timuran. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya gerakan akrobatik yang serupa dengan akrobatik khas Reog Ponorogo melalui Gerakan yang dinamakan Kucingan.

Kucingan sendiri mengisahkan tentang seekor kucing yang diperankan singo barong tanpa dadak merak sedang mengejar Tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya. Hanya saja di Lais tidak menggunakan cerita kucingan dan seragam reyog serta topengnya yang menyulitkan pandangan penari Lais.

Atraksi yang diberikan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog dan terompet.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Di era sekarang, tradisi akrobatik khas Kabupaten Garut tersebut masih dimininati dan terdapat padepokan Lais yang masih terus bergerak melakukan kegiatan atraksinya, yaitu Padepokan Panca Warna Medal Panglipur. Menurut Ade Dadang selaku pimpinan, Ia terus berupaya mencari inovasi agar kesenian khas kota Garut tersebut tidak hilang.

Menurutnya, potensi tradisi Lais cukup besar bagi kalangan muda, mengingat kalangan muda merupakan generasi yang masih semangat dan tertarik akan hal-hal yang bersifat tantangan.

Dadang melanjutkan, jika tradisi Lais di Padepokan Panca Warna Medal Panglipur masih banyak dilirik oleh kalangan muda karena diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais yang disukai oleh anak muda.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Buka Pekan Kebudayaan Nasional 2021, Jokowi: Indonesia Kaya Budaya & Hayati

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), resmi membuka hajatan akbar Pekan Kebudayaan Nasional 2021 secara virtual pada Jumat (19/11/2021) malam.

Acara pembukaan virtual tersebut disiarkan melalui indonesiana.tv dan akun YouTube Budaya Saya milik Kemendikbudristek. Peresmian Pekan Kebudayaan Nasional 2021 berlangsung selama satu jam.

Dalam kata sambutannya, Presiden Jokowi menuturkan tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini bukanlah hal pertama yang terjadi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Pandemi bukan yang pertama, bencana alam bukan juga yang pertama. Banyak sekali tantangan yang sudah dialami oleh bangsa Indonesia sebelum menjadi Republik ini berdiri,” ujar Jokowi.

Jokowi melanjutkan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari ilmu pengetahuan dan kearifan lokal masa lalu yang diturunkan melalui nenek moyang kita. Kearifan itu yang terangkum dalam bentuk narasi lisan misalnya skrip drama maupun pewayangan.

Berangkat dari kekayaan kebudayaan dan alam, Indonesia pun berpeluang menjadi pusat peradaban.

“Saya menegaskan bahwa berangkat dari kekayaan kebudayaan dan kekayaan hayati kita, Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan yang berbasis dari peradaban Indonesia,” tegasnya.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Sasi, Tradisi Turun-temurun Maluku untuk Jaga Sumber Daya Alam

Published

on

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan manusia meninggalkan cukup banyak masalah. Namun, masyarakat Maluku memiliki tradisi turun-temurun untuk menjaga sumber daya alam mereka. Tradisi tersebut bernama Sasi.

Ya, Maluku memang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Jika eksploitasi sumber daya alam dilakukan dengan cara semena-mena, bakal ada banyak masalah seperti bencana alam hingga kelangkaan sumber daya alam.

Sangat masuk akal sekali memang, apabila sumber daya alam dikeruk terus menerus. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti sumber daya tersebut akan habis dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Apabila sumber daya tersebut habis, yang dirugikan juga manusia sendiri.

Baca Juga:

  1. Ducati Murka ! Panitia WorldSBK Indonesia 2021 Buka Kargo Motor Secara Ilegal
  2. Kemendagri: Elkan Baggot Sudah Lama Jadi WNI
  3. Maguire Selebrasi Gol Sindir Kritik, Keane: Memalukan!

Lantas, apa itu Sasi? Bisa dibilang, Sasi adalah sasi adalah sebuah hukum adat yang berlaku di masyarakat Maluku, khususnya mengatur pemanfaatan SDA. Sasi ini adalah sebuah larangan untuk mengambil hasil alam pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi ini sebenarnya lebih difokuskan untuk pengelolaan hasil laut, terutama perikanan. Namun, di luar itu juga terdapat sasi yang mengatur pengelolaan hasil alam di daratan yang disebut sebagai sasi darat.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Dalam tradisi sasi juga melarang penggunaan alat pancing yang bisa merusak ekosistem laut. Masyarakat hanya boleh mencari ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem laut, seperti menggunakan pukat atau alat peledak.

Dalam pelaksanaan sasi terdapat dua istilah penting, yaitu sasi buka dan sasi tutup. Sasi buka adalah masa saat masyarakat Maluku diperbolehkan untuk mengambil hasil alam, sedangkan sasi tutup adalah masa ketika masyarakat dilarang untuk mengambil hasil alam.

Masa sasi buka dan sasi tutup ini ditentukan berdasarkan masa saat sumber daya siap panen, kebutuhan ekonomi masyarakat untuk dijual ke pasar, dan kebutuhan konsumsi dari masyarakat itu sendiri.

Sasi memiliki sebuah makna yang sangat dalam, yaitu apabila alam dimanfaatkan secara berlebihan dan secara tidak bertanggung jawab, akan terjadi ketidakseimbangan antara alam dan manusia.

Sasi mengajarkan pentingnya menjaga alam dan tidak mengeksploitasinya dengan semena-mena. Apabila alam dieksploitasi dengan semena-mena, yang akan merasakan kerugian juga manusia sendiri.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Sasi tercipta di Maluku karena kesadaran bahwa sumber daya alam di Maluku memiliki batas. Apabila dimanfaatkan dengan tidak beraturan, sumber daya itu bisa habis. Dari kesadaran itulah kemudian muncul sasi untuk menjaga ketersediaan SDA, tidak hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk generasi selanjutnya.

Continue Reading

Trending