Connect with us

CityView

Dilema Mengatasi Kemiskinan Kota

Published

on

makam rangkah Surabaya

Negara Indonesia adalah termasuk negara berkembang. Sebagai negara berkembang, banyak yang harus dilakukan dan diperhatikan dengan fokus oleh pemerintah dalam melakukan pengembangan dan perwujudan untuk mencapai suatu negara yang lebih maju.

Dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membangun suatu negara yang lebih maju dengan lebih memperhatikan masalah pembangunan suatu negara seperti halnya masalah kemiskinan yang bisa menghambat kemajuan suatu negara berkembang.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar kalau mayoritas masyarakatnya masih miskin dan lemah. Maka untuk menjadi bangsa yang besar mayoritas masyarakatnya tidak boleh hidup dalam kemiskinan dan lemah.

Masalah kemiskinan itu sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia, walaupun seringkali tidak disadari kehadirannya sebagai masalah oleh manusia yang bersangkutan.

Bagi mereka yang tergolong miskin, kemiskinan merupakan sesuatu yang nyata dalam kehidupan mereka sehari-hari, karena mereka itu merasakan dan menjalani sendiri bagaimana hidup dalam kemiskinan.

Walaupun demikian belum tentu mereka itu sadar akan kemiskinan yang mereka jalani. Kesadaran akan kemiskinan yang mereka miliki itu, baru terasa pada waktu mereka membandingkan kehidupan yang mereka jalani dengan kehidupan orang lain yang yang tergolong mempunyai tingkat kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.

Meskipun umat manusia telah mencapai kemajuan yang tiada taranya dalam bidang perindustrian, pendidikan dan ilmu pengetahuan, namun untuk mencapai suatau tempat berteduh yang nyaman dan sederhana, dengan kebebasan pribadi dan perlindungan terhadap keganasan cuaca alam masih juga belum termasuk jangkauan bagi semua masyarakat.

Tidak meratanya kemajuan manusia dibandingkan dengan jenis-jenis makhluk yang lebih rendah tingkatannya dapat dilukiskan dalam perjuangan manusia untuk mencapai tempat berteduh. Dalam hal ini, lebih nyata daripada aspek-aspek kehidupan lainnya.

Bangsa-bangsa yang lebih primitif kebudayaannya ternyata lebih besar kemampuannya untuk mengatasi tantangan alam lingkungan dibandingkan dengan penduduk kota yang katanya lebih modern.

Menurut B. N. Marbun, dalam buku Kota Indonesia Masa Depan: Masalah dan Prospek, masalah kota besar terutama bagaimana melengkapi sarana-sarana kota untuk melayani warganya secara memuaskan yaitu mulai dari perumahan yang memadai, lapangan kerja yang cukup, transportasi, komunikasi, tempat rekreasi dan segala fasilitas penunjang lainnya sesuai dengan tuntutan kebutuhan kota modern dalam lalu lintas nasional maupun internasional.

Seperti halnya yang dialami negara-negara yang sedang berkembang pada masa ini, juga Indonesia mengalami arus perpindahan penduduk dari desa ke kota yang cukup tinggi, meskipun secara prosentual belum setinggi tingkat urbanisasi di negara industri.

Tetapi berbeda dengan di negara industri, arus urbanisasi di Indonesia tidak diimbangi dengan adanya perluasan kesempatan kerja di kota-kota baik di sektor industri maupun di sektor jasa atau kesempatan membuka usaha sendiri. Akibat dari ketimpangan ini, maka arus urbanisasi ini walaupun prosentual tidak terlalu tinggi telah menimbulkan masalah pengangguran dan akibat negatif lainnya seperti kemiskinan.

Pendatang baru menjadi beban tambahan bagi kota-kota yang mereka datangi. Karena kesulitan tempat tinggal dan ketiadaan uang, pendatang baru yang kebanyakan berbekal pendidikan rendah tinggal di gubuk-gubuk, di emperan toko, di bawah pohon, dikolong jembatan bahkan di area pemakaman.

Kota Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta yang termasuk Ibukota Indonesia, semakin besar kota tersebut maka semakin banyak masalah yang sangat signifikan yang bisa dan akan menghambat jalannya pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga:

  1. Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi, Ini Sederet Fakta Tentang Masyarakat Indis
  2. Jakarta dan Permukiman Kumuh Bagian 1: Pembangunan Kota Jelang Asian Games
  3. Gua Gong, Primadona Pacitan Pemilik Danau dan Ruang Misterius

Dengan melonjaknya angka kelahiran yang ada pada kota Surabaya, maka semakin banyaknya masalah yang bisa menghambat suatu pembangunan perekonomian yang berhubungan langsung atau secara tidak langsung dengan masalah kemiskinan yang terjadi pada daerah tersebut.

Masyarakat miskin ini memunculkan kantung-kantung kemiskinan yang bertebaran hampir merata di seluruh kawasan kota Surabaya. masalah kemiskinan kota yang disebabkan kedatangan para urban ini menimbulkan masalah seperti pengangguran, kriminalitas, keindahan kota dan berbagai macam masalah kemiskinan lain yang akan menjadi beban tersendiri.

Surabaya juga merupakan salah satu kota besar yang memiliki masalah kemiskinan yang diakibatkan oleh urbanisasi dan mengakibatkan meledaknya jumlah penduduk namun tidak diimbangi dengan lahan yang luas dan tidak pula diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang setara dengan para pencari pekerjaan.

Baca Juga :  Pasar Genteng, Pusatnya Elektronik Murah & Oleh-Oleh Khas Surabaya

Tanah dan ladang yang habis terkuras dan tidak lagi menghasilkan cukup bahan pangan bagi penduduk yang semakin bertambah, dan dengan terbatasnya kesempatan untuk berpindah tempat ke daerah yang masih belum digarap sehingga daerah perkotaan dijadikan “tempat berteduh” yang menjadi pilihan masyarakat.

Masalah pertama yang dihadapi warga yang berduyun-duyun memasuki daerah perkotaan ini adalah mencari atap tempat berteduh. Surabaya tetap menjadi surga bagi kaum urban yang tidak memiliki penghasilan tetap karena bagaimanapun dirasa lebih menghasilkan sesuatu daripada di tempat asal mereka.

Cara pemerintah untuk mengatasi kemiskinan yang disebabkan kedatangan para urban ini biasanya dilakukan dengan menggusurnya. Namun, pada kenyataannya, penggusuran justru menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering disebut dengan peremajaan kota ternyata merupakan cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.

Potret buram kemiskinan yang terdapat di kota besar seperti Surabaya ini dapat kita lihat pada salah satu makam yang terletak di daerah Kapas Krampung Surabaya yang terkenal dengan sebutan pemakaman Rangkah.

Daerah ini menjadi saksi dan salah satu contoh potret kemiskinan yang terjadi di Indonesia khususnya Surabaya. Bagaimana tidak, banyak warga kaum urban yang menggunakan area pemakaman umum ini sebagai tempat tinggal mereka.

Tidak hanya sebagai tempat peristirahatan sementara namun juga di gunakan sebagai tempat bertahan hidup sehari-hari. Seperti tempat tinggal (rumah) pada umumnya, mereka melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, memasak, mandi, tidur, mencuci, menjemur pakaian hingga berjualanpun dilakukan diatas makam ini.

Suatu fenomena yang sangat ironis, di tengah-tengah maraknya mall-mall yang baru berdiri dengan megah maupun mall-mall yang akan didirikan ternyata masih banyak masyarakat indonesia yang tidak mempunyai tempat tinggal hingga harus menetap diatas makam.

Selain itu, masih banyak pula anak-anak yang tidak terurus pendidikannya dan lagi-lagi penyebabnya adalah masalah ekonomi. Banyak anak yang putus sekolah, meskipun ada beberapa sekolah yang menjamin pendidikan mereka tetap saja mereka memilih putus sekolah. Orang tua lebih memilih anak-anaknya bekerja membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terjadi akibat rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya pendidikan. Selain keinginan orang tua mereka, anak-anak kecil ini juga telah merasa mempunyai tanggung jawab untuk tidak menyulitkankan orang tua mereka sehingga caranya yang harus ditempuh adalah dengan bekerja, entah itu menjadi pemulung, topeng monyet keliling maupun pengamen.

Agar dapat bertahan hidup, warga yang tergolong miskin ini melakukan pekerjaan apapun asal halal dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Tidak memiliki pendidikan tidak menjadikan mereka hanya berpangku tangan menerima nasib yang ada, mereka berusaha mandiri dan memutar otak demi memenuhi kebutuhan.

Kemiskinan yang membelenggu menjadikan mereka menikmati untuk tinggal dimanapun dan melakukan pekerjaan apapun. Pemerintah seperti tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) akan keadaan ini. Padahal, makam Kapas Krampung ini yang mengelola adalah pihak pemerintahan sehingga aparat pemerintahan setiap harinya menjumpai para warga yang melakukan kegiatan rumah tangga di atas pemakaman ini.

Selain itu, area pemakaman ini juga dijadikan sebagai jalan umum sehingga orang lalu lalang disekitar areal makam sudah menjadi suatu yang lumrah. Masyarakat miskin yang yang tinggal di makam ini merupakan salah satu penerima akibat dari tidak adilnya pemerintah dalam memperlakukan masyarakat.

Bagaimana tidak, disatu sisi pemerintah beserta para pengusaha tengah melakukan pameran emas, berlian, permata dan lain sebagainya, namun disisi lain masih banyak sekali masyarakat yang hanya dapat makan satu kali dalam sehari dan itupun harus dengan perjuangan yang sangat berat.

Sehingga tidak dapat disalahkan jika makam digunakan oleh kaum urban sebagai alternatif aman dalam melindung diri mereka dari berbagai situasi yakni sebagai rumah/tempat tinggal. Terlihat dengan jelas sekali ketimpangan sosial yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang mengaku sebagai kota metropolis.

Kota yang mengaku dirinya modern tanpa memikirkan nasib orang banyak khususnya rakyat kecil yang dari segi ekonomi kurang beruntung. Sehingga pantaslah ada kata-kata yang menyatakan “yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin sengsara”

Masyarakat miskin kota ini akan terlihat semakin miskin karena mereka tidak mempunyai ketrampilan apapun karena memang kurang adanya sosialisasi ketrampilan yang diadakan untuk warga miskin. Mereka akan semakin sengsara ketika tidak memiliki kejelasan identitas sehingga akan kesulitan untuk mendapatkan bantuan sandang maupun pangan, bantuan dalam bidang pendidikan serta bantuan dalam segi kesehatan.

Baca Juga :  Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya

 Ironisnya, pemerintah provinsi (pemprov) seolah tutup mata mengenai hal ini. Beruntung warga yang tinggal disekitar area makam kapas Krampung ini telah memiliki identitas yang lengkap sehingga beban kesulitan mereka sebagai warga miskin dapat terkurangi.

Setiap ada bantuan yang datang, salah satu pimpinan RT selalu berusaha agar warganya juga mendapatkan hak mereka sebagai masyarakat miskin. Tidak salah jika masyarakat urban yang tinggal diatas makam ini berusaha untuk tetap betahan hidup ditengah-tengah ketatnya persaingan yang terjadi di kota Surabaya.

Mayoritas warga yang tinggal di daerah ini berprofesi sebagai pemulung di daerah sekitar Surabaya. meskipun ada pula warga yang masih berprofesi sebagai tukang becak, topeng monyet keliling mapun calo.

Pada mulanya pemerintah kota memandang sebelah mata kehidupan masyarakat miskin yang cenderung dekat dengan hal-hal yang bau dan kotor sehingga nantinya mereka akan menimbulkan masalah baik di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat, kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Oleh sebab itu, kebijakan yang diambil untuk masyarakat miskin yang tempat tinggalnya tidak layak seperti diatas makam ini adalah dengan menggusurnya maupun penentuan lokasi tempat tinggal yang hanya bertumpu pada kepentingan sesaat saja bukan untuk perbaikan taraf hidup mereka.

Masyarakat urban datang ke Surabaya tidak hanya sekedar mendapatkan uang belaka, melainkan mereka juga harus mengubah sikap hidup mereka ditengah hiruk pikuknya kota besar. Mereka juga harus mengikuti persyaratan hidup bebas dan tertib.

Golongan Miskin Kota

Setidaknya terdapat dua teori yang menjelaskan mengenai kaum miskin kota. Pertama adalah teori marjinalitas dan kedua adalah teori ketergantungan. Kaum miskin kota, dalam teori marjinalitas yang menjelaskan tentang pemukiman kumuh melihat bahwa kaum miskin sebagai penduduk yang secara sosial, ekonomi, budaya dan politik tidak berintegrasi dengan kehidupan masyarakat kota.

Secara sosial, memiliki ciri-ciri yang mengungkapkan adanya disorganisasi internal dan isolasi eksternal. Secara budaya, mereka mengikuti pola hidup tradisosnal pedesaan dan terkungkung dalam “budaya kemiskinan”.

Secara ekonomi, mereka hidup seperti parasit karena lebih banyak menyerap sumber daya kota daripada menyumbangkannya, boros, konsumtif, cepat puas, tidak berorientasi pasar, tidak berjiwa wiraswasta, berproduksi secara pas-pasan.

Secara politik mereka berwatak apatis, mudah ketergantungan, masyarakat miskin kota tersebut dilihat sebagai pendatang miskin yang tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang memadai, sehingga mereka tidak dapat ambil bagian dalam sektor formal.

Satu-satunya kemungkinan bagi mereka adalah bekerja di sektor informal seperti penjaja makanan, pedagang kecil, pemulung, tukang becak dan lain sebagainya.

Kegiatan dunia usaha dan industri berpindah dari pusat kota ke daerah pinggiran atau kota kecil. Bagian tengah kota akhirnya kehilangan kesempatan kerja, orang berpendidikan dan orang yang berhasil.

Akibatnya, sumber pendapatan dari pajaknya menurun, sementara itu sarana dasarnya (jalanan, jembatan, jalanan pejalan kaki, saluran air dan fasilitas lainnya) memerlukan pembiayaan besar. Bagian dalam kota akhirnya menjadi daerah kantong para orang gagal dan orang melarat yang hidupnya tergantung pada tunjangan sosial.

Mereka tidak dapat ikut berpindah ke daerah pinggiran kota dan kota kecil karena kebanyakan wilayah pemukiman dirancang secara sadar dan tidak memberi kemungkinan dibangunnya perumahan murah yang dianggap dapat menarik hati orang-orang yang tidak dikehendaki di pusat kota.

Setiap pekerjaan baru di pusat kota lebih bersifat kantoran, memerlukan latar belakang pendidikan yang baik dan kemampuan berbahasa Inggris standar yang kebanyakan tidak dimiliki oleh penduduk di bagian dalam kota.

Golongan melarat kota yang kebanyakan orang miskin dan kelompok minoritas tidak mampu memperoleh pekerjaan diwilayah mereka dan tidak terpengaruh oleh gerakan-gerakan politik revolusioner karena frustasi dan tidak berpartisispasi dalam kehidupan politik.

Dalam teori pula mampu pindah untuk mencari pekerjaan di wilayah lain. Mungkin apa yang sedang dilakukan dewasa ini merupakan pembentukan golongan melarat kota yang permanen yang kebanyakan berasal dari kelompok minoritas, orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak pernah berkemungkinan untuk memperoleh pekerjaan di masa depan.

Biaya tunjangan sosial bagi para orang miskin kota ini adalah pengeluaran yang harus dibayarkan oleh masyarakat sendiri yakni kewajiban membayar pajak tapi entah tersalurkan dengan baik atau tidak.

Ketidakberdayaan keluarga miskin salah satunya tercermin dalam kasus dimana para pemimpin dengan seenaknya memfungsikan diri sebagai oknum yang menjaring bantuan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin dan ketidakberdayaan, sering pula mengakibatkan terjadinya bias bantuan terhadap si miskin kepada kelas diatasnya yang seharusnya tidak berhak memperoleh subsidi.

Baca Juga :  Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet

Kebanyakan orang miskin kota tidak memiliki ketrampilan kerja dan kemampuan fisik untuk melaksanakan pekerjaan yang tersedia.

Sungguh tepat sekali bila menggunakan gambaran dari James C. Scott yang menyatakan bahwa betapa rentannya masyarakat miskin.

Ia menggambarkan bahwa setiap kebijakan makro yang terkena pada keluarga miskin seperti ombak yang menerjang orang yang tenggelam dengan air sebatas hidung. Sekali ombak datang maka tenggelam pula orang tersebut. Oleh karenanya para kelompok miskin menggunakan prinsip “dahulukan selamat”.

Meski terbatas, masyarakat desa tetap memilki pilihan. Bila rawan pangan misalnya, orang desa akan mengalihkan makanan pokoknya, dari beras ke ketela. Bila tergusur, meski tanah itu telah menjadi bagian diri dan keluarganya mereka masih bisa menempati tempat-tempat lain di desa yang belum dikelola karena lahan yang kosong memang lebih luas desa daripada kota.

Sedangkan masyarakat miskin kota tidak demikian, pilihan mereka amat sangat terbatas, orang miskin kota sangat tergantung pada pasar kerja yang dualistik dengan bentuk pembayaran tunai, tidak memiliki akses pada infrastruktur formal, tidak memilki akses tanah dan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat dan mereka lebih mengandalkan jaringan keluarga daripada pemerintah. Perubahan tata ruang kota sering berakibat pada masyarakat miskin kota dalam hal pemukiman dan penghidupan

Strategi Bertahan Hidup dari Kemiskinan

Lilitan kemiskinan yang terus menerus mengelilingi kehidupan keluarga miskin menyebabkan kondisi mereka semakin rentan serta sulit baginya untuk keluar dari kubangan kemiskinan tersebut.

Dari keadaan kemiskinan yang terus menerus tersebut, keluarga miskin ternyata masih dapar menjaga kelangsungan hidupnya dengan mampu bertahan, terutama pada masa krisis (rentan), berarti ada beberapa mekanisme yang dilalui oleh keluarga miskin tersebut.

Seseorang atau keluarga miskin acapkali tetap mampu untuk bertahan (survive) dan bahkan bangkit kembali terutama bila mereka memilki jaringan atau pranata sosial yang melindungi dan menyelamatkan.

Tapi, seseorang atau keluarga miskin yang jatuh pada perangkap kemiskinan umumnya sulit untuk bangkit kembali. Mereka tidak dapat menikmati hasil pembangunan dan justru menjadi korban pembangunan tersebut, rapuh, tidak atau sulit mengalami peningkatan bahkan mengalami penurunan kualitas kehidupan.

Semua pihak bertekad untuk mengurangi angka kemiskinan dan hal ini merupakan sebuah keinginan yang bagus. Namun selain tekad, harus didukung dengan niat yang ikhlas, perencanaan, pelaksanaan dan juga pengawasan yang baik. Tanpa itu semua hanya omong kosong belaka.

Menghilangkan kemiskinan boleh dikata mimpi atau hanya janji surga. Tapi mengurangi kemiskinan sekecil mungkin bisa dilakukan asal ada kerjasama yang baik dari pihak pemerintah dan masyarakat

Secara umum strategi yang dikembangkan secara aktif oleh masyarakat ini sebagian besar berkaitan dengan aspek ekonomi rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Upaya-upaya ini terutama ditujukan untuk bertahan hidup. Dari berbagai macam strategi bertahan hidup yang diupayakan oleh masyarakat miskin, secara umum dapat dibedakan dalam dua pendekatan.

Pertama, pendekatan yang lebih aktif dilakukan dengan menambah pemasukan. Kedua, pendekatan yang lebih pasif dilakukan dengan memperkecil pengeluaran. Tidak jarang dua pendekatan ini dilakukan secara bersama-sama, secara lebih aktif menambah pemasukan, tetapi juga sekaligus berusaha mengurangi pengeluaran.

Langkah strategi adaptif yang pertama kali biasa dilakukan kaum miskin ketika pendapatannya tidak dapat mencukupi kebutuhannya adalah dengan cara mengurangi apa yang dikonsumsinya.

Makanan yang dikonsumsi dikurangi sedemikian rupa sehingga hanya mampu menggerakkan dirinya secara fisik. Dimulai dari frekuensi makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari. Menunya pun dikurangi untuk tidak makan ayam ataupun daging.

Langkah berikutnya adalah menggerakkan seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak untuk memperoleh pendapatan tambahan yang akan membuat hidup lebih layak.

Anak-anak memiliki nilai ekonomi yang positif. Mereka merelakan diri untuk meninggalkan masa-masa yang menyenangkan demi membatu memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka bekerja meski hanya memperoleh separuh dari gaji orang dewasa.

Selain itu, fatalisme atau sikap pasrah merupakan adaptasi psikologis bagi orang-orang miskin dimanapun, baik di desa maupun di kota. Sikap ini memberikan ruang tersendiri yang menenangkan ditengah kegelisahan atas ketidakmampuannya dalam mengatasi masalah-masalah ekonominya.

CityView

SnowBay TMII, Dulu Waterpark Ternama Kini Jadi Lahan Parkir

Published

on

Kondisi Snowbay Waterpark terbengkalai. Foto: YouTube Juna Tong

Kondisi Snowbay Waterpark terbengkalai. Foto: YouTube Juna Tong

mycity.co.id – Dibalik animo para pengunjung terhadap wajah baru TMII atau Taman Mini Indonesia Indah sekarang, ada Snowbay Waterpark yang terlihat terbengkalai. Bahkan kini   beralih fungsi menjadi lahan parkir. Sebelum pandemi, Snowbay menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi.

Namun, selama pandemi Snowbay tutup dan sama sekali tak beroperasi. Ini membuatnya menjadi terbengkalai bahkan, dari beberapa gambar yang beredar di media sosial,  taman air ini akan dijadikan lahan parkir oleh pihak Taman Mini itu sendiri. Sayang, tapi itulah kenyataan yang terlihat secara gambalng ketika tim mycity.co.id mengunjungi Snowbay.

Baca Juga :  Menakjubkan! Ini 4 Desa Tertinggi di Indonesia

Pandemi Covid-19 membawa dampak tidak mengenakan bagi sebagian besar tempat-tempat wisata. Banyak tempat wisata yang terpaksa tutup akibat diberlakukannya lockdown pada saat itu dan kembali bangkit berkat diberlakukannya new normal. Meskipun pandemi sudah berlalu dan TMII sudah dirvitalisasi, SnowBay Waterpark masih tidak ada kehidupan di dalamnya.

Snowbay terletak tepat di depan terminal kereta gantung tampak lebih suram saat ini. Dedaunan kering dan sampah yang berserakan di jalan, air kolam yang keruh serta ditumbuhi lelumutan pada lantai kolam. Vendor-vendor jualan tampak ditinggalkan begitu saja, ada pula beberapa bagiannya yang rusak. Besi-besi penyanggah pun sudah mulai berkarat. Kesan angker terasa jelas saat memasuki tempat wisata satu ini.

Baca Juga :  Klub dan Politik: Panti Harsojo Sebagai Candradimuka Pergerakan di Surabaya

Saat mycity.co.id mencoba menghubungi pak Redy selaku Humas TMII mengenai peralihan fungsi SnowBay menjadi lahan parkir. Beliau hanya menjawab, “Snowbay sudah tidak ada. Saya tidak bisa memberikan stateman terkait hal ini. yang bisa memberikan stateman hanya Direktur Eksekutif, tapi kebetulan beliau sedang ada tugas di luar.”

Baca Juga :  Penjualan Properti di Surabaya Melonjak Pesat

Dilansir mycity dari Wikipedia, Snowbay Waterpark itu sendiri merupakan wahana yang dirancang secara khusus sebagai taman rekreasi petualangan berkelas dunia, terletak di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah dan memiliki konsep pegunungan salju sehingga memberikan suasana nyaman dan menyenangkan. Tempat ini menjadi wahana wisata favorit bagi keluarga yang sekalian berkunjung ke TMII.

Jika Snowbay hanya dijadikan tempat parkir saja rasanya amat disayangkan, sebab para pengunjung masih memiliki minat yang besar terhadap Snowbay. Akan lebih baik jika Snowbay dapat difungsikan kembali sebagai tempat wisata bagi para pengunjung dan wisatawan.

Continue Reading

CityView

Bendungan Kering, Solusi Jitu Atasi Permasalahan Banjir di DKI Jakarta

Published

on

Bendungan kering menjadi solusi untuk permasalahan banjir di DKI Jakarta. (Kementerian PUPR)
Bendungan kering menjadi solusi untuk permasalahan banjir di DKI Jakarta. (Kementerian PUPR)

mycity.co.id Banjir menjadi momok bagi masyarakat DKI Jakarta ketika musim hujan datang. Pemerintah pun melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Caranya mulai dari pembangunan drainase vertikal hingga bendungan kering.

Saat ini, pembangunan bendungan yang satu ini digadang-gadang sebagai salah satu solusi untuk pencegahan banjir di wilayah Jakarta.

Pembangunan jenis bendungan ini juga memilki fungsi yang berbeda bila dibandingkan dengan jenis bendungan biasa. Umumnya, bendungan biasa kerap digunakan sebagai sarana irigasi atau sumber kebutuhan air lainnya.

Untuk tipe ini, kegunaannya adalah murni untuk menjadi pengontrol debit air. Ketika ada aliran air yang cukup besar seperti karena curah hujan yang amat tinggi, maka banjir pun tidak akan terjadi. Paling tidak, air akan lebih terkendali.

Baca Juga :  Surabaya Dinilai Bisa Seperti Wuhan

Bendungan dengan model seperti ini pertama kali dibuat oleh Miami Conservancy District. Tujuannya untuk mencegah banjir di Miami Valley dan Dayton, Ohio.

Saat kemarau bendungan ini akan kering. Sementara itu, ketika musim hujan bendungan ini akan menahan air yang semakin melimpah supaya lebih terkontrol alirannya.

Mengacu dari Kementerian PUPR, pengoperasian bendungan ini adalah dengan menutup pintu bendungan hingga kapasitas penuh. Lalu, air yang ditampung tersebut alirannya dikeluarkan dengan debit yang sudah diatur.

Bila bendungan sudah semakin sedikit tampungan airnya, maka hal tersebut dilakukan lagi hingga bisa menampung air kembali. Secara bayangan konsepnya tersebut memang terlihat cukup sederhana, tetapi kegunaannya sangatlah besar.

Baca Juga :  Menengok Potensi Kampung Lawas Maspati

“Bendungan kering adalah suatu bendungan yang teknik pembuatannya sama dengan bendungan pada umumnya, tetapi difungsikan berbeda,” ujar pengamat bendungan Didiek Djarwadi dalam wawancara bersama kompas.com.

Bendungan Ciawi dan Sukamahi

Saat ini, ada dua bendungan kering yakni Bendungan Ciawi dan Sukamahi. Keduanya berperan untuk mengurangi debit air yang masuk ke Jakarta.

Masing-masing bendungan tersebut berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Yang mana, daerah ini merupakan tempat dengan curah hujan yang sangat tinggi. Bahkan, banjir besar yang kerap terjadi di Jakarta juga tidak terlepas dari faktor kiriman air dari Bogor.

Media sosial PUPR menyebutkan bila pembangunan bendungan ini akan segera rampung. Lebih detail, perkembangan pembangunan Bendungan Sukamahi sudah mencapai 93,22%, sementara untuk Bendungan Ciawi ada di angka 93,33%.

Baca Juga :  Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya

Dengan adanya pembangunan kedua bendungan ini, Bendungan Sukamahi akan mengurangi tingkat debit banjir sebesar 27,4% dan Bendungan Ciawi mengurangi hingga 30,6%.

“Dua bendungan ini tidak akan menampung air, karena air hujan hanya ditampung sementara dan dialirkan sekecil mungkin ke Sungai Ciliwung, sehingga diatur debitnya yang harus mengalir saat musim hujan,” ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Bendungan kering di Ciawi dan Sukamahi merupakan yang pertama kalinya dibangun di Indonesia sebagai upaya merespons risiko bencana hidrometeorologi di Jakarta dan sekitarnya.

Pengoperasian bendungan akan menggunakan Aplikasi Sistem Manajemen Air Terpadu (SIMADU) Kementerian PUPR dengan memanfaatkan data klimatologi dari BMKG yang menampilkan laporan kejadian banjir/kekeringan, prakiraan cuaca dan hari tanpa hujan, termasuk prakiraan banjir dan kekeringan.

Continue Reading

CityView

Pj Heru Ajak Pemkot Jakarta Timur Minimalisir Potensi Banjir

Published

on

Pj Gubernur DKI Jakartaa Heru Budi Hartono ajak Pemkot Jakarta Timur meminimalisir banjir. Foto: liputan6.com

Pj Gubernur DKI Jakartaa Heru Budi Hartono ajak Pemkot Jakarta Timur meminimalisir banjir. Foto: liputan6.com

mycity.co.id – Banjir masih menjadi permasalaah di ibu kota DKI Jakarta hingga hari ini. Hal tersebut kemudian membuat Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengajak pemerintah kota Jakarta Timur untuk bekerja bersama-sama dalam meminimalisir potensi banjir di ibu kota.

Tak hanya itu, Heru juga mengajak untuk melakukaan peremajaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan mengoptimalkan pembinaan UMKM. Dilansir mycity.co.id dari berbagai laman sumber, Heru mengatakan akan mengejar target dalam meminimalisir potensi banjir.

Baca Juga :  Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Ditutup Selama PPKM Darurat

Selain itu, terkait kependudukan harus terus dimonitor dan dia memberi pesan pada ASN (Pemkot Jakarta Timur) agar terus bekerja maksimal dalam melayani masyarkat. Hal tersebut disampaikan Heru ketika mengunjungi kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa 29 November 2022 kemarin.

Kunjungan itu dilakukan juga untuk menghadiri rapat pimpinaan terkait pembahasan program prioritas serta dilanjutkan meninjau pelayanan masyarakat di lingkungan Pemkot Jakarta timur. Dalam rapat tersbut, Heru menyampaikan apresiasinyaa atas kinerja seluruh pegawai di lilngkungan Pemkot Jakarta Timur karena sudah bekerja secara maksimal dalam menata kota.

Baca Juga :  Klub dan Politik: Panti Harsojo Sebagai Candradimuka Pergerakan di Surabaya

“Saya berikan apresiasi kepada Pak Wali Kota serta seluruh jajarannya, karena sudah membangun Jakarta Timur sedemikian rupa (beserta prestasinya),” ujar heru.

Meski begitu, Heru juga mengingatkan pada perangkat di Pemkot Jakarta Timur untuk terus bekerja sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi serta fokus dalam menjalankan arahan dari Pj Gubernur. Dia juga menambahkan, agar perangkat Pemkot Jakarta Timur tetap konsisten menjaga kebersihan dan kerapihan kota dengan tujuan memberikan rasa nyaman bagi warga.

Baca Juga :  Napak Tilas Saudagar Yahudi pada Sinagoge Tergusur di Surabaya

“Saya juga meminta beberapa pasar di Jakarta Timur untuk semakin dipercantik, dipertahankan tata kelolanya. Di samping itu aset di Jakarta Timur juga harus dijaga dan dipertahankan dengan baik,” ungkap Pj Gubernur Heru.

Continue Reading
Advertisement

Trending