Connect with us

CityView

Dilema Mengatasi Kemiskinan Kota

Published

on

makam rangkah Surabaya

Negara Indonesia adalah termasuk negara berkembang. Sebagai negara berkembang, banyak yang harus dilakukan dan diperhatikan dengan fokus oleh pemerintah dalam melakukan pengembangan dan perwujudan untuk mencapai suatu negara yang lebih maju.

Dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membangun suatu negara yang lebih maju dengan lebih memperhatikan masalah pembangunan suatu negara seperti halnya masalah kemiskinan yang bisa menghambat kemajuan suatu negara berkembang.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar kalau mayoritas masyarakatnya masih miskin dan lemah. Maka untuk menjadi bangsa yang besar mayoritas masyarakatnya tidak boleh hidup dalam kemiskinan dan lemah.

Masalah kemiskinan itu sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia, walaupun seringkali tidak disadari kehadirannya sebagai masalah oleh manusia yang bersangkutan.

Bagi mereka yang tergolong miskin, kemiskinan merupakan sesuatu yang nyata dalam kehidupan mereka sehari-hari, karena mereka itu merasakan dan menjalani sendiri bagaimana hidup dalam kemiskinan.

Walaupun demikian belum tentu mereka itu sadar akan kemiskinan yang mereka jalani. Kesadaran akan kemiskinan yang mereka miliki itu, baru terasa pada waktu mereka membandingkan kehidupan yang mereka jalani dengan kehidupan orang lain yang yang tergolong mempunyai tingkat kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.

Meskipun umat manusia telah mencapai kemajuan yang tiada taranya dalam bidang perindustrian, pendidikan dan ilmu pengetahuan, namun untuk mencapai suatau tempat berteduh yang nyaman dan sederhana, dengan kebebasan pribadi dan perlindungan terhadap keganasan cuaca alam masih juga belum termasuk jangkauan bagi semua masyarakat.

Tidak meratanya kemajuan manusia dibandingkan dengan jenis-jenis makhluk yang lebih rendah tingkatannya dapat dilukiskan dalam perjuangan manusia untuk mencapai tempat berteduh. Dalam hal ini, lebih nyata daripada aspek-aspek kehidupan lainnya.

Bangsa-bangsa yang lebih primitif kebudayaannya ternyata lebih besar kemampuannya untuk mengatasi tantangan alam lingkungan dibandingkan dengan penduduk kota yang katanya lebih modern.

Menurut B. N. Marbun, dalam buku Kota Indonesia Masa Depan: Masalah dan Prospek, masalah kota besar terutama bagaimana melengkapi sarana-sarana kota untuk melayani warganya secara memuaskan yaitu mulai dari perumahan yang memadai, lapangan kerja yang cukup, transportasi, komunikasi, tempat rekreasi dan segala fasilitas penunjang lainnya sesuai dengan tuntutan kebutuhan kota modern dalam lalu lintas nasional maupun internasional.

Seperti halnya yang dialami negara-negara yang sedang berkembang pada masa ini, juga Indonesia mengalami arus perpindahan penduduk dari desa ke kota yang cukup tinggi, meskipun secara prosentual belum setinggi tingkat urbanisasi di negara industri.

Tetapi berbeda dengan di negara industri, arus urbanisasi di Indonesia tidak diimbangi dengan adanya perluasan kesempatan kerja di kota-kota baik di sektor industri maupun di sektor jasa atau kesempatan membuka usaha sendiri. Akibat dari ketimpangan ini, maka arus urbanisasi ini walaupun prosentual tidak terlalu tinggi telah menimbulkan masalah pengangguran dan akibat negatif lainnya seperti kemiskinan.

Pendatang baru menjadi beban tambahan bagi kota-kota yang mereka datangi. Karena kesulitan tempat tinggal dan ketiadaan uang, pendatang baru yang kebanyakan berbekal pendidikan rendah tinggal di gubuk-gubuk, di emperan toko, di bawah pohon, dikolong jembatan bahkan di area pemakaman.

Kota Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta yang termasuk Ibukota Indonesia, semakin besar kota tersebut maka semakin banyak masalah yang sangat signifikan yang bisa dan akan menghambat jalannya pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga:

  1. Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi, Ini Sederet Fakta Tentang Masyarakat Indis
  2. Jakarta dan Permukiman Kumuh Bagian 1: Pembangunan Kota Jelang Asian Games
  3. Gua Gong, Primadona Pacitan Pemilik Danau dan Ruang Misterius

Dengan melonjaknya angka kelahiran yang ada pada kota Surabaya, maka semakin banyaknya masalah yang bisa menghambat suatu pembangunan perekonomian yang berhubungan langsung atau secara tidak langsung dengan masalah kemiskinan yang terjadi pada daerah tersebut.

Masyarakat miskin ini memunculkan kantung-kantung kemiskinan yang bertebaran hampir merata di seluruh kawasan kota Surabaya. masalah kemiskinan kota yang disebabkan kedatangan para urban ini menimbulkan masalah seperti pengangguran, kriminalitas, keindahan kota dan berbagai macam masalah kemiskinan lain yang akan menjadi beban tersendiri.

Surabaya juga merupakan salah satu kota besar yang memiliki masalah kemiskinan yang diakibatkan oleh urbanisasi dan mengakibatkan meledaknya jumlah penduduk namun tidak diimbangi dengan lahan yang luas dan tidak pula diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang setara dengan para pencari pekerjaan.

Tanah dan ladang yang habis terkuras dan tidak lagi menghasilkan cukup bahan pangan bagi penduduk yang semakin bertambah, dan dengan terbatasnya kesempatan untuk berpindah tempat ke daerah yang masih belum digarap sehingga daerah perkotaan dijadikan “tempat berteduh” yang menjadi pilihan masyarakat.

Masalah pertama yang dihadapi warga yang berduyun-duyun memasuki daerah perkotaan ini adalah mencari atap tempat berteduh. Surabaya tetap menjadi surga bagi kaum urban yang tidak memiliki penghasilan tetap karena bagaimanapun dirasa lebih menghasilkan sesuatu daripada di tempat asal mereka.

Cara pemerintah untuk mengatasi kemiskinan yang disebabkan kedatangan para urban ini biasanya dilakukan dengan menggusurnya. Namun, pada kenyataannya, penggusuran justru menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering disebut dengan peremajaan kota ternyata merupakan cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.

Potret buram kemiskinan yang terdapat di kota besar seperti Surabaya ini dapat kita lihat pada salah satu makam yang terletak di daerah Kapas Krampung Surabaya yang terkenal dengan sebutan pemakaman Rangkah.

Daerah ini menjadi saksi dan salah satu contoh potret kemiskinan yang terjadi di Indonesia khususnya Surabaya. Bagaimana tidak, banyak warga kaum urban yang menggunakan area pemakaman umum ini sebagai tempat tinggal mereka.

Tidak hanya sebagai tempat peristirahatan sementara namun juga di gunakan sebagai tempat bertahan hidup sehari-hari. Seperti tempat tinggal (rumah) pada umumnya, mereka melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, memasak, mandi, tidur, mencuci, menjemur pakaian hingga berjualanpun dilakukan diatas makam ini.

Suatu fenomena yang sangat ironis, di tengah-tengah maraknya mall-mall yang baru berdiri dengan megah maupun mall-mall yang akan didirikan ternyata masih banyak masyarakat indonesia yang tidak mempunyai tempat tinggal hingga harus menetap diatas makam.

Selain itu, masih banyak pula anak-anak yang tidak terurus pendidikannya dan lagi-lagi penyebabnya adalah masalah ekonomi. Banyak anak yang putus sekolah, meskipun ada beberapa sekolah yang menjamin pendidikan mereka tetap saja mereka memilih putus sekolah. Orang tua lebih memilih anak-anaknya bekerja membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terjadi akibat rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya pendidikan. Selain keinginan orang tua mereka, anak-anak kecil ini juga telah merasa mempunyai tanggung jawab untuk tidak menyulitkankan orang tua mereka sehingga caranya yang harus ditempuh adalah dengan bekerja, entah itu menjadi pemulung, topeng monyet keliling maupun pengamen.

Agar dapat bertahan hidup, warga yang tergolong miskin ini melakukan pekerjaan apapun asal halal dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Tidak memiliki pendidikan tidak menjadikan mereka hanya berpangku tangan menerima nasib yang ada, mereka berusaha mandiri dan memutar otak demi memenuhi kebutuhan.

Kemiskinan yang membelenggu menjadikan mereka menikmati untuk tinggal dimanapun dan melakukan pekerjaan apapun. Pemerintah seperti tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) akan keadaan ini. Padahal, makam Kapas Krampung ini yang mengelola adalah pihak pemerintahan sehingga aparat pemerintahan setiap harinya menjumpai para warga yang melakukan kegiatan rumah tangga di atas pemakaman ini.

Selain itu, area pemakaman ini juga dijadikan sebagai jalan umum sehingga orang lalu lalang disekitar areal makam sudah menjadi suatu yang lumrah. Masyarakat miskin yang yang tinggal di makam ini merupakan salah satu penerima akibat dari tidak adilnya pemerintah dalam memperlakukan masyarakat.

Bagaimana tidak, disatu sisi pemerintah beserta para pengusaha tengah melakukan pameran emas, berlian, permata dan lain sebagainya, namun disisi lain masih banyak sekali masyarakat yang hanya dapat makan satu kali dalam sehari dan itupun harus dengan perjuangan yang sangat berat.

Sehingga tidak dapat disalahkan jika makam digunakan oleh kaum urban sebagai alternatif aman dalam melindung diri mereka dari berbagai situasi yakni sebagai rumah/tempat tinggal. Terlihat dengan jelas sekali ketimpangan sosial yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang mengaku sebagai kota metropolis.

Kota yang mengaku dirinya modern tanpa memikirkan nasib orang banyak khususnya rakyat kecil yang dari segi ekonomi kurang beruntung. Sehingga pantaslah ada kata-kata yang menyatakan “yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin sengsara”

Masyarakat miskin kota ini akan terlihat semakin miskin karena mereka tidak mempunyai ketrampilan apapun karena memang kurang adanya sosialisasi ketrampilan yang diadakan untuk warga miskin. Mereka akan semakin sengsara ketika tidak memiliki kejelasan identitas sehingga akan kesulitan untuk mendapatkan bantuan sandang maupun pangan, bantuan dalam bidang pendidikan serta bantuan dalam segi kesehatan.

 Ironisnya, pemerintah provinsi (pemprov) seolah tutup mata mengenai hal ini. Beruntung warga yang tinggal disekitar area makam kapas Krampung ini telah memiliki identitas yang lengkap sehingga beban kesulitan mereka sebagai warga miskin dapat terkurangi.

Setiap ada bantuan yang datang, salah satu pimpinan RT selalu berusaha agar warganya juga mendapatkan hak mereka sebagai masyarakat miskin. Tidak salah jika masyarakat urban yang tinggal diatas makam ini berusaha untuk tetap betahan hidup ditengah-tengah ketatnya persaingan yang terjadi di kota Surabaya.

Mayoritas warga yang tinggal di daerah ini berprofesi sebagai pemulung di daerah sekitar Surabaya. meskipun ada pula warga yang masih berprofesi sebagai tukang becak, topeng monyet keliling mapun calo.

Pada mulanya pemerintah kota memandang sebelah mata kehidupan masyarakat miskin yang cenderung dekat dengan hal-hal yang bau dan kotor sehingga nantinya mereka akan menimbulkan masalah baik di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat, kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Oleh sebab itu, kebijakan yang diambil untuk masyarakat miskin yang tempat tinggalnya tidak layak seperti diatas makam ini adalah dengan menggusurnya maupun penentuan lokasi tempat tinggal yang hanya bertumpu pada kepentingan sesaat saja bukan untuk perbaikan taraf hidup mereka.

Masyarakat urban datang ke Surabaya tidak hanya sekedar mendapatkan uang belaka, melainkan mereka juga harus mengubah sikap hidup mereka ditengah hiruk pikuknya kota besar. Mereka juga harus mengikuti persyaratan hidup bebas dan tertib.

Golongan Miskin Kota

Setidaknya terdapat dua teori yang menjelaskan mengenai kaum miskin kota. Pertama adalah teori marjinalitas dan kedua adalah teori ketergantungan. Kaum miskin kota, dalam teori marjinalitas yang menjelaskan tentang pemukiman kumuh melihat bahwa kaum miskin sebagai penduduk yang secara sosial, ekonomi, budaya dan politik tidak berintegrasi dengan kehidupan masyarakat kota.

Secara sosial, memiliki ciri-ciri yang mengungkapkan adanya disorganisasi internal dan isolasi eksternal. Secara budaya, mereka mengikuti pola hidup tradisosnal pedesaan dan terkungkung dalam “budaya kemiskinan”.

Secara ekonomi, mereka hidup seperti parasit karena lebih banyak menyerap sumber daya kota daripada menyumbangkannya, boros, konsumtif, cepat puas, tidak berorientasi pasar, tidak berjiwa wiraswasta, berproduksi secara pas-pasan.

Secara politik mereka berwatak apatis, mudah ketergantungan, masyarakat miskin kota tersebut dilihat sebagai pendatang miskin yang tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang memadai, sehingga mereka tidak dapat ambil bagian dalam sektor formal.

Satu-satunya kemungkinan bagi mereka adalah bekerja di sektor informal seperti penjaja makanan, pedagang kecil, pemulung, tukang becak dan lain sebagainya.

Kegiatan dunia usaha dan industri berpindah dari pusat kota ke daerah pinggiran atau kota kecil. Bagian tengah kota akhirnya kehilangan kesempatan kerja, orang berpendidikan dan orang yang berhasil.

Akibatnya, sumber pendapatan dari pajaknya menurun, sementara itu sarana dasarnya (jalanan, jembatan, jalanan pejalan kaki, saluran air dan fasilitas lainnya) memerlukan pembiayaan besar. Bagian dalam kota akhirnya menjadi daerah kantong para orang gagal dan orang melarat yang hidupnya tergantung pada tunjangan sosial.

Mereka tidak dapat ikut berpindah ke daerah pinggiran kota dan kota kecil karena kebanyakan wilayah pemukiman dirancang secara sadar dan tidak memberi kemungkinan dibangunnya perumahan murah yang dianggap dapat menarik hati orang-orang yang tidak dikehendaki di pusat kota.

Setiap pekerjaan baru di pusat kota lebih bersifat kantoran, memerlukan latar belakang pendidikan yang baik dan kemampuan berbahasa Inggris standar yang kebanyakan tidak dimiliki oleh penduduk di bagian dalam kota.

Golongan melarat kota yang kebanyakan orang miskin dan kelompok minoritas tidak mampu memperoleh pekerjaan diwilayah mereka dan tidak terpengaruh oleh gerakan-gerakan politik revolusioner karena frustasi dan tidak berpartisispasi dalam kehidupan politik.

Dalam teori pula mampu pindah untuk mencari pekerjaan di wilayah lain. Mungkin apa yang sedang dilakukan dewasa ini merupakan pembentukan golongan melarat kota yang permanen yang kebanyakan berasal dari kelompok minoritas, orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak pernah berkemungkinan untuk memperoleh pekerjaan di masa depan.

Biaya tunjangan sosial bagi para orang miskin kota ini adalah pengeluaran yang harus dibayarkan oleh masyarakat sendiri yakni kewajiban membayar pajak tapi entah tersalurkan dengan baik atau tidak.

Ketidakberdayaan keluarga miskin salah satunya tercermin dalam kasus dimana para pemimpin dengan seenaknya memfungsikan diri sebagai oknum yang menjaring bantuan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin dan ketidakberdayaan, sering pula mengakibatkan terjadinya bias bantuan terhadap si miskin kepada kelas diatasnya yang seharusnya tidak berhak memperoleh subsidi.

Kebanyakan orang miskin kota tidak memiliki ketrampilan kerja dan kemampuan fisik untuk melaksanakan pekerjaan yang tersedia.

Sungguh tepat sekali bila menggunakan gambaran dari James C. Scott yang menyatakan bahwa betapa rentannya masyarakat miskin.

Ia menggambarkan bahwa setiap kebijakan makro yang terkena pada keluarga miskin seperti ombak yang menerjang orang yang tenggelam dengan air sebatas hidung. Sekali ombak datang maka tenggelam pula orang tersebut. Oleh karenanya para kelompok miskin menggunakan prinsip “dahulukan selamat”.

Meski terbatas, masyarakat desa tetap memilki pilihan. Bila rawan pangan misalnya, orang desa akan mengalihkan makanan pokoknya, dari beras ke ketela. Bila tergusur, meski tanah itu telah menjadi bagian diri dan keluarganya mereka masih bisa menempati tempat-tempat lain di desa yang belum dikelola karena lahan yang kosong memang lebih luas desa daripada kota.

Sedangkan masyarakat miskin kota tidak demikian, pilihan mereka amat sangat terbatas, orang miskin kota sangat tergantung pada pasar kerja yang dualistik dengan bentuk pembayaran tunai, tidak memiliki akses pada infrastruktur formal, tidak memilki akses tanah dan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat dan mereka lebih mengandalkan jaringan keluarga daripada pemerintah. Perubahan tata ruang kota sering berakibat pada masyarakat miskin kota dalam hal pemukiman dan penghidupan

Strategi Bertahan Hidup dari Kemiskinan

Lilitan kemiskinan yang terus menerus mengelilingi kehidupan keluarga miskin menyebabkan kondisi mereka semakin rentan serta sulit baginya untuk keluar dari kubangan kemiskinan tersebut.

Dari keadaan kemiskinan yang terus menerus tersebut, keluarga miskin ternyata masih dapar menjaga kelangsungan hidupnya dengan mampu bertahan, terutama pada masa krisis (rentan), berarti ada beberapa mekanisme yang dilalui oleh keluarga miskin tersebut.

Seseorang atau keluarga miskin acapkali tetap mampu untuk bertahan (survive) dan bahkan bangkit kembali terutama bila mereka memilki jaringan atau pranata sosial yang melindungi dan menyelamatkan.

Tapi, seseorang atau keluarga miskin yang jatuh pada perangkap kemiskinan umumnya sulit untuk bangkit kembali. Mereka tidak dapat menikmati hasil pembangunan dan justru menjadi korban pembangunan tersebut, rapuh, tidak atau sulit mengalami peningkatan bahkan mengalami penurunan kualitas kehidupan.

Semua pihak bertekad untuk mengurangi angka kemiskinan dan hal ini merupakan sebuah keinginan yang bagus. Namun selain tekad, harus didukung dengan niat yang ikhlas, perencanaan, pelaksanaan dan juga pengawasan yang baik. Tanpa itu semua hanya omong kosong belaka.

Menghilangkan kemiskinan boleh dikata mimpi atau hanya janji surga. Tapi mengurangi kemiskinan sekecil mungkin bisa dilakukan asal ada kerjasama yang baik dari pihak pemerintah dan masyarakat

Secara umum strategi yang dikembangkan secara aktif oleh masyarakat ini sebagian besar berkaitan dengan aspek ekonomi rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Upaya-upaya ini terutama ditujukan untuk bertahan hidup. Dari berbagai macam strategi bertahan hidup yang diupayakan oleh masyarakat miskin, secara umum dapat dibedakan dalam dua pendekatan.

Pertama, pendekatan yang lebih aktif dilakukan dengan menambah pemasukan. Kedua, pendekatan yang lebih pasif dilakukan dengan memperkecil pengeluaran. Tidak jarang dua pendekatan ini dilakukan secara bersama-sama, secara lebih aktif menambah pemasukan, tetapi juga sekaligus berusaha mengurangi pengeluaran.

Langkah strategi adaptif yang pertama kali biasa dilakukan kaum miskin ketika pendapatannya tidak dapat mencukupi kebutuhannya adalah dengan cara mengurangi apa yang dikonsumsinya.

Makanan yang dikonsumsi dikurangi sedemikian rupa sehingga hanya mampu menggerakkan dirinya secara fisik. Dimulai dari frekuensi makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari. Menunya pun dikurangi untuk tidak makan ayam ataupun daging.

Langkah berikutnya adalah menggerakkan seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak untuk memperoleh pendapatan tambahan yang akan membuat hidup lebih layak.

Anak-anak memiliki nilai ekonomi yang positif. Mereka merelakan diri untuk meninggalkan masa-masa yang menyenangkan demi membatu memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka bekerja meski hanya memperoleh separuh dari gaji orang dewasa.

Selain itu, fatalisme atau sikap pasrah merupakan adaptasi psikologis bagi orang-orang miskin dimanapun, baik di desa maupun di kota. Sikap ini memberikan ruang tersendiri yang menenangkan ditengah kegelisahan atas ketidakmampuannya dalam mengatasi masalah-masalah ekonominya.

CityView

Meraih Kemerdekaan dan Kedigdayaan: Amerika Serikat Melompat Jauh Ke depan

Published

on

ilustrasi patung liberty

Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka kita menghancurkan diri kita sendiri”, – Abraham Lincoln

Kini raksasa dunia kian melonglong. Negara Adidaya Amerika Serikat menerima tantangan dari raksasa lain, dari benua yang kaya akan mitos, sejarah dan budaya. China meraung dan memamerkan taringnya dalam unjuk gigi perang dagang.

Negara China mengobarkan semangat mengembalikan kejayaan perdagangan yang telah terkubur berabad-abad silam.

Sementara Amerika Serikat ‘memaksakan diri’ untuk melanjutkan posisi sentralnya sebagai negara penguasa perekonomian global. Sayangnya, artikel ini hanya mengupas sejarah Amerika Serikat merangkak menuju digdaya.

Semua bermula pasca Deklarasi Kemerdekaan, bangsa Amerika telah memperoleh kemerdekaan pada 4 Juni 1776. Founding Father Amerika bukan saja mengumumkan kelahiran sebuah negara baru, melainkan juga mencanangkan sebuah filosofi kebebasan manusia.

Seiring sejalan, negara Amerika senantiasa berusaha meningkatkan kemakmuran rakyatnya melalui upaya diplomatik, yang di kemudian hari menjelma menjadi imperium raksasa, bahkan mempengaruhi segala penjuru bangsa di berbagai belahan dunia.

Demi mematahkan kepentingan Inggris, negara baru Amerika mengoptimalkan kinerja diplomatik dan mengadakan penetrasi militer terhadap pelabuhan dagang yang berada dalam kekuasaan Inggris (pelabuhan dagang West Indies).

Pemerintah negara baru Amerika menjalin relasi dengan para pedagang, terutama yang berkebangsaan Amerika, sehingga Inggris tersudutkan dan terpaksa membuka pelabuhan lainnya di daerah koloninya.

Langkah sukses berupaya dipertahankan, bahkan negara baru tersebut terus-menerus menggerogoti imperium Inggris di benua Amerika.

Baca Juga:

  1. Mengenal Presiden Amerika Tersingkat
  2. Ambang Kehancuran Meksiko
  3. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Bangsa Amerika menyakini revolusi ini merupakan tonggak awal untuk mengakhiri kolonialisme Eropa sekaligus pertanda kebangkitan imperium raksasa yang akan menguasai daratan dan lautan.

Relatif cukup lama, bangsa Amerika menyusun pilar-pilar imperium kontinental, terlebih mengembangkan perdagangan yang mengusung perekonomian pasar ekspansif dengan target seluruh penjuru dunia, guna menggantikan posisi dan peran bangsa Eropa (Portugal pada abad ke-16; Belanda pada abad ke-17; Inggris pada abad ke-18).

Akhir abad ke-20, bangsa Amerika boleh bangga atas prestasinya yang mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia, baik dari segi politik, ekonomi, militer maupun budaya.

Semenjak perang dingin (cold-war) usai, Uni Soviet tumbang, dan Amerika Serikat terangkat menuju podium tertinggi panggung dunia.

Kemajuan Amerika Serikat dapat dilacak, berawal dari penetapan kebijakan luar negeri guna melakukan ekspansi agresif ke beberapa wilayah disekitarnya.

Dengan menjunjung nilai-nilai kebebasan individu, Amerika Serikat menunjukkan sikap dan ketegasannya dalam kebijakan politik luar negerinya.

Setiap ekspansi militer mengusung kepentingan perekonomian Amerika, karena prinsipnya tak jauh beda dengan kolonialisme Eropa, yang membonceng perusahaan dibalik tank dan ribuan serdadu bersenjata.

Tahun 1776, Amerika Serikat sudah terdiri dari 13 negara bagian yang harus menghadapi negara-negara imperalis Eropa, seperti Inggris, Perancis dan Spanyol.

Oleh karena itu, menurut David F. Burg dalam The America Revolution, Amerika Serikat berperan aktif mengupayakan cara diplomasi untuk menjaga dan memperluas wilayah teritorialnya. Ekspansi militer pun berlangsung sporadis sejak zaman koloni.

Para pionir Amerika menjelajah ke arah barat untuk membuka lahan-lahan baru sampai ke pegunungan Appalachian.

Setelah mendapatkan wilayah Lousina, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan ancaman dari Inggris yang masih menguasai wilayah Canada.

John Soule dalam Garis Besar Sejarah America melanjutkan, terpikat oleh tanah yang subur yang belum pernah dijumpai, mendorong para perintis berdatangan ke pegunungan Appalachian dan daerah disekitarnya.

Hingga pada 1790, penduduk daerah lintas pegunungan Appalanchian berkembang mencapai angka 120.000 jiwa.

Keadaan Negara terus berkembang mantab, disusul migrasi dari Eropa meningkat. Penduduk Amerika pun mulai pindah kearah barat.

Penduduk New England dan Pennsylvania beranjak ke Ohio, sedangkan orang-orang Virginia dan Carolina masuk ke Kentucky dan Tennessee.

Lahan pertanian yang bagus bisa dimiliki dengan harga murah, tenaga kerja sangat dibutuhkan.

Faktor yang paling utama adalah meningkatnya perkembangan industri kapas yang sangat besar di wilayah selatan yang terdorong oleh pengenalan jenis-jenis baru teknologi pembangunan.

Perang tahun 1812, dalam batas tertentu merupakan perang kemerdekaan kedua, karena sebelumnya Amerika Serikat masih dianggap setara dengan rumpun bangsa terjajah lainnya.

Dengan diakuinya negara baru Amerika, banyak kesulitan serius yang menerjangnya. Persatuan nasional di bawah konstitusi membawa keseimbangan antara kemerdekaaan dan ketertiban.

Utang nasional yang rendah dan tanah yang luas menunggu untuk diolah menjadi modal utama yang diharapkan dapat menunjang kemakmuran dan kemajuan negara baru tersebut.

Melalui semangat itulah kemudian Amerika berkeinginan menyalurkan hasratnya dengan mengadakan ekspansi dan politk luar negerinya.

Continue Reading

CityView

Bikin Penasaran Dunia, Ini 7 Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Published

on

By

Ilustrasi Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Beragam mitos yang saat ini masih terjadi, pasti tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Di mana mitos atau misteri tersebut datang dari berbagai wilayah di Tanah Air.

Berikut mycity telah merangkum untuk cityzen 7 misteri di Indonesia yang belum terpecahkan:

Kerajaan Ghaib Laut Selatan dan Nyi Roro Kidul

Kerajaan Ghaib di Laut selatan dan kisah Nyi Roro Kidul ini diyakini oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Namun sampai kini masih menjadi misteri dan kisah legenda yang dipercaya banyak orang, terutama bagi masyarakat Pulau Jawa terkait keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan.

Larangan memakai baju berwarna hijau saat berada di pantai selatan pun merupakan salah satu mitos yang berkembang di tengah masyarakat Tanah Air. Diyakini Nyi Roro Kidul tidak suka dengan orang yang memakai baju berwana hijau kala datang ke pantai tersebut.

Situs Gunung Padang

Selanjutnya, Gunung Padang yang berada di Cianjur, Jawa Barat yang menyimpan misteri mengenai penemuan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan luas Candi Borobudur, tempat ini memiliki luas dua puluh kali.

Situs tersebut masih menyimpan banyak misteri sampai saat ini. Dipercaya Situs Gunung Padang memiliki usia yang sama dengan Piramida di Mesir, bahkan dikatakan lebih tua.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Piramida Sadahurip di Garut

Tak hanya Situs Padang saja ternyata yang disebutkan lebih tua dari Piramida di Mesir, melainkan Piramida Sadahurip di Garut pun juga demikian. Bahkan kebenaran tentang Piramida Sadahurip masih menjadi hingga sekarang.

Dusun Karang Kenek

Karena hanya dihuni oleh 26 kepala kelurga dan tidak boleh lebih, Dusun Karang Kakeng termasuk ke dalam dusun yang unik. Dipercayai akan ada penduduk yang meninggal atau memutuskan untuk pindah jika desa ini diisi lebih dari angka tersebut.

Suku Lingon yang Bermata Biru

Suku Lingon yang berada di Halmahera tentu sangat menarik perhatian bagi banyak orang. Hal ini dikarenak suku Lingon yang mempunyai ciri fisik tidak sama dengan kebanyakan masyarakat Indonesia. Mereka bertubuh besar dan tinggi, berambut pirang, berkulit putih hingga memilki bola mata berwarna biru layaknya orang Eropa.

Suku Mante di Aceh

Masih menjadi misteri sampai saat ini tentang keberadaan suku Mante di Aceh. Kamera seorang pengendara motor tidak sengaja menangkap sesosok manusia yang dipercaya adalah orang dari suku Mante pada tahun 2017. Sebagian besar orang percaya bahwa suku ini telah punah. Akan tetapi juga banyak meyakini jika suku mante masih ada dan pelosok hutan di Aceh merupakan tempat mereka.

Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Ilustrasi Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Sebuah penampakan yang menyerupai benteng raksasa yang berada di bawah laut Papua sempat ditangkap oleh satelit luar angkasa. Namun kebenaran akan adanya Benteng raksasa itu masih menjadi misteri hingga kini.

Continue Reading

CityView

Mengenal Ha Anim, Provinsi Baru di Papua

Published

on

By

Ha Anim, Provinsi Baru di Papua

Terdapat provinsi baru di Papua, yakni Papua Selatan (Ha Anim). Marind Anim dan Asmat merupakan sejumlah suku yang mendiami wilayah tersebut.

Provinsi ini dengan ibu kota Marauke meliputi empat kabupaten seperti Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Boven Digoel.

Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Papua Anim Ha adalah wilayah terluas sekaligus kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, dikutip dari laman penghubung.papua.go.id.

Sementara itu masyarakat Marin Anim yang tinggal di wilayah itu, hidup di dalam kampung-kampung yang biasanya memiliki sebuah rumah untuk para lelaki remaja. Di mana rumah itu biasa disebut gotad.

Baca Juga:

  1. Mengadu Nasib di Kota: Migrasi Orang-Orang Madura ke Surabaya
  2. Kapitalisme di Ujung Kota: Tumbuhnya Kapitalisme di Perkebunan Kampung Medan Putri
  3. Surabaya dalam Struktur Kota Bawah: Benteng yang Mengelilingi Kota

Kemudian berdiri rumah-rumah keluarga (oram aha) atau rumah kaum wanita yang lebih kecil ukurannya di sekitar gotad. Sedangkan suku Asmat di sini terbagi menjadi dua, yaitu ada yang tinggal di pesisir pantai dan ada juga yang hidup di pedalaman. Perbedaan cara hidup, sturktur sosial dan ritual tentu tercipta dari kedua populasi ini.

Diketahui, dengan melalui Pengembangan Kawasan Pangan Merauke (PKPM), Pemerintah Provinsi Papua menetapkan Anim Ha sebagai pusat pengembangan pangan.

Tidak hanya itu saja, kawasan Anim Ha juga menjadi pusat pengembangan perkebunan untuk karet dan sawit serta tanaman tebu. Selain itu pengembangan perikanan di Merauke dan Asmat, pengembangan wisata budaya Asmat, dan pengembangan peternakan sapi di Merauke.

Continue Reading

Trending