Connect with us

CityView

Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya

Published

on

ikon kota Surabaya

Surabaya memang memiliki berbagai destinasi wisata seru yang menarik untuk dikunjungi. Sebagai kota perjuangan pada masa pendudukan para penjajah, Cityzen dijamin tidak akan kehabisan pilihan tempat wisata saat berkunjung ke Kota Pahlawan ini. Mulai dari wisata kuliner, wisata sejarah hingga berbagai pilihan wisata alam yang seru untuk dijelajahi.

Wisata ke tempat-tempat bersejarah bisa jadi pilihan anti-mainstream yang bisa Cityzen lakukan di Surabaya. Ada banyak sekali bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi di kota ini. Berikut ada tiga destinasi wisata sejarah di pusat Kota Surabaya yang bisa jadi tujuan perjalanan Cityzen.

  • Museum House of Sampoerna
house of sampoerna

Museum House of Sampoerna adalah salah satu destinasi museum yang menarik untuk dikunjungi. Seperti namanya, Museum House of Sampoerna ini membahas segala hal tentang tembakau dan sekaligus sebagai markas besar dari pabrik rokok Sampoerna. Bangunannya bergaya arsitektur Belanda yang dibuat pada tahun 1862.

Saat ini, museum House of Sampoerna dirawat sebagai warisan sejarah. Sebelumnya, bangunan ini digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda.

Kemudian dibeli oleh Liem Seeng Tee yang dikenal sebagai pendiri Sampoerna. Waktu awal berdiri, bangunan ini digunakan sebagai pabrik utama untuk memproduksi rokok.

Museum ini memiliki aula pusat yang luas, dua bangunan kecil di sisi timur dan barat serta ruang terbuka di belakang aula pusat.

Bangunan yang ada di samping diubah menjadi bangunan keluarga dan bangunan mirip gudang ini digunakan sebagai fasilitas produksi. Seperti pemrosesan tembakau dan cengkeh, peracikan, melinting rokok dan pengemasan, pencetakan dan pemroses bahan jadi.

Baca Juga:

  1. Pasar Blauran, Surganya Buku Bekas & Murah di Surabaya
  2. Masjid Sunan Ampel Surabaya, Wujud Perpaduan Islam dan Jawa
  3. Kalimas dan Peranannya Sebagai Jalur Perdagangan di Surabaya

Di peringatan ulang tahun Sampoerna ke sembilan puluh, kompleks pusat diperbaiki dan terbuka untuk umum. Aula pusatnya kini berubah menjadi museum dan tempat belanja. Bangunan sisi timur diubah menjadi kafe dan galeri seni. Sedangkan bangunan sisi barat tetap menjadi tempat kediaman pribadi.

Museum ini terletak di Jalan Sampoerna No. 6, Krembangan Utara, Pabean Cantian. Lokasinya dekat dengan Stasiun Surabaya Kota.

Museum ini buka setiap hari mulai jam sembilan pagi hingga jam enam malam. Biaya masuknya gratis. Tapi jangan lupa bawa KTP.

Karena meskipun gratis, masuknya wajib menunjukan KTP. Dan jika Cityzen berumur dibawah 18 tahun, maka Cityzen dilarang masuk ke museum ini.

  • Monumen Kapal Selam
Monumen Kapal Selam Pasopati

Kapal selam bekas KRI Pasopati 410 yang pernah dipakai oleh Angkatan Laut Republik Indonesia dalam operasi Laut Aru yaitu operasi pembebasan Irian Barat dari Belanda ini dijadikan sebuah monument kapal selam yang terbuka bagi para pengunjung.

Terletak di Jalan Pemuda No. 39, Genteng yang merupakan pusat kota, monument ini dengan mudah bisa dijumpai. Apalagi letaknya dekat dengan stasiun Surabaya Gubeng.

Hanya dengan membayar biaya tiket sebesar Rp15.000 per orang, Cityzen sudah bisa masuk dan menjelajah ke dalam kapal selam bersejarah ini.

Didapuk sebagai Monumen kapal selam terbesar di Asia, kapal ini memiliki panjang 76 meter dan lebar 6,5 meter.

Ada tujuh ruangan yang bisa dijelajahi pengunjung di dalam kapal selam ini, di antaranya ruang mesin diesel, ruang haluan torpedo, ruang awak kapal, ruang komando, dan pusat komando.

Selain itu ada banyak fasilitas pendukung yang bisa dinikmati, seperti videorama yang menampilkan sejarah kapal selam dan pembuatan museum serta live musik hingga rekreasi di Sungai Kalimas.

  • De Javasche Bank
De Javasche Bank

Selain di Kota Tua Jakarta yang punya banyak museum mata uang, Surabaya punya destinasinya sendiri.

Museum mata uang yang satu ini tampil lebih menarik dan instagramable setelah selesai direstorasi. Museum De Javasche Bank atau yang juga dikenal dengan Museum Bank Indonesia ini memiliki tiga lantai yang berisi berbagai sejarah sistem perbankan di Indonesia.

Di sini Cityzen bisa mengunjungi ruang koleksi mata uang yang lama untuk melihat berbagai alat tukar Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga kini. Ada juga ruangan koleksi dan konservasi, serta ruang koleksi harta budaya.

Museum yang berada di Jalan Garuda No.1, Surabaya ini juga jadi spot liburan instagramable di Surabaya karena bangunannya yang khas Belanda dengan langit-langit tinggi dan juga lampu antik. Tertarik mengunjungi maupun mengabadikan momen disini?

  • Monumen Parasamya Purnakarya Nugraha
Monumen ini dikenal juga sebagai Titik Nol Surabaya

Baru diresmikan pada 28 Desember 2018 lalu, monumen yang masih berada di satu kawasan dengan kantor Gubernur Jatim ini merupakan penCityzen titik nol kilometer Surabaya.

Monumen Parasamya Purnakarya Nugraha ini merupakan simbol penghargaan kepada Jawa Timur atas perolehan penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1974, 2014, dan 2017.

Pembangunan monumen artistik ini melibatkan I Nyoman Nuarta, seniman yang juga membuat patung Garuda Wisnu Kencana di Bali. Pembangunannya juga terbilang cepat, yaitu sekitar 2,5 bulan saja. Bangunan monumen ini menggabungkan berbagai kesenian Jawa Timur, seperti Reog Ponorogo, jatilan, penari remo, penari gandrung, dan juga karapan sapi.

Di sini, Cityzen bisa berfoto dengan latar monumen yang memiliki tinggi 5 meter dan panjang 10 meter ini. Selain itu bisa juga berfoto di tugu titik nol Surabaya dan Tugu Parasamya yang dikelilingi kolam kecil. Tempat ini semakin ramai dan meriah saat malam karena pencahayaan yang menarik.

  • Kampung Peneleh
sudut kampung Peneleh

Kampung Peneleh ini berlokasi di kawasan Jalan Peneleh, Surabaya. Merupakan perkampungan tertua di Kota Pahlawan. Kampung tua ini masih tersohor hingga sekarang karena punya banyak daya tarik. Sebut saja keberadaan rumah tinggal Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto pendiri Sarekat Islam, sampai adanya Masjid Jami’ Peneleh yang jadi peninggalan Sunan Ampel.

Menurut sejarawan Kuncarsono Prasetyo, Peneleh merupakan perkampungan tertua di lir Brantas (pinggir aliran sungai Brantas).

Seorang jurnalis Belanda Ghvon Faber dalam bukunya ‘Oud Soerabaia’ tahun 1931, mengidentifikasi Peneleh sebagai perkampungan tertua di Surabaya dimana salah satu cirinya adalah keberadaannya di lir Brantas yang menjadi transportasi utama masyarakat di masanya

Salah satu ciri perkampungan kuno di Surabaya adalah keberadaan makam di tengah permukiman warga. Di kawasan Peneleh dijumpai pula makam Belanda.

 Kompleks pemakaman bernama resmi De Begraafplaats Peneleh Soerabaja yang dibangun tahun 1814 ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi golongan atas kaum Eropa yang pernah bermukim di Surabaya.

Tertarik mengunjungi kampung dengan suasana vintage dengan penduduk yang ramah dan serba-serbi jajanan lawas ini?

  • Kampung Arab
pintu masuk wisata Ampel

Lokasi kampung arab berada diantara dua kecamatan yakni Pabean Cantikan dan Semampir, Kampung Arab cenderung lebih ramai saat malam hari ketimbang siang hari.

Bicara tentang Kampung Arab tentu tidak bisa lepas dari Wisata Religi Sunan Ampel. Selain masjid, yang menjadikan Kampung Arab Ampel ini ramai didatangi pengunjung, terdapat juga makam Sunan Ampel yang terletak di Kompleks Pemakaman Sunan Ampel yang ramai oleh peziarah dari berbagai daerah.

Selain itu juga terdapat makam istri dan lima kerabat Sunan Ampel yaitu mbah Sonhaji alias (Mbah Bolong) serta Mbah Soleh, mereka berdua bisa di sebut sebagai pembantu dari Sunan Ampel. Di komplek ini juga terdapat makam dari Pahlawan Nasional KH. Mas Mansyur serta makam dari 182 Syuhada haji.

Jika Cityzen berkunjung ke Kawasan Kampung Arab Ampel, tentunya akan terasa tidak lengkap jika tidak berwisata belanja. Disini Cityzen bisa membeli berbagai macam produk dan aksesoris yang berbau khas Timur Tengah. 

Bisa ditemui dengan mudah tempat yang menjual berbagai macam baju muslim, baju koko, sarung, perlengkapan ibadah, siwak, dan pernak-pernik khas arab lainnya. Berbagai jenis minyak wangi dapat ditemukan di tempat ini. Kurma dengan berbagai pilihan juga tersedia. 

Sambil berwisata belanja, Cityzen juga bisa menikmati wisata kuliner yang ada di Kampung Arab Ampel ini. banyak sekali makanan khas Arab yang dijual disini oleh padagang di gang-gang sekitar masjid Sunan Ampel. Seperti roti Maryam, roti kebab, dan kuliner kue pukis Arab.

Jika Cityzen ingin makanan khas Arab lainnya, Cityzen bisa mengunjungi restoran maupun rumah makan yang ada di sekitar Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel.

Menu makanan yang disediakan antara lain aneka olahan kambing dengan rempah khas Arab, nasi tomat, nasi biryani, nasi kebuli, dan gulai kacang hijau. Selain itu Cityzen juga bisa mencicipi Shisa atau dikenal dengan rokok Arab.

  • Alun-Alun Surabaya
alun-alun Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya pada Desember tahun 2021 telah meresmikan tempat wisata baru sekaligus ikon Surabaya yakni Alun-alun Surabaya.

Penamaan Alun-alun Surabaya ini sempat menuai polemik dan kritikan dari praktisi Sejarah dari Kota Surabaya sebab dianggap kurang tepat dan mengabaikan fakta historis.

Lokasi dari Alun-alun Surabaya ini dulunya adalah Balai Pemuda, dan sampai sekarang dikenal dengan gedung Balai Pemuda.

Inilah yang dipermasalahkan oleh praktisi Sejarah dan dianggap mengabaikan fakta historis yang melatarbelakangi pembangunan alun-alun bawah tanah ini.

Terlepas dari segala kontroversi yang menyelimuti penamaan Alun-alun Surabaya. Alun-alun Surabaya ini menarik, unik, dan layak dijadikan tujuan wisata berbagai kalangan. Alun-alun ini menyajikan keunikan tersendiri sebab letaknya yang berada di bawah tanah.

Tiket masuk di alun-alun ini gratis, namun Cityzen yang ingin mengunjungi alun-alun harus mendaftar dulu di laman web Tiket Wisata Surabaya.

Keunikan lain dari alun-alun ini ialah banyak pameran karya seni yang digelar di sini dengan spot instagramable tentunya.

Itulah tadi tujuh pilihan destinasi wisata sejarah di Surabaya yang bisa Cityzen kunjungi saat berkunjung ke kota ini. Selamat mengunjungi Surabaya, Rek!

CityView

Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet

Published

on

Gubernur Anies Baswedan memanen duku di Cagar Buah Condet

Bagi sebagian warga Jakarta, barangkali banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. 

Lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya.

Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.

Menurut Mpok Menah (85), salah satu warga asli Condet, kawasan yang mencakup Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah ini dulunya merupakan area perkebunan buah salak, duku, dan beragam jenis tanaman lain yang sangat luas dan rindang milik puluhan penduduk asli Condet yang bersuku Betawi.

Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Antropologi Fakultas Sastra (sekarang bernama Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1980, kawasan Condet merupakan daerah pemukiman masyarakat petani sawah dan petani buah jauh sebelum abad ke 17.

Namun ketika kekuasaan Belanda mulai memasuki wilayah Condet pada abad 17, daerah tersebut berturut-turut mulai diakui sebagai tanah milik tuan tanah bangsa Belanda D.W. Freyer dan keturunan keluarga Ament.

Selama dalam kekuasaan Belanda, mereka membuat kebijakan tentang penetapan pajak tak wajar kepada semua rakyat yang dibayarkan setiap minggu. Jika rakyat tidak membayar pajak, rakyat akan diganjar dengan hukuman kerja paksa dan harta benda mereka akan dirampas.

Pasca Indonesia telah merdeka, di tahun 1970-an, total area perkebunan di kawasan Condet masih berada di angka lebih dari 300 hektar.

Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen salak dan duku yang dijual langsung ke Pasar Minggu.

Di kelurahan Balekambang sendiri pada tahun 1977, tercatat jumlah pohon salak mencapai angka 1.656.600 rumpun dan 2.383 pohon duku. Dari jumlah tersebut, hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku.

Sayangnya, sejak dibukanya jalan raya Condet yang menjadi jalan utama beraspal, arus urbanisasi kian deras terjadi di wilayah Condet.

Keadaan ini memicu aktivitas jual beli tanah perkebunan yang disebabkan oleh makin tingginya harga tanah pada saat itu.

Warga asli Condet yang memiliki tanah mulai tergoda untuk menjual tanahnya pada orang luar demi memenuhi kebutuhan hidup, untuk ongkos naik haji, dan memilih untuk membeli tanah di luar Jakarta yang harganya lebih murah.

Oleh pembeli lahan, tanah perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi bangunan rumah atau kontrakan permanen maupun semi permanen.

Baca Juga:

  1. Abadikan Legenda Betawi, Jalan Bang Pitung Gantikan Jalan Kebayoran Lama
  2. Menyingkap Peranan Sungai dalam Membentuk Peradaban Kuliner Betawi
  3. Jakarta Darurat Program Sanitasi yang Layak, Pemerintah ke Mana?

Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan maraknya penjualan tanah kebun milik warga dan pemindahan kawasan cagar budaya Betawi ke Setu Babakan, masyarakat Condet pun akhirnya menerima penawaran Pemprov DKI Jakarta untuk membeli sisa lahan perkebunan warga seharga nilai jual obyek pajak ketika itu.

Hal tersebut dengan pertimbangan agar identitas asli suku Betawi yang semakin lama semakin berkurang dan terancam hilang di wilayah Condet, bisa tetap dipertahankan agar masih bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.

Tepat di tahun 2007, setelah pemerintah mengambil alih kepemilikan kebun, pembebasan lahan perkebunan pun dilakukan dan mulai dibangun pagar besi setinggi dua meter mengelilingi area kebun.

Kebun buah inilah yang kini disebut sebagai Cagar Buah Condet, yang lokasinya berada di bantaran sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Keberadaan kebun buah Condet yang kini tersisa hanya seluas 3,7 hektar dari luas awal mencapai lebih dari 300 hektar, menjadi sebuah harapan ibukota Jakarta yang telah penuh sesak dengan hutan beton dan tanah beraspal akan adanya kawasan hijau yang sesungguhnya.

Mulanya, Cagar Buah Condet sempat terbengkelai hampir 7 tahun lamanya meski sudah diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta.

 Tak adanya petugas resmi yang dikirimkan pemerintah untuk menjaga dan merawat lokasi cagar, mengetuk hati warga Condet untuk mengurusnya sendiri tanpa honorarium.

Barulah pada tahun 2013, Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Timur menugaskan beberapa Pekerja Harian Lepas (PHL) untuk merawat Cagar Buah Condet bersama-sama dengan warga Condet. Kini, jumlah pekerja yang bertugas menjaga area cagar berjumlah 6 orang.

Setelah sebelumnya area kebun diberi pembatas pagar besi keliling, komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk melestarikan Cagar Buah Condet sebagai identitas suku Betawi kembali terlihat dengan dibangunnya berbagai sarana dan prasarana penunjang wilayah cagar.

Di tahun 2016, Cagar Buah Condet telah memiliki fasilitas seperti rumah bibit, kantor pengelola, walking track, bangku-bangku untuk pengunjung, dan lampu penerang.

Salah satu tujuan penyediaan fasilitas tersebut adalah sebagai daya tarik masyarakat, khususnya warga Jakarta, untuk mau berkunjung ke salah satu warisan budaya asli Betawi ini.

Hal tersebut didukung dengan diterbitkannya SK Gubernur No.646 Tahun 2016 yang mengatur Percepatan Cagar Budaya dan Buah-Buahan Asli Condet.

Bicara tentang rumah bibit yang ada di Cagar Buah Condet, bibit-bibit tanaman seperti salak condet dan duku condet memang sengaja dibudidayakan untuk dijual kepada masyarakat.

Harga bibitnya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya bibit tanaman. Untuk harga bibit salak condet berada di kisaran Rp35.000 dan Rp60.000 untuk harga bibit duku condet.

Pembelian bibit akan dilayani oleh PHL yang sedang bertugas. Sedangkan untuk pohon salak dan duku yang masih tumbuh subur di area kebun meski usia pohon sudah lebih dari 100 tahun, hingga sekarang masih produktif panen hampir setiap tahun.

Hasil panennya sendiri memang tidak lagi dijual ke pasaran atau ke para tengkulak buah, namun diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta dan beberapa warga yang turut membantu mengelola kebun.

Sebagai salah satu maskot kota Jakarta, salak condet menjadi pohon buah yang paling mendominasi jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet.

Menurut Syahiq Harpi (30), salah satu pemuda asli Condet yang paham seluk beluk Cagar Buah Condet dan sering wara-wiri ke wilayah kebun, kini jumlah pohon salak di area cagar mencapai lebih dari 2.000 pohon atau sekitar 80 persen dari total varietas tanaman yang ada di wilayah cagar.

Jumlah tersebut terdiri dari pohon salak yang sudah berusia ratusan tahun dan beberapa pohon salak hasil cangkokan.

Soal cita rasa, salak condet memiliki beraneka macam jenis rasa, dari mulai sepat, asam, hingga manis.

Ciri khas rasa inilah yang membedakannya dengan jenis salak lain seperti salak pondoh yang kini telah menang pamor di masyarakat.

Jenis tanaman buah kedua yang paling banyak tumbuh di area kebun Condet adalah pohon duku condet. Jumlahnya kurang lebih sebanyak 250 pohon atau sekitar 12 persen dari seluruh pohon duku yang tumbuh, baik pohon berukuran besar maupun yang masih berukutan kecil.

Sedangkan 8 persen sisanya merupakan beragam jenis tanaman buah lain yang turut hidup subur di kawasan Cagar Buah Condet, seperti pohon gandaria, kapuk, kopi, kokosan, buni, menteng, melinjo, lowa, aren, rambutan, cimpedak, nangka, mangga, belimbing, jambu, kelengkeng, durian, bacang, sawo, mahkota dewa, dan markisa.

Tak hanya itu, puluhan jenis tanaman obat-obatan ikut pula melengkapi keanekaragam flora di area cagar, antara lain tanaman getah jarak, binahong, gondola, angsana, sirip tujuh, patikan kebo, ketepeng, sugi, jahe merah, miana, pacar merah, dan kelor.

Banyaknya jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet inilah yang membuat area perkebunan tersebut terasa sangat rindang dan sejuk meski di kala siang yang terik sekalipun.

Dalam kunjungannya ke Cagar Buah Condet pada 14 Maret 2019 lalu untuk ikut memanen duku, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan secara langsung menyampaikan keinginannya untuk membuat wilayah perkebunan Condet menjadi tujuan wisata yang lebih memadai sekaligus menjadi wahana edukasi masyarakat yang lebih layak. Sebab, menilik upaya Pemprov DKI Jakarta sendiri selama menyandang status pemilik lahan Cagar Buah Condet, usaha yang dilakukan dirasa belum maksimal.

Penyediaan papan informasi tentang sejarah kebun buah Condet dan penamaan pada masing-masing jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet, misalnya, perlu mulai digarap lebih serius agar pengunjung yang nanti datang ke area kebun bisa langsung mengetahui informasi terkait tanaman yang ada di sana.

Pemberlakukan jam buka-tutup Cagar Buah Condet juga mesti dilakukan, seperti yang sudah diterapkan di kawasan Hutan Kota Cijantung, Jakarta Timur.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta perlu memikirkan pula perihal lahan parkir kendaraan pengunjung yang memadai, mengingat area pintu masuk ke kawasan kebun buah cukup sempit.

Menurut Wali Kota Jakarta Timur, M Anwar, yang turut mendampingi gubernur saat panen duku, menyatakan bahwa pembuatan SK Gubernur tentang kawasan Cagar Buah Condet perlu segera diterbitkan. Hal ini sebagai upaya konkret menyusun konsep yang disepakati antara pemerintah daerah dengan warga Condet. Anwar menambahkan bahwa rencana penerbitkan SK tersebut selambatnya dapat terealisasi pada panen buah tahun 2020.

Melalui kekayaan khas Betawi yang tersemat pada kawasan Cagar Buah Condet di wilayah Jakarta Timur itulah, Anies berharap masyarakat luas baik dari Jakarta maupun luar Jakarta dapat mengetahui sejarah panjang perkebunan buah Condet, sekaligus menilik pertumbuhan dan panen buah salak condet dan duku condet yang berstatus langka tersebut langsung dari pohonnya.

Dari cita-cita itulah diharapkan Cagar Buah Condet bisa tetap lestari dan dijaga keberadaannya sebagai salah satu potret identitas asli masyarakat Betawi. 

Continue Reading

CityView

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Published

on

ilustrasi gangster

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa kebosanan dengan berjalan-jalan di malam hari dengan teman-teman, saat ini klitih dimaknai sebagai tindakan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Fenomena ini cukup mirip dengan tawuran ataupun aksi begal, yang memakan korban. Begitupula dengan pelakunya, cukup mirip dengan pelaku aksi tawuran maupun begal, yaitu pelajar SMP-SMA.

Para pelaku juga biasanya melakukan klitih atau nglitih secara berkelompok, tidak ada yang melakukannya sendirian. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan aksi-aksi yang lebih ekstrim seperti melukai orang.

Dalam tahapan perkembangan, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri serta pembentukan citra diri.

Biasanya mereka akan mencari kelompok-kelompok tertentu yang sesuai dengan minat mereka atau kelompok yang mereka anggap sebagai citra ideal bagi remaja untuk mendapatkan pengakuan.

Jika mereka mendapatkan pengakuan dari teman-teman kelompoknya, maka secara bertahap akan membentuk identitas dan citra mereka.

Hal ini akan membentuk perasaan diterima dalam sebuah kelompok (in-group) yang akan berpengaruh pada pembentukan citra diri.

Sebaliknya jika tidak mendapatkan pengakuan tersebut, mereka akan teralienasi dari kelompok remaja yang mereka anggap ideal (out-group) dan akan berdampak negatif pada pembentukan citra diri.

Dalam kelompok klitih, para remaja ini saling “mendorong” teman-teman kelompoknya untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari bagaimana maskulinitas yang selalu disalahartikan sebagai citra ideal laki-laki.

Baca Juga:

  1. Reorganisasi dan Pembangunan Pasar Senen: Upaya Menata Ruang Kota Jakarta
  2. Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia
  3. Menikmati Harmoni Jogja dengan Bersepeda

Masih banyak yang beranggapan bahwa citra masukulin laki-laki identik dengan kekerasan. Jika ingin menyelesaikan masalah antar laki-laki, sering disebut dengan “kita selesaikan secara laki-laki”.

Padahal sebenarnya tidak semua laki-laki memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak semua laki-laki menginginkan penyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

Jika dikaitkan dengan bagaimana para remaja sedang dalam proses pembentukkan citra diri, masing-masing dari mereka pun berusaha untuk membentuk citra ideal maskulinitas yang masih disalahartikan tersebut.

Kebanyakan dari para pelaku klitih menyebutkan bahwa mereka merasa terdorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai sekolah atau kelompok yang paling kuat.

Tentu saja jika pemahaman mengenai maskulinitas masih disalahartikan fenomena ini tidak akan berkurang. Sebab, dorongan atau paksaan dari lingkungan dapat menyebabkan remaja laki-laki ini pada akhirnya mengikuti ajakan kelompok mayoritas kareana ketakutannya ketika nanti menjadi korban rundungan. Mereka yang tidak ikut “nglitih” akan dianggap kurang laki-laki dan akan mengalami perundungan.

Hal ini tentunya dapat berdampak pada citra diri remaja laki-laki tersebut. Selain itu, pada dasarnya banyak juga laki-laki yang tidak bisa menunjukkan citra ideal maskulinitas, sehingga mereka dianggap ‘lemah’ oleh orang lain dan bahkan mereka sendiri merasa tertekan karena ‘gagal’ memenuhi tuntutan ideal tersebut.

Sehingga salah satu cara menunjukkan mereka masih punya ‘power’ atau masih bisa disebut sebagai laki-laki, salah satunya lewat kekerasan ataupun mengikuti perkumpulan yang dinilai memiliki “power” sebagai wujud pembuktian dirinya.

Bagaimana mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari? Saat ini hukuman yang didapatkan oleh para pelaku klitih pun seolah tidak ada efek jera, karena mereka (pelaku) atau bahkan lingkungan beranggapan perilaku ini merupakan kenakalan remaja pada umumnya.

Padahal sebenarnya fenomena ini perlu dibenahi dari akarnya, yaitu citra maskulinitas yang keliru. Selain itu, pendekatan yang menyeluruh, artinya ikut melibatkan lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah perlu dilakukan.

Hal ini tentu saja untuk membantu pelaku dan juga masyarakat lain lebih memahami mengenai kekerasan itu sendiri dan juga masing-masing dari kita bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain.

Tentunya dengan menyadari betul apa yang sedang terjadi dan memahami bahwa yang terjadi saat ini bukan hanya seolah kenakalan remaja yang ‘salah gaul’. Kita perlu mulai berefleksi mulai dari diri sendiri. 

Caranya sederhana saja, jika ada teman atau kenalan yang ingin bercerita (baik laki-laki ataupun perempuan), tidak perlu kita berkomentar negatif dan menisyaratkan bahwa bercerita merupakan tanda kelemahan yang sering kali diindentikkan dengan perempuan.  

Kita bisa mulai menghindari komentar-komentar yang berbau seksis terlebih dahulu lalu menularkan atau menurunkannya ke anak anak kita atau lingkungan kita.

Lalu ikut libatkan laki-laki untuk menurunkan angka kekerasan dan kejadian-kejadian seperti ini. Laki-laki juga merupakan agen perubahan perilaku.

Sehingga dalam hal ini mereka mampu memberikan contoh baik, bagaimana citra maskulin.

Misalnya terlibat dalam pengasuhan anak, berbagi peran dengan istri, bantu pekerjaan domestik ibu di rumah, dan lain-lain.

Continue Reading

CityView

Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta

Published

on

By

Asal-usul Senayan

Setiap penamaan suatu kawasan di Jakarta pasti memiliki cerita tertentu. Misalnya saja seperti Senayan yang terkenal sebagai kompleks olahraga pada dahulunya.

Asal muasal nama Senayan bermula dari cerita seorang letnan asal Bali yang hidup tahun 1680 di wilayah itu. Nama letnan ini adalah Wangsanaya. Namun masih perlu dicari lebih dalam lagi untuk cerita tersebut.

Kemudian cerita lain tentang asal usul Senayan ditulis oleh Alwi Shahab dalam bukunya Batavia Kota Hantu. Melalui Bab Kampung-kampung Tua, diceritakan Senayan yang memiliki luas 270 hektare. Di mana berasal dari bahasa Betawi yang memiliki arti Senenan atau jenis permainan berkuda.

“Nama itu diperkirakan muncul sejak Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808–1811) menjadikannya sebagai tempat warga Inggris bermain Polo, mengingat warga negara tersebut sangat menyukai permainan berkuda,” kata Alwi.

Baca Juga:

  1. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia
  2. Abadikan Legenda Betawi, Jalan Bang Pitung Gantikan Jalan Kebayoran Lama
  3. Menelisik Asal Muasal Nama Kuningan

Akan tetapi kawasan Senayan lambat laun berubah bentuk. Di mana yang tadinya tempat tinggal orang Betawi, menjadi kompleks olahraga pada 1960 dalam rangka Asian Games keempat.

Senayan mengalami banyak perubahan dalam perkembangannya. Bahkan kini telah menjadi pusat bisnis dan perhotelan. Kegunaannya sebagai tempat olahraga, adanya Gelora Bung Karno (GBK) juga bisa digunakan untuk berlangsungnya konser musik besar.

Sementara itu demi tercipta lanskap berkualitas sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pusat kota, penataan pun terus dilakukan untuk mempercantik GBK.

Continue Reading

Trending