Connect with us

Traveling

Desa Wisata Tinalah, Jejak Sejarah dan Eksotisme Alam Kulon Progo

Published

on

Desa Tinalah

Kabupaten Kulon Progo memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang wajib anda kunjungi saat di Kulon Progo adalah Desa Wisata Tinalah. Desa Wisata Tinalah berlokasi di Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Desa wisata selalu ramai akan pengunjung yang datang pada hari-hari biasa maupun hari libur. Desa wisata ini memang tempat yang cocok untuk berekreasi. Desa wisata memberikan sensasi serta aktivitas yang berbeda dengan aktivitas sehari-hari.

Desa wisata Tinalah di Samigaluh, Kulon Progo menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Pesona keindahan alam khas Pegunungan Menoreh membuat pengunjung makin betah saat berada di Desa Wisata Tinalah.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Dengan berbagai macam daya tarik, Desa Wisata Tinalah menjadi tempat yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu liburan anda. Di desa wisata ini, pengunjung bisa belajar banyak hal, seperti menyusuri Sungai Tinalah, kegiatan outbond yang edukatif, tracking bukit, dan masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan.

Dari pusat kota atau Stasiun Yogyakarta, desa ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau bus dengan jarak 25 km. Sesampainya di sana, ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan, dari menyambangi tempat wisata di kawasan pegunungan, wisata sejarah, bahkan berkemah.

Bila tak ingin repot, pengelola Desa Wisata Tinalah pun telah membuat paket wisata yang bisa dipilih sesuai keinginan pengunjung. Paket tersebut sudah berisi berbagai kegiatan menjelajahi kawasan sekitar desa, pemandu, makan siang, dan fasilitas penunjang lain.

Di Desa Tinalah, banyak warganya yang mengembangkan produk ekonomi kreatif yang bisa dijadikan oleh-oleh, misalnya wedang rempah, wingko, keripik pegagan, geblek, dan klanting. Tak hanya itu, di desa ini pun terdapat kegiatan menarik berupa prosesi wiwit tandur atau upacara permulaan tanam padi, di mana pengunjung bisa bergabung dengan warga melakukan seluruh rangkaian upacara hingga makan bersama di sawah.

Desa Tinalah

Ada beberapa paket kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Tinalah, di antaranya Susur Sungai Tinalah.

Bagi kalian yang ingin seru-seruan dan menantang adrenalin, bisa coba sensasi susur sungai atau arung jeram di Sungai Tinalah. Sungai ini berhulu di Pegunungan Menoreh dan memiliki panjang hingga 15 kilometer melintasi beberapa desa.

Warga sekitar memanfaatkan keberadaan sungai ini sebagai sumber daya pertanian dan perikanan. Saat mengunjungi Sungai Tinalah, kemungkinan Anda akan menemukan warga yang sedang memancing atau menjala ikan. Sungai ini terbilang bersih dan memang sering digunakan untuk arung jeram.

Bila berkunjung pada bulan Agustus, ada sebuah agenda rutin yang dilakukan masyarakat yaitu upacara merti dusun, yaitu kirab gunungan tumpeng.

Desa Tinalah

Ada pula kegiatan susur Goa Sriti. Kawasan ini sering dikunjungi para pencinta sejarah Indonesia di masa penjajahan Belanda.

Pangeran Diponegoro menjadikan Goa Sriti sebagai lokasi persembunyian pada perang gerilya melawan Belanda, yang dikenal dengan peristiwa Perang Diponegoro.

Sebagai objek wisata, keindahan di gua ini berasal dari pemandangan stalaktit dan stalagmit yang penampilannya seperti tetesan-tetesan air dari dinding gua. Perlu diingat untuk masuk ke kawasan ini akan dibutuhkan pemandu untuk alasan keamanan dan kenyamanan.

Traveling

Air Terjun Sri Gethuk, Indah tapi Sering Ada Suara Terompet Gaib

Published

on

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk merupakan bagian dari wisata Gunung Kidul yang menawarkan pesona, dan adventure ke lokasi utama air terjun yang berbeda dari yang lain.

Berlokasi di Mungguran II, Bleberan, Kec. Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta(maps). Tempat ini sekarang sudah mulai ramai pengunjung.

Meskipun kondisi jalan yang tidak mudah dilalui terutama jika menggunakan kendaraan besar, akan tetapi tidak menyurutkan langkah para pengunjung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Untuk bisa menuju kesana, dari arah kota Jogja kamu bisa meluncur ke Jl. Wonosari sampai ke Piyungan dan lanjuk ke Pathuk kemudian Sambipitu sampai ketemu pertigaan Lanud TNI AU atau lapangan Gading. Dari sana kamu ambil kanan ke arah Playen. Nanti setiba di pasar Playen kamu bisa bertanya ke penduduk sekitar lokasi tepatnya Air Terjun Sri Gethuk ini.

Air terjun Sri Gethuk juga sering di sebut Air terjun Slempret. Nama slempret diambil dari satu cerita mengenai keberadaan air terjun, yang sering terdengar bunyi seperti slompret alat musik tiup.

Masyarakat sekitar mempunyai keyakinan bahwasannya air terjun tersebut merupakan tempatnya para jin, yang keberadaannya dipimpin oleh sorang jin bernama Jin Anggo Menduro.

Air Terjun Sri Gethuk

Para jin tersebut sangat menyukai dengan kesenian. Pada saat-saat tertentu dari balik air terjun terdengar suara salah satu jenis alat musik. Namun, kalau didekati suara tersebut akan menghilang. Nah, dari cerita tersebut menjadikan nama air terjun seperti nama alat musik yang terdengar dari air terjun.

Bila Kawan mengunjungi air terjun ini, Kawan dapat menimati dua tempat wisata bersamaan, yaitu Sungai Oyo dan Air Terjun Sri Gethuk. Kawan juga bisa berfoto ria maupun bermain air di bawah air terjun.

Air Terjun Sri Gethuk

Untuk dapat memasuki kawasan wisata ini, Kawan diwajibkan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang dan bila ingin menggunakan perahu dikenakan biaya Rp10.000 per orang untuk pulang pergi. Apabila Kawan membawa kendaraan, Kawan juga akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.

Jika Kawan berkunjung ke tempat ini, pasti Kawan akan suka dan takjub. Disarankan juga bila ingin berkunjung, hindari pada saat musim penghujan karena arus Sungai Oyo yang semakin deras dan debit air terjun yang semakin tinggi akan lebih membahayakan.

Continue Reading

Traveling

Bubohu, Desa Wisata Religi Berbasis Alam di Gorontalo

Published

on

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

Desa Adat Bubohu yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Religius oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo karena pesona dari wisata budaya yang tersimpan baik di desa ini. Desa adat ini juga merupakan sebuah pesantren alam di mana di dalamnya terdapat para santri yang tengah menimba ilmu agama Islam.

Selain mempelajari agama Islam, Desa Adat Bubohu juga merupakan tempat belajar untuk mengenal lebih jauh sejarah dari Kerajaan Gorontalo. Maa Taduwolo, sebuah tempat di dalam lingkungan desa adat ini menyimpan berbagai macam sumber yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Gorontalo.

Ketika menyambangi Desa Adat Bubohu, pengunjung akan disambut oleh kumpulan fosil kayu di depan pintu masuk desa yang berbaris rapi di atas permukaan tanah.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Di dalam lingkungan pesantren alam Bubohu, terdapat satu pemandangan khas yaitu barisan gubuk khas Gorontalo yang disebut Wambohe berjajar rapi di lingkungan pesantren.

Selain Wombohe, di dalam lingkungan pesantren juga terdapat beberapa bangunan kayu yang bentuknya menyerupai Toyopo atau wadah yang biasa digunakan masyarakat Bungo untuk menyimpan kue saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, jauh di atas puncak bukit, namun masih masuk daerah Desa Bubohu, terdapat juga sebuah mesjid yang diberi nama Masjid Walima Emas.

Menparekraf Sandiaga Uno menyatakan, keberadaan Desa Wisata Religi Bubohu ini menandakan kebangkitan dari pariwisata berbasis komunitas, edukasi, dan religi. Potensi yang sudah ada pun harus dikembangkan lagi demi menarik minat wisatawan, terutama untuk wisata religinya serta untuk menggerakan perekonomian masyarakat.

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

“Kita melihat tadi ada potensi untuk dibuatkan paket-paket yang bisa ditawarkan di saat liburan karena wisatawan nusantara sekarang sangat ingin mendapatkan pengalaman spiritual,” kata Sandiaga, seperti dikutip dari laman Kemenparekraf.

“Kita bisa kembangkan wisata berbasis komunitas karena ada 11 miliar dolar AS yang dihabiskan Orang Indonesia untuk berwisata di luar negeri termasuk wisata religi di negara-negara yang memiliki paket wisata religi, sejarah, dan lain sebagainya,” dia menambahkan.

Di kawasan puncak bukit, ada sebuah masjid yang tampil mencolok dengan kubah warna emas, yaitu Masjid Walima Emas. Masjid tersebut baru dibangun pada tahun 2008 dan bagian kubahnya berlapiskan emas. Lokasinya yang berada di atas bukit pun menjadi daya tarik tersendiri. Dari masjid, pengunjung bisa melihat pemandangan Teluk Tomini yang begitu memukau.

Daya tarik lain di desa ini adalah Parade Walima yang biasa dilakukan untuk merayakan Maulid Nabi. Walima umumnya diadakan di masjid-masjid terdekat dan diawali dengan melantunkan zikir sepanjang malam.

Di area luar masjid, warga sudah menyiapkan aneka kue tradisional seperti pisangi, kolombengi, curuti, wapili, dan buludeli yang dikemas dalam plastik, kemudian disusun membentuk gunungan. Kemudian, gunungan kue itu akan diarak oleh warga. Setelah masyarakat berkumpul dan berdoa, mereka pun akan berebut kue yang diyakini akan mendapatkan keberkahan.

Desa Wisata Bubohu
Desa Wisata Bubohu

Soal kesenian, di Desa Buboho pengunjung bisa melihat penampilan tari-tarian tradisional. Misalnya tari longgo yang berasal dari seni beladiri kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.

Tari longgo menggambarkan ketangguhan para prajurit dalam mengawal raja. Saat ini, tarian tersebut biasa ditampilkan untuk menyambut tamu yang berwisata ke Desa Bubohu. Kemudian, ada tari tidi lo o’ayabu, yang merupakan tarian klasik dan pertunjukkan hiburan. Tarian ini juga biasa digunakan untuk menyambut tamu di desa.

Kuliner menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang dilakukan masyarakat Desa Bubohu. Jika mengunjungi desa wisata tersebut, Anda mesti mencoba kue kolombengi, kue sukade, bubur leluhur, lalapan leluhur, dan kue roda.

Untuk produk kriya, ada karawo yaitu kain tradisional Gorontalo yang dibuat manual dengan tangan. Karawo memiliki nilai seni yang tinggi sebab dibuat dengan proses penyulaman rumut dan motifnya pun bervariasi.

Kerajinan karawo pun merupakan keterampilan yang telah dilakukan oleh kaum wanita sejak zaman Kerajaan Gorontalo dan diwariskan secara turun-temurun.

Continue Reading

Traveling

Desa Wisata Liya Togo, Masuk Nominasi 50 Besar ADWI 2021 & Punya Benteng Peninggalan Kerajaan Buton

Published

on

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Perkembangan wisata di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara kian pesat. Desa Wisata Liya Togo menjadi salah satu tempat yang menunjukkan pesatnya perkembangan wisata di sana.

Bahkan, Desa Liya Togo masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Salah satu desa wisata Sultra ini dapat bersaing saat seleksi 100 besar nominasi ADWI 2021.

Ada 4 desa wisata Sultra berhasil lolos ADWI 2021. Yakni, Desa Wisata Sani-sani, Desa Wisata Wabula, Desa Wisata Liya Togo, dan Desa Wisata Limbu Wantiro. Namun, hanya Desa Liya Togo yang berhasil lolos 50 besar.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa potensi Desa Wisata Liya Togo dapat membantu masyarakat setempat dalam meningkatkan perekonomiannya.

“Saya sangat berbangga bisa sampai di Desa Wisata Liya Togo di Kabupaten Wakatobi. Saya sebelumnya sudah menerjunkan tim, dan ada banyak potensi yang dapat kita kembangkan. Desa ini luar biasa potensinya dan itu terbukti karena berhasil menembus 50 besar,” kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Desa Wisata Liya Togo adalah Benteng Liya. Benteng ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Buton yang juga dikenal dengan nama Benteng Keraton.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Keunikan benteng ini yaitu dibangun dari susunan batu gunung kemudian direkatkan dengan kapur dan putih telur. Benteng ini memiliki luas hingga 52 hektare dan terdiri 12 lawa atau pintu yang bisa jadi pintu keluar bagi masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar.

Di dalam kawasan benteng tersebut, pengunjung bisa melihat sebuah masjid tua bernama Masjid Mubarok yang dibangun pada tahun 1546. Namanya juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Keraton Liya. Di bagian kri masjid ini terdapat pemakaman yang cukup lebar dan ciri khasnya adalah barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Area divsekitar malam dikelilingi pagar batu dan bunga kamboja.

Konon makam itu adalah tempat peristirahatan seorang pemuda bernama sakti Talo-Talo yang diberikan daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, Talo-Talo dianggap berjasa dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sana.

Selain keberadaan masjid, di kawasan desa juga ada baruga yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk bermusyawarah. Berada di kepulauan, Desa Wisata Liya Togo juga bisa memberikan pengalaman baru pada pengunjung untuk melihat kehidupan warga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Selain menyaksikan kegiatan nelayan, pengunjung juga dapat melihat proses budidaya rumput laut dan memasak menu masakan tradisional.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Desa Wisata Liya Togo juga dikenal dengan produk kriya seperti kain tenun yang dijadikan sarung, selendang, tas, hingga ikat kepala. Kemudian ada pula kerajinan anyaman tikar, mengolah limbah jadi tas, dang katu bangko atau tudung saji.

Ibu-ibu di desa biasa melakukan homoru atau kegiatan menenun di sela-sela kegiatan utama sebagai petani atau nelayan. Kain ini juga sering disebut wuray ledha. Biasanya untuk menyelesaikan sebuah kain sarung siap pakai dibutuhkan waktu menenun hingga satu bulan.

Sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif yang dijalankan masyarakat desa Liya Togo, Menparekraf memberikan dua buah mesin jahit dan dua mesin obras. Sebab, selama ini diketahui masyarakat di desa belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir.

Selain produk kerajinan tangan, ada pula sektor kuliner yang dikembangkan masyarkat desa. Pengunjung bisa mencoba soami (kudapan dari singkong dan parutan kelapa), sirup tangkulela (belimbing wuluh), jus sampalu dari buah asam yang banyak ditemukan di sekitar benteng, keripik singkong, keripik ikan, dan lumpia abon ikan.

Continue Reading

Trending