Connect with us

Nasional

Cerita Mantan Menteri BUMN Soal Bantuan Dana Sosial Rp2 Triliun

Published

on

Dahlan Iskan

Kisah pengusaha asal Aceh yang viral menyumbang dana bantuan sosial untuk penanganan virus Covid-19 di Palembang, Sumatera Selatan, terdengar sampai telinga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iska. Dia pun ingin mengetahui lebih dalam mengenai sosok Almarhum Akidi Tio tersebut.

Mantan Menteri BUMN 2011-2014 berkomentar yang dilakukan keluarga pengusaha itu benar-benar “BUKAN main” dalam artikelnya. Dahlan sengaja memakai huruf kapital karena ingin menggambarkan betapa kagumnya dengan apa yang dilakukan keluarga pengusaha itu. “Hanya itu yang bisa saya tulis.

Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia,” kata Menteri era SBY ini.

Dahlan menilai nama almarhum yang jarang disebut publik tersebut, apa yang dilakukan keluarga mendiang Tio adalah aksi yang luar biasa dan mencerminkan kerendahan hati.

Meski tidak mengenal langsung Almarhum Akidi Tio, dia mencari tahu siapa sebenarnya keluarga tersebut.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Sepi Pembeli, Harga Kios Pasar Tanah Abang Diobral Murah
  3. Menghawatirkan! Komunitas Ini Paling Abai Dalam Prokes

Dalam tulisan lengkap Dahlan Iskan, disway.id situs pribadinya dengan judul “Bantuan 2 T”

BUKAN main. Hanya itu yang bisa saya tulis. Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia. Saya harus menghubungi Prof Dr dr Hardi Darmawan. Saya tidak punya nomor telepon beliau.

Tapi saya kenal dengan kakak beliau. Yang sejak sebelum pandemi tinggal di Singapura. Saya hubungi sang kakak. Saya pun mendapat nomor telepon Prof Hardi. Saya kirim WA ke beliau. Lalu Prof Hardi yang menelepon saya kemarin sore.

Awalnya beliau saya ajak bicara dalam bahasa Mandarin. Tapi Prof Hardi mengatakan tidak bisa berbahasa ibunya itu. Maka kami pun menggunakan bahasa Indonesia.

“Sumbangan itu betul ya, Prof? Kok fantastis sekali,” kata saya.

“Betul. Saya kenal baik keluarga itu,” jawab beliau.

Prof Hardi lantas bercerita. Tiga hari lalu beliau dihubungi putri pengusaha itu.

“Saya diminta ikut menyaksikan,” ujar Prof Hardi.

Prof Dr dr Hardi Darmawan adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Juga aktivis di gereja Katolik Palembang. Termasuk menjadi pendiri lembaga pendidikan Katolik Caritas. Bahkan pernah mendapat penghargaan dari Sri Paus.

“Resminya bantuan itu nanti untuk kapolda, gubernur, atau Pemprov Sumsel?” tanya saya. “Ke Kapolda Sumsel Pak Eko Indra Heri,” ujar Prof Hardi

“Siapa yang menentukan bahwa bantuan itu untuk kapolda Sumsel? Apakah atas arahan Prof Hardi?” tanya saya lagi. “Bukan arahan saya. Itu langsung keinginan keluarga. Untuk diberikan ke kapolda,” jawab Prof Hardi.

“Bantuan itu nanti bentuknya uang kontan, cek, atau transfer? Atau berbentuk bantuan bahan makanan?”

“Bentuknya uang. Akan ditransfer besok,” jawab Prof Hardi kemarin sore.

Berarti hari ini.

“Apakah boleh ditransfer ke rekening Polda? Juga apakah boleh dikirim ke rekening pribadi kapolda?” tanya saya sambil mengingatkan aturan yang ada.

“Masih diatur. Mungkin disiapkan rekening khusus.”

Ya sudah. Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang itu. Ada orang yang ingin menyumbangkan uang besar kok ditanya prosedur. Yang penting diterima dulu.

Semoga yang menyumbang itu bisa menyaksikan dengan bahagia dari surga di atas sana. Akidi Tio, pengusaha yang menyumbang Rp 2 triliun itu, meninggal tahun 2009 lalu.

Saat itu Tio berusia 89 tahun. Berarti 101 tahun hari ini. Beliau meninggal akibat serangan jantung. Makamnya juga di Palembang. Istri Tio sudah meninggal lebih dulu: tahun 2005. Juga di Palembang.

Dalam usia 82 tahun. Mereka punya 7 orang anak. Hanya seorang, putri, yang masih tinggal di Palembang.

Yang lain tinggal di Jakarta. “Semua jadi pengusaha sukses,” ujar Prof Hardi. Tio adalah pasien Prof Hardi. Istri Tio pasien istri Prof Hardi, yang juga seorang dokter. “Saya dan istri akrab dengan keluarga Pak Tio,” ujar Prof Hardi.

Menurut Prof Hardi, keluarga Pak Tio sudah bersahabat dengan Kapolda Irjen Eko Indra Heri jauh ke masa belakang. Yakni ketika Eko masih perwira dan masih bertugas di Direskrim Polda Sumsel.

Ketika Eko pindah tugas menjadi kapolres di Langsa, hubungan itu tetap akrab. Tio adalah orang Aceh. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Salah satu adiknya punya pabrik di Langsa.

Saya pun menghubungi Bupati Aceh Timur Rocky Hasbalah Thaib. Siapa tahu kenal dengan keluarga Tio. “Beliau sudah lama meninggalkan Langsa. Kami tidak kenal di sini.

Yang jelas di Langsa memang banyak penduduk Tionghoa sejak dulu,” katanya. Dilihat dari marganya (Tio), berarti Akidi dari suku Tiuchu. Di Palembang memang banyak juga suku Tiuchu. Laksamana Cheng Ho -dengan armadanya yang besar- cukup lama singgah di Palembang.

Nama Palembang dalam bahasa Mandarin disebut Ju Gang (巨港) -pelabuhan besar. Sebagian armada Cheng Ho pilih menetap di Palembang -tidak meneruskan pelayaran ke Jawa dan kembali ke Tiongkok. Prof Hardi sendiri lahir, besar, dan sekolah di Palembang.

Pun gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Setelah itu dr Hardi memperdalam ilmu penyakit tropik di Amerika Serikat. Yakni di New Orleans. Prof Hardi ingat persis sosok Tio yang rendah hati.

“Setiap datang ke tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih,” ujarnya.

“Tapi mengapa semua teman saya yang Tionghoa di Palembang tidak mengenal Tio?” tanya saya. Itu, katanya, karena Tio sangat rendah hati. Juga tidak mau menonjol. “Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba Tuhan,” ujarnya.

Beliau, katanya, pernah punya pabrik kecap, pabrik mebel, kebun sawit, dan juga kontraktor bangunan. Saya pun menghubungi teman lama. Nihil. “Saya tidak kenal nama itu sama sekali,” jawab Alex Noerdin -dua kali menjadi Gubernur Sumsel yang sukses.

Lalu saya menghubungi seorang mantan menteri asal Palembang. Jawabnya sama. Saya juga menghubungi lima orang pengusaha Tionghoa di sana. Tidak ada yang mengenal nama itu.

Saya hubungi juga seorang Tionghoa bermarga Tio. “Saya tidak tahu siapa beliau. Tapi sebagai sesama marga Tio saya ikut bangga,” katanya.

Berarti pengusaha ini memang luar biasa rendah hatinya. Low profil high profit. Dan yang seperti itu banyak sekali di lingkungan masyarakat Tionghoa. Saya punya banyak teman Tionghoa seperti itu.

Sehari-hari hanya pakai sandal. Bajunya pun lusuh dan dari kain yang biasa-biasa saja. Namanya tidak pernah disebut di mana-mana. Tapi uangnya luar biasa banyaknya. Saya malu kalau pakai baju bagus di depan mereka.

(Dahlan Iskan)

Nasional

Gunung Semeru Erupsi, 2 Kecamatan di Lumajang Gelap Gulita

Published

on

Erupsi Gunung Semeru
Erupsi Gunung Semeru

Gunung Semeru, yang berlokasi di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur erupsi hari ini, Sabtu (4/12/2021). Gunung api itu mengeluarkan asap pekat berwarna abu-abu berukuran besar.

Akibat erupsi ini, masyarakat dan penggali pasir di aliran Sungai Leprak berlarian menjauh. Berdasarkan video yang beredar, tampak gumpalan asap membumbung tinggi.

Sementara itu, warga yang melihat letusan tersebut berlari menyelamatkan diri. Saat ini, BPBD Kabupaten Lumajang disiapkan untuk mengevakuasi warga.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Erupsi Gung Semeru yang memiliki 3.676 meter itu mengakibatkan hujan abu di sekitar Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang.


Anggota Polsek Candipuro yang sedang berjaga di sana bergegas meminta warga dan sopir-sopir truk pengangkut pasir segera menyingkir. Sebelumnya masyarakat berkumpul untuk melihat banjir lahar dingin yang menerjang kawasan itu.

“Ayo Pak, menyingkir, Pak,” kata Ismail, salah satu petugas Polsek Candipuro.

Ismail meminta masyarakat segera meninggalkan lokasi karena berpotensi bahaya.

Dampak erupsi Gunung Semeru pun cukup besar. Erupsi ini membuat dua kecamatan di Lumajang kondisinya gelap gulita.

Continue Reading

Nasional

Dibajak Cucu, Pramono Anung Bikin Tweet Bahasa Alien

Published

on

Pramono Anung
Pramono Anung

Akun twitter Sekretaris Kabinet Pramono Anung dikabarkan “dibajak”. Cuitannya mencuri perhatian publik.

Terpantau dari akun Twitternya, Pramono Anung terakhir melakukan aktivitas bersosial media pada 25 November lalu. Selang beberapa waktu kemudian, Jumat (3/12/2021) ia kembali berkicau di twitter.

“Jua
,,,..lllllm, QUPPITRWWQW OIFWWOOIEE

NAGGLLKUTPYYWWRYIPPIUPPJTTTTTTTTTII,” tulis akun Twitter @pramonoanung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Cuitan politikus PDIP ini pun langsung mendapat ragam komentar dari netizen. Terlihat, tulisan itu telah dikomentari lebih dari 900 orang. Bahkan diretweet sampai 4,8 juta kali dan diberi 8,9 juta like.

“Kode nuklir,” tulis salah seorang warganet, di kolom komentar unggahan itu.

“Dalem ini” balas @G_Junaidi.

“Kayaknya bahasa langit,” timpal akun @Ojol_Purwokerto.

Umumnya netizen memang tidak dapat memahami arti cuitan Pramono Anung tersebut.

“Tolong cepat pecahkan kode ini. Panggil Robert Langdon,” tulis @rehuellangela.

Satu jam kemudian, Pramono mengklarifikasi tweet tersebut. Dia menyebut cucunya yang mengetik di Twitternya.

Postingan tersebut dikomentari banyak netizen. Kebanyakan memaklumi perilaku cucu Pramono Anung. “Gapapa pak, kadang kami rakyat juga butuh hal-hal receh namun natural, daripada kami sepaneng karena retorika,” kata akun @kranrumanandin.

Ada pula yang bercanda meminta pekerjaan sebagai admin media sosial. “Pak saya butuh magang nih pak. Buka lowongan magang admin ga pak?” tulis akun @wahhanaa.

Continue Reading

Nasional

Panglima TNI Andika Perkasa Tegur Korem yang Asyik Main HP Saat Meeting Daring

Published

on

Panglima TNI Andika Perkasa

Panglima TNI Andika Perkasa memberikan teguran keras kepada Kepala Staf Korem (Kasrem) 174/ATW Merauke Kolonel Arh Hamim Tohari yang kedapatan main ponsel saat rapat secara daring.

Momen Andika memarahi anak buahnya tersebut terekam dalam cuplikan video yang tersebar di media sosial.

“Mas Hamim, lihat saya. Ini mas Hamim kan, di Merauke? Enggak usah lihat handphone,” ucap Andika dalam video, dikutip Sabtu (4/12/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Andika kemudian mengatakan bahwa dirinya tak sering berbicara sehingga anak buahnya semestinya fokus memperhatikan, bukan bermain ponsel.

Dengan nada tinggi, Andika lalu meminta Hamim memindahkan ponsel yang ketahuan ia gunakan tersebut.

“Mas Hamim, handphone geser!” kata Andika dengan nada meninggi.

“Siap segera,” jawab Hamim.

Namun, tindakan Hamim memindahkan ponselnya tak membuat Andika luluh. Dia justru malah jadi lebih geram sebab ponsel tersebut masih dalam jangkauan layar rapat.

Continue Reading

Trending