Connect with us

Teknologi

Bukan WhatsApp, Ini Medsos Favorit Netizen Indonesia

Published

on

WhatsaApp menjadi aplikasi pesan yang paling banyak digunakan masyarakat di Tanah Air. Tapi layanan tersebut bukanlah yang sering diakses netizen Indonesia, lho lantas apa?

YouTube! Ya layanan streaming video ini menjadi platform yang paling sering diakses oleh pengguna internet di Indonesia. Begitu hasil riset Digital 2021 yang dirilis We Are Social dan Hootsuite pada Januari 2021 lalu.

YouTube diakses oleh 93,8% pengguna internet di Tanah Air. Angka ini jauh lebih tinggi dari WhatsApp yang berada di urutan kedua dengan persentase 87,7% pengguna internet di Indonesia.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Sementara peringkat ketiga ada Instagram yang diakses sebanyak 86,6%. Peringkat empat dan lima diisi Facebook dengan persentase 85,5% dan Twitter sebanyak 63,6%.

Dalam hasil riset yang sama dibeberkan perilaku warganet di Tanah Air. Sudah bisa ditebak masyarakat kita suka sekali bersosialisasi.

Terlihat dalam hasil riset sebanyak 99,8% dari pengguna internet Indonesia menggunakan media sosial (medsos) dan layanan pesan instan. Sebanyak 94,5% sangat aktif di medsos, entah itu memposting ataupun menulis komentar.

Saking aktifnya rata-rata netizen Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit waktunya dalam sehari untuk mengakses media sosial. Jangan kaget, setiap orang punya lebih dari 10 akun medsos di berbagai platform dan aplikasi. Tidak percaya? Coba hitung sendiri kamu punya akun medsos apa saja dan dimana saja.

Kendati sering mengakses tapi setidaknya banyak yang menggunakan medsos untuk hal produktif. Berdasarkan hasil riset sebanyak 60% netizen menggunakan medsos untuk keperluan kerja.

Advertisement

Teknologi

Berani Jual Foto KTP dalam Bentuk NFT, Hukuman 10 Tahun Penjara & Denda Rp1 Miliar Menanti

Published

on

Jual foto KTP dalam bentuk NFT

Keberhasilan Ghozali Everyday meraup cuan miliaran dengan cara menjual foto selfie dalam bentuk NFT di OpenSea membuat banyak orang kini melakukan hal serupa. Bahkan, ada yang sampai menjual foto KTP. Namun, ternyata ada sanksi berat jika kita menjual foto KTP.

Beberapa waktu lalu netizen Indonesia dikejutkan dengan tingkah username Indonesia Identity Card (KTP) Collection menjual 38 item NFT berisi foto KTP warga negara Indonesia yang beberapa di antaranya menyertakan foto selfie. Akan tetapi, hari ini akun OpenSea itu sudah tidak dapat diakses lagi.

Akibat fenomena ini, Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan sanksi keras bagi penjual NFT KTP di OpenSea.

Baca Juga:

  1. Peuyeum, Si Manis Ikonik Kota Bandung yang Disukai Orang Eropa
  2. 8 Makanan yang Mendadak Viral Selama Pandemi Covid-19
  3. Sambel Colek Ikan Wader, Hidangan Para Raja Majapahit

Dia menegaskan, bagi pihak-pihak yang mendistribusikan dokumen kependudukan termasuk dirinya sendiri yang memiliki dokumen kependudukan seperti foto KTP-el di media online tanpa hak, terdapat ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan terancam denda paling banyak Rp1 miliar.

Hal ini tertuang dalam Pasal 96 dan Pasal 96A Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

Selain itu, Zudan juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat foto selfie dengan dokumen KTP-el di sampingnya untuk verivali.

Sebab, hal tersebut sangat rentan adanya tindakan fraud/penipuan/kejahatan oleh ‘pemulung data’ atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab karena data kependudukan ‘dapat’ dijual kembali ke pasar underground. Atau bahkan berpotensi digunakan dalam transaksi ekonomi online seperti pinjaman online.

“Oleh karena itu, edukasi kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah menampilkan data diri dan pribadi di media online apapun,” ujarnya.

Continue Reading

Teknologi

Begini Ramalan Bill Gates Soal Metaverse

Published

on

By

Ilustrasi Metaverse

Bill Gates berikan tanggapannya soal Metaverse, di mana dunia virtual tersebut dikatakan akan mengubah masa depan dunia kerja dan aktivitas manusia.

Bernama lengkap William Henry Gates III, atau lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates merupakan seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat. Selain itu juga, Bill Gates adalah mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen.

Metaverse, merupakan bagian Internet dari realitas virtual bersama yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata. Segala macam kegiatan bisnis bisa berlangsung di sana, jika seseorang atau perusahaan memiliki tanah di metaverse.

Pengguna metaverse akan memiliki avatar,  dengan hal tersebut membuat mereka bisa berinteraski dengan avatar lainnya. Bill Gates mengatakan bahwa, “Idenya adalah Anda akhirnya akan menggunakan avatar untuk bertemu dengan orang di ruang virtual yang mereplikasi perasaan di ruang sebenarnya bersama mereka.”

Baca Juga:

  1. Korea Selatan Bangun Metaverse Seoul, Kota Digital Pertama di Dunia
  2. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  3. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse

Bill Gates juga mengatakan, jika tahun ini bakal menjadi permulaannya, sedangkan di masa mendatang manusia akan bekerja lewat dunia Metaverse. Seperti yang dikutip dari GatesNotes, Minggu (16/1/2022). Menurutnya, kebiasaan dalam dunia kerja akan dapat berubah dengan kehadirannya Metaverse.

Nantinya kehidupan manusia akan sangat bergantung terhadap dunia digital. Segala sesuatunya yang biasa dilakukan tatap muka, akan beralih secara virtual. Baik untuk bekerja, bahkan sampai aktivitas sehari-hari lainnya.

Ia juga beranggapan bahwa di masa depan, perusahaan akan lebih fleksibel terhadap karyawannya, mereka tidak lagi harus ke kantor untuk bekerja, melainkan bisa dilakukan dengan jarak jauh.

Bill Gates mengatakan bahwa, “Pengguna harus memakai headset dan kacamata virtual reality untuk bisa melakukannya. Saat ini, Microsoft tengah berusaha untuk menambahkan avatar 3D.”

Tidak akan lama lagi Metaverse akan digunakan sebagai pola hidup, terutama dalam dunia kerja. Bill Gates meyakini hal itu nantinya dapat terjadi dan bisa mempengaruhi segala sistem kehidupan yang sebelumnya sudah ada.

Continue Reading

Teknologi

Gara-Gara Ghozali Everyday, Kominfo Bakal Awasi NFT

Published

on

Ghozali Everyday

Nama Ghozali Everyday mendadak viral usai meraup cuan hingga miliaran rupah berbekal menjual foto selfie secara Non-fungible token (NFT). Terkait hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan mengawasi para penyelenggara sistem elektronik (PSE) NFT.

Hal itu ditegaskan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi. Dia menegaskan, pengawasan itu dilakukan sesuai amanat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Kementerian Kominfo senantiasa mengawasi para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) termasuk pihak yang mengoperasikan NFT agar tetap patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Dedy dalam keterangan tertulisnya.

“Sesuai amanat UU ITE dan peraturan pelaksanaannya, Kementerian Kominfo berwenang melakukan pengawasan terhadap PSE,” imbuh dia.

Baca Juga:

  1. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Kirim Sindiran Pedas untuk Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

Dedy menyatakan pengawasan itu dilakukan untuk memantau dan menindaklanjuti jika adanyanya pelanggaran yang dilakukan PSE. Pihaknya khawatir ada tranaksi jual beli porno dalam NFT tersebut.

Sementara itu, pihaknya tidak melakukan pengawasan terhadap spesifik transaksinya. Ia menyebut, hal itu merupakam kewenangan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Dia menuturkan pelanggaran terhadap ketentuan transaksi aset kripto dan kegiatan serupa dapat dilakukan oleh Bappebti.

Sebelumnya, Ghozali Everyday (22) tidak menyangka foto selfie dalam bentuk non-fungible token (NFT) ada peminatnya. Ghozali pun meraup cuan sekitar Rp1,5 miliar dari jual foto NFT.

Continue Reading

Trending