Connect with us

Pojok

Bukan Sekadar Hewan Ternak: Menelisik Fungsi & Peran Ayam bagi Masyarakat Hindu di Bali

Published

on

Peran ayam di Bali

Hewan apa yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Bali? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada masyarakat awam, sebagian besar bakal menjawab babi. Hal ini cukup masuk akal, karena Bali terkenal dengan penggunaan daging babi dalam berbagai aktivitas, termasuk ritual keagamaan.

Namun, babi bukan satu-satunya hewan yang memiliki peran serta fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Ada pula satu hewan ternak lain yang eksistensinya sangat diperhatikan. Hewan ternak yang dimaksud adalah ayam. Ayam tidak hanya dipakai untuk diadu, tetapi juga sebagai sarana dalam upacara keagamaan.

Saat kalian berkunjung ke Bali, masakan dengan berbahan baku daging ayam cukup banyak digunakan. Menu ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana berburu makanan halal oleh para wisatawan muslim. Namun, ayam bagi masyarakat Hindu Bali juga memiliki dua fungsi lain yang tidak kalah penting.

Baca Juga:

  1. Kampung Wisata Sosromenduran, Pusatnya Kerajinan Budaya & Kuliner Yogyakarta
  2. Pasar Rawa Bening, Surga Batu Akik & Bacan dari Jakarta Timur
  3. JNM Bloc Tempat Nongkrong Asyik & Ruang Kreatif Anak Yogyakarta

Dua fungsi yang dimaksud adalah sebagai persembahan dalam ritual keagamaan serta sebagai hewan aduan. Terkait fungsinya sebagai hewan aduan, fenomena ini sudah menjadi tradisi yang berkembang sejak zaman dahulu. Apalagi, raja-raja terdahulu di Kerajaan Bali, dikenal sebagai sosok yang suka adu ayam.

“Bagi masyarakat Hindu, ayam adalah representasi dari tiga tingkatan eksistensi manusia: etis, estesis dan religius. Karenanya ayam lazim digunakan dalam upacara keagmaan sebagai bentuk dari harmonisasi hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa,” dikutip dari Bale Bengong,

Ida Ratu Peranda Ishana Manuba, seorang pendeta, menjelaskan tentang fungsi ayam dalam ritual keagamaan Hindu di Bali. Disebutkannya, fungsi ayam banyak digunakan pada caru, yadnya caru bhuta yadnya.

Dirinya menjelaskan, caru berasal dari kata car yang artinya harmonis. Dengan ritual itu, manusia mengharmoniskan energi mikrokosmos yang ada dalam diri dengan energi alam semesta, makrokosmos melalui sarana ayam yang disebut dengan caru.

“Kenapa pakai ayam? karena ayam punya energi, kreatifitas dan etos kerja yang baik,” paparnya dalam sebuah video dokumenter.

Dirinya menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ayam adalah kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan. Segala ritual di Bali memakai ayam dengan berbagai warna bulu, warna kaki dan banyak sekali warna-warna spesifik untuk upacara.

Ayam berwarna putih adalah jenis yang kerap dibutuhkan dalam sarana ritual. Ayam ini berbulu putih di keseluruhan kulit dan bulunya, berjambul merah, dan pembawaan hewan ini sangat tenang.

Mangku menyebut para pembiak biasa mengawinkan ayam untuk mendapatkan jenis atau ciri khas tertentu. Namun katanya tidak semua berhasil, hasilnya tidak seperti induknya. Tetapi bila terus dicoba bisa saja baru berhasil.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Ananda mengungkapkan kaitan antara ayam dengan sistem religi bagi umat Hindu di Bali. Menurutnya dalam klasifikasi tentang karakter dari binatang ada tiga pembagian: klaster wise (kebijaksanaan), kreatif, dan klaster enerjik.

“Kehadiran ayam dalam bentuk ritual di Bali itu adalah bagaimana membangun kreatifitas dan dinamisasi. Karena ayam itu kreatif,” jelasnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pojok

Tanagupa, Surganya Orang Utan dari Kalimantan Barat

Published

on

By

Orang Utan

Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) diketahui sebagai surga atau rumahnya bagi orang utan. Tempat ini terletak Jl. Gajah mada No.41, 78813, Ketapang, Kalimantan Barat.

Di mana taman ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di daerah Kalimantan Barat dengan status sebagai Kawasan Suka Alam.

Diketahui, hal tersebut ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Simpang Nomor: 4/13.ZB/1937 tanggal 4 Februari 1937. Kemudian De Resident Der Westerafdeling Van Borneo mengesahkannya di Pontianak tanggal 29 April 1937.

Pada tahun 2021 lalu pun tempat ini kembali menerima seekor orangutan jantan liar dewasa hasil penyelamatan bersama antara Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo
  3. Adu Zatua, Tradisi Menghormati Roh Leluhur Ala Suku Nias

Usai mendapat laporan dari masyarakat tentang keberadaan orangutan yang terjebak di kebun warga di Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, barulah kemudian upaya penyelamatan dan translokasi tersebut dilakukan.

Akhirnya orang utan bernama ‘Jala’ itu pun dipindahkan ke ke kawasan hutan Tanagupa. Berdasarkan hasil survei, kawasan tersebut mempunyai tingkat keamanan yang tinggi, jauh dari pemukiman dan memiliki tumbuhan pakan yang melimpah.

Selain itu juga kerapatan individu orang utan yang masih rendah di sana. Kegiatan translokasi orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung selama tahun 2021 merupakan upaya yang kedua kalinya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, M. Ari Wibawanto pada keterangan tertulisnya (7/5/2021).

Continue Reading

Edukasi

Catat, Ini Jadwal Libur Sekolah 2022-2023

Published

on

Libur sekolah

Sebentar lagi pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA di Jawa Barat akan menyambut datangnya libur kenaikan kelas 2022 sebelum memulai tahun ajaran baru.

Libur kenaikan kelas biasanya disambut dengan antusias karena termasuk masa libur panjang sekolah yang umumnya berkisar antara dua hingga empat minggu.

Terlebih sebelum libur panjang kenaikan kelas, para pelajar harus melewati rangkaian ujian kenaikan kelas (UKK) atau penilaian akhir semester (PAS) yang melelahkan.

Baru setelah penerimaan rapor serta momen kenaikan kelas, pelajar bisa menikmati masa libur panjang kenaikan kelas 2022 sebelum memasuki kelas yang baru.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Jadwal Libur Sekolah dalam Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023

Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari Raya Idul Adha: Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Tahun Baru Islam 1444 Hijriah: Sabtu, 30 Juli 2022
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Rabu, 17 Agustus 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Maulid Nabi Muhammad SAW: Sabtu, 8 Oktober 2022
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari Raya Natal: Minggu, 25 Desember 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Isra Mi’raj: Sabtu, 18 Februari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Hari Suci Nyepi: Rabu, 22 Maret 2023
Perkiraan Libur Ramadhan: Kamis-Sabtu, 22-25 Maret 2023
Jumat Agung: Jumat, 7 April 2023
Perkiraan Libur Idul Fitri: Jumat, 21 April 2023 – Jumat, 28 April 2023
Hari Raya Idul Fitri: Sabtu-Minggu, 22-23 April 2023
Hari Buruh: Senin, 1 Mei 2023
Hari Waisak: Sabtu, 6 Mei 2023
Kenaikan Isa Almasih: Kamis, 18 Mei 2023
Hari Lahir Pancasila: Kamis, 1 Juni 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023
Tahun Baru Hijriyah: Rabu, 19 Juli 2023

Continue Reading

Pojok

Polusi Fotografis dan Konsumerisme Visual

Published

on

ilustrasi fotografer

Plato pernah mengajukan sebuah alegori paling terkenalnya soal gua. Dalam cerita klasiknya, orang-orang dirantai di gua yang gelap. Mereka dihadapkan pada dinding gua, membelakangi sumber cahaya.

Mereka hanya bisa melihat bayang-bayang obyek yang datang dan pergi, dari hal-hal yang terjadi, terpantul ke dinding gua.

Bagi mereka, bayang-bayang itulah semua yang mereka ketahui tentang dunia, semua itu yang benar-benar eksis bagi mereka. Gua tersebut adalah batas semesta bagi mereka.

Kisah tadi belum selesai, tapi konsep dasar soal realitas tadi yang coba diulas Susan Sontag dalam esai In Plato’s Cave. Manusia, sebutnya dalam esai pembukanya di On Photography tersebut, masih terkurung dalam gua Plato.

Namun fotografi mengubah kondisi pemenjaraan tersebut. Fotografi menciptakan semacam “penglihatan” dan perasaan bahwa kita dapat memuat seluruh dunia dalam kepala kita. Realitas baru, sekaligus masalahnya, terbentuk.

Penulis Amerika cum aktivis sosial ini banyak menulis beragam topik selama hidupnya. Salah satu karya kritisnya yang paling terkenal, On Photography, pertama kali diterbitkan pada tahun 1977.

Meski ditulis sebelum era seseorang bisa menangkap ratusan gambar lewat ponsel cerdas mereka hanya dengan satu sentuhan, namun berbagai gagasan Sontag tetap sangat relevan dan menjadi salah satu teks definitif tentang kultur visual hari ini.

Manusia gua tadi sekarang punya ponsel pintar dan teknologi informasi yang mutakhir. Sejak penemuan camera obscura tahun 1838, hari ini kita mengambil lebih banyak foto setiap dua menit daripada keseluruhan abad ke-19.

Sontag menulis On Photography di masa sebelum penemuan citra digital, namun menengok kembali gagasannya, serasa membaca suatu ramalan.

Fotografi berkembang bersamaan dengan salah satu aktivitas modern yang paling khas: turisme. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, segerombolan besar orang secara teratur melakukan perjalanan untuk jangka waktu yang singkat, keluar dari lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam melakukan perjalanan, tampaknya tidak wajar untuk bersenang-senang tanpa membawa kamera. Foto akan menawarkan bukti yang tak terbantahkan bahwa perjalanan telah dilaksanakan, kesenangan telah diperoleh.

Mengambil foto menjadi cara untuk mensertifikasi pengalaman kita. Foto menyimpan pengalaman menjadi sebuah souvenir, sekaligus sebuah trofi.

Dalam hal ini, turisme sangat beririsan dengan yang namanya konsumerisme. Ketika ada foto di Instagram akan suatu tempat, yang menawarkan kebaruan dan keunikan, secara serempak banyak orang yang ingin mengunjunginya. Masyarakat kapitalis, sebut Sontag, membutuhkan sebuah kultur yang berbasis citraan guna merangsang pembelian. Tidak dapat disangkal bahwa budaya konsumerisme diberi makan oleh visual.

Dilema lainnya, foto-foto akan penderitaan dan kekejaman sekarang memiliki akses yang tak berkesudahan. Sebagian besar dari kita tak bisa menahan banjir informasi itu tetap mengalir di saku kita atau di telapak tangan kita, atau di mana saja ponsel kita berada.

“Perasaan iba adalah emosi yang tidak stabil,” tulis Susan Sontag dalam kumpulan esainya yang terakhir, Regarding the Pain of Others, yang diterbitkan pada 2003. “Perasaan iba perlu diterjemahkan ke dalam tindakan, atau akan jadi layu.” Pernyataan ini seharusnya bikin kita semua merasa tidak nyaman.

Baca Juga:

  1. WhatsApp Kini Punya Fitur untuk Hapus Foto & Video Otomatis
  2. Fotonya Diedit untuk Fantasi, Enzy Ancam Tempuh Jalur Hukum
  3. Selebgram Cantik Ini Untung Rp80 M dari Jual Foto Selfie di NFT

Kita mungkin jijik, ngeri, atau tersentuh pada suatu foto, tapi hanya dengan didorong oleh welas asih saja, tidak akan membawa kita pada semacam pemahaman. Apa yang coba ditunjukkan oleh Sontag adalah bahwa emosi tidak dapat dipercaya ketika harus mempertimbangkan tindakan yang benar.

Kita perlu berhenti menonton untuk mempertimbangkan bagaimana kita menanggapi gambar penderitaan, kesakitan, dan kekejaman, dan dengan kejam memikirkan peran kita sendiri sebagai pemirsa secara historis dan filosofis.

Masalahnya, kita lebih cepat tergerak untuk ngeri dan jijik, sekaligus kita lebih cepat lupa, karena deretan gambar yang jauh lebih banyak menuntut perhatian kita.

Kita dipaksa mengelola lebih banyak informasi melalui gambar daripada era-era sebelumnya, dan ini membuat hubungan kita dengan kasih sayang, kemarahan, dan rasa ketidakberdayaan yang terangsang oleh foto-foto tadi semakin kompleks. Polusi fotografis bikin kita mati rasa.

Fotografi, yang dulu dianggap sebagai media yang menggambarkan “kebenaran,” sekarang ironisnya merupakan penyumbang terbesar tentang manipulasi psikis masyarakat kapitalis. Kita dibombardir dengan gambar setiap hari, sebagian besar dari iklan; di papan reklame, di majalah, dan paling sering di layar kita.

Namun, pada saat yang sama, fotografi adalah percobaan penangkal paradoks kematian kita dan kesadaran yang mendalam akan hal itu.

Segala foto adalah memento mori, tulis Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, ketidaktetapan orang lain. Lewat mengiris suatu momen dan membekukannya, semua foto menjadi kesaksian atas melelehnya waktu yang tanpa henti.

Hal ini begitu benar, saat kita mengisi linimasa media sosial kita dengan gambar, seolah-olah untuk membuktikan bahwa garis waktu biologis kita, kehidupan kita, dipenuhi dengan momen penting. Sekaligus mengingatkan kita bahwa semuanya pasti akan segera menuju titik akhir dari garis waktu itu sendiri: kematian.

Foto mengkonfirmasi keberadaan kita di dunia, memberi semacam pinjaman bahwa ada bobot dalam eksistensi kita. Kenyataannya, kultur visual ini telah dikonfirmasi lebih lanjut dengan penemuan media sosial; sebuah fenomena yang Sontag lihat sekilas sebelum kematiannya akibat leukemia pada 2004.

Mallarmé, mengatakan bahwa segala sesuatu ada di dunia ini untuk berakhir dalam sebuah buku. Masa kini, tulis Sontag, semuanya ada untuk berakhir dalam sebuah foto.

Continue Reading

Trending