Connect with us

Infrastruktur

Bisa Cegah Banjir Rob, Jalan Tol Semarang-Demak Siap Beroperasi

Published

on

Jalan Tol Semarang-Demak

Jalan tol Semarang-Demak di ruas Sayung-Demak diprioritaskan untuk segera difungsionalkan. Jalan tol ini akan memperlancar arus lalu lintas di jalur Pantura sekaligus sebagai tanggul laut untuk menahan banjir rob di wilayah Semarang Timur.

Proyek infrastruktur jalan tol terus dikawal pembangunannya oleh pemerintah. Salah satunya jalan tol Semarang-Demak Seksi 2 ruas Sayung-Demak sepanjang 16,31 km di Provinsi Jawa Tengah yang sudah mulai dilakukan uji coba dengan skema buka tutup satu arah atau lajur.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Seksi 2 Sayung-Demak tol Semarang-Demak ini didorong pembangunannya untuk dibuka fungsional pada pekan ini juga. Pada tahap uji coba sisa penyelesaian proyek ini tinggal gerbang tol, guard rail, dan pekerjaan timbunan.

Baca Juga: Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

“Pembukaan fungsional jalan tol ini sangat penting untuk membantu mengurai kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di Jalan Pantai Utara (Pantura) terlebih saat ini juga tengah dilakukan penggantian dan duplikasi Jembatan Callendar Hamilton (CH) Wonokerto,” ujarnya.

Nantinya konstruksi jalan yang sudah bagus bisa dioptimalkan untuk kendaraan-kendaraan besar seperti bus dan truk. Dengan begitu arus lalu lintas di jalan nasional Pantura juga tidak terlalu macet dan akan berdampak pada terus meningkatnya pelayanan akses jalan kepada masyarakat.

Jalan tol Semarang-Demak sendiri memiliki panjang 26,95 km yang dibangun dalam dua seksi melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Seksi 1 untuk ruas Semarang/Kaligawe-Sayung sepanjang 10,39 km menjadi porsi pemerintah dengan pendanaan dari APBN.

Proyek ini memakan anggaran APBN sebesar Rp10 triliun sementara untuk Seksi 2 di ruas Sayung-Demak sepanjang 16.31 km menjadi porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak. Untuk Seksi 1 telah dilaksanakan kontrak dengan paket pekerjaan peninggian Jembatan Kaligawe, elevated freeway, dan pile slab.

Untuk 1A pekerjaan tanggul laut dan jalan utama. On/Off Ramp, Jembatan Kali Babon dan Sayung, serta rest area dan gerbang tol. Untuk 1B pembangunan kolam retensi Terboyo (189 hektar) dan Sriwulan (28 hektar), rumah pompa Terboyo, dan Sriwulan untuk 1C.

Pada seksi 1 saat ini sedang dilakukan trial embankment sepanjang 400 meter dengan progres 48,89 persen dan diharapkan bisa selesai pada bulan Januari 2023. Saat ini tengah dikerjakan hingga dua lapis timbunan dan dapat dijadikan acuan untuk pekerjaan tanggul laut pada paket kontraktual 1B yang pada bulan Januari 2023 bertepatan mulai pekerjaan timbunan.

Untuk pembangunan Seksi 2 dilaksanakan oleh PT PP-PT WIKA Konsorsium Maratama-Studi Teknik (KSO) dan Konsultan Supervisi PT Virama Karya (Persero) dengan nilai investasi sebesar Rp5,44 triliun.

“Diharapkan dengan pembangunan jalan tol yang terintegrasi tanggul laut ini permasalahan banjir rob di Semarang Timur khususnya Kaligawe-Sayung yang mengakibatkan kerugian ekonomi cukup signifikan dapat teratasi pada akhir tahun 2023 dengan terbangunnya tanggul hingga empat lapis timbunan dan beroperasinya rumah pompa pada kolam retensi Terboyo dan Sriwulan,” pungkas Basuki.

“Pandemi tidak membuat penjualan kami menurun justru pada periode tahun 2020 penjualan kami terus meningkat dan tahun ini peningkatannya bahkan sudah dua kali lipat dibandingkan periode tahun 2019 atau sebelum adanya pandemi. Itu juga yang membuat harga produk yang kami pasarkan memiliki basis harga yang baik untuk terus meningkat secara progresif,” beber Handoyo.

Baca Juga: Tari Serimpi, Tarian Mimpi Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Penjajah

Saat ini Grand Wisata memasarkan rumah yang segmennya terus naik untuk kalangan menengah ke atas. Tipe Lagoon dengan luas 143 m2 misalnya, saat launching harganya Rp2,8 miliaran dan saat ini sudah mencapai Rp3,1 miliaran. Begitu juga tipe-tipe lainnya yang lebih besar seperti Tipe Blue (151 m2) dengan harga Rp3,1 miliaran saat ini Rp3,4 miliaran.

Infrastruktur

8 Jalur Tol Fungsional dan 2 Tol Baru Siap Operasi

Published

on

Seksi 1 tebing tinggi inderapura jalan tol kuala tanjung parapat siap difungsionalkan untuk nataru tahun 2023. foto: bpjt.pu.go.id

Seksi 1 tebing tinggi inderapura jalan tol kuala tanjung parapat siap difungsionalkan untuk nataru tahun 2023. foto: bpjt.pu.go.id

mycity.co.id – Jelang Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2023, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPUPR) bekerjasama Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) resmi membuka delapan jalur tol fungsional dan dua tol baru. Nantinya sepuluh tol ini akan dioperasikan demi mendukung arus lalu lintas antar kota.

Sekretaris Badan Pengatur Jalan Tol Triono Junoasmono mengatakan BPJT akan berkoordinasi dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) terkait kepastian tanggal buka-tutup tol tersebut, termasuk kesiapan fungsional Tol Tebing Tinggi-Indrapura untuk mendukung arus mudik Nataru, seperti pembuatan posko bersama, penambahan gerbang tol, rest area, dan penambahan personel.

Basuki Hadimuljono selaku menteri PUPR dalam keterangan resminya mengatakan, “untuk mendukung libur Nataru, Kementerian PUPR memastikan kesiapan infrastruktur jalan dan jembatan yang didukung dengan telah bertambahnya ruas jalan tol beroperasi, termasuk jalan nasional dengan kondisi mantap”.

Dua ruas tol yang sudah siap beroperasi adalah tol Lubuk Linggau – Curup Bengkulu seksi Bengkulu-Taba Penanjung sepanjang 16,7 km dan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan/Cisumdawu. Seksi Pamulihan-Sumedang sepanjang 4,8 km dan seksi 3 Sumedang-Cimalaka sepanjang 4,05 km.

Operasional Tol Bengkulu-Taba Penanjung berdasarkan Surat Keputusan Menteri PUPR No 988/KPTS/M/2022 tertanggal 25 Agustus 2022. Sementara itu, operasional Tol Cisumdawu Seksi 2 dan 3 berdasarkan Surat Dirjen Bina Marga No 0702-Db/1489 tentang Sertifikat Laik Operasi Bersyarat Jalan Tol Cisumdawu Seksi Pamulihan-Sumedang dan Seksi Sumedang-Cimalaka tertanggal 11 November 2022.

Selanjutnya, delapan jalur tol fungsional yang disiapkan guna memperlancar arus lalu lintas pada saat Libur Natal dan Tahun Baru, yaitu:

  1. Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu Seksi 2A dan 2A-Ujung sepanjang 4,8 km. Ruas tol ini telah dilakukan uji laik fungsi pada 23 September 2022.
  2. Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 2 Sayung-Demak sepanjang 16,31 km yang saat ini progres konstruksinya sudah mencapai 99,2%. Penyelesaian sisa pekerjaan minor dan uji laik fungsi dilaksanakan pada minggu pertama Desember 2022.
  3. Jalan Tol Jakarta-Cikampek Selatan Paket 3 Segmen Sadang-Kutanegara sepanjang 8,5 km. Main road Tol Sadang-Kutanegara siap difungsionalkan mendukung Nataru melalui jalan kawasan industri ke Simpang Susun (SS) Karawang Timur.
  4. Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 5 Balang Bintang-Kutobaru sepanjang 7,3 km dan Seksi 6 Kutobaru-Simpang Baitussalam sepanjang 5 km. Penyelesaian main road kedua ruas ini ditargetkan selesai minggu ketiga Desember 2022.
  5. Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar Ramp JC Wringinanom sepanjang 7,45 km. Ruas ini telah dilakukan uji laik fungsi pada Oktober 2022 lalu.
  6. Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi 3A Kukusan-Krukut sepanjang 3 km.
  7. Jalan Tol Ciawi-Sukabumi Seksi 2 Cigombong-Cibadak sepanjang 11,9 km. Pada ruas ini masih menyisakan pekerjaan penyelesaian Jembatan Cibadak di KM15+100-KM15+360 ditargetkan selesai 17 Desember 2022 dan di KM18+675-KM18+925 ditagetkan selesai 20 Desember 2022.
  8. Jalan Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi-Parapat Seksi 1 Tebing Tinggi-Indrapura sepanjang 20,4 km. Progres konstruksi Tol Tebing Tinggi-Indrapura sebesar 94,7% dengan target selesai akhir Desember 2022.

Continue Reading

Infrastruktur

13 Jalan Tol Ini Dipastikan Beroperasi Akhir 2022, Liburan Makin Lancar

Published

on

13 jalan tol dipastikan beroperasi pada akhir Desember 2022. (Kementerian PUPR)
13 jalan tol dipastikan beroperasi pada akhir Desember 2022. (Kementerian PUPR)

mycity.co.id – Pemerintah terus mempercepat pembangunan sejumlah jalan tol dalam rangka meningkatkan konektivitas di Indonesia. Pada 2022, pemerintah menargetkan ada 19 ruas jalan tol yang beroperasi dengan panjang 283,15 kilometer.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat, telah ada enam ruas jalan tol baru sepanjang 84,15 km yang telah beroperasi hingga Agustus 2022. Sedangkan, sisanya sebanyak 13 ruas tol sepanjang 199 km ditargetkan rampung hingga akhir Desember 2022.

Enam ruas jalan tol yang sudah beroperasi tersebut adalah Cileunyi-Sumedang-Dawuan Seksi 1 (11,4 km), Binjai-Langsa Seksi 1 (11,8 km), Manado-Bitung Seksi Danowudu-Bitung (13,43 km), Sigli-Banda Aceh Seksi 2 (6,35 km), Cibitung-Cilincing Seksi 2 dan 3 (24,45 km), serta Taba Penanjung-Bengkulu (16,73 km).

Sementara untuk jalan tol Trans Jawa, ada satu ruas yang ditargetkan beroperasi di Desember 2022 juga. Ialah tol Pasuruan-Probolinggo Seksi 4A (Probolinggo Timur-SS Gending) sepanjang 8,55 km. Dengan kehadiran seksi 4A ini, lengkap sudah operasi Tol pasuruan-Probolinggo secara keseluruhan.

Sementara untuk jalan tol Trans Jawa, ada satu ruas yang ditargetkan beroperasi di Desember 2022 juga seperti tol Jabodetabek. Ialah tol Pasuruan-Probolinggo Seksi 4A (Probolinggo Timur-SS Gending) sepanjang 8,55 km. Dengan kehadiran seksi 4A ini, lengkap sudah operasi Tol pasuruan-Probolinggo secara keseluruhan

Kemudian untuk jalan Tol Non Trans Jawa, salah satunya yang ditargetkan rampung akhir tahun ada tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan Seksi 2 (Ranca Kalong-Sumedang) sepanjang 17,05 km.

Sedangkan yang ditargetkan rampung di Desember 2022 ada tol Ciawi-Sukabumi-Dawuan. Seksi II (Cigombong-Cibadak) sepanjang 11,9 km ditargetkan rampung di November 2022. Sedangkan untuk Seksi 4-6 serta Junction Dawuan ditargetkan selesai di Desember 2022. Dengan demikian, Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan dapat beroperasi sepenuhnya.

Tidak hanya itu, konstruksi jalan Tol Trans Sumatera pun masih terus digencarkan. Salah satunya untuk pembangunan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 5-6 dengan total panjang 12,31 km, ditargetkan selesai di Desember 2022.

13 Tol yang Beroperasi Akhir 2022:

  1. Cileunyi-Sumedang-Dawuan Seksi 2-6 sepanjang 49,3 km
  2. Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat Seksi 1 dan 2 sepanjang    38,5 km
  3. Padang-Pekanbaru sepanjang 31 km
  4. Semarang-Demak Seksi 2 sepanjang 16,3 km
  5. Sigli-Banda Aceh Seksi 5 dan 6 sepanjang 12,5 km
  6. Ciawi-Sukabumi Seksi 2 sepanjang 11,9 km
  7. Jakarta-Cikampek II Selatan Paket 3 sepanjang 8,5 km
  8. Cibitung-Cilincing Seksi 4 sepanjang    7,7 km
  9. Bekasi-Cawang-Kp Melayu Seksi 1A dan 2A sepanjang 6,6 km
  10. Cinere-Cimanggis Seksi 3 sepanjang 5,5 km
  11. Serpong-Balaraja Seksi 1A sepanjang 4 km
  12. Serpong -Cinere Seksi 2 sepanjang 3,6 km
  13. Cimanggis-Cibitung Seksi 2A sepanjang 3,5 km

Continue Reading

Infrastruktur

CCPHI : Peraturan Indonesia untuk Sektor Filantropi dan Nirlaba Tetap Sulit Dipahami dan Ditegakkan

Published

on

Konferensi pers pemaparan hasil kajian Doing Good Index (DGI) 2022 yang digelar oleh CCPHI bekerjasama dengan  PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) di Jakarta secara daring (CCPHI)

laporan Doing Good Index (DGI) 2022 regulasi sektor filantropi dan nirlaba di Indonesia sulit untuk dipahami dan tidak konsisten dalam penegakannya sehingga menyulitkan para pegiat organisasi sosial untuk mematuhi dan melaksanakannya.

Laporan tersebut mengemuka dalam acara konferensi pers pemaparan hasil kajian Doing Good Index (DGI) 2022 yang digelar oleh CCPHI bekerjasama dengan  PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) di Jakarta secara daring. (Jumat 25/11/2022)

Rahmatina Kasri dari CCPHI mengatakan bahwa temuan di atas mengacu pada kajian 2 tahunan yang dilaksanakan oleh Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS) di 17 negara Asia, termasuk Indonesia, dan melibatkan 2.239 organisasi sebagai responden dan 126 panel ahli. Pelaksanaan riset DGI 2022 di Indonesia dilakukan berkolaborasi dengan CCPHI.

DGI merupakan kajian untuk memberikan gambaran mengenai peta kebijakan, praktik institusi, dan lanskap sektor sosial di negara yang dikaji.

DGI mengkaji 4 (empat) indikator yang bisa memperkuat atau melemahkan inisiatif sosial, yaitu: peraturan perundang-undangan, kebijakan pajak dan fiskal, kebijakan procurement (pengadaan barang dan jasa), serta ekosistem.

Posisi negara yang dikaji berdasarkan 4 indikator tersebut kemudian di kelompokkan dalam empat klaster, di mulai dari yang terburuk sampai yang terbaik, yakni: “Not Doing Enough”, “Doing Okay”, “Doing Better”, dan “Doing Well”

Laporan Doing Good Index (DGI) 2022 menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan peringkat “doing okay” dalam mendukung kegiatan filantropi atau inisiatif sosial yang dilakukan warganya melalui organisasi sosial.

“Ini sama seperti tahun sebelumnya pada laporan DGI 2020, namun meningkat dari klaster “Not Doing Enough” di tahun 2018,” ungkap Rahmatina.

Penempatan klaster “doing okay” di 2022 bersama dengan beberapa negara lainnya yaitu Cambodia, India, Nepal, Pakistan, Thailand, dan Vientnam. Namun, Indonesia masih di bawah beberapa negara lainnya seperti Malaysia, Filipina, Jepang, Singapore, dan beberapa negara lainnya.

Namun, regulasi yang tidak koheren dan fluktuatif dapat menghambat potensi pemberian kebijakan insentif yang dapat mendorong perkembangan sektor filantropi/nirlaba secara sistematis.

Continue Reading
Advertisement

Trending